
"Mom, Mommy....." Panggil Rebecca dengan lirih seraya ikut bangkit memandangi kepergian Mommy Isabella. Tetapi panggilannya tak digubris, dari situ Rebecca sudah tau jika Mommy Isabella sangat kecewa bahkan terluka.
"Nak, harap maklum alasan Mommy mengatakan hal itu. Karena mendadak, makanya Mommy kehilangan akal sehat. Kita akan bicarakan lagi nanti, untuk sementara beri ketenangan buat Mommy. Daddy akan memberi pengertian kepada Mommy," pungkas Daddy Alfred panjang lebar. Tidak lama ia juga menyusul Mommy Isabella masuk kedalam.
Kini tinggallah Keenan dan Rebecca dengan cara diam. Keenan menatap Rebecca dengan tatapan tajam, sedangkan Rebecca menunduk seraya meremas jari-jemarinya dengan perasaan berkecamuk.
"Apa maksudku ini salah?" gumam Rebecca, ia sengaja mengatakan itu agar dapat didengar oleh Keenan. Karena ia pun yakin bahwa Keenan sudah dengar apa yang ia bicarakan tadi.
"Atas dasar apa kau berani mengatakan itu?" ujar Keenan.
Mendengar pertanyaan kasar Keenan membuat lamunan Rebecca membuyar, bahkan kini mengangkat wajahnya tetap menatap Keenan.
Sorot mata keduanya saling bertemu, dengan pancaran penuh arti yang berbeda.
"Sedikitpun niatku tak bermaksud ingin menyinggung perasaan Mommy maupun Daddy. Aku hanya mengutarakan isi hatiku. Aku berusaha tidak ingin mendengar gunjingan dari orang-orang yang selalu mengatai Rebecca adalah wanita manja dan belum dewasa, seolah mereka seakan mengetahui pribadiku yang sesungguhnya," papar Rebecca seakan mengena di hati Keenan.
Rebecca menghela nafas dalam-dalam tanpa ingin menatap Keenan. Senyuman miris terukir di bibir manis itu.
"Aku ingin membuktikan bahwa tanggapan itu adalah salah," sambung Rebecca.
Keenan menatap Rebecca dengan tatapan sinis.
"Kau kira bahwa jika kau ingin tinggal di luaran sana, maka kau akan mendapatkan predikat wanita mandiri? begitu Rebecca!" Ujar Keenan dengan rahang mengeras.
Rebecca mengepalkan kedua tangannya mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut Keenan.
"Aku tidak butuh predikat atau apapun soal itu. Tetapi ini murni dari keinginanku, kalian saja bisa kenapa aku tidak bisa?" papar Rebecca sudah tersulut emosi. "Apa karena aku, aku bukan anak kandung Daddy sama Mommy?" sambungnya dengan suara rendah.
Seketika tatapan keduanya bertemu dalam diam. Tatapan pilu Rebecca menggambarkan isi hatinya saat ini. Sedangkan tatapan Keenan hanya dia yang dapat mengetahui isi hatinya.
"Ya aku sadar sekarang, mungkin karena statusku yang sebenarnya," lirih Rebecca seraya menyeka air mata yang tak dapat dibendung lagi, bahkan ia memutuskan tatapan itu dengan menoleh kearah lain.
Melihat hal itu membuat Keenan membeku. Kata-kata Rebecca seakan membuat dadanya sedikit merasakan sesak.
__ADS_1
"Aku tau alasan kau tiba-tiba ingin tinggal sendiri. Apa selama ini Daddy ataupun Mommy kurang memberi kebebasan untuk kau melakukan apapun di luar sana? hingga kau bertekad untuk meninggalkan Mansion? aku rasa tidak karena kedua orang tuaku bukan orang seperti itu," seru Keenan tanpa ingin menatap Rebecca.
Rebecca terdiam, seraya mencerna setiap perkataan Keenan. Benar apa yang Keenan katakan, selama ini kedua orang tua mereka memberi kebebasan untuk dirinya.
Hanya satu larangan dari mereka yaitu tidak memperbolehkan dirinya untuk menyetir sendiri.
"Kau ingin hidup bebas? begitu? kau seorang wanita Rebecca, oleh karena itu Mommy sangat kaget mendengar permintaan konyolmu itu! Asal kau tau aku orang pertama yang menentang keinginanmu itu! Camkan itu," ujar Keenan dengan lantang yang berhasil membuat Rebecca kembali menatap dirinya.
Tawa tipis terukir di bibir Rebecca mendengar perkataan Keenan. Menertawakan ancaman Keenan.
"Apa hak Kak Ken melarangku? kita punya kehidupan masing-masing, jadi urus hidup masing-masing, tidak perlu mengurus kehidupan orang lain," sindir Rebecca masih dengan bibir terangkat.
"Rebecca!!" Suara bariton itu mengeram mendapati perkataan Rebecca seperti itu.
"Apa?" balas Rebecca tak kalah lantang. Setelah mengatakan itu ia beranjak bangkit dan segera pergi meninggalkan Keenan yang masih berdiri mematung.
°°°°°°
Di kamar
Mommy Isabella tak menanggapi, ia tetap saja menangis.
"Apa salah kita sayang sehingga mereka semua ingin meninggalkan kita?" lirih Mommy Isabella seraya memegang dadanya.
"Tidak ada yang salah dalam hal ini sayang. Tentu sebagai orang tua kita sangat kehilangan jika satu-persatu anak-anak pergi meninggalkan kita, tetapi itu sudah resiko orang tua sayang. Kita tidak bisa mencegah ataupun menentangnya. Mereka sudah dewasa, dan mereka taun pilihan mana yang positif dan negatifnya," pungkas Daddy Alfred seraya mengusap punggung Mommy Isabella yang masih bergetar karena menangis.
Sesaat pria tampan paruh baya itu menghela nafas panjang, seraya mengusap wajah yang mulai menimbulkan garis-garis menua.
"Apa kita ada buat salah atau menyinggung perasaan Eca tanpa kita sadari? aneh saja kenapa dengan tiba-tiba ia mengungkapkan keinginan yang tak pernah kita duga selama ini. Apakah Eca selama ini tidak bahagia bersama kita?" ungkap Daddy Alfred dengan pilu, ia tidak pernah menduga mendengar keinginan Rebecca untuk tinggal di tempat lain, padahal masih satu kota.
Mommy Isabella bangkit dari posisi berbaring nya seraya mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Apa Mommy ada salah sama Eca sayang? beritahu Mommy agar Mommy dapat memperbaikinya dan meminta maaf kepadanya," lirih Mommy Isabella kepada Daddy Alfred, ingin mengetahui akan kesalahannya.
__ADS_1
Daddy Alfred menggelengkan kepala seakan tidak mendapatkan jawaban dari. pertanyaan itu.
"Eca sayang ternyata Mommy salah, ternyata kamu tidak mendapat kebahagiaan selama tinggal bersama kami. Buktinya kamu ingin tinggal di tempat lain, padahal kita satu kota," lirih Mommy Isabella seakan ia berbicara dengan Rebecca. "Bukankah ini lucu sayang? putri yang kita anggap bahagia selama ini tidak merasakan hal itu?" sambungnya dengan mata mengembun.
"Nanti kita bicarakan lagi sayang, yang penting Mommy tenang dulu. Jangan menyelesaikan masalah dengan hati panas dan emosi," saran Daddy Alfred seraya mengusap punggung tangan itu.
"Kita memiliki 2 putra dan 2 putri tetapi tidak ada yang ingin tinggal bersama kita. Leon memang tinggal dengan kita tetapi sekarang ia memilih untuk profesinya, dalam arti meninggalkan kita. Keenan maupun Kiran memilih jalan mereka masing-masing. Dan Rebecca juga ingin memilih keinginannya sendiri," lirih Mommy Isabella, seakan ingin menumpahkan tangisnya ketika menyebut nama seorang Rebecca. "Apakah tidak boleh egois? kita sebagai orang tua? bukankah sebelum mereka menikah kita berhak menahan mereka untuk tinggal bersama-sama?" ungkap Mommy Isabella seakan mengungkapkan isi hatinya.
"Tenang sayang."
"Eca gadis mandiri selama ini ia tidak pernah merepotkan kita atau siapapun. Setiap masalah pribadi ia selesaikan sendiri tanpa kita ketahui," papar Mommy Isabella seakan sangat tau kepribadian seorang Rebecca. "Apa Daddy tau itu? pertama masuk magang alerginya kambuh lagi, sampai lebih parah tetapi ia sembunyikan hal itu ke kita. Mommy mengetahuinya dari dokter kemarin," imbuhnya. Tadi ia ingin sekali menanyakan hal itu kepada Rebecca tetapi keinginannya itu tak tercapai karena masalah besar ini.
"Apa?" seru Daddy Alfred dengan wajah kaget.
Mommy Isabella menarik nafas dalam-dalam, dadanya begitu sesak mendapat kejutan hari ini yang tak pernah dia duga selama ini.
"Sayang kita harus bagaimana?" lirih Mommy Isabella dengan perasaan pilu.
**
Di daun pintu kamar dua sosok yang tak sengaja bertemu di sana mendengar semua obrolan dari dalam. Bahkan Rebecca ikut menangis mendengar jeritan hati kedua orang tua mereka didalam sana.
"Apakah aku egois? untuk pertama kalinya baru kali ini aku membuat Daddy sama Mommy terluka dan kecewa," batin Rebecca dengan sendu.
"Kau lihat itu!" Setelah mengatakan itu Keenan melangkah pergi. Meninggalkan Rebecca dengan perasaan bersalah.
Tidak lama langkah gontai Rebecca juga bergerak meninggalkan tempat itu.
Di dalam
"Apa sekarang saatnya kita memenuhi janji itu?" ucap Mommy Isabella.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪