
"Sayang menikahlah dengan, dengan Rebecca."
Deg
Ucapan lembut, lantang itu membuat seorang Keenan membeku. Bahkan bola matanya ingin keluar dari tempatnya.
"Ini sudah keputusan Mommy dan Daddy," imbuh Mommy Isabella seraya menatap wajah Keenan.
"Lelucon apa ini Mom?" ujar Keenan dengan bibir melebar, seakan menertawai perkataan konyol itu.
"Ini bukan lelucon seperti yang kamu kira. Apa yang dikatakan Mommy itulah benar," timpal Daddy Alfred.
Keenan menggeleng. "Tidak, itu tidak mungkin terjadi!" Pungkas Keenan dengan suara meninggi.
"Ini bukan lelucon sayang. Beberapa minggu lagi pernikahan kalian akan digelar," sambung Mommy Isabella.
Sekali lagi berhasil membuat Keenan terbelalak kaget.
"Apa maksud semua ini Mom, Dad?" ujar Keenan dengan suara meninggi, bahkan ia beranjak bangkit dari duduknya. "Bagaimana mungkin aku menikahi Adikku sendiri?" imbuhnya dengan rahang mengeras.
"Ingatlah jika kalian bukan saudara kandung, jadi sah-sah saja," ucap Mommy Isabella tak mau kalah.
"Apakah semua ini rencana putri manja kalian yang menyebalkan itu? ya aku tau pasti ini semua rencana dia!" Teriak Keenan sudah kehilangan rasa hormat nya lagi kepada kedua orang tuanya. Sungguh rasa emosi menyelimuti hatinya saat ini.
"Jangan asal menuduh, bahkan Eca tidak tau apa-apa," sahut Mommy Isabella menentang tuduhan Keenan.
"Kami akan menceritakannya," ujar Daddy Alfred.
**
Di rumah sakit
Malam dimana Dea merasakan sakitnya semakin parah.
"Kak Dea bertahanlah demi Eca," ucap Mommy Isabella seraya memapah tubuh Dea untuk bisa duduk.
"Saya tidak kuat lagi Nona," lirih Dea dengan nafas tersengal-sengal.
"Jangan katakan itu," ucap Mommy Isabella dengan mata berkaca-kaca.
"Mana Eca, Nona? saya ingin memeluknya untuk terakhir kalinya," lirihnya kembali.
"Maaf Kak Dea, Eca ada di Mansion," sahut Mommy Isabella dengan wajah bersalah karena tidak membawa Arabelle. Arabelle baru berusia 1 tahun jadi tidak baik untuk kesehatannya bila berada di rumah sakit.
"Tidak apa-apa Nona."
Dea berusaha mempertahan nafasnya.
"Tuan, Nona. Saya titip Eca, tolong sayangi Eca seperti putri Tuan sama Nona. Eca tak punya siapa-siapa lagi selain keluarga Tuan dan Nona," lirih Dea dengan nafas sesaknya. "Tuan, Nona tolong kabulkan permintaan terakhir saya, mungkin ini terlalu naif tetapi saya percaya jika Eca akan bahagia hidup dengan Keenan. Keenan sangat menyukai dan menyayangi Eca, maka dari itu saya mohon ketika sudah dewasa nanti jodohkan mereka. Saya hanya percayakan Eca kepada Keenan," ungkap Dea panjang lebar.
Deg
Siapa yang tak kaget mendengar permintaan itu?
__ADS_1
Mommy Isabella dan Daddy Alfred saling memandang dengan mulut terkatup.
"Saya mohon kabulkan permintaan terakhir saya ini Tuan, Nyon...." Seketika ucapan lirih itu tak sampai selesai. Dea menghembuskan nafasnya seketika.
**
"Begitulah ceritanya," ujar Daddy Alfred dengan sendu ketika mengingat kejadian miris itu.
Keenan memejamkan mata setelah mendengar cerita itu, hingga ia kembali mendaratkan bokongnya.
"Bibi Dea sudah banyak berjasa dalam keluarga kita. Ketika kalian masih dalam kandungan Mommy, Bibi Dea selalu siap sedia 24 jam untuk menjaga Mommy. Ketika kalian lahir tanggungjawabnya semakin besar untuk membantu menjaga kalian. Dia lakukan dengan tulus bukan karena gaji, kasih sayangnya untuk kalian sangat tulus," papar Mommy Isabella kembali mengingatkan.
"Ingat Nak, Bibi Dea hanya mempercayakan dirimu untuk menjaga Eca," timpal Daddy Alfred.
"Kenapa harus ada perjanjian konyol itu? kenapa Daddy sama Mommy tak bisa menyanggupi?" ujar Keenan dengan darah mendidih. "Aku sama sekali tidak ada perasaan ke Rebecca, bagaimana bisa aku menikahinya? asalkan Daddy sama Mommy tau bahwa selama 2 tahun ini aku sudah memiliki kekasih," ungkap Keenan dengan hati memanas.
Kedua paruh baya itu tertekun mendengar pengakuan Keenan.
"Kamu memiliki kekasih? selama itu?" lirih Mommy Isabella dengan mata berkaca-kaca.
Keadaan hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Apapun yang terjadi Mommy sama Daddy sudah sepakat untuk menikahkan kalian. Apapun alasan kamu, pernikahan ini tetap di gelar," ucap Mommy Isabella menekankan.
Keenan menggeleng tidak menyetujui permintaan konyol itu.
"Aku tidak bisa. Aku sama sekali tidak ada perasaan kepada Eca, hanya sebatas perasaan ke Adik yang sewajarnya," ungkap Keenan.
"Tetapi Eca menyukaimu sayang, bahkan dia memendam perasaan itu," sahut Mommy Isabella.
"Aku tidak bisa. Aku sudah memilih pilihan sendiri, bahkan kami akan membawa hubungan itu ke jenjang lebih dalam. Aku ingin melamar kekasihku," papar Keenan.
Kedua paruh baya itu memejamkan mata mendengar pengakuan Keenan. Mereka tidak pernah menyangka jika putra penerus HUGO GROUP itu sudah memiliki kekasih.
"Maaf untuk itu aku tidak bisa. Masalah perasaan tidak bisa dipaksakan," ujar Keenan menegaskan.
"Demi Bibi Dea, Ken. Ini bukan keinginan kami tetapi itu permintaan terakhir Bibi Dea! Apa setega dan sekejam itu kamu menolak permintaannya? dimana balas budimu?" lirih Mommy Isabella disertai tangisan.
"Kenapa Mommy sama Daddy waktu itu tidak mengatakan jika tidak dapat memenuhi permintaan konyol itu?" teriak Keenan tak dapat dikendalikan lagi sembari bangkit.
"Keenan!" Suara bariton itu membuat Keenan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keluar.
Sedangkan Mommy Isabella sudah duduk terdiam seraya mengusap dadanya sembari terisak.
"Aku tidak bisa Dad. Aku akan menikahi Sunny, kekasihku," ujar Keenan tanpa membalikan badan.
"Baik! Menikahlah dengan kekasihmu itu," ujar Daddy Alfred seraya bangkit. Mendengar perkataan sang Daddy membuat Keenan bernafas lega. "Mulai hari ini kepemimpinanmu di perusahaan HUGO GROUP, Daddy copot dan akan digantikan oleh Rebecca." Ujar Daddy Alfred dengan lantang.
Deg
Tubuh Keenan membeku dengan mata melebar mendapat ancaman tak main-main itu.
"Ayo sayang kita segera kembali ke Mansion, Daddy ingin segera mengurus kepemimpinan perusahaan kembali," ucap lembut Daddy Alfred kepada istri tercintanya itu. "Jangan pernah meneteskan air mata untuk seseorang yang tidak tau membalas jasa," imbuhnya seakan menyindir Keenan.
__ADS_1
Ia rangkul tubuh Mommy Isabella, membawanya keluar dari ruangan itu. Berlalu melewati Keenan yang masih berdiri mematung tanpa sepatah kata lagi.
**
Selepas kepergian kedua orang tuanya. Keenan meradang dengan tangan terkepal erat.
Ssst
Keenan mengusap wajahnya dengan perasaan kacau balau. Bagaimana tega sang Daddy mengancamnya, membawa nama perusahaan.
"Aku harus bagaimana? kenapa menjadi serumit ini?" gumam Keenan dengan mata memerah.
Sekilas ingatan terlintas dimasa lalu.
**
Kehadiran bayi mungil ditengah keluarga besar itu membawa kebahagiaan. Mereka menerima kehadirannya dengan penuh suka cita.
Tangisan bayi yang sudah lama didengar kini memenuhi Mansion.
"Bibi siapa namanya Dede bayi?" tanya Leon.
"Rebecca Hugo," sahut Mommy Isabella menjawab.
"Nama yang indah," sahut Dea sembari menyunggingkan senyuman.
"Di panggil Eca," ucap Keenan antusias.
"Panggilan yang indah," timpal Kiran ikut nyemplung.
Semuanya melemparkan senyuman kebahagiaan.
"Bibi, Dede bayinya imut sekali. Lihat Bi dia ketawa melihat Keenan," cicit Keenan ketika sedang ikut memandikan Rebecca masih bayi, sekitar berusia 6 bulan.
"Iya sayang. Apa Keenan menyayangi Dede Eca?" ucap Dea.
"Tentu. Keenan akan menjadi pelindungnya dari serangan para zombie," cicit polos Keenan, hal itu membuat Dea terkekeh.
"Suatu saat nanti ketika Bibi sudah tiada, apakah Keenan akan menjaga Dede Eca?"
"Memangnya Bibi ingin kemana?" tanyanya dengan polos.
"Hmm menghadap Tuhan."
"Oh.... iya Keenan akan berjanji Bibi, tetapi Bibi janji jangan bawa Dede Eca ya?" celoteh Keenan begitu polosnya.
Dea tersenyum melihat kepolosan Keenan.
Ssst....
Keenan meradang, isi kepalanya ingin pecah.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Penasaran kenapa Keenan tak menyukai sikap Rebecca? akan di bongkar part selanjutnya.