MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 168~MDS2


__ADS_3

Mendengar pernyataan Rebecca membuat semuanya terbelalak kaget sehingga membuat merek menatap Rebecca dengan mulut menganga.


Terlebih lagi Keenan. Tubuhnya membeku mendengarkan kalimat itu lolos dari mulut Rebecca.


"Sayang jangan pernah katakan itu?" lirih Mommy Isabella seraya menangis. Hatinya hancur ketika kalimat keramat itu lolos dari mulut Rebecca.


Rebecca menarik nafas. Ia juga sangat sesak mengatakan ini.


"Mungkin ini yang terbaik Mom. Eca manusia biaya, punya perasaan yang sensitif," lirih Rebecca.


"Beri aku kesempatan untuk berbicara," akhirnya Keenan membuka suara.


Rebecca menatap dengan sinis.


"Kesempatan bicara apa? semua sudah terjawab di semua media, apakah kamu ingin membela diri? dan menyalahkan satu pihak dalam masalah ini? apakah belum puas untuk memojokkan diriku? lihat semua media mencemoh dan memojokkan seorang Rebecca, mengatai diriku pelakor!" Ucap Rebecca menggebu dengan dada turun naik. "Seakan aku yang menjadi tersangka tanap mereka ketahui yang sebenarnya," lirih Rebecca berusaha tegar.


Tiba-tiba Tuan Sun beranjak bangkit lalu bersujud di kaki Rebecca.


Mata Rebecca membulat mendapati Tuan bersimpuh di kedua kakinya. Sungguh Rebecca tidak tau apa yang terjadi.


"Tuan jangan begini? ada apa?" ucap Rebecca dengan tatapan heran. Ia berusaha menepis apa yang dilakukan Tuan Sun.


"Yang perlu disalahkan di sini adalah Daddy Nak," ujar Tuan Sun dengan nada terisak.


Rebecca belum tau apa maksud dari kalimat Tuan Sun.


"Nak ini adalah Daddy mu. Kamu adalah putri Daddy, darah daging Daddy," ungkap Tuan Sun seraya menggenggam erat tangan Rebecca.


Deg


Tubuh Rebecca membeku dengan mata membulat seperti ingin keluar dari tempatnya.


Lucky memberi selembar kertas kepada Rebecca. Dengan tangan bergetar Rebecca meraih kertas tersebut.


Lalu segera membacanya.


Deg


Seakan jantungnya berhenti mendapati keterangan didalam kertas sana. Yang menyatakan bahwa tes DNA dirinya dengan Tuan Sun 99,9 itu berarti mereka adalah Ayah dan anak.


Rebecca menatap Tuan Sun dengan mata berkaca-kaca. Masih belum sepenuhnya percaya.

__ADS_1


Dengan cepat Rebecca menggelengkan kepala karen tidak mungkin.


"Dad, Mom katakan jika ini hanyalah sebuah kebohongan!" Lirih Rebecca masih dengan menggelengkan kepala.


"Apa yang tertera di kertas resmi itu adalah kebenarannya Nak. Kamu adalah putri dari Tuan Sun," pungkas Daddy Alfred. "Maafkan kami karena kami juga baru mengetahuinya sebelum kalian tiba," imbuhnya.


"Nak boleh Daddy memelukmu?" mohon Tuan Sun kepada Rebecca.


Rebecca segera menggeleng serta menggeser duduknya.


"Terima kasih anda sudah menjadi Ayah biologis saya, tetapi jika boleh memilih lebih baik saya tidak ingin dilahirkan." Ungkap Rebecca tanpa merasa iba, dirinya sudah dikuasai amarah bahkan sudah tidak tau bagaimana mengendalikan dirinya. "Jika seorang Rebecca tidak dilahirkan maka tidak ada orang yang tersakiti!" Lirihnya seakan menyindir Keenan, bahkan ia menatap Keenan.


Tuan Sun meremas dadanya mendengar pengakuan Rebecca. Sungguh hatinya perih mendengar jeritan hati putrinya.


"Daddy minta maaf Nak, sungguh Daddy tidak tau," ucap Tuan Sun dengan bibir bergetar.


"Anda tidak salah Tuan. Yang perlu disalahkan di sini adalah saya. Sayalah pembawa sial di sini!"


"Rebecca!" Seru Daddy Alfred dengan suara meninggi.


Mendengar suara bariton Daddy Alfred membuat Rebecca mengkatup mulutnya serasa menunduk.


Daddy Alfred bangkit lalu duduk di sebelah Rebecca seraya memegang kedua bahunya.


Rebecca sesak dan tidak sanggup membalas tatapan itu.


"Tuan Sun adalah Ayah biologis kamu. Jika kamu ingin tau masa lalu itu, kamu bisa bertanya langsung dikemudian hari," papar Daddy Alfred. "Daddy tidak bisa melarang atau memaksa kehendak atau keinginanmu, ikuti kata hatimu sendiri."


Rebecca memejamkan mata.


"Seperti yang kamu katakan tadi, oke akan Daddy kabulkan jika itu yang terbaik," ujar Daddy Alfred dengan tekad bulat.


Mendengar pernyataan Daddy Alfred membuat Keenan maupun Mommy Isabella terbelalak kaget.


"Tidak Dad, ini tidak akan terjadi!" Teriak Mommy Isabella seraya menggelengkan kepala.


"Mereka yang menjalankannya sayang. Sekarang bukan hak kita lagi, mereka sudah dewasa, sudah tau mana yang baik dan buruknya. Kita selama ini sudah ikut campur, lihatlah keadaannya seperti ini karena ulah kita," papar Daddy Alfred seakan menyalahkan dirinya sendiri.


Keenan maupun Rebecca tertekun mendengar hal itu.


"Tuan Sun yang paling berhak atas Rebecca adalah anda. Atas nama Keenan kami minta maaf," ujar Daddy Alfred berusaha tegar. Bagaimana bisa ia rela menyerahkan Rebecca begitu saja, mereka yang merawat dari lahir dan sampai dewasa. Tetapi ia tidak ingin egois ia sudah gagal menjadi orang tua yang baik.

__ADS_1


Rebecca tercengang. Hatinya tersayat-sayat mendapati raut kesedihan di wajah pria paruh baya itu.


Keenan tidak tahan lagi sehingga ia nekat menarik tangan Rebecca, membawanya keluar dari Mansion untuk berbicara empat mata.


Sedangkan yang lainnya tidak bisa menghalangi Keenan.


"Biarkan mereka menyelesaikan sendiri," ujar Daddy Alfred seraya memegang dadanya.


"Ada apa sayang?" tanya Mommy Isabella dengan wajah panik.


Daddy Alfred tak menjawab, bahkan semakin sulit untuk bernafas. Tidak lama ia tumpang tak sadarkan diri.


"Dad, Dad," panggil Mommy Isabella seraya menangis.


°°°°°°


Didalam mobil kini kedua pasangan suami istri itu terdiam tepat di tepi jalan.


Keenan menoleh ke samping, dimana Rebecca duduk terdiam dengan pandangan jauh ke depan.


Malam semakin larut sehingga jalanna sudah semakin sepi.


Hmm


"Aku minta maaf," ujar Keenan diawal membuka suara.


Rebecca tersenyum sumbing mendengar kalimat itu lolos dari mulut Keenan.


"Tidak ada yang harus dimaafkan," ucap Rebecca.


"Aku sudah mengakhiri hubungan kami tepat dimana kita akan menikah. Selama itu kami tidak pernah bertemu lagi," ungkap Keenan. "Aku sama sekali tidak tau kenapa Sunny datang di acara pelepasan peserta WAMIL, bahkan bersikap tidak sewajarnya. Pada saat itu aku ingin berlari, ingin memelukmu untuk terakhir kalinya selama aku bertugas tetapi pada saat itu pula Sunny tiba-tiba memelukku. Aku sempat mendorong dia tetapi kamu sudah keburu kabur tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku sempat ingin berlari mengejarmu tetapi keburu sudah tidak bisa karena mobil segera berangkat," cerita Keenan.


Rebecca terdiam, ingatan 2 tahun yang lalu masih sangat membekas. Dimana ia mendapati dua sosok sedang berpelukan di kerumunan orang.


"Tepat dimana kepulanganku, itu tidak sengaja kami bertemu di bandara khususnya di area parkir. Dengan tidak sengaja Sunny menabrak diriku seraya menangis. Kami sama-sama kaget tak percaya, tanpa berpikir panjang Sunny langsung memelukku lalu memberitahukan bahwa orang tuanya sedang sekarat di rumah sakit. Untuk itu ia kembali dari negara x. Dengan memohon Sunny memintaku mengantar dirinya di rumah sakit, dimana orang tuanya mendapat perawatan. Aku tidak bisa menolak karena......"


"Karena kamu masih cinta," sela Rebecca dengan senyuman sumbing.


Keenan menggeleng.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2