
Di kantor pusat pencakar langit perusahaan HUGO GROUP yang bergerak di bidang property, yayasan pendidikan dan rumah sakit.
"Brengs*," Alfred melempar berkas pembukuan bagian keuangan rumah sakit. Bagaimana tidak pengeluaran lebih besar dari pada laba sehingga mengakibatkan kerugian dengan angka fantasi.
"Tuan sepertinya ada yang ingin bermain-main," ujar Andre.
"Cari tikus- tikus itu Andre,"
"Tidak semudah itu Tuan, seperti yang Tuan katakan tikus-tikus itu sangat cerdas menghilangkan jejak,"
"Kau lupa siapa aku Andre?" bentak Alfred sembari menepuk dadanya berulang kali.
"Tentu saja aku tau, Tuan adalah pria kejam seperti yang Nona julukan," ingin sekali Andre mengatakan itu tetapi hanya bisa ia sampaikan dalam hati.
"Maaf Tuan,"
"Setelah jam makan siang kita akan ke rumah sakit. Konfirmasi dengan para petinggi akan diadakan rapat mendadak," titah Alfred.
"Baik Tuan,"
"Hmm apa masih ada informasi yang lain?"
"Masalah Nona Tuan,"
"Ada apa dengannya? itu bukan urusanku Andre,"
"Maaf Tuan. Keberadaan Nona di rumah sakit tidak diterima oleh sebagian dari rekan kerjanya, khususnya sesama wanita," terang Andre.
Alfred mencerna setiap perkataan Andre.
"Kau tidak perlu mengurus hal yang tidak penting itu Andre! Bukankah hal itu menguntungkan bagiku karena tanpa aku turun tangan perlahan penderitaannya semakin bertambah, itu yang aku inginkan," ujar Alfred dengan tersenyum smirk.
"Lakukan saja Tuan, jangan pernah ada kata menyesal dikemudian hari. Nona tidak pantas diperlakukan tidak adil seperti itu," keluh Andre didalam hati.
"Baiklah Tuan saya rasa juga begitu, lagi pula ada sesosok yang selalu membela Nona yaitu dokter Frans. Baiklah saya permisi Tuan untuk mempersiapkan bahan pembahasan rapat nanti," Andre langsung berlalu keluar ruangan. Sebelum menutup pintu ujung mata Andre menangkap gelagat Alfred setelah mendengar dokter Frans. "Misi baru saja dimulai," batin Andre di luar pintu.
Di meja kerjanya Alfred tak konsen, perkataan Andre terngiang di telinganya sehingga membuat ia mengusap wajah.
"Apa dia berniat untuk menggoda Frans? tidak bisa dibiarkan. Aku akan berbicara dengan Frans," gumam Alfred sembari memutar-mutar pulpen.
°°°°°°
Aku merasa lega karena sudah membicarakan soal tentang Leon kepada kedua orang tuaku. Aku juga mengutarakan keinginanku untuk mengangkat Leon sebagai anak. Kedua orang tuaku sangat mendukung, bahkan mereka ingin berkenalan dengan Leon. Sungguh aku sangat menyayangi anak kecil tampan itu.
"Apa aku harus berbicara dulu dengan Alfred? kataku pada diri sendiri. "Sepertinya tidak karena Alfred tak akan peduli jika itu bukan menyangkut urusannya," gumamku lagi.
Menjelang malam aku bersiap-siap akan berangkat ke rumah sakit. Untuk satu minggu ke depan akan dinas malam. Sedangkan Leon akan ditemani Dea yang berusia lebih tua 4 tahun dari usiaku. Aku mendapatkan Dea dari Pak Seun yang tak lain masih kerabat dekat. Tugas Dea adalah mengantar jemput dan mengurus keperluan Leon selama aku sibuk di rumah sakit.
"Leon kemari sayang," panggilku sehingga Leon menghampiri.
Aku mengusap kepala Leon dengan penuh kasih sayang.
"Sayang mulai sekarang panggil Mommy ya? jangan panggil Bu dokter lagi. Sekarang Leon punya Mommy yaitu aku," ucapku memberitahu Leon.
__ADS_1
Leon terdiam dengan wajah bingung menatap wajahku.
"Sayang mulai sekarang Leon adalah anak Mommy. Mommy sangat menyayangi Leon," jelasku dengan pelan masih mengusap kepala Leon.
"Mommy," gumam Leon.
Mendengar panggilan itu membuat hatiku terharu. Aku langsung memeluk Leon dengan mata berkaca-kaca.
°°°°°°
Tiba di rumah sakit tujuanku langsung ke lantai 3. Ada laporan rutin yang ingin aku serahkan kepada bagian kepala. Untuk menuju ruangan itu akan melalui kamar mayat. Itu sudah biasa bagiku dan rasa takut sudah kebal.
Tiba-tiba langkahku terhenti tepat di pintu kamar mayat, bukan karena mendengar bisikan setan tetapi itu obrolan dari dua manusia, sepertinya sedang berbicara lewat sambungan telepon. Merasa penasaran aku mengintip di balik pintu kamar mayat yang sedikit terbuka.
"Iya Tuan sudah saya jalankan," ujar pria itu.
Keningku mengerut, rasa penasaran menyelimutiku. Ponsel dalam tas aku rongoh dan merekam pembicaraan panjang itu.
Merasa cukup dengan cepat aku bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan berdebar, bagaimana tidak itu pembicaraan yang menyangkut rumah sakit ini.
"Aku harus membicarakan masalah ini dengan Andre," batinku sepanjang jalan. "Semoga saja aku tidak ketahuan," sedikit rasa takut menyelimutiku.
Aku berpikir panjang.
"Hugo apa orang dalam sambungan telepon tadi ingin menyakitinya? berarti ingin menyakiti pemilik rumah sakit ini," gumamku.
Usai mengantar laporan aku langsung menuju ruanganku.
"Malam dok?" sapa dokter Frans yang kebetulan berpapasan denganku.
"Iya untuk 2 minggu ke depan," sahut dokter Frans.
"Semangat," kataku sembari tersenyum.
Dokter Frans menyunggingkan senyuman.
Tiba-tiba kedatangan Alfred sama Andre merubah raut wajahku.
"Apa pekerjaan kalian untuk mengobrol?" sindir pria itu siapa lagi jika bukan Alfred.
"Kami hanya kebetulan saja, tugas yang kami emban tidak mungkin terlalai hanya akibat mengobrol," balas dokter Frans menyindir.
Mulutku mengembung menghembus nafas. Sedikit heran karena dokter Frans berani melawan. Bukan sampai di situ, sebenarnya apa kedudukan Alfred di rumah sakit ini sehingga ia sangat berperan penting. Lihatlah malam juga mereka berada di rumah sakit ini. Sangat banyak pertanyaan di kepalaku ini tetapi sedikitpun tak terjawab.
"Malam Nona," sapa Andre seperti biasanya ketika bertemu denganku. Aku menyadari keheranan di wajah dokter Frans karena sapaan Andre itu.
"Malam juga Tuan. Baiklah saya permisi," balasku dan ingin menghilang dari ketiga pria itu.
Dengan tergesa-gesa aku langsung memasuki ruanganku. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Andre.
Di luar ketiga pria itu masih mengobrol.
"Ikut ke ruanganku," tunjuk Alfred kepada dokter Frans.
__ADS_1
Di ruangan kebesaran mereka duduk di sofa.
"Tanpa diduga ternyata tikus-tikus banyak bersembunyi di gedung rumah sakit ini," ujar Alfred sembari melemparkan pembukuan penggelapan dana keuangan.
Dokter Frans terlonjak kaget, lalu terulur tangannya meraih laporan itu.
"Sejak kapan?" tanya dokter Frans.
"Sejak 6 bulan ke depan," sahut Andre. Sedangkan Alfred memijit ujung keningnya.
"Oh my god," mata dokter Frans membulat melihat nominal kerugian yang tertera.
"Kau terkejut? tetapi tidak bisa diandalkan," serkas Alfred menyalahkan kinerja dokter Frans.
"Dari awal kamu sudah tau batas kemampuanku, jadi ini semua bukan salahku," ujar dokter Frans tidak ingin masalah ini dilemparkan kepadanya.
"Kau," unjuk Alfred dengan rahang mengeras.
"Cukup Tuan," Andre menyela kedua pria tampan itu.
"Aku akan berusaha mencari tau dalang dibalik kecurangan itu," ujar dokter Frans.
"Andre kembali pasangkan CCTV tersembunyi di seluruh gedung rumah sakit ini, jangan ada yang terlewatkan, bahkan toilet khusus wanita," ujar Alfred sehingga membuat Andre maupun dokter Frans saling memandang dengan mata menyipit. "Untuk khusus toilet wanita akan di pegang oleh pengawas wanita jadi simpan pikiran negatif kalian," ralat Alfred seakan tau isi pikiran Andre dan dokter Frans.
Keduanya saling menghela nafas panjang.
"Satu lagi pasang sebanyak mungkin di ruangan dokter Isabella," titah Alfred kembali.
Andre maupun dokter Frans kembali menatap Alfred dengan wajah aneh.
"Dia dokter baru dan aku mendapat laporan bahwa dia dokter yang paling teladan," Alfred kembali meralat ucapannya.
Andre maupun dokter Frans manggut-manggut seakan paham.
"Apa Tuan mengkhawatirkan keselamatan Nona? ini kabar gembira," batin Andre. Sedangkan dokter Frans sedikit curiga.
"Apa kamu menyukai dokter Abel?" pertanyaan dokter Frans membuat tatapan Alfred menajam. "Ingat dia sudah menikah," imbuhnya.
"Tuanlah suami Nona Isabella," tentu saja Andre berani berkata didalam hati.
"Atas dasar apa kau menuduhku? apa aku sudah tidak laku sehingga mengambil milik orang lain? sedikitpun aku tak tertarik kepada yang kau sebutkan," elak Alfred.
"Dari tatapan aku dapat melihat itu. Pria mana yang tak menginginkan wanita seperti dia, termasuk aku tetapi sayangnya dunia tak menginginkan itu," akui dokter Frans dengan tatapan sendu.
Tangan Alfred terkepal mendengar pengakuan dokter Frans. Sampai-sampai kertas dalam genggamannya tak berbentuk lagi. Sedangkan Andre menyunggingkan senyuman melihat gelagat Alfred.
"Aku menyuruhmu ke sini bukan untuk membahas wanita itu," ujar Alfred dengan tegas.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Banyak kakak-kakak say bertanya kapan terungkap?
__ADS_1
•Jangan bertele-tele lah thor?
Tenang suatu saat akan terungkap dengan sendirinya tanpa diberitahu. Jadi sabar ya say....