
Di kamar rawat Leon aku duduk di sofa masih dengan pandangan kosong. Leon sudah tidur, sedang Dea aku suruh pulang ke rumah. Aku tidak ingin siapapun menggangguku saat ini.
Semua ini serasa mimpi bagiku. Nasib serta takdirku berakhir seperti ini. Benar apa yang pepatah katakan, kekayaan yang kita miliki tidak menjamin untuk kita hidup lebih bahagia, contohnya aku. Aku terlahir dari keluarga kaya raya serta tidak kekurangan kasih sayang tetapi lihatlah sekarang, hidupku sangat kasihan.
Jika memikirkan itu kepalaku ingin pecah dan semangat untuk bertahan seakan runtuh. Oleh karena itu aku berusaha mengimbangi beban pikiran ini agar tidak menyimpang ke hal yang negatif. Calon buah hati ini simbol untukku bertahan selama 9 bulan, dan kedua adalah anak angkatku Leon.
Bagaimana mungkin aku bisa tenang dan membiarkan dua sosok ini jika aku sudah tiada. Membayangkan ini membuat dada serta hati ini sesak tak terkatakan.
Bayanganku tertuju kepada Papa sama Mama. Aku yakin kabar kehamilan ini kebahagiaan bagi mereka, karena secara dari awal mereka mengingini hal itu. Tetapi jika penyakit yang sedang menggerogoti tubuhku ini aku yakin kabar ini membuat mereka terluka. Dan aku ingin menghindari yang aku takuti itu. Tentu saja mereka memilih nyawaku dibandingkan calon anakku jika ada pilihan untuk sembuh. Aku tidak ingin ketakutanku itu terjadi karena anak ini berhak lahir ke dunia. Untuk itu aku bertekad menutupi itu semua demi anak ini layak untuk hidup. Suatu saat aku akan mengabari kabar bahagia ini kepada kedua orang tuaku serta Opa, Oma.
Aku menghela nafas. Lalu mengupas buah-buahan, ya aku harus banyak makan yang bervitamin agar janinku tumbuh dan berkembang dengan sehat.
°°°°°°
Uwek... uwek....
Entah sudah berapa kali Alfred memuntahkan isi perutnya sehingga membuatnya lemas. Tapi anehnya tidak pusing hanya mual saja bahkan dia menginginkan makan buah jeruk yang asam.
Huh...
Keluh Alfred di kursi kebesarannya sembari memijit pelipis.
"Apa aku kembali sakit? tetapi ini berbeda," gumam Alfred seperti memikirkan.
["Andre segera ke ruanganku".]
Alfred menghubungi Andre.
Tok tok
Tak menunggu lama Andre segera datang.
"Iya Tuan ada masalah apa?" tanya Andre karena dia baru juga dari ruangan itu menyerahkan berkas.
__ADS_1
"Andre cari buah jeruk tetapi yang rasanya asam sekali," ujar Alfred sembari menelan ludah membayangkan buah yang baru dia sebutkan.
Mata Andre melebar mendengar permintaan konyol Alfred karena pria ini tidak pernah menyukai buah asam. Tetapi lihatlah kini dia menginginkan buah itu, apa itu lelucon? itulah yang dipikirkan Andre.
Andre mendekat lalu menempelkan telapak tangannya di kening Alfred, dia harus memastikan apakah Alfred sakit atau sudah tidak waras.
"Apa Tuan sakit?"
Dengan cepat Alfred menepis tangan Andre.
"Apa aku kelihatan seperti yang kau duga?"
"Apa perlu saya membawa Nona untuk memeriksa Tuan?" bukannya me jawab Andre malah memberi pertanyaan, pertanyaan yang membuat Alfred menatapnya tajam.
"Andre jangan banyak omong, laksanakan apa yang kuperintahkan. Aku sudah tidak sabar mendapati buah yang kusebutkan," tegas Alfred sehingga membuatnya bangkit berdiri ingin memberi pelajaran dulu kepada Andre karena pertanyaan-pertanyaan itu hanya membuang waktu saja.
"Kapan Tuan?"
"Satu abad lagi Andre! vitamin apa yang kau konsumsi sehingga menjadi bodo* begini? sekarang Andre," teriak Alfred dengan kesal.
"Baik Tuan," dengan segera Andre berlalu karena singa itu sungguh kelaparan. Tetapi anehnya menginginkan buah jeruk yang asam. Bukankah seekor singa hanya menyukai daging segar?.
Sepanjang jalan Andre berpikir, mencari buah jeruk asam dimana? karena selama ini yang dia tau atau sering membeli buah adalah di pusat pembelanjaan seperti supermarket.
Satu persatu disinggahi Andre hanya mencari buah jeruk rasa asam tetapi tidak membuahkan hasil karena yang dijual adalah buah yang berkualitas.
Andre sudah lelah dan tidak tau harus mencari dimana pagi. Sedangkan pesan Alfred sudah puluhan kali. Pesan itu sama hanya mendesak cepat kembali ke kantor dengan di tangan membawa pesanannya.
"Apa aku minta bantuan ke Nona?" akhirnya Andre menyerah. Tidak membuang waktu Andre langsung memutar arah ke rumah sakit karena dia tau aku dinas siang.
Tiba di rumah sakit Andre langsung menuju dimana ruanganku. Aku sedikit kaget dengan kedatangan Andre yang tiba-tiba dengan wajah frustasi seperti sedang putus dengan kekasihnya.
"Maaf Nona jika saya menganggu," ujar Andre tidak enak hati karena menemuiku di jam kerja.
__ADS_1
Aku menghentikan menulis, itu adalah laporan pasien.
"Ada gerangan apa Andre?" tanyaku.
"Ini tidak terlalu penting Nona tetapi bagiku sangat penting karena menyelamatkanku dari amukan Tuan," ujar Andre membuatku mengangkat alis. "Apa Nona tau dimana ada yang menjual buah jeruk yang sangat asam?"
Pertanyaan Andre membuatku semakin heran. Untuk apa buah jeruk yang dimaksudkan Andre.
"Untuk apa buah itu Andre? di negara ini memang tidak pernah kutemui buah jeruk yang rasanya asam, lain halnya di Indonesia, banyak sekali dijual di kaki lima," terangku.
"Jadi buah yang dimaksudkan Tuan itu tidak ada dijual di sini?" tanya Andre dengan tanpa sadar.
Aku kaget mendengar nama Alfred.
"Untuk apa Tuanmu mencari buah tersebut?"
"Saya juga tidak paham Nona tetapi kata Tuan, Tuan menginginkan buah tersebut secepat mungkin. Lihatlah Tuan mengirim pesan mungkin sudah ratusan kali dengan pesan yang sama," keluh Andre pusing. "Ini permintaan konyol, bahkan Tuan tidak menyukai buah yang mengandung rasa asam," ralatnya.
"Apa anak ini yang menginginkan? berarti Alfred sedang mengidam," batinku seakan paham dengan keinginan aneh Alfred.
"Andre aku usulkan beli buah apel hijau saja karena buah apel hijau mengandung rasa asam, dari pada tidak sama sekali," usulku.
"Andre berpikir sesaat.
" Baiklah Nona dari pada tidak bawa sama sekali," akhirnya Andre menyetujui usulanku.
Setelah kepergian Andre aku memejamkan mata. Sekilas ingatanku kepada Alfred. Aku yang mengandung tetapi kenapa Alfred yang mengidam. Sangat jarang sekali ini terjadi karena kebanyakan yang kuketahui Ibu tersebutlah yang mengidam.
"Apa ini namanya terikat batin yang kuat?" kataku kepada diriku sendiri. "Apa tanggapan Alfred jika mengetahui aku hamil mengandung darah dagingnya? apa dia mengakui bahwa anak ini adalah darah dagingnya atau malah sebaliknya? huh aku yakin dia tidak akan peduli, walaupun anak ini adalah darah dagingnya. Malah dia merasa menang, ya menang sudah menghancurkan hidupku berkeping-keping. Menang karena misi balas dendamnya tercapai sampai puncak. Menang karena hidupku tidak akan lama lagi," kataku dalam hati seakan tau membaca isi hati Alfred.
Merasa tenang aku beranjak ingin ke kamar rawat Leon. Ingin jam makan siang, dan waktunya Leon makan serta minum obat. Untuk masalah hidup tak berwarna ini kulupakan sejenak hanya untuk menunjukan wajah manisku kepada Leon dan calon buah hatiku yang belum tau apa-apa.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪