MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 91. Di Jodohkan


__ADS_3

Semua keluarga sudah kembali berkumpul di Mansion. Kami berbincang-bincang banyak hal, sedangkan ketiga buah hati kami sedang tidur karena lelah.


Aku sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam, dibantu oleh beberapa pelayan.


"Sayang apa seharusnya kita pesan makanan saja? aku tidak ingin kamu kelelahan begitu," ujar Alfred yang tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di perutku. Tentu saja aku kaget dengan perlakuan itu dengan wajah memerah.


"Sayang lepaskan tanganmu, tidak enak dilihat," bisikku kepada Alfred sembari mengigit bibir bawah.


"Tidak masalah, mereka juga pasti sudah mengerti," pungkas Alfred masih memelukku bahkan semakin erat. "Sayang sebaiknya kita ke kamar saja, biar para pelayan yang menyelesaikan itu," imbuh Alfred bahkan li dahh itu bermain nakal di punggungku.


"Hentikan sayang. Aku harus memasak khas Indonesia, besok mereka Papa sudah kembali. Sebaiknya kamu temani mereka berbincang-bincang, bukannya mezvm seperti ini," kataku menekankan.


"Aku sudah tidak tahan sayang," goda Alfred, dia sangat senang melihat rona merah di wajahmu jika dapat rayuan seperti ini.


"Sayang!" Aku mengeram karena tangan itu semakin nakal di depan sana.


Hahaha.....


Alfred terkekeh lalu melepaskan pelukannya dan segera membalikan tubuhku sehingga menghadap kepadanya.


"I love you!"


Cup


Alfred menyambar bwbirku sekilas sehingga membuatku cemberut. Bisa-bisanya dalam situasi sibuk begini dia masih mezvm.


"Sekali lagi kamu berbuat curang, akan kuberi hukuman lebih," bisik Alfred.


"Curang hal apa?" tanyaku dengan menaikan mata.


"Palang merah!"


Seketika aku menutup mulutku dengan mata menyipit.


Aku melirik sana sini tetapi sama sekali para pelayan yang membantu tadi tak kulihat.


"Para pelayan sudah kusuruh pergi sayang," ujar Alfred seakan tau apa yang sedang aku cari.


Huh...


Aku menghela nafas lega karena ternyata mereka tidak melihat apa yang dilakukan Alfred kepadaku.


"Sayang biar aku yang membantu," ujar Alfred sembari menyingsingkan lengan kemejanya.


"Lebih baik kamu istirahat sayang," sahutku sembari memperhatikan Alfred. Sungguh pria yang menjadi suamiku ini sangat tampan, bahkan aku tidak pernah bosan memandang wajahnya. Bukan hanya sekedar tampan saja tetapi dia juga handal dalam urusan ran jang🤫 sungguh aku wanita yang sangat beruntung. Belum lagi cintanya begitu besar kepadaku.


"Jika bersama istriku, aku tidak pernah merasakan lelah malahan sebaliknya," imbuhnya untuk menyakinkanku.


"Baiklah jika kamu memaksa. Bisa bantu potong sayuran?" kataku pada akhirnya mengalah.

__ADS_1


"Masalah potong memotong itu gampang sayang, bahkan dengan mata terpejam," canda Alfred.


"Hati-hati pisau ini sangat tajam," kataku memperingati karena Alfred menganggap main-main.


"Luka tinggal diobati, hmmm istriku kan seorang dokter," sahutnya.


"Jika bicara terus kapan masaknya?" seruku dengan nada suara sedikit meninggi.


Hahahah


"Oke Bu bos! Silahkan lanjutkan," ujar Alfred sembari tertawa.


Aku kembali fokus memasak lima macam makanan khas Indonesia. Kami saling mengobrol sehingga tidak terasa menu makanan sudah siap. Alfred benar-benar serius membantu bahkan dengan setianya dia mengelap peluh di wajahku serta memberi air minum untukku.


"Sayang akhirnya selesai juga. Ayo kita segera bergabung," kataku setelah siap menata makanan di atas meja makan, sedangkan Alfred duduk sembari menguap. "Apa kamu mengantuk?" sambungku setelah menyadari Alfred menguap.


"Sedikit. Hmmm apa semuanya sudah selesai?"


"Sudah, tinggal membersihkan perabotan yang kotor," sahutku.


"Temani aku tidur sebentar, untuk urusan bersih biar tugas para pelayan. Buat apa kita gaji mereka jika kamu yang melakukannya," ujar Alfred.


"Sayang tidak boleh mengatakan itu, mereka punya tugas masing-masing. Aku tidak selalu hanya kadang-kadang saja mengerjakan itu," kataku tidak sependapat dengan ucapan Alfred.


"Kamu memang luar biasa," puji Alfred dan segera menggendongku menuju lift akses ke kamar.


"Sayang turun," seruku tanpa dihiraukan oleh Alfred, malahan mulutku di bekam. Sudah tau bukan di bekam dengan apa? 🤫


Makan malam segera dimulai. Semua sudah menempati kursi masing-masing.


"Wah nampaknya enak sekali sayang.... buat Tante tidak tahan untuk segera mencicipinya," ucap Tante Meysi sembari memperhatikan menu hidangan yang tertata di atas meja.


"Silahkan Tante, makan sepuasnya. Hmmm masih ada stok," sahutku sembari tersenyum.


"Jeng putri kalian tidak sekedar cantik tetapi pintar memasak juga, sungguh perfek," puji Tante Meysi kembali yang ditujukan kepada Mama.


"Iya mereka suka memasak. Dulu semasa SD-SMA mereka sering menemaniku memasak, bahkan mereka suka memasak makanan yang mereka sukai. Katanya untuk bekal setelah merantau nanti atau bekal jika sudah berkeluarga," terang Mama seperti yang pernah aku maupun Gabriella katakan.


"Wanita mandiri. Kebanyakan yang kutemui wanita-wanita atau putri konglomerat sangat manja dan tidak pernah mau dengan urusan dapur atau rumah, tetapi kedua putri kalian sangat berbeda," ungkap Tante Meysi merasa senang.


"Kalau urusan begituan putri kami tidak manja, hmmm tetapi putri kami yang satu ini dulu sangat manja apa lagi dengan Papanya," ucap Mama menyindir diriku.


Semua mengalihkan perhatian kepadaku setelah mendengar pengakuan Mama.


"Sayang benarkah begitu?" tanya Alfred karena dia tidak pernah tau tentang itu.


"Tidak benar, Mama mengada-ngada," sahutku seakan ucapan Mama tidaklah benar.


"Mengada bagaimana? setiap mau tidur harus dielus-elus oleh Mama, kalau tidak begitu tidak bisa tidur," timpal Papa membenarkan ucapan Mama.

__ADS_1


"Papa...."


"Sayang kenapa kamu tidak katakan itu kepada suamimu ini? bahkan suamimu ini sanggup semalaman hanya untuk melakukan itu," ujar Alfred dengan santai.


Seketika mataku melotot melirik Alfred dengan wajah bersemu merah.


"Jika kamu yang melakukannya sudah lain ceritanya sayang," goda Mama.


Hahaha.....


Seketika tawa memenuhi meja makan.


Kami menikmati jamuan makan sembari mengobrol.


"So sweet...." Seru Tante Meysi disela kunyahannya. Tante Meysi menyerukan itu karena melihat Gabriella memberikan air putih kepada dokter Frans ketika dokter Frans tersedak.


Dengan itu membuat semuanya memperhatikan Gabriella maupun dokter Frans.


"Jeng mereka cocok ya?" ucap Tante Meysi kepada Mama.


Mama menghentikan suapannya, lalu melirik Tante Meysi.


"Maksudnya Gaby dengan Nak Frans?" tanya Mama karena mereka tidak pernah tau bagaimana hubungan keduanya.


"Iya. Aku jatuh hati dengan putri sulung kalian," ucap Tante Meysi semakin membuat keduanya kaget.


Mama memperhatikan Gabriella. Mama sangat tau bagaimana perasaan Gabriella setelah mengetahui mantan kekasihnya.


Mama menghela nafas panjang.


"Untuk masalah itu aku tidak tau. Kita semua tau bagaimana masa lalu putri kami," lirih Mama dengan wajah sendu, bagaimana tidak? sekilas ingatannya bagaimana Gabriella terluka.


Mendengar penuturan Mama membuat Tante Meysi merubah mimik wajahnya.


"Tetapi tidak ada salahnya. Mulailah membuka hati," lirih Mama yang ditunjukan kepada Gabriella, sehingga membuat Gabriella menunduk.


"Apa yang dikatakan Mama benar Nak. Kamu tidak boleh larut terus-menerus, masa depanmu masih panjang," timpal Papa.


"Sayang Mommy ingin sekali kamu sebagai menantu kami. Putra kami sudah berkepala tiga tetapi masih tetap melajang, kapan lagi kami sudah tua ini menyaksikan dia menggenakan jas serta mengucapkan janji suci pernikahan," ungkap Tante Meysi.


Deg


Gabriella sangat kaget, apa lagi pembicaraan ini dihadapan kedua orang tuanya. Bukan hanya Gabriella tetapi aku sendiri, seketika ingatanku sekilas kepada Andre.


"Mom, nanti saja kita bicarakan hal ini. Habiskan dulu makanan Mommy," ujar Om Julio.


Seketika semuanya terdiam. Gabriella maupun dokter Frans jadi salah tingkah.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2