
"Apa yang kau lakukan?"
Awww
Dengan tiba-tiba Alfred mencengkram wajahku begitu kuat sehingga membuatku menjerit kesakitan.
Tatapan kami beradu. Alfred menatap dengan tajam sedangkan tatapanku sendu.
Tanganku berusaha mendorong dada Alfred agar cengkraman itu terlepas. Entah kenapa Alfred melepaskan cengkraman itu sehingga membuatku sedikit lega. Kuseka air mataku dan merapikan kembali lembaran foto itu yang tergeletak di lantai. Memasukan kembali kedalam kotak tersebut.
Tapi tanganku terhenti ketika tangan kekar merebut semua lembaran foto itu.
"Apa kau merindukannya? atau kau ingin menertawakannya Isabella?" ujar Alfred tertawa kecil tapi menampilkan wajah sangar.
Alfred ikut berjongkok untuk menjajarkan tubuhnya denganku.
"Jawab aku!" Teriak Alfred sembari mencengkram kedua bahuku. "Lihat betapa romantisnya kalian tetapi itu hanya kepalsuan untukmu," Alfred memandangi setiap foto itu, dimana kedua pasangan kekasih itu melakukan pemotretan dengan bermacam gaya. Di sana mereka menunjukan wajah bahagia.
Tanpa sadar hati Alfred terasa di cubit mendapati satu foto yang begitu intim, dimana seorang pria yang tak lain sang Adik memeluk si wanita dari belakang begitu mesra, dengan jari tangan saling bertautan. Sungguh romantis untuk sepasang kekasih.
"Apa kau sedang bernostalgia Isabella? atau kau menertawakan kemenanganmu atas kebodohan Adikku?" cecar Alfred semakin membuatku tak berkutik.
"Jika aku mengatakan tidak? apa kamu percaya?"
Alfred tersenyum smirk mendengar perkataanku.
"Bohong!" Teriak Alfred mengema sehingga membuat gendang telingaku sakit karena tubuh kami begitu dekat.
Aku memberanikan diri menatap wajah Alfred lekat-lekat, di sana aku dapat melihat raut wajah serta tatapan terluka Alfred. Ingin sekali aku renguh tubuh itu, aku tau bagaimana perasaan Alfred. Tetapi semua itu tidak mungkin bisa aku lakukan karena Alfred sangat membenci diriku.
"Al kamu salah paham," lirihku dengan bibir bergetar. Hatiku terketuk mengulurkan tangan mengusap wajah Alfred.
Alfred membeku mendapat usapan tanganku. Sesaat pria itu memejamkan mata, ya aku dapat melihat itu.
"Salah paham katamu? itu sudah jelas, kau mau mengelak? begitu?" seketika Alfred membuka mata dan menepis tanganku begitu kasar. Tatapannya semakin tajam seperti ingin menelanku hidup-hidup.
Aku mengangguk dengan mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan kepada Alfred.
__ADS_1
"Jika aku mengatakan bahwa bukan aku di foto itu apa kamu percaya? jika aku memiliki sauda....."
"Hentikan omong kosong itu," bentakan Alfred membuat aku tercekat. "Aku bukan orang bodoh yang mudah kau tipu. Pergi, pergi!" Teriak Alfred sembari menunjuk pintu keluar.
"Itu bukan aku," lirihku tanpa ingin bangkit seperti yang dimau oleh Alfred.
"Aku muak dan benci melihat wajahmu. Pergi dari hadapanku. Pergi," teriak Alfred murka setelah menceritakan kronologi yang menimpa sang Adik, bahkan tangannya tertahan ingin menampar wajahku.
Aku menelan ludah.Tak ingin Alfred lebih murka lagi, dengan lutut bergetar aku berusaha bangkit. Sedangkan Alfred masih dengan posisi awal. Sesaat pandanganku ke bawah melihat Alfred, lalu terpaksa melangkah meninggalkan tempat itu dengan dada sesak.
Setelah peninggalanku Alfred berlutut dengan kedua lutut bertumpuk di lantai sembari meremaskan beberapa foto itu. Ingatan terlintas dimana sang Adik merenggang nyawa dengan selembar foto di tangannya. [Nanti akan ada flashbacknya say....]
Didalam kamar khususnya kamar mandi tubuhku merosot ke bawah, menumpahkan rasa sesak di dada. Aku menangis tersedu-sedu mengingat cerita Alfred. Bagaimana mungkin semua itu terjadi, bahkan aku juga tidak tau. Pantas saja Alfred begitu benci dengan diriku, siapapun pasti merasakan hal yang sama bila berada di posisinya.
"Sedikitpun kamu tidak mau memberi kesempatan untukku berbicara," lirihku dengan berurai air mata. "Kamu salah Al, itu bukan aku tetapi saudara kembarku," kata inilah yang ingin aku beritahu tadi tetapi Alfred tidak beri kesempatan aku untuk berbicara.
Aku angkat wajahku ke atas memandangi langit-langit kamar mandi.
"Kak sebenarnya apa yang terjadi? apa yang telah Kakak lakukan sampai-sampai kekasih Kakak berakhir seperti itu? aku harap Kakak masih hidup dan jelaskan semua kesalahpahaman ini," lirihku dengan tatapan kosong ke atas.
Hari ini aku dinas malam sehingga aku bisa masak untuk makan siang. Aku memasak menu kesukaan Leon, ya apapun yang Leon request selalu aku penuhi selagi mampu. Setelah selesai memasak aku memotong buah-buahan yang tidak lipat dari yang Leon sukai.
Setelah semua siap aku mendudukkan diri di kursi meja makan. Pikiranku sejak beberapa hari ini memenuhi isi kepalaku.
Tap tap
Bunyi ketukan sepatu membuat lamunanku buyer, lalu menoleh ke asal suara. Aku menghela nafas panjang melihat siapa sesosok yang datang, siapa lagi kalau bukan orang suruhan Alfred yaitu Andre.
"Selama siang Nona," sapa Andre seperti biasanya bila bertemu denganku.
"Iya Andre," sahutku tanpa bersemangat, bahkan engan untuk menatap Andre.
"Apa Nona ada waktu?" tanya Andre sehingga mau tidak mau membuatku menatapnya, tadi kukira pria dingin ini sudah beranjak pergi, rupanya aku salah karena Andre masih berdiri di tempat semula.
"Aku tidak punya waktu," jawabku sekiranya karena memang aku sangat lelah dengan diriku bahkan hatiku ini. Sebenarnya aku menderita fisik maupun batin. Belum lagi nyeri di perutku ini selalu kumat.
Kening Andre mengerut mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Saya minta waktu sebentar saja Nona. Tuan sedang sakit dan sekarang berada di kantor," terang Andre dengan wajah memohon.
"Sakit?" mendengar perkataan Andre membuatku terlonjak kaget. Entah kenapa kata sakit itu membuatku merasakan sakit juga. Apa itu karena aku sangat mencintainya? atau karena rasa kasian? suatu saat akan terjawab dengan sendirinya.
Melihat raut wajahku yang terlihat khawatir membuat Andre menyunggingkan enyuman yang tentunya tanpa aku ketahui.
"Iya Nona. Tuan demam tinggi, menggigil bahkan sudah tiga kali muntah-muntah," terang Andre semakin membuatku semakin khawatir, aku takut Alfred terserang malaria karena itu menunjukan gejala malaria.
"Baiklah aku akan ke sana," ucapkan langsung beranjak dari tempat duduk. "Hmm apa Alfred yang memerintahkanmu untuk memanggilku?" seketika aku terdiam sesaat karena tidak mungkin bertemu Alfred.
Pertanyaanku membuat Andre mengaduk kepala yang tidak gatal. Dari gelagat Andre aku sudah tau jika semua ini insiatif Andre semata. Akupun kembali duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas meja.
"Lebih baik jadi dokter lain Andre," lirihku tanpa semangat. "Lagi pula jurusanku hanya menangani anak-anak," itu hanya sekedar alasanku saja.
"Tapi saya maunya Nona karena Nona adalah istri Tuan," kekeh Andre memaksaku.
Aku menatap Andre dengan wajah muram. Andre selalu mengatakan jika aku adalah istri Alfred, sedangkan Alfred tidak pernah menganggap seperti itu.
"Aku bukan istrinya, tepatnya bahan balas dendam Tuanmu. Pergilah Andre, bawa saja ke rumah sakit," usulku karena jujur saja aku sangat mengkhawatirkan Alfred dan secepatnya mendapat penanganan.
Dret.....
Ponsel Andre bergetar didalam kantong celana. Dengan tergesa-gesa Andre merogoh, lalu menjawab panggilan itu.
["Baik,'']
"Nona untuk kali ini redakan dulu ego Nona. Yang barusan menghubungi saya adalah pihak kantor jika Tuan semakin parah," terang Andre.
"Aku tidak pernah egois Andre, dimana sikap egoisku?" tuduhan Andre membuatku merasa kesal.
"Maafkan saya Nona," ujar Andre sembari mengaduk kepala yang tidak gatal.
"Tunggu sebentar," ucapku dan langsung bergegas menuju kamar untuk mempersiapkan diri.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1