MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 48. Menyerah


__ADS_3

Hubunganku dengan Alfred semakin dibatasi tembok. Tidak ada sapaan ataupun aku meliriknya. Sekarang kandunganku berusia 26 minggu.


Malam ini aku menginginkan makan topokki, padahal dulu aku sama sekali tak menyukai makanan itu. Tidak sulit bagiku karena memang sudah tersedia di lemari es.


Dengan semangat 45 aku berkutat di dapur dengan perut membuncit, maklum didalam sana tumbuh dua bayi sepasang, ya di usia kehamilan 23 minggu melakukan USG mengetahui jenis kelamin bayi-bayiku.


Topokki siap dan aku bawa menuju meja makan.


"Apa yang kau masak?" suara bariton seperti teriakan membuat langkahku terhenti. Alfred mendekat dengan menutup hidung serta mulut.


Uwek...


Alfred ingin muntah karena aroma dari topokki yang kumasak. Bahkan aroma itu mengaduk isi perutnya, padahal dulu itu makanan kesukaannya.


Prang....


Piring besar yang berisi topokki di tanganku di lempar Alfred ke lantai sehingga berserakan di lantai. Mataku membulat menatapi setiap potongan-potongan toppoki yang berserakan di lantai.


"Sekali lagi kau membawa makanan seperti itu ke rumah ini, lebih baik kau tinggalkan rumah ini," bentak Alfred seperti mengusirku.


Mataku berkaca-kaca masih menatap setiap potongan topokki sampai-sampai menelan ludah sangat menginginkan potongan serta kuah kental itu masuk kedalam mulutku, bahkan aku tak menanggapi ancaman Alfred.


Aku berjongkok untuk membersihkan pecahan piring masih dengan menelan ludah. Seandainya tidak kotor sudah lama kemasukan kedalam mulutku. Kedua bayi ini sangat menginginkan makanan itu.


"Bikin aku mual," ujar Alfred berlalu tanpa memikirkan perasaanku.


Nangis, kecewa itulah yang kurasakan saat ini. Sudah sudah payah aku masak bahkan belum sempat di cicipi, kini terbuang sia-sia okeh orang yang serakah atau egois.


Kulirik jam dalam ponsel ternyata masih jam 8 malam. Aku sangat menginginkan makanan itu sehingga membuatku nekat pergi keluar hanya mencari makanan topokki, kebetulan di ujung sana ada cafe.


Aku berjalan kaki, anggap saja melatih otot-otot kakiku yang mulai membengkak. Tiba ditempat itu aku langsung memesan, dan tidak menunggu lama karena kebetulan pengunjung tidak ramai.


Hatiku bersorak girang mendapati satu piring besar topokki persis dengan masakanku tadi. Dalam sekejap piring besar telah tandas tak tersisa.


"Sayang Mama sudah memenuhi keinginan kalian. Maafkan Daddy ya? mungkin Daddy tidak suka dengan makanan yang kalian mau. Kalian si tega menyiksa Daddy," gumamku sudah kehilangan akal. Akhir-akhir ini kewarasanku tidak terkontrol, kadang sering berbicara dengan kedua calon anakku.


°°°°°°


Aku mematung, tepat di depan pintu kamar Leon. Bagaimana tidak, obrolan Alfred bersama Andre di ruang tamu sangat jelas di telingaku.


"Tuan apa Tuan yakin?"


"Sejak kapan aku berubah pikiran Andre? saatnya aku sudahi semuanya. Misi balas dendam sudah cukup bagiku. Aku akan mengembalikan wanita itu kepada keluarganya dan menceritakan atas dasar apa aku menikahi putri mereka. Aku menang Andre, wanita brengse* itu menerima atas perbuatannya. Hmm bukanlah aku sudah cukup berbaik hati? masih membiarkan dia untuk hidup? sedangkan Daddy dan Bernat telah tiada?" ujar Alfred panjang lebar.


Andre bungkam tak tau harus bicara apa.


"Secepatnya aku menceraikan dia dan menyerahkannya langsung kepada kedua orang tuanya," ujar Alfred tak main-main.


Dengan langkah gontai aku berusaha mendekati mereka. Andre cukup kaget atas kedatanganku, tetapi tidak untuk Alfred. Alfred malah tersenyum menyeringai.


"Bagus kau sudah mendengar semuanya," ujar Alfred kepadaku.


"Kamu tidak serius bukan dengan apa barusan yang kamu katakan? aku mohon jangan lakukan itu," lirihku memohon sembari menangis.


Prok prok....


Alfred bertepuk tangan melihat aku memohon.


"Tangisanmu adalah kemenangan bagiku Isabella!"

__ADS_1


"Aku mohon rahasiakan ini kepada kedua orang tuaku sampai aku menyerah. Beri aku waktu,"


Andre tidak tega melihat apa yang kulakukan, sedangkan Alfred sangat bahagia.


"Beri aku waktu," ulangku kembali sembari memegang perutku karena terasa tendangan dari dua bayiku.


"Aku orang tidak main-main Isabella,"


Setelah mengatakan itu Alfred berlalu sembari menyenggol bahuku cukup kuat sehingga membuat kakiku tak seimbang menumpang tubuhku.


Awww


Aku terjatuh dengan jeritan tertahan. Sedangkan Alfred tidak memperdulikanku atau dia memang tidak sadar jika aku tersungkur.


Aku menjerit, tiba-tiba darah mengalir lagi. Ya pendarahan cukup banyak sehingga aku manggil Dea untuk membantuku berdiri.


Dea kaget dan tanpa pikir panjang membawaku ke rumah sakit. Usia kehamilanku memasuki bulan ke 7 sehingga aku terpaksa resign lebih cepat karena lebih memikirkan kedua janinku.


Di rumah sakit aku langsung ditangani oleh dokter Sintya.


"Dok aku angkat tangan, ini sangat beresiko jika kamu tetap mempertahankan kedua janin dokter. Sedangkan kanker itu semakin menyebar, aku tau keluhan yang dokter rasakan selama kehamilan. Pasti sakit luar biasa tetapi dokter merahasiakan itu dan berusaha kuat. Sangat kecil kemungkinan kedua calon buah hati dokter selamat, begitu juga dengan nyawa dokter," terang dokter Sintya.


Aku membeku mendengar keterangan demi keterangan yang menyesakan dada dari dokter Sintya.


"Dari awal sudah aku katakan. Apapun yang terjadi kedua anak ini akan lahir ke dunia,"


"Semoga ada keajaiban. Aku salut dengan kegigihan dokter mempertaruhkan nyawa demi calon bayi-bayi ini,"


Sesaat aku terdiam.


"Dok seandainya hari itu tiba, tolong selamatkan kedua bayiku. Jika ada pilihan dari salah satu diantara kami, tolong selamatkan mereka, mereka berhak hadir ke dunia. Berjanjilah kepadaku dan jangan pernah katakan itu kepada siapapun termasuk keluargaku nanti," pesan seriusku kepada dokter Sintya.


"Berjanjilah dok,"


Dokter Sintya kembali mengangguk tidak mampu sehingga memeluk tubuhku.


°°°°°°


Berminggu-minggu aku memikirkan ini, dan hari ini adalah hasil dari pemikiran panjangku. Semua sudah aku urus termasuk Leon kemarin sudah terbang ke Indonesia bersama Dea. Sesuai kesepakatan aku akan melahirkan di Indonesia. Kedua orang tuaku mempercayai itu.


Kini kandunganku berjalan 8 bulan. Setelah menyimpan buku tulis berukuran kecil, sebut saja buku diary. Didalam tulisan itu adalah curahan hatiku dari awal menikah dan berakhir aku tulis hari ini.


Semua barang milikku sudah aku bereskan. Kini hanya tinggal satu koper sedang yang akan aku bawa. Ya hari ini aku menyudahi, aku menyerah. Aku akui Alfred menang.


Aku menemui Alfred yang kebetulan berada di ruang kerja. Ya aku memberanikan diri untuk menemuinya.


Aku masuk tanpa mengetuk pintu karena pintu itu tak tertutup. Alfred menghentikan pekerjaannya karena melihat kedatanganku yang tiba-tiba.


"Boleh aku duduk? ada yang ingin aku bicarakan," kataku minta izin.


Alfred tak menjawab sehingga membuatku berinisiatif sendiri melangkah ke sofa dan mendudukkan diriku.


Tatapan tajam Alfred membuatku tersenyum miris. Tetapi aku pura-pura tak mengetahui itu.


"Al mohon mendekat," lirihku berusaha terlihat tegar.


Alfred tercengang mendengar nada lembutku itu.


"Sebentar saja," lirihku kembali disertai senyuman.

__ADS_1


Alfred akhirnya beranjak seperti yang kuperintahkan. Kini kami duduk saking berhadapan hanya dibatasi meja sofa.


Aku menghela nafas panjang, lalu mengembangkan senyuman.


Mataku tertuju di map yang terletak dibawah meja sofa. Aku tau itu map berisi berkas surat cerai. Aku meraih map itu lalu meletakan di atas meja sofa.


Alfred menaikan alis melihat apa yang sedang aku lakukan.


Aku menatap Alfred lekat- lekat lalu kembali beralih menatap berkas di atas meja.


"Aku akan menangani surat cerai ini seperti yang kamu inginkan. Kamu menang Al, aku akui itu dan aku menyerah hari ini sesuai waktu yang pernah aku minta. Tetapi sebelum aku mendata tangani surat cerai ini," sesaat aku berhenti. "Bolehkah aku meminta sebentar saja, tolong usap perutku sebentar saja," kataku pada akhirnya.


Deg


Mendengar itu membuat Alfred tak percaya bahwa aku akan mendata tangani surat cerai yang sejak awal sudah dipersiapkan.


"Aku serius," ucapku menyakinkan Alfred.


"Jangan bercanda," ujar Alfred menganggap ini adalah candaan.


Aku tertawa kecil.


"Apa wajahku penuh candaan? tidak Al aku mewujudkan keinginanmu. Lakukanlah biar secepatnya aku pergi dari kehidupanmu," sahutku. "Leon sudah terbang ke Indonesia kemarin," imbuhku.


Alfred sedikit kaget karena dia tak tau sama sekali tentang Leon. Perasaan Alfred diliputi dua arah yaitu antara senang, bahagia dan kehilangan.


"Al bagaimana?" aku menyakinkan Alfred karena tidak ingin berlama-lama.


"Akhirnya kau menyerah, dan pemenangnya adalah aku. Tetapi tidak semudah itu karena aku akan menyusul ke Indonesia untuk memberitahu rahasia ini kepada kedua orang tuamu," ujar Alfred penuh kemenangan.


"Baiklah jika itu membuat kamu puas," sahutku dengan tenang. "Terserah kamu melakukan apa karena aku sudah tiada," batinku dengan sesak.


"Lakukanlah," pintaku.


Alfred bangkit dan aku juga ikut bangkit. Kami sama-sama menelan ludah serta menghela nafas. Alfred mendekat dengan tatapan intens di perut besar ini. Tangannya terulur disertai getaran. Ini pertama kali bagi Alfred. Dengan refleks Alfred mengusap perutku seperti yang aku minta.


Deg


Tendangan kedua bayi itu membuat jantung Alfred berdebar. Sedangkan aku sejak tadi memejamkan mata. Usapan tangan Alfred membuatku nyaman.


Merasa cukup aku segera membuka mata. Tanpa sadar air mataku menetes membasahi tangan Alfred yang masih menempel di perutku.


"Cukup," lirihku langsung kembali duduk.


Tanpa sepatah kata atau berpikir panjang lagi aku langsung membubuhkan tanda tangan ditempat yang seharusnya.


Kuseka air mataku lalu meraih sesuatu dari kantong bajuku, lalu meletakan di atas berkas surat cerai itu.


Tanpa sepatah kata aku berlalu meninggalkan Alfred yang terdiam membeku.


Aku keluar dari rumah itu dengan perasaan hancur berkeping-keping. Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis, ya menangisi takdirku.


Entah apa yang membuat hati Alfred tergerak ingin menyusul. Dia yakin tujuanku adalah bandara, sehingga dengan buru-buru dia melakukan kendaraannya. Padahal tujuanku bukankah ke Indonesia tetapi ke suatu tempat.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


•Selanjutnya detik-detik mencengangkan

__ADS_1


•Maaf bab 43 masih review


__ADS_2