
"Frans apa Andre belum kembali?" tanya Gabriella tanpa memanggil dengan bahasa formal karena persetujuan dari mereka bertiga.
"Belum, mungkin masih dalam perjalanan," tebak dokter Frans karena Andre berada di perusahaan cabang.
Gabriella memijit ujung keningnya begitu juga dengan dokter Frans. Dari kaca besar dilantai tingkat terakhir mereka dapat melihat para warga demo di lapangan rumah sakit.
Dret...
Ponsel dokter Frans bergetar sehingga membuatnya merogoh ponsel yang berada dikantong celana.
"Andre," ujar dokter Frans melihat panggilan dari Andre.
Dokter Frans menjawab panggilan dari Andre.
"Ayo kita segera turun. Andre terjebak dibawah sana," ujar dokter Frans tanpa sadar menarik tangan Gabriella membawanya segera keluar ruangan dan turun kebawah.
Gabriella tidak menolak karena dalam kekacauan. Dengan langkah panjang mereka bergegas turun kebawah.
Tiba di loby langkah keduanya terhenti, di ujung sana mereka dapat melihat Andre sedang dikerumuni masa.
"Frans kita harus menemui Andre," ucap Gabriella.
"Biar aku saja, kamu tunggu di sini saja," titah dokter Frans.
"Tidak, aku akan ikut," ucap Gabriella dengan kekeh.
"Tidak aku tidak membiarkan orang-orang itu menyakitimu, itu sangat berbahaya jadi sebaiknya kamu tunggu di sini saja atau kembali ke ruangan," ujar dokter Frans menegaskan.
Gabriella menggelengkan kepala tidak setuju.
Tanpa berpikir panjang Gabriella langsung menarik lengan dokter Frans sembari melangkah.
"Dengar Gaby! Aku bilang jangan tolong didengarkan," bentak dokter Frans sembari menarik tangan Gabriella sehingga tubuhnya membalik menubruk dada dokter Frans yang kekar itu. "Maaf bukan maksudku berkata kasar tetapi itu sangat berbahaya lihat Andre diperlakukan kasar," sambung dokter Frans dengan nada lembut.
Gabriella menelan ludah karena posisi mereka seperti ini. Dengan segera dia memundurkan tubuhnya.
"Aku bukan wanita lemah, jangan samakan aku dengan Isabella, kami memiliki karakter yang berbeda jauh. Ayo," ucap Gabriella tidak mengindahkan larangan dokter Frans.
Dokter Frans menggelengkan kepala dan terpaksa mengalah. Tidak ada gunanya untuk berdebat dalam situasi mencekam ini.
Di sana Andre berusaha menjawab cecaran pertanyaan warga.
"Mohon Bapak/Ibu hentikan!"
Hanya itu yang bisa Andre teriakan dari tadi tetapi percuma saja karena suara teriakan Andre mengalahkan kegaduhan.
__ADS_1
Gabriella bersama dokter Frans menerobos kerumunan warga, dengan usaha mereka berhasil mendekati Andre.
"Stop.... stop! Teriak Gabriella dengan kedua tangan terangkat. Seketika membuat pendemo tenang setelah kehadiran Gabriella.
" Nona kami minta rumah sakit ini segera ditutup. Kami tidak ingin korban selanjutnya," teriak salah satu pendemo dengan menggunakan mikrofon.
"Setuju.... setuju....." Teriak mereka serempak dengan tangan diacungi ke atas.
"Harap tenang!" Teriak Gabriella kembali.
"Bagaimana kami bisa tenang Nona, seandainya keluarga Nona diposisi kami, bagaimana tindakan Nona? pasti minta pertanggung jawaban bukan?" seru mereka.
Gabriella menghela nafas panjang.
"Segera tutup, jika tidak maka rumah sakit ini kami bakar," seru mereka dengan semangatnya. Seketika mendengar ancaman itu membuat Gabriella menciut karena ucapan mereka tidak main-main.
Gabriella melirik Andre serta dokter Frans bergantian. Dia juga bisa melihat perubahan di wajah kedua pria itu, ada kekhawatiran dengan ancaman itu.
Dengan cepat Gabriella mengirim pesan kepada Moses, menceritakan singkat dengan kejadian yang mereka hadapi. Dengan mengigit bibir bawahnya Gabriella tidak tenang menunggu balasan pesan dari Moses.
Ting
Seketika dengan cepat Gabriella memeriksa kembali ponsel itu.
["Besok atau lusa Alfred akan keluar, tetapi sebelum keluar akan diadakan sidang singkat. Beri alasan kepada mereka."]
"Harap tenang Bapak/Ibu. Beri waktu 1 minggu, pihak kami akan membuktikan bahwa rumah sakit atau pemilik tidak pernah melakukan kecurangan, ini adalah permainan orang yang tidak bertanggung jawab dalam arti menjelekan atau mengambil keuntungan pribadi. Saya akan membuktikan jika Tuan Alfred tidaklah bersalah," ujar Gabriella dengan menggebu-gebu.
Andre maupun dokter Frans tercengang mendengar penuturan Gabriella. Bagaimana tidak karena yang dikatakan Gabriella itu adalah lelucon, bagaimana bisa dia berani meminta waktu sesingkat itu sedangkan Alfred masih mendekam di tahanan. Bahkan tidak ada bukti untuk membuktikan bukan kesalahan Alfred.
"Jika ucapan Nona hanya omong kosong? kami tidak percaya," seru mereka tidak percaya dengan apa yang dijanjikan Gabriella.
"Jika saya berbohong atau hanya omong kosong, kalian boleh membakar rumah sakit ini. Tetapi jika apa yang saya katakan itu kebenaran, tarik ancaman kalian itu," ucap Gabriella menekankan bahkan wanita itu tidak ada takut-takutnya.
"Gaby jangan asal bicara," bisik dokter Frans sembari menyenggol lengan Gabriella.
"Jangan menambah masalah," timpal Andre sama halnya dengan yang dilakukan dokter Frans.
"Kalian tenang saja," bisik Gabriella sembari memain-mainkan kuku cantiknya, bahkan sangat santai.
Andre serta dokter Frans semakin tercengang. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Gabriella seberani itu bertindak.
"Kami pegang janjimu Nona! Jangan bermain-main," ujar mereka sembari menunjuk kearah Gabriella.
Gabriella menelan ludah. Jangan kira wanita itu tenang padahal dalam hatinya sangat ketakutan. Apa lagi berhadapan dengan orang-orang yang berwajah sangar.
__ADS_1
"Baik, baik. Sekarang Bapak/Ibu silahkan meninggalkan tempat ini," seru Gabriella.
"Bubar!"
Semua pendemo meninggalkan area rumah sakit. Rumah sakit yang seperti mati, satu orangpun tidak ada yang dirawat. Semenjak kejadian kesalahpahaman itu menjadikan rumah sakit ini tak berpenghuni, semua yang dirawat dirujuk pindah ke rumah sakit lain bahkan mereka meminta ganti rugi biaya yang sudah dibayar setengahnya. Dari kejadian ini rumah sakit tersebut mengalami kerugian besar.
Huff....
Gabriella langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Wanita itu kelihatan lelah sekali. Sedangkan Andre maupun dokter Frans masih menagih penjelasan kepada Gabriella.
"Gaby demi alasan apa kamu berani berjanji seperti itu?" tanya dokter Frans ikut duduk dihadapan Gabriella.
"Kacau, masalah semakin runyam," timpal Andre ikut duduk di samping dokter Frans dengan kepala berat.
Gabriella mengigit bibir bawahnya tanpa henti, jujur saja dia juga tidak yakin dengan apa yang dikatakan Moses.
"Katakan sesuatu Gaby? apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan?" ujar dokter Frans agar Gabriella menjelaskan atas tindakannya itu.
Gabriella tidak ingin menjelaskannya langsung, dia menyodorkan ponsel miliknya kepada dokter Frans.
"Baca pesan dari Moses," ucap Gabriella dengan singkat.
Dengan rasa penasaran dokter Frans maupun Andre meraih ponsel yang disodorkan Gabriella. Seketika mata keduanya membulat setelah membaca pesan singkat itu. Karena tidak yakin mereka berdua mengusap mata, apakah salah membaca ternyata semua itu tidak salah.
"Kalian berdua sudah paham?" ucap Gabriella dengan mata terpejam.
Andre maupun dokter Frans serempak mengangguk seakan paham.
Keadaan hening tidak ada yang berbicara lagi, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing yang berpusat tentang pesan dari Moses.
Andre menegangkan kembali tubuhnya.
"Jika itu gagal, dalam arti rumah sakit ini terancam," ujar Andre memecah keheningan. Bahkan pria kaki tangan Alfred ini tidak tenang. "Aku memang tidak berguna. Aku sudah gagal menjaga Tuan, aku mengingkari janji kepada mendiang Tuan besar," lirih Andre dengan wajah serta tatapan sendu. Seketika ingatannya terlintas dimasa lalu.
Gabriella maupun dokter Frans memandangi Andre dengan mata menyipit.
"Tuan adalah pribadi yang baik dan sangat peduli terhadap orang lain, kecuali terhadap Nona karena rasa dendam mengalahkan semuanya. Ketika pasien dari kalangan biasa, maaf bisa dikatakan tidak dapat membayar biaya pengobatan dengan sukarela Tuan membebaskan biaya. Bukan hanya satu atau dua orang saja, jika di hitung dapat mencapai ratusan orang, termasuk pasien di rumah sakit ini," kenang Andre dengan kebaikan seorang Alfred. "Bahkan Tuan dengan sukarela membiayai pendidikan Adikku sampai di jenjang perkuliahan," imbuh Andre dengan mata memerah. "Aku malu dengan diriku sendiri karena tidak bisa menolongnya," sambung Andre sembari menunduk.
Gabriella maupun dokter Frans terenyuh mendengar cerita atau ungkapan hati Andre dalam diam.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagišŖ
ā¢Kasian sekali Andre dan Frans dituduh pengkhianat š¤£
__ADS_1
ā¢Selamat malam kakak-kakak ter⤠saatnya author beralih ke dunia nyata. Lupakan sejenak dunia haluanš