MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 31. Juara 1


__ADS_3

Sebenarnya hatiku masih dirundung kesedihan atas kejadian tadi pagi tetapi tentu saja semua itu aku sembunyikan karena tidak ingin mematahkan semangat Leon.


Aku berusaha menjadi orang tua tanpa masalah. Aku dapat melihat di sekeliling kami, teman Leon di dampingi oleh kedua orang tua mereka kecuali Leon.


"Sayang semangat," sejak tadi aku berusaha mengalihkan pandangan Leon kepada teman-temannya."Ada Mommy sayang," bisikku kembali sembari melingkarkan kedua tanganku di tubuh Leon.


"Terima kasih Mom cantiknya Leon," balas Leon dengan wajah gemesnya sehingga membuat aku gemes ingin menciuminya.


Aku bergelayut manja di pelukan Leon.


"Mom bukankah itu Tuan pemilik rumah yang kita tempati?" tiba-tiba pertanyaan Leon membuatku melepaskan pelukan itu dan mengikuti arah telunjuk Leon.


Benar saja itu adalah sesosok Alfred dan yang mengekor tak salah lagi Andre.


Ssst


Aku mendesis karena tidak ingin melihat mereka, apa lagi Alfred. Rasa malu, canggung tentu saja menghantuiku.


"Benarkan Mom?" Leon masih fokus ke mereka.


"Iya sayang," sahutku dengan singkat tanpa menatap lurus ke depan, aku menyibukkan pandanganku ke sekitar aula.


Rangkaian acara di mulai dari kata sambutan, doa dan sampailah di acara yang di tunggu-tunggu yaitu lomba nyanyi dari tingkat PAUD/TK.


"Mom, Leon grogi," cicit Leon.


Kubelai rambut Leon dan memberi bisikan semangat.


"Kita panggil peserta nomor 30. Silahkan maju ke panggung," pembawa acara mempersilahkan.


"Semangat sayang," ucapku dan tak lupa mengecup pipi Leon.


Leon maju ke depan dengan perasaan santai dan tanpa grogi seperti yang Leon katakan. Ini pertama kali bagi Leon berdiri di hadapan orang banyak.


"Selamat pagi Pak/Bu. Perkenalkan nama saya adalah Leonardo dari kelas nol besar. Saya akan menyanyikan sebuah lagu ciptaan saya sendiri," ucap Leon sehingga membuat semua orang saling berbisik-bisik. Jangankan orang lain aku saja kaget mendengar bahwa Leon akan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Demi apapun aku tidak tau tentang itu, ketika aku bertanya Leon ingin menyanyikan apa selalu di jawab kejutan. Dan hari ini Leon memberi kejutan itu di hadapan banyak orang.


How she loves me to the moon and back


That's what she told me


Her love never ends, she's my best friend


Ain't nobody got a Mom like mine


"I love you so much Mom,"


Prok prok


Tepuk tangan menyambut akhir dari lagu Leon. Aku meneteskan air mata terharu.

__ADS_1


"Wah luar biasa," puji pembawa acara.


Alfred maupun Andre ikut bertepuk tangan. Tentu saja Andre merasa bangga sedangkan Alfred tentu saja tidak ingin di cap sombong.


Kini tibalah saatnya pengumuman juara nyanyi jenjang PAUD/TK.


"Baiklah Bapak/Ibu kami sudah memilih juara 3, 2, 1 sesuai nilai para juri yang tidak dapat di ganggu gugat. Juara 3 jatuh kepada anak didik kita Maureen dengan nilai 1090 harap maju ke panggung beserta kedua orang tua anak didik kami. Juara 2 jatuh kepada anak didik kita Darren dengan nilai 1207 harap maju ke panggung beserta kedua orang tua anak didik kami,"


Sudah dua juara tetapi nama Leon tak terpilih.


"Sayang bagaimanapun Leon terhebat bagi Mommy," bisikku kepada Leon yang saat ini raut wajah sedih.


"Baiklah ini yang kita tunggu-tunggu. Anak didik tersebut sangat berpotensi dan layak menjadi juara pertama. Suara merdu menjadi nilai ples. Kita panggil juara pertama adalah Leonardo, beri tepuk tangan yang meriah,"


Deg


Nafasku tertahan sesaat mendengar nama Leon di sebutkan. Sedangkan Leon langsung memelukku dengan bahagianya.


"Mom, Leon juara pertama," kata Leon dalam pelukanku.


"Silahkan maju ke panggung dan diikutsertakan kedua orang tua dari murid didik kami Leonardo," panggilan dari pembawa acara menyudahi pelukan kami.


Leon bangkit dan menarik tanganku, menuntun maju menuju panggung.


"Sangat cantik,"


"Wah pantas saja anaknya tampan ternyata Mommynya sangat cantik,"


"Dimana Daddynya?"


"Seperti masih gadis,"


Begitulah celoteh para orang tua murid sampai terdengar di telinga Alfred maupun Andre. Mendengar pujian itu membuat rahang Alfred mengeras.


"Tuan apa Tuan tidak ingin mendampingi Leon serta Nona?" pertanyaan Andre membuat Alfred menatap tajam.


"Kau bercanda Andre? dimana akal sehatmu?" bentak Alfred.


"Saya minta maaf Tuan, akal sehat saya....."


"Cukup," Alfred memberi kode dengan jari sehingga membuat bibir Andre terkatup .


Di panggung aku berdiri dengan elegan. Sebelum berangkat ke sekolah aku sempat menganti pakaian. Kemeja garis putih dengan rok span menjadi pilihanku. Rambut panjang sengaja di gerai dengan poni.


"Terima kasih Pak guru dan Ibu guru. Ini adalah piala pertama bagi Leon. Leon sangat bahagia," kata Leon.


Aku tersenyum melihat keberanian Leon.


"Terima kasih Mom atas semangat untuk Leon. Leon ingin menyampaikan sesuatu, Mommy Abel bukanlah orang tua kandung Leon. Leon adalah anak yatim piatu. Leon di angkat sebagai anak oleh Mommy Abel," ucap Leon dengan polosnya.

__ADS_1


Deg


Tubuhku membeku mendengar pengakuan Leon yang tak pernah aku duga. Hatiku sesak menerima pengakuan itu karena aku benar-benar menganggap Leon adalah darah dagingku sendiri dan tak ingin orang lain mengetahui jati diri Leon tetapi kini keinginanku itu seakan musnah karena pengakuan dari Leon sendiri.


Bukan hanya aku ternyata Alfred dan Andre juga sempat kaget dengan pengakuan Leon di depan orang banyak. Tanpa disadari hati Alfred terenyuh mendengar nama yatim piatu.


"Oh," begitulah bisik-bisik semua orang tetapi mereka salut dengan diriku karena tulus mengadopsi Leon.


"Tidak sayang Leon adalah putra Mommy dan sampai kapanpun akan menjadi putra Mommy," lirihku dengan mata berkaca-kaca.


°°°°°°


Demi merayakan kemenangan Leon aku menyempatkan waktu untuk makan di sebuah cafe terbuka. Aku juga mengundang Pak Seun beserta istri dan Dea.


Melihat senyuman serta tawa Leon membuat hatiku tercubit seketika mengingat pilihan Alfred tadi pagi. Bagaimana mungkin aku melepaskan Leon begitu saja, aku dan Leon baru saja merasakan kebahagiaan tetapi ingin direnggut dengan paksa.


"Sayang kenapa Leon mengatakan kesemua orang tentang jati diri Leon? Mommy tidak menyangka. Apa Leon meragukan kasih sayang Mommy?" ungkapku dengan mata berkaca-kaca di sela menyantap hidangan yang kami pesan.


Melihat raut wajah sedihku Leon lalu meraih tanganku dan menggenggam dengan telapak tangan kecilnya.


"Tidak Mom, maaf Leon sudah buat Mommy sedih," cicit Leon seperti menahan tangis.


"Sampai kapanpun Leon adalah putra Mommy," aku langsung memeluk Leon.


"Thanks you Mom. Leon love Mommy,"


Aku tersenyum mendengar kata menyentuh dari Leon.


"Nak Leon sepertinya miliki bakat nyanyi," kata Pak Seun karena Dea menunjukan video ketika Leon tampil di atas panggung.


"Tapi Leon tidak ingin menjadi artis Kek," sahut Leon.


"Jadi Nak Leon bercita-cita menjadi apa?" tanya istri Pak Seun.


"Ingin menjadi CEO seperti Daddy-Daddy teman Leon Nek," jawab Leon dengan polos.


"Apa Leon tau CEO itu apa?" tanya Dea.


Leon menggeleng karena memang tidak tau.


"Sayang CEO adalah pemimpin atau direktur perusahaan," terangku dengan singkat.


"Oh berarti seperti Tuan pemilik rumah itu ya Mom?" kata Leon seakan mengingat Alfred. Aku mengangguk mengiyakan karena jujur saja aku tidak paham dengan kedudukan Alfred. Dibilang asisten tetapi melebihi tanggung jawab seorang asisten.


"Jadi untuk menggapai cita-cita itu Leon harus giat belajar," kataku.


"Tentu Mom," balas Leon.


__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit ,hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2