MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 40. Masa Lalu 2,5 Tahun


__ADS_3

Bernat masih terpuruk sedangkan sampai sekarang tidak ada kabar kekasihnya.


Klek


Daddy memasuki kamar yang gelap gulita itu.


Klik


Sakelar lampu dinyalakan, tampaklah sesosok pria rapuh yang terduduk di lantai bersandar di ranjang.


"Nak," lirih Daddy dengan dada sesak melihat putra bungsunya terpuruk seperti mayat hidup. Wajah tampan Bernat kini menjelma menjadi pucat tak terurus.


"Dad, aku sangat mencintainya. Kami saling mencintai Dad," lirih Bernat mengadu kepada Daddy sembari terisak.


Daddy memeluk Bernat dengan perasaan sesak.


"Nak, Daddy mohon ikhlaskan dia. Jangan menyiksa dirimu seperti ini, Daddy tidak sanggup," ujar Daddy sembari mengusap kepala Bernat dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak Dad, calon menantu Daddy akan datang," harapan Bernat semakin membuat Daddy terpukul. Mereka sudah mencari informasi tetapi tak membuahkan hasil.


"Daddy tidak ingin sesuatu terjadi. Jangan melakukan sesuatu diluar akal sehatmu karena kamu tidak sendiri, ada Daddy dan Kakakmu yang menyayangimu," ujar Daddy mengkhawatirkan sesuatu yang diluar nalar Bernat.


Setelah mengatakan itu Daddy meninggalkan Bernat karena malam semakin larut.


Bernat bangkit mencari koper miliknya, ingin mengambil sesuatu didalam sana. Dibukanya koper itu dan mengeluarkan kotak kecil yang berisi lembaran foto dirinya dan sang kekasih.


"Honey sebenarnya apa yang terjadi? aku percaya dan sangat percaya kepadamu. Kembalilah honey, aku setia menunggumu," gumam Bernat sembari memandangi foto kekasihnya dengan tatapan sendu.


Malam semakin larut. Tanpa sadar Bernat tertidur dengan posisi berdiri, mungkin karena kelelahan. Tetapi itu tak bertahan lama karena Bernat berteriak oleh sebuah mimpi, dan itu adalah mimpi yang sama.


"Honey kamu dimana? didalam mimpi kamu kedinginan dan minta tolong, apa yang terjadi?" gumam Bernat sembari mengusap wajah lelahnya.


Ting


Tiba-tiba bunyi notifikasi di ponsel miliknya. Bernat berniat ingin mengecek.


Matanya membulat dengan tubuh menegang membaca pesan dari nomor tak diketahui.


["Penyeberangan yang ditumpanginya tengelam dan menewaskan 10 penumpang termasuk kekasihmu.]


Duar....


Pesan dari nomor tak diketahui itu tentu saja membuat Bernat membeku. Awalnya dia tak percaya dan menganggap itu adalah lelucon. Tetapi lambat laun Bernat kalah dan mempercayai itu karena sebuah mimpi yang terus menghantuinya.


Karena ingin tau Bernat menghubungi nomor tersebut tetapi tidak tersambung. Entah sudah ratusan kali dia hubungi tetapi hasilnya tetap sama. Karena kesal, marah serta terluka ponsel itu dia lempar beberapa kali ke dinding sehingga tak berbentuk lagi, sungguh akal sehat Bernat telah hilang.


"Tidak mungkin, tolong honey katakan ini tak mungkin hiks hiks," tangis Bernat dengan hati hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak orang yang sangat dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya dengan tiba-tiba.


Bernat merosot kebawah mengenang masa-masa indah bersama sang kekasih, banyak rencana serta masa depan yang sudah mereka rancang, bahkan ke masalah anak. Bernat ingin memiliki anak sebanyak mungkin dari kekasihnya terutama anak perempuan karena dia merasa tidak memiliki saudara perempuan. Sedangkan kekasihnya hanya menginginkan dua anak sepasang. Sungguh kenangan yang menghancurkan hatinya.


Kenangan indah itu semakin membuat Bernat frustasi dan tidak dapat berpikir jernih lagi.


Bernat meraih foto kekasihnya lalu menuliskan sesuatu di belakang foto.


["Honey kenapa kamu pergi tanpa kabar? kenapa kamu lakukan itu kepadaku? aku tidak bisa hidup tanpamu.... aku sudah berjanji kepadamu, lebih baik aku mati dari pada kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu...]


Setelah menuliskan itu Bernat masih menatap foto cantik kekasihnya yang tersenyum manis, bahkan itu dia sendiri yang memotret. Entah setan apa yang merasuki diri Bernat dikala subuh itu sehingga membuatnya nekat mengakhiri hidupnya dengan mengantungkan diri didalam kamar mandi dengan menggunakan seutas tali sembari menggenggam foto kekasihnya.


Pagi menjelang. Dengan langkah cepat Daddy membawa napan berisi sarapan untuk Bernat seperti biasanya.

__ADS_1


Klek


Seperti biasa pintu kamar tidak pernah dikunci dari dalam oleh Bernat. Kening Daddy mengerut karena tak mendapati Bernat ditempat tidur, biasanya di jam segini dia enggan beranjak dari tempat tidur.


Daddy yakin Bernat sedang beraktivitas di kamar mandi sehingga membuatnya menunggu didalam kamar sembari membuka pintu akses menuju balkon dan menyibakkan gorden agar cahaya masuk kedalam kamar.


Merasa tak ada tanda Bernat keluar membuat perasaan Daddy tak enak karena sudah cukup lama baginya menunggu.


Tiba-tiba


"Tuan saya ingin membersihkan kamar Tuan muda," pelayan berdiri diambang pintu.


"Silahkan," sahut Daddy dan beranjak mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Tok tok


"Nak apa kamu baik-baik saja?" Daddy mengetuk pintu sembari memanggil Bernat tetapi tak ada jawaban dari dalam. Entah sudah beberapa kali Daddy mengulangi tetapi sama tak ada jawaban sehingga membuat kekhawatiran memenuhi benaknya. Begitu juga yang dirasakan sang pelayan yang coba membantu Daddy.


Klek


Ternyata pintu kamar mandi tak terkunci seperti yang dikira oleh Daddy.


"Tidak terkunci Tuan,"


Pintu terbuka.


Duar....


"Bernat.....!" Teriak Daddy dengan mata membulat, mendapati Bernat tergantung dengan wajah membiru dan tak bernyawa lagi.


Bagai petir di siang bolong menyambar bagi Daddy tepat menghantam jantungnya.


Daddy memegang dadanya yang sulit untuk bernafas, seketika tubuh kekar itu merosot ke lantai.


"Tuan, Tuan," teriak pelayan membantu memapah sang majikan yang sudah tak sadarkan diri.


Karena sendirian sang pelayan bergegas turun kebawah mencari pertolongan kepada rekan kerjanya.


Brak


Karena sudah tergesa-gesa sang pelayan berusia 40 tahunan menabrak Alfred yang baru pulang dari luar kota tepat di ruang keluarga.


"Maaf Tuan," lirih sang pelayan dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa Bibi?"


"Tuan muda, itu. Itu...." sang pelayan tak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi, sungguh dia sendiri syok melihat hal yang baru dilihatnya selama hidup di dunia ini.


"Ada apa Bi?"


"Tuan besar tidak sadarkan diri didalam kamar Tuan muda," akhirnya sang pelayan sanggup berbicara.


"Apa? Daddy," teriak Alfred tanpa berpikir panjang berlari menuju lift. Sedangkan sang pelayan menemui pelayan lainnya untuk membantu dan menghubungi dokter pribadi keluarga itu.


Tiba di kamar Bernat, Alfred langsung mendekati sang Daddy yang terbaring tak sadarkan diri.


"Kemana Bernat?" gumam Alfred karena tak mendapati sosok Bernat.


Pintu kamar mandi juga terbuka.

__ADS_1


"Ber," panggil Alfred berkali-kali.


Karena mengkhawatirkan Daddy, Alfred mengusap seluruh tangan Daddy yang terasa sangat dingin.


"Dad bangun," raut wajah ketakutan yang dinamakan Alfred.


Tidak lama beberapa pelayan beserta dokter tiba. Alfred sedikit heran melihat para pelayan. Tetapi karena panik dia abaikan kehadiran mereka.


Dokter memeriksa dengan raut wajah tak terbaca.


"Tuan muda. Tuan tak tergolong, Tuan menghembuskan nafas terakhir 10 menit yang lalu," ya Daddy memang sudah lama terserang penyakit jantung sehingga membuat nyawanya terancam dengan hal-hal yang membuatnya syok.


Deg....


Pernyataan dokter membuat jantung Alfred dihantam benda tajam sehingga menghunus di ulu hatinya.


"Periksa sekali lagi," teriak Alfred disertai tangisan.


Dokter menggeleng tak bisa berbuat apa-apa.


"Daddy....Daddy," teriak Alfred memeluk sang Daddy.


"Maaf Tuan, Tuan segera ke kamar mandi," ucap pelayan yang tadi dengan wajah pucat pasi.


Perkataan sang pelayan membuat Alfred menyeka air matanya.


"Ada apa?"


"Lebih baik Tuan lihat sendiri,"


Alfred mengikuti apa yang dikatakan sang pelayan karena ada kekhawatiran yang dia rasakan akibat Bernat tak menampakan barang hidungnya.


Alfred bangkit lalu berjalan gontai menuju kamar mandi.


Duar....


Sekali lagi jantungnya dihantam bahkan lebih parah lagi, dimana matanya menyaksikan Adik tersayangnya meregang nyawa dengan mengantungkan diri.


"Bernat," lirihan itu begitu pilu. Tubuh itu merosot ke lantai dengan posisi berlutut tanpa berkedip melihat Bernat meregang nyawa dengan tragis. Alfred syok mendapati dua orang yang sangat dia sayangi pergi secara bersamaan dengan tragis dan tiba-tiba.


Para pelayan menurunkan jenasah Bernat. Mereka berusaha membuka telapak tangan Bernat karena ada yang digenggam.


"Tuan di tangan Tuan ada sesuatu yang digenggam, sangat sulit untuk dilepaskan," kata salah satu pelayan.


Alfred tersadar, lalu berusaha bangkit untuk membantu para pelayan. Alfred membuka genggaman itu dengan sangat mudah, mungkin Bernat hanya mau Alfred yang mengambil benda itu.


Deg


Itu adalah sebuah foto wanita cantik yang diyakini Alfred adalah kekasih yang membuat Bernat frustasi dan berakhir bunuh diri.


"Kau harus membayar semua ini, wanita brengse*" Alfred meremas foto itu dengan mata memerah serta wajah menakutkan. "Kau sangat bodoh, demi wanita itu kau mengakhiri hidupmu yang sangat berarti. Lihat Daddy juga terimbas dari perbuatanmu," lirih Alfred dengan sesak dan terpukul.


Sangat sulit untuk seorang Alfred menjalani hari-harinya. Sejak kecil dia sudah ditinggal pergi oleh Mommy untuk selama-lamanya, dan kini dia juga ditinggal pergi oleh dua orang sekaligus. Siapapun jadi Alfred tak akan sanggup. Hanya satu tujuan hidup Alfred yaitu balas dendam dan berusaha mencari penyebab dari akar masalah.


Karena kejadian tragis itu Alfred tidak ingin tinggal di Mansion sehingga membuatnya membeli rumah lain. Alfred juga merencanakan sesuatu dan menutupi jati dirinya demi misi yang akan di tuntaskan yaitu misi balas dendam dengan kekasih sang Adik beserta keluarga dari wanita itu. Ya Alfred bekerja dengan apik sehingga tidak ada orang cerdas sekalipun mencurigai jati dirinya.


Alfred masih memiliki keluarga dari saudara sang Daddy tetapi dia menentang nasehat-nasehat Tante serta Om yang berusaha memberi pengertian positif. Dari kejadian itu merubah semua sifat yang Alfred miliki.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2