
1 bulan kemudian
Hari ini Keenan membawa Rebecca pindah ke Mansion. Mansion yang sudah ia bangun dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Sebelum tugas WAMIL ia sudah membangun Mansion itu tetapi baru-baru ini mulai menyempurnakan bangunannya sesuai dengan keinginan Rebecca.
Tiba di Mansion mereka langsung mengobrol di taman.
"Sayang kenapa wajahmu pucat?"
"Entahlah sayang, akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah," sahut Rebecca.
"Apa mungkin karena aku minta terus-menerus?" ujar Keenan mengarah ke arah hubungan intim. Memang mereka tak melewatkan jika ada kesempatan, bahkan di kantor mereka juga melakukannya.
"Bisa jadi," lirih Rebecca seakan ucapan Keenan benar.
"Maaf sayang."
Rebecca menghela nafas panjang.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, biar aku saja yang masak," ujar Keenan. Lalu ia menggendong tubuh lemas itu, membawanya ke kamar.
Rebecca pasrah karena ia benar-benar merasa tersiksa. Rasa pusing, mual yang ia rasakan.
Kini Rebecca tertidur dengan posisi miring memeluk guling. Keenan beranjak setelah memastikan Rebecca sudah tertidur.
Karena saat ini mereka belum membutuhkan pelayan hingga membuatnya memasak sendiri.
Sebelumnya ia menanyakan menu apa yang menjadi makan malam. Sesuai dengan pilihan Rebecca ia berusaha mengolah bahan makanan itu menjadi makanan lezat.
Hampir 1 jam Keenan berkutat dengan perabot dapur. Akhirnya makanan sudah ia tata di atas meja makan.
Ia beranjak kembali ke kamar. Ketika masuk senyuman merekah di bibirnya melihat posisi tidur Rebecca yang begitu mengemaskan.
"Sayang ayo bangun." Dengan lembut Keenan membangunkan Rebecca.
Tidak menunggu lama Rebecca terbangun dari tidurnya.
"Sudah jam berapa ini sayang?" tanya Rebecca dengan nada suara parau.
"Pukul 6 sayang, sebaiknya kita segera membersihkan diri. Makan malam sudah kusiapkan," ujar Keenan.
"Maaf ya jadi merepotkanmu sayang," ucap Rebecca dengan raut wajah datar.seraya mengelus wajah tampan itu.
"Tidak masalah sayang. Bila perlu setiap hari aku yang masakin," ujar Keenan dengan mengenggam tangan Rebecca yang berada di wajahnya.
__ADS_1
Tanpa diduga Rebecca langsung memeluk tubuh itu. Pelukan yang paling ternyaman.
Tiba-tiba
Uwek.....uwek....
Seketika Rebecca ingin muntah hingga membuatnya membungkam mulut, segera beranjak ke kamar mandi.
Tentu saja membuat Keenan sedikit panik hingga ia juga beranjak, mengikuti Rebecca masuk ke dalam kamar mandi.
Rasa mual begitu sangat terasa tetapi tidak mengeluarkan sisa makanan. Wajahnya langsung pucat pasi.
"Sayang apa kamu sakit?" ujar Keenan dengan raut wajah khawatir.
"Entahlah sayang, rasanya mual sekali. Atau jangan-jangan masuk angin sayang, tetapi jangan khawatir karena sebentar lagi akan baik-baik saja," ucap Rebecca dengan suara lemah.
"Aku akan panggilkan dokter," tutur Keenan.
Rebecca menggeleng
"Tidak perlu sayang, aku baik-baik saja," sahut Rebecca berusaha tersenyum.
Keenan akhirnya mengalah karena Rebecca kuat menolak. Mereka segera membersihkan diri, bahkan Keenan yang membantu memandikan Rebecca.
Besok adalah perayaan kecil-kecilan ulang tahun Keenan yang hanya di hadiri keluarga saja.
Mereka sepakat mengundang koki dari restoran berbintang karena kebetulan Rebecca kurang sehat. Mereka tidak ingin menyibukkan Mommy Isabella hingga sepakat mengundang koki.
Hari ini Rebecca tidak masuk kantor karena memang tidak memungkinkan. Dengan dalih ia hanya letih agar Keenan tak khawatir.
"Ada apa denganku akhir-akhir ini," gumam Rebecca.
Rasa mual begitu kuat. Selera makan jadi berkurang, bahkan mencium aroma masakan tertentu membuatnya mual.
Rebecca membuka sosial media, mencari tahu gejala yang sedang ia alami beberapa hari ini.
"Apa aku hamil?" gumam Rebecca dengan jantung berdebar. Ia mengingat bahwa bulan lalu tidak mentruasi. "Ah tidak mungkin," rapatnya kembali karena memang siklus menstruasinya tidak teratur.
Masih dengan jantung berdebar ia mondar-mandir. Mendapat ide ia keluar membeli testpack di apotik terdekat.
Tidak tanggung-tanggung 4 jenis benda itu sudah berada di tangannya. Rebecca pun segera pulang.
Ia akan membuktikannya besok pagi.
**
__ADS_1
Pagi menjelang
Rebecca terbangun. Dengan hati-hati ia melepaskan pelukan Keenan.
Pagi ini ia akan tampung urine untuk membuktikan apakah ia hamil atau tidak. Sembari mengenggam 4 jenis testpack itu Rebecca segera masuk ke kamar mandi dan tidak lupa mengunci pintu, ia tidak ingin diketahui oleh Keenan.
Dengan tangan gemetaran serta jantung berdebar Rebecca mulai melakukan sesuai petunjuk. Pertama ia menggunakan jenis test pack strip.
Beberapa detik ia menutup mata dengan tangan gemetaran. Cukup ia membuka kedua matanya perlahan, memperhatikan hasil.
Deg
Matanya melotot serta jantung berdegup kencang mendapati dua garis merah yang sedang ia pegang.
"A....aku hamil?" gumam Rebecca tak percaya.
Hasil positif itu membuatnya kaget bukan main. Masih ragu-ragu ia mencoba menggunakan test pack digital.
Dalam hitungan menit hasil itu juga menunjukan positif, dalam arti ia hamil.
Rebecca kembali mencoba menggunakan testpack yang ke tiga dan ke empat, dan hasilnya juga sama yaitu positif.
"Terima kasih Tuhan, doa-doa kami telah terjawab," ucap Rebecca seraya meneteskan air mata kebahagiaan.
Ia mengusap perut yang masih rata itu. Mengucap syukur karena sudah hadir dalam batas waktu begitu cepat.
Dengan wajah berseri-seri Rebecca membawa 4 jenis testpack positif tersebut. Ia akan menyembunyikan dulu kabar gembira itu. Ini adalah hadiah ulang tahun Keenan yang tak ternilai.
Rebecca kembali membaringkan tubuhnya di samping Keenan. Menatap wajah tampan itu dengan raut wajah sumringah.
Pagi ini adalah kebahagiaan luar biasa.
Rebecca menyelusup di dada polos itu. Perlakuannya seperti sedang menggoda. Perlakuan Rebecca membuat tidur Keenan terusik hingga ia terbangun.
"Sayang....." gumam Keenan dengan suara parau habis bangun tidur.
Rebecca langsung menyambar bwbir itu. Bahkan me lumattnya. Tentu saja Keenan kaget bukan main. Hingga ia mengira sedang bermimpi saking tak percayanya.
Keenan paham dengan kode-kode yang dilakukan Rebecca hingga ia tidak membuang kesempatan. Apa lagi adik kecilnya sudah terusik.
Akhirnya keinginan Rebecca terpenuhi. Mungkin ini adalah pengaruh hormon kehamilannya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
__ADS_1