
Setelah menikmati makan siang mereka kembali berbincang-bincang. Khususnya Tante Meysi yang banyak berbicara, sedangkan Gabriella menjawab sekiranya saja.
"Sayang Mommy sangat berharap kamu berjodoh dengan putra Mommy," ucap Tante Meysi berhasil membuatku tersedak, karena bertepatan dengan menekuk air.
Huks huks....
"Pelan-pelan sayang," Tante Meysi mengusap punggung Gabriella dengan telaten.
"Terima kasih Mom," Lith Gabriella dengan suara serak akibat batuk.
"Mommy tau bagaimana masa lalumu dulu, tetapi tidak ada salahnya kamu membuka hati kembali. Masa depanmu masih panjang, kamu berhak untuk menggapai kebahagiaan," ungkap Tante Meysi.
Gabriella mengigit bibir bawahnya. Mengingat masa lalu membuat hatinya serasa dihantam bebatuan.
"Mommy jatuh hati kepadamu dan ingin sekali kamu menjadi menantu Mommy. Apa kamu bersedia sayang? maaf Mommy begitu berani mengatakan hal ini," pungkasnya kembali.
Mendengar pembicaraan lebih dalam membuat Gabriella semakin bingung.
"Mom aku, aku....."
"Tidak perlu menjawab sekarang sayang, jalani saja dulu. Maaf Mommy sedikit memaksa," ucap Tante Meysi sangat sadar dengan apa yang dilakukannya.
Gabriella hanya tersenyum menanggapinya dan memang tidak tau harus menjawab apa karena jujur saja pertanyaan ini sangat mendadak.
"Jika begitu Mommy pulang dulu. Maaf sudah menganggu waktu sibukmu. Jika ada waktu berkunjunglah ke rumah Mommy, Mommy sudah menetap di kota ini," ucap Tante Meysi sembari bangkit, ingin kembali pulang.
"Iya Mom, sekali lagi terima kasih atas jamuan yang super enak," kata Gabriella kembali memuji cita rasa masakan Tante Meysi.
Tante Meysi mengusap wajah Gabriella sebelum meninggalkan ruangan.
°°°°°°
Di rumah sakit
Dokter Frans menjalankan tugas seperti biasanya. Tidak sengaja dia berpapasan dengan Andre.
"Andre apa kamu punya waktu?" tanya dokter Frans.
Kening Andre mengerut.
"Ada masalah apa?" tanya Andre sembari melirik ponselnya.
"Kebetulan jam makan siang, bagaimana kita berbincang-bincang sejenak di kantin?" usul dokter Frans.
"Baiklah," Andre menyetujuinya karena ini kesempatan untuk dia berbicara empat mata dengan dokter Frans.
Dua pria tampan beda bidang pekerjaan itu berjalan menuju kantin. Mereka sengaja memilih meja yang cukup jauh dari keramaian karena ingin berbicara santai tanpa ada gangguan.
"Kamu pesan apa?" tanya dokter Frans.
"Orange juice," sahut Andre.
"Mbak orange juice dua," ujar dokter Frans kepada pelayan kantin.
Menunggu pesanan datang kedua pria itu terdiam, belum ada yang memulai obrolan.
"Hmmm Andre apa kamu juga menyukai Gabriella?" tanya dokter Frans tiba-tiba sehingga membuat Andre tersentak kaget.
Andre menegakkan tubuhnya.
"Atas dasar apa kamu menanyakan itu?" ujar Andre tidak ingin membicarakan isi hatinya.
__ADS_1
"Karena aku merasa, kamu saingan untukku. Aku tau jika kamu juga menyukai Gabriella," tebak dokter Frans.
Seketika wajah Andre memerah karena apa yang dituduhkan dokter Frans adalah benar.
"Aku menyukai Gabriella, bahkan jatuh cinta kepadanya," ungkap dokter Frans dengan jujur.
Andre tersenyum sinis tentunya karena mereka berdua merebutkan wanita yang sama.
"Dua-duanya ingin kamu miliki," sindir Andre.
"Kau!" Desis dokter Frans terbawa emosi.
"Apa yang kamu tuduhkan itu benar. Aku menyukai bahkan jatuh cinta kepada Nona Gabriella tetapi aku sadar karena perbedaan kami sangat jauh, jika di ibaratkan bagai langit dan bumi. Kamu tidak perlu takut bersaing denganku karena bagaimanapun kamu sebagi pemenangnya," ujar Andre panjang lebar dengan bibir tersenyum sendu.
Mendengar pengakuan Andre membuat dokter Frans terenyuh.
"Andre masalah perbedaan tidak mempengaruhi yang namanya cinta," ujar dokter Frans.
"Tentu saja itu sangat berpengaruh karena wanita yang aku sukai adalah bukan dari kalangan biasa, tetapi kalangan luar biasa," ujar Andre. "Frans tolong rahasiakan perasaanku ini kepada siapapun termasuk Nona Gabriella," imbuh Andre berusaha tersenyum.
Dokter Frans menjadi tidak enak hati.
Ssst
Kenapa mereka harus jatuh cinta ke satu wanita. Wanita yang sama-sama dekat dengan mereka.
"Apa kku menyerah Andre? dimana asisten CEO yang dikenal super hebat itu? belum melangkah saja kamu sudah mundur, jika kamu memang mencintainya apapun akan kamu perjuangkan. Berarti itu bukan namanya cinta sejati," pancing dokter Frans.
Apa yang dikatakan dokter Frans adalah benar, belum saja melangkah Andre sudah mundur. Hanya satu hal yang mengganjal di hatinya yaitu perbedaan kasta.
"Keluarga Januar tidak pernah memandang kasta karena sesuai yang aku tau, menantu dari keluarga Januar adalah wanita yang biasa dan dari kalangan bawah," terang dokter Frans sehingga membuat Andre tercengang karena tidak mengetahui kabar itu.
"Frans sepertinya jam istirahat telah usai. Aku pergi dulu karena ingin menemui klien yang ditugaskan Tuan," ujar Andre sembari melirik arloji di pergelangan tangan.
"Oke aku juga akan kembali bertugas," ujar dokter Frans sembari memeriksa ponselnya sejenak.
Kedua pria tampan itu kembali ke tempat kerja masing-masing.
°°°°°°
Hari ini Gabriella mengunjungi Mansion milik kami. Mansion yang dibangun oleh Alfred dari hasil kerja kerasnya. Setelah menyadari aku mengandung tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Andre, diam-diam Alfred membangun Mansion megah di tengah kota.
Gabriella datang di siang hari, kebetulan weekend bahkan tanpa sepengetahuan kami.
"Leon sayang Mommy mana?" tanya Gabriella setelah menemui Leon yang tengah berada di ruang keluarga sembari bermain Lego.
"Bibi buat Leon kaget saja," cicit Leon karena tidak menyadari kedatangan Gabriella.
"Leon sih sangat fokus sehingga tidak menyadari kedatangan Bibi," ucap Gabriella dengan wajah cemberut karen ingin menggoda Leon.
"Leon minta maaf Bibi."
Leon langsung memeluk Gabriella, melepas rindu karena semenjak perayaan ulang tahunnya baru kali ini dipertemukan lagi. Gabriella memang banyak pekerjaan sehingga membuatnya tidak ada waktu untuk menemui para keponakannya.
"Leon sudah besar. Hmmm si kembar mana?" tanya Gabriella.
"Ada di kamar Bibi. Ayo kita ke sana," Leon langsung mengandeng lengan Gabriella, membawanya ke kamar kedua orang tuanya.
Tiba di kamar Gabriella langsung menumpahkan rasa rindunya dengan Keenan dan Kiran. Dia kecup seluruh wajah bayi gembul itu dengan gemas.
"Bibi sangat merindukan kalian," cicit Gabriella sembari menggendong Kiran.
__ADS_1
"Kiran juga rindu Bibi. Bibi sih tidak ada waktu," aku menyahut dengan mendirikan suara bayi.
"Bibi sibuk sayang," balas Gabriella dengan meniru suara bayi juga.
"Alfred mana Dek?" tanya Gabriella karena tidak melihat sesosok Alfred.
"Ada diruang kerja Kak, bersama Andre," sahutku.
"Andre," gumam Gabriella tanpa bersuara. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu, setelah acara ulang tahun Leon.
Keenan maupun Kiran sudah tertidur sehingga kesempatan untuk Gabriella mengajak aku mengobrol.
"Dek beberapa hari yang lalu Tante Meysi menemuiku di kantor," ucap Gabriella memulai obrolan.
"Kok tumben? apa selama ini Kakak akrab dengan Tante Meysi?" tentu saja aku tersentak kaget.
Gabriella menceritakan semuanya kepadaku, tujuan Tante Meysi.
"Mulailah buka hati Kakak, Kakak berhak hidup bahagia. Yang lalu biarkan berlalu dengan indah maupun sebaliknya. Masa depan Kakak masih panjang," hanya itu pesan yang bisa aku sampaikan karena aku sadar untuk melupakan masa lalu itu sangat sulit.
"Entahlah Dek, sangat sulit untuk melupakan dia. Apa lagi caranya seperti itu," lirih Gabriella dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mengerti Kak, setidaknya belajar membuka hati," ucapku sembari mengusap punggung tangan Gabriella.
Merasa cukup kami kembali kedalam kamar, yang tadinya kami mengobrol di balkon.
"Dek maaf Kakak tidak bisa makan malam karena tiba-tiba dihubungi oleh Gea. Katanya ada berkas yang segera Kakak tangani," ucap Gabriella kepadaku sembari sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah Kak, lain kali saja. Sering-sering mengunjungi kami," kataku setelah melepas pelukan kami.
Gabriella mengangguk.
Tiba di halaman Mansion tanpa sengaja Gabriella bertemu dengan Andre yang sedang menerima telepon di samping mobil yang sering dikendarainya.
"Andre," sapa Gabriella dari arah belakang sehingga membuat Andre tersentak kaget karena dia tidak tau jika Gabriella juga berada dalam Mansion itu.
"Nona," balas Andre dengan formal.
Hal itu membuat kening Gabriella mengerut.
"Sepertinya sibuk?" ucap Gabriella mendekati Andre.
"Ya begitulah," sahut Andre dengan singkat. "Jika begitu saya duluan Nona," imbuh Andre seperti menghindar.
"Oke hati-hati," ucap Gabriella sedikit merasa aneh.
"Mungkin ini yang terbaik, agar kedepannya tidak merasa lebih sakit lagi," gumam Andre sembari melakukan mobil yang dikendarainya.
Andre mundur karena tanpa sengaja waktu Tante Meysi menemui Gabriella, Andre juga ke kantor. Bahkan dia mendengar semua apa yang dibicarakan Tante Meysi. Dari situ Andre sadar jika Gabriella lebih pantas bersanding dengan dokter Frans.
"Ada apa dengannya?" gumam Gabriella sembari memandangi mobil tersebut sampai menghilang.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1