
Malam ini akan ada acara kecil-kecilan di Mansion. Dimana merayakan ulang tahun Leon yang sebelumnya dirayakan di sekolahnya, dan untuk malam harinya kami mengadakan pesta barbeque di taman Mansion yang hanya dihadiri orang-orang terdekat saja.
"Dea apa semuanya sudah lengkap?" tanyaku kepada Dea tentang bahan-bahan yang dioerlukan.
"Sudah Nona, semuanya sudah dibawa ke taman," sahut Dea memberitahukan.
"Baiklah. Apa anak-anak sudah tidur?"
"Sudah Nona."
"Apa tidak maslah kamu menunggu mereka? atau mereka dibawa saja ke taman?" aku mengusulkan karen tidak enak hati.
"Tidak masalah Nona. Jangan Nona nanti mereka masuk angin," ucap Dea seakan mengkhawatirkan kesehatan si kembar.
"Baiklah.Kamu tenang saja nanti aku akan menyisakan makanan buat kamu," kataku sembari tersenyum.
"Terima kasih Nona," sahut Dea membalas senyumanku.
"Justru aku yang berterima kasih Dea, selama ini kamu sudah membantu dengan tulus," ucapku sembari mengusap bahu Dea.
"Sayang.....aku pakai baju yang mana?" panggil Alfred dari dalam kamar, sedangkan aku bersama Dea mengobrol di ambang pintu kamar.
"Say permisi Nona," ucap Dea, lalu bergegas meninggalkan tempat itu dan segera menuju kamar si kembar.
Aku segera masuk kedalam dan tidak lupa menutup pintu kamar.
"Pakaianmu ada di atas sofa sayang," kataku.
Alfred kembali dari ruang walk in closet, lalu menghampiriku yang berdiri didekat sofa.
"Istri yang sangat perhatian. Terima kasih sayang.... lain kali tidak perlu kamu siapkan lagi, kamu sudah kelelahan menjaga anak-anak," ujar Alfred sembari mengusap pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.
"Itu sudah kewajiban sekarang istri sayang, tidak ada alasan untuk melakukan kewajibannya. Kamu lebih lelah bekerja hanya demi anak istrimu," ungkapku dengan jari-jemari bermain di dada telanjang Alfred.
Ssst...
"Kamu menggodaku sayang?" bisik Alfred sembari mengigit halus daun telingaku.
"Goda bagaimana? apakah jika kita bermanja-manja seperti ini harus namanya menggoda?"
"Masih ada waktu sayang," goda Alfred sembari mengedipkan matanya.
"Jangan macam-macam, untuk satu minggu kamu puasa," kataku langsung berjalan merapikan tempat tidur.
"Puasa? maksudnya?" sungguh Alfred tak mengerti.
"Lagi palang merah!"
"Palang merah? aku tidak mengerti sayang."
Tok tok
"Nona semuanya sudah menunggu di taman," itu adalah suara Vini.
°°°°°°
Di taman Leon kembali meniup lilin serta potong kue. Kue pertama diberikan kepadaku dan kedua kepada Alfred.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun sayang," ucapku sembari memeluk serta mencium Leon.
"Mom sakit," cicit Leon habis aku gigit pipi chubby itu. Sungguh bocah ini membuatku gemas. Aku yakin kedua orang tua Leon memiliki ketampanan atau cantik, sangat terlihat dari paras Leon.
"Enak sekali kau Leon," gumam Alfred tanpa bersuara, dia merasa cemburu.
"Maaf sayang," kataku.
"Selamat ulang tahun Leon," ucap semuanya sembari memberi kado masing-masing.
"Asik Leon dapat kado lagi," seru Leon dengan girang.
"Leon sayang pasti lelah, sebaiknya sekarang Leon masuk, terus istirahat," kataku.
"Baik Mom tetapi bolehkah Leon membuka kado-kado ini?"
"Tentu saja boleh. Vin tolong antar Leon serta bawa kado ini ke kamarnya," kataku kepada Vini karena yang lainnya sudah pada sibuk membakar daging.
Aku dan Alfred mulai meracik bumbu pembuatan bakso seafood, sedangkan yang lainnya membakar daging.
"Sayang ambilkan itu," titahku kepada Alfred yang hanya berdiri melihatku saja.
Dengan tanpa paksaan Alfred mengambil sesuai yang aku minta.
"Hmmm sayang tolong ambil garam rasanya kurang," titahku kembali memerintahkan Alfred.
Alfred kembali melakukan seperti yang pertama.
"Ada lagi Tuan putri?"
Hmmm
"Benar-benar bucin," ledek dokter Frans, sayangnya tidak didengar oleh Alfred.
"Tuan benar-benar berubah," timpal Andre.
"Pasangan ideal," sambung Gabriella.
"Apa yang kalian bisikan?" tiba-tiba suara bariton Alfred membuat semuanya terdiam.
"Kami sedang membicarakan kebucinan seseorang," sindir dokter Frans.
Alfred menaikan alis tidak mengerti dengan ucapan dokter Frans sehingga mengabaikannya begitu saja.
"Istriku memanggil kalian untuk bergabung di sana, semuanya sudah siap dinikmati," ujar Alfred sesuai perintahku. Setelah mengatakan itu Alfred kembali ketempat dimana aku menyiapkan bakso seafood.
Semua sudah duduk di atas karpet dengan meja rendah yang tertata oleh menu masakan buatan kami.
Aku mengambilkan bakso seafood untuk Alfred.
"Sayang ini enak sekali, kapan-kapan masakan lagi," ujar Alfred setelah mencicipi citra rasa bakso seafood tersebut.
"Apa kamu menyukainya?" tanyaku menghentikan suapanku sejenak.
"Tentu saja aku menyukaimu, maksudku makanan ini sangat enak," canda Alfred.
"Sayang....." aku menggertak gigi ingin mengigit bibir Alfred, seketika aku tersadar karena ternyata banyak orang.
__ADS_1
Huh....
"Kita seperti nyamuk saja," sindir Gabriella.
"Tepatnya benalu Kak," imbuh Alfred.
"Sayang....." peringatan dariku.
"Bercanda sayang, makanya tahan dulu sikap mezvmmu," bisik Alfred sehingga membuat mataku melotot.
"Dasar pengantin baru," ujar dokter Frans sembari menggelengkan kepala.
Gea, Vini dan pelayan Mansion malu-malu sehingga membuat mereka menunduk, sedangkan dokter Frans, Andre serta Gabriella malah menggoda.
"Dek bagaimana bulan madu ke 7 negara? apakah sukses?" goda Gabriella padahal dia sendiri sudah tau.
"Kakak...." mataku melotot menatap Gabriella.
"Berapa ronde 1 malam?" goda dokter Frans.
"Tuan belum berpengalaman," pancing Andre.
"Diam!"
Hahaha....
Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Haruskah kami menceritakannya kepada kalian? jika kami bercerita, maka jiwa jomblo kalian meronta-ronta," ujar Alfred menekankan. "Oke aku jawab ke intinya saja karena aku tidak ingin dianggap ganas," imbuh Alfred.
"Sayang," aku menggeleng kepala, bagaimana bisa Alfred menceritakan soal hubungan ran jang mereka.
"1 malam tak terhitung berapa ronde, jangankan malam. Di siang hari dan kapan saja kami akan melakukannya, tadi saja belum ke sini aku pinta jatah tetapi kata istriku aku akan puasa selama 1 minggu karena lagi palang merah," terang Alfred menegaskan. "Sayang palang merah itu apa? apa kami ingin mendonorkan darah? jangan harap aku menyetujuinya," sambung Alfred.
Jleb
Pertanyaan atau perkataan polos Alfred membuatku mengigit bibir bawah, serta wajah ini sudah bersemu merah.
Semuanya melebarkan mata mendengar hal itu. Tetapi hanya Andre yang tidak tau apa makna dari pertanyaan Alfred, sedangkan yang lainnya sangat paham sehingga ada rasa malu yang mereka rasakan.
"Brother jangan ijinkan istriku mendonorkan darah di rumah sakit, jika hal itu aku ketahui tamatlah profesimu," ancam Alfred kepada dokter Frans.
Hmmm
"Sayang nanti saja bicaranya, ayo habiskan dulu," kataku tidak ingin membicarakan masalah ini.
"Ngakunya CEO terkenal atau pebisnis hebat tetapi masalah sekecil ini saja tidak paham," sindir dokter Frans.
Alfred menghentikan suapan, lalu memandangi dokter Frans yang hanya senyum-senyum.
Dokter Frans mendekat, kebetulan mereka duduk bersebelahan.
"Palang merah yang dimaksud Adik ipar adalah halangan bagi setiap wanita atau bahasa umumnya adalah haid," bisik dokter Frans.
Deg
Seketika membuat Alfred kaget.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪