MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 148~MDS2


__ADS_3

Seperti malam-malam biasanya Rebecca sebelum beranjak tidur, ia akan berdiam diri di balkon.


Bayangan kata-kata Keenan tadi siang terngiang-ngiang di telinganya. Dimana Keenan melamar dirinya, bukan melamar tetapi tepatnya dipaksakan.


Itu bukan keinginan dari lubuk hatinya tetapi keterpaksaan. Seharusnya Rebecca sangat bahagia ketika seseorang yang ia cintai telah meminang dirinya di suatu tempat yang dibilang sangat romantis. Yang disaksikan oleh ombak serta angin pantai.


Seharusnya rona bahagia terpancar di wajah cantik itu, tetapi senyuman pilu yang ia pancarkan serta hati berkecamuk.


Rebecca mengusap wajahnya. Beberapa hari ini ia lelah memikirkan masalah ini.


"Kenapa garis kehidupanku seperti ini?" ucap Rebecca dengan kepala menadah ke atas, memandang kegelapan langit di atas sana dengan perasaan berkecamuk.


**


Pria tampan dengan postur tubuh ideal juga menenangkan dirinya di balkon kamar apartemen mewahnya.


Ingatan sekilas tadi siang, tepatnya di pantai masih menyisakan dalam benaknya. Dimana ia menawarkan dirinya untuk menikahi Rebecca.


Seharusnya ia mendapati rona kebahagiaan di wajah Rebecca, tetapi ia salah, ia tidak menemukan titik kebahagiaan itu. Malah sebaliknya yang terpancar di wajah cantik, manis itu.


Ssst


Desis Keenan seakan putus asa. Di sisi lain ia masih mengingat mantan kekasihnya Sunny. Sudah 1 minggu keduanya tidak saling menghubungi. Keenan maupun Sunny seakan engan untuk saling menyapa dalam sambungan telepon.


Bagaimanapun Keenan harus membiasakan dirinya mulai saat ini. Bukan berarti ia tidak merindukan Sunny. Ia ingin sekali lagi menjelaskannya kepada Sunny tetapi ia urungkan niat itu karena Sunny pasti tidak ingin bertemu dengan dirinya lagi.


Keenan menadah kepalanya ke atas.


"Bibi, kenapa Bibi meminta hal itu? aku menganggap Eca hanya sebatas Kakak Adik. Kenapa Bibi membuat perjanjian itu?" ujar Keenan seakan sedang berbicara dengan mendiang Dea.


(Gara-gara Bibi Dea, semua netizen 62+ julid ke Daddy Alfred dan Mommy Isabella) 🤣😂


°°°°°°


Sesuai kesepakatan. Petang ini keluarga Hugo akan makan malam di restoran berbintang. Mereka akan membicarakan masalah pernikahan kedua putra-putri mereka.


"Sayang apakah Mommy sudah cantik?" tanya manja Mommy Isabella kepada suami tercintanya.


"Setiap saat Mommy selalu cantik di mata Daddy," sahut Daddy Alfred dengan jujur seraya memeluk tubuh itu dari belakang. Tatapan keduanya bertemu dalam bayangan cermin.


"Gombal," sahut Mommy Isabella dengan bibir mengerucut.


"Ayo sayang tidak enak jika mereka sudah menunggu kita," ajak Daddy Alfred seraya merangkul pinggang ramping itu keluar kamar.


Tidak menunggu lama mereka kini meluncur ke restoran.

__ADS_1


**


"Ca, aku duluan ya? lagi buru-buru karena akan mau mengantar Mama check up," kata Felisha.


"Ya sudah hati-hati Fel. Semoga Bibi lekas sembuh," ucap Rebecca seraya merogoh dompet kesayangannya. "Hmm ini ada sedikit rezeki, ambilah mungkin saja berguna untuk biaya pengobatan Bibi," ucap Rebecca seraya memberikan beberapa lembar uang di telapak tangan Felisha.


"Jangan Ca, selama ini kamu sudah banyak membantu kami," ucap Felisha terharu.


"Kalian lebih membutuhkannya, itulah arti sebuah persahabatan saling membantu satu sama lainnya. Selagi aku mampu," imbuhnya memaksa agar Felisha menerima pemberiannya.


"Terima kasih ya?" tidak tahan lagi Felisha langsung memeluk tubuh Rebecca dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama," balas Rebecca seraya menepuk punggung Felisha.


Selepas kepergian Felisha dan semua karyawan 1 ruang dengannya. Rebecca merapikan semua pekerjaannya yang menumpuk di meja kerja.


Hmm


Deheman seseorang membuat gerakan tangan Rebecca terhenti.


"Kak Gerry," gumam Rebecca. Ia berani memanggil Gerry seperti biasa ketika tidak ada karyawan lain.


"Iya Nona. Saya ke sini karena perintah Tuan. Tuan sudah menunggu Nona di mobil," papar Gerry.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," sahut Rebecca.


Dari kejauhan Rebecca dapat melihat sosok Keenan terdiam didalam mobilnya. Dengan perasaan canggung ia membawa langkah kakinya.


Ujung mata Keenan mendapati sosok gadis cantik. Siapa lagi jika bukan Rebecca, wanita yang akan dinikahinya.


Rebecca langsung membuka pintu mobil, dan segera masuk.


"Maaf Kak membuat menunggu," ucap Rebecca. Ia sudah tau jika Keenan tidak bakalan menjawab, tetapi setidaknya ia sudah basa basi.


Tidak lama mobil mulai melaju membelah kepadatan dengan hening. Keenan maupun Rebecca mengunci mulut masing-masing, untuk persiapan di restoran nanti.


Untuk saat ini keduanya mengalah dan irit bicara. Ini semua untuk persiapan diri ketika bertemu kedua orang tua mereka nanti.


Hanya butuh 10 menit jarak tempuh kantor ke restoran. Keduanya turun secara bersamaan. Keduanya canggung harus berjalan sejajar atau jalan sendiri-sendiri.


Akhirnya keduanya saling memposisikan diri saling berjalan memasuki restoran secara sejajar tanpa bergandengan tangan seperti pasangan lainnya.


"Selamat sore Tuan, Nona Hugo," sapa pelayan menyambut kedatangan putra-putri keluarga nomor 1 di negara itu. Siapa yang tidak mengenal mereka, apa lagi restoran ini adalah milik keluarga mereka sendiri.


Rebecca mengangguk disertai senyuman, sedangkan ekspresi Keenan datar-datar saja.

__ADS_1


"Tuan serta Nyonya sudah menunggu didalam. Bisa saya antar?" terang pelayan.


"Tidak perlu Mbak," ucap Rebecca dengan ramah.


Keduanya melanjutkan langkah menuju ruang VIP.


"Hei Nona Rebecca," panggilan seseorang, sehingga membuat langkah Rebecca maupun Keenan terhenti. Keduanya saling membalikan badan.


"Tuan Lucky," balas Rebecca disertai senyuman manisnya.


"Selamat sore Tuan Keenan. Wah tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," ujar Lucky tanpa melepaskan tatapannya di wajah Rebecca.


Melihat hal itu membuat rahang Keenan mengeras.


"Hmm bukankah ini putri dari Tuan Hugo?" ujar pria blasteran seakan mengenali wajah Rebecca. Hmm selamat sore Tuan Keenan, tidak menyangka kita bisa bertemu di sini," imbuhnya. Pria blasteran itu adalah kolega dari Lucky.


Hmm


Seperti biasa Keenan hanya bisa membalas dengan deheman.


"Kami tidak bisa berlama-lama, karena kedua orang tua sudah menunggu," ujar Keenan dengan raut wajah tak bersahabat.


Rebecca membeku mendapat sentuhan di tangannya, bukan hanya sekedar sentuhan biasa tetapi genggaman erat.


"Hmm sayang sekali," ujar Lucky dengan mimik wajah sedikit kecewa. Bertemu dengan seseorang Rebecca tidaklah mudah, wanita itu tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Dan sore ini kesempatan untuk bisa bertatap muka langsung.


Rebecca tersenyum kikuk. Keadaan ini sangat mencekam. Ingin sekali ia menghilang, apa lagi melihat aura wajah Keenan.


Jantungnya semakin berdebar ketika Keenan menyusupkan jarinya ke jari miliknya.


"Sepertinya tidak mudah mendekati Nona cantik ini, pengawalnya Tuan Keenan sendiri," sindir Lucky ketika melihat genggaman tangan Keenan ke Rebecca.


"Kami tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting," ujar Keenan seraya kembali melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli bila dikatakan tidak sopan atau lain sebagainya.


Sedangkan Rebecca sejak tadi hanya menunduk saja. Ia merasa tidak nyaman sekali, apa lagi cara Keenan meninggalkan mereka.


Depan pintu ruang VIP.


"Kak Ken sakit," lirih Rebecca, merasakan genggaman itu begitu erat.


Keenan baru menyadarinya sehingga membuatnya segera melepaskan. Rebecca mengusap jari-jemarinya, sedikit memerah.


Entah apa yang menyelimuti hati Keenan. Ekspresi wajah serta sorot mata itu menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja.


Tidak ingin terjadi masalah. Rebecca langsung membuka pintu itu.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2