MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 159~MDS2


__ADS_3

Sore menjelang


Keenan terbangun dalam tidurnya. Getaran ponsel di atas meja sofa membuat tidurnya terusik.


["Baiklah aku akan segera ke sana."]


Keenan menerima sambungan telepon.


"Jam berapa ini?" gumamnya seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.


Dahinya mengerut menyadari jika sekarang sudah sore. Sungguh tidurnya begitu nyenyak, karena semalaman ia tidak bisa tidur.


Tidak ingin berlama-lama ia bergegas masuk ke kamar mandi. Didalam kamar mandi Keenan tercengang mendapati dua buah benda aset para wanita tergantung.


Keenan menggelengkan kepala, lalu segera menyirami tubuhnya.


Dua benda berwarna hitam itu milik Rebecca, mungkin karena ia terburu-buru tadi sehingga melupakannya.


°°°°°°


Kini Rebecca bersama Felisha menuju rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa orang tua Lucky mengalami kecelakaan serius.


"Cinta tenanglah, jangan terlalu ngebut sangat berbahaya," ingatan dari Felisha.


Entahlah Fel, kenapa perasaanku seperti ada sesuatu. Ketika mengetahui bahwa Daddy nya Lucky kecelakaan," pungkas Rebecca.


"Itu mungkin karena kalian sudah sangat dekat, lagi pula Tuan Sun sangat menyukaimu," sahut Felisha seraya mengusap bahu Rebecca yang sedang menyetir.


Tiba di rumah sakit kedua sahabat itu segera turun. Bergegas menuju UGD. Ini bukan rumah sakit milik keluarga Hugo.


Rebecca menarik lengan Felisha, bahkan mereka berlari kecil.


Dari jarak jauh keduanya melihat Lucky mondar mandir dengan pakaian penuh darah.


"Lucky panggil Rebecca." Mendengar namanya dipanggil membuat Lucky membalikan badan.


"Nona," balas Lucky dengan raut wajah cemas.


"Bagaimana keadaan Paman?" tanya Rebecca.


Lucky menggelengkan kepala, belum tau bagaimana keadaan Daddy nya didalam sana. Para dokter belum memberi kabar.


"Daddy mengalami kecelakaan tunggal. Supir meninggal ditempat sedangkan Daddy tidak sadarkan diri," ujar Lucky dengan tubuh bergetar.


Klek


Pintu ruang UGD dibuka. Keluar seorang dokter dengan raut wajah menyimpan sesuatu.


"Dok bagaimana keadaan Daddy? Daddy baik-baik saja kan dok?" tanya Lucky bertubi.


Ini adalah rumah sakit milik keluarga Sun.


"Tuan membutuhkan donor darah secepat mungkin. Sedangkan stok darah, bahkan di setiap rumah sakit tidak tersedia. Golongan darah Tuan sangat langka," terang dokter yang berhasil membuat kedua kaki Lucky ingin tumbang. Ia sangat tau bahwa golongan darah mereka berbeda, bahkan seluruh keluarga tidak memiliki golongan darah itu langka itu.


Lucky mengusap wajahnya.


"Seluruh keluarga memiliki golongan darah berbeda dengan Daddy dok," ucap Lucky dengan wajah lemas.


"Tuan harus segera mendapat pendonor, kita tidak punya waktu banyak," ujar dokter.


"Apa sudah ditanyakan di rumah sakit Hugo dok?" tanya Lucky karena ia yakin di sana pasti memiliki stok darah karena itu adalah rumah sakit terbesar di negara itu.


Dokter menggelengkan kepala.


"Seperti yang sudah saya katakan, bahwa golongan darah Tuan langka. Hanya akan dimiliki oleh salah satu anggota keluarga," jelas sang dokter kembali.


Lucky terduduk lemas seraya meneteskan air mata. Bagaimana jika nyawanya tak tertolong, sedangkan hanya Tuan Sun yang ia miliki sekarang.


"Memangnya Paman memiliki golongan darah apa?" lirih Rebecca.


"Daddy memiliki golongan darah AB negatif," ucap Lucky.


Mata Rebecca melebar. Jantungnya kembali berdebar.

__ADS_1


"Ambil saja darahku. Aku memiliki golongan darah AB negatif," papar Rebecca. Ketiga orang itu tertekun.


"Dok pasien," teriakan dari dalam, mengabarkan bahwa keselamatan Tuan Sun terancam.


"Kita segera membutuhkan transfusi darah," ujar dokter sebelum masuk kembali.


Tanpa memperdulikan Lucky dan Felisha, Rebecca bergegas berlari ke ruang dokter. Ia harus mendonorkan darahnya.


Melihat Rebecca berlari. Lucky maupun Felisha menyusul.


Sebelum masuk ke ruang dokter, Rebecca menghubungi kedua orang tuanya. Bagaimanapun mereka harus tau dan mendapat persetujuan.


Setelah menerima persetujuan dengan siap Rebecca mendonorkan darahnya.


Rebecca masuk keruang dokter.


"Apa Nona Rebecca sudah memikirkan resiko menjadi pendonor?" tanya sang dokter sebelum melakukan transfusi darah.


"Saya sudah memikirkannya dok. Segera lakukan karena tidak ada waktu lagi," sahut Rebecca.


Rebecca terbaring dengan selang melekat di tangannya. Butuh 1 jam proses itu.


**


Rebecca keluar dari ruangan setelah diperbolehkan.


Di depan pintu Lucky sedang sabar menunggu. Ia sangat berterima kasih kepada Rebecca, atas Rebecca nyawa Daddy nya selamat.


Lucky langsung memeluk tubuh Rebecca. Mengucap rasa terima kasih.


"Terima kasih Nona. Kami berhutang budi dengan Nona. Daddy berhasil melewati masa kritisnya," lirih Lucky dengan mata memerah.


Rebecca hanya bisa mengangguk. Entah kenapa membuat hatinya tergerak untuk membalas pelukan itu.


Sedangkan Lucky melupakan status mereka saat ini. Seperti ada magnet diantara mereka berdua. Bahkan tanpa sadar Lucky mengecup berkali-kali pucuk kepala Rebecca. Bukan karena nafsu tetapi ada ikatan batin diantara keduanya.


Merasakan hal itu membuat Rebecca tersadar, lalu melepaskan kedua tangan yang melingkar di tubuh Lucky.


Tangan Rebecca terulur di wajah Lucky, ia menyeka air mata yang sempat tumpah.


"Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu Nona," ujar Lucky.


"Jika diberi kesempatan kenapa tidak," sahut Rebecca. "Oya Feli mana?" tanyanya.


"Ke toilet, hmm itu dia," sahut Lucky.


Mereka bertiga memutuskan ke ruang ICU.


**


Di pojokan koridor sana sesosok pria membeku mendapati tontonan yang berhasil meremas hatinya.


Sesosok itu hanya dapat melihat dalam diam, tanpa tau apa yang mereka bicarakan.


Kedua tangannya terkepal erat.


"Jadi hubungan mereka begitu dekat dan dalam selama ini?" hatinya dengan rahang mengeras.


Tidak ingin semakin sesak, pria itu membalikan langkahnya.


°°°°°°


Sudah pukul 10 malam tetapi Rebecca belum juga pulang. Sedangkan Keenan masih berjaga di ruang televisi.


Keenan melirik jam di atas nakas.


Ssst


"Apa dia tidak ingat pulang? apa dia tidak sadar jika seseorang telah menunggunya? iya aku memang salah tetapi, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya," gumam Keenan seraya mondar mandir tidak jelas.


Lelah berdiri ia kembali melemparkan bokongnya di atas sofa.


Klek

__ADS_1


Pintu terbuka.


Rebecca masuk begitu saja. Ia sama sekali tidak tau jika didalam sosok Keenan sudah kembali. Tubuh lelah itu berjalan gontai, bahkan baru saja ia hatinya mengumpat Keenan karena sampai sekarang tidak memberi kabar.


"Kau baru pulang jam segini? jangan terlalu bekerja keras, ada waktunya untuk kerja dan waktu istirahat," ujar Keenan seperti sindiran.


Suara bariton itu membuat langkah Rebecca terhenti melangkah. Ia pun mengangkat kepalanya. Di sana, tepat di sofa ia melihat sosok pria yang tak lain suaminya sudah kembali.


Suami yang ia rindukan selama ini secara diam. Keenan semakin tampan di matanya.


"Ka-kamu sudah pulang?" lirih Rebecca dengan bibir bergetar tanpa melepaskan tatapannya. Ingin sekali ia memeluk Keenan, ingin mencurahkan kerinduan selama ini.


Keenan bangkit dan berjalan beberapa langkah.


"Ini sudah terlalu malam, kau baru pulang. Jangan terlalu bekerja keras, ada waktunya untuk kerja dan waktu istirahat," ujar Keenan sekali lagi mengulangi sindirannya.


Dasar polos, hati Rebecca berbunga-bunga mendengar perkataan Keenan. Sungguh ia salah mengartikan kalimat itu.


"Maaf aku baru dari rumah sakit," ucap Rebecca.


"Tentu saja aku tau, dan kau tidak sadar sudah pulang terlalu malam demi pria itu," batin Keenan.


"Rumah sakit? apakah ada masalah di sana?" ujar Keenan ingin memancing Rebecca.


Drrrt


Ponsel Rebecca bergetar sehingga membuat pertanyaan Keenan tidak digubris.


"Maaf aku angkat telepon dulu," ucap Rebecca setelah melihat siapa yang telah menghubunginya.


Keenan tak bergeming. Ia membeku melihat Rebecca berlalu begitu saja memasuki kamar seraya menempelkan ponsel di telinganya.


"Orang yang menghubunginya lebih penting dibandingkan menyambut kembalinya diriku," batin Keenan.


**


Didalam kamar


Setelah memutuskan sambungan telepon. Rebecca segera masuk ke kamar mandi. Seluruh tubuhnya sudah lengket keringat.


Tidak butuh waktu lama ia menyudahi ritual mandinya. Ia pun keluar dengan pakaian lengkap.


Setelah menyusur rambut panjangnya Rebecca melirik jam di atas nakas. Tak di sangka sekarang sudah pukul 00.00.


Rebecca segera keluar kamar, bagaimanapun ia harus berbicara ringan dengan Keenan.


Langkahnya terhenti mendapati Keenan sudah terlelap di atas sofa. Bukan dia yang menonton tetapi televisi yang menonton dirinya.


"Ternyata dia sudah tidur," gumam Rebecca seraya menghela nafas.


Rebecca kembali ke kamar, mengambil selimut untuk Keenan.


Ia kembali dari kamar, lalu menghampiri Keenan. Dilebarkan selimut itu, lalu menutupi seluruh tubuh Keenan sebatas dada.


Dalam diam Rebecca menatap Keenan. Ingin sekali ia melepas rindu tetapi tidak mungkin.


"Sudah 2 tahun kita berpisah tetapi tidak membuat hubungan kita berubah," batin Rebecca.


Tidak ingin tertangkap basah Rebecca segera menjauh. Karena merasa haus ia berjalan menuju dapur.


Matanya tak lepas di meja makan. Dengan tidak sabar ia semakin mendekat. Bukankah ia tidak menyentuh beberapa hidangan di atas makan sampai ia berangkat ke kantor. Tetapi kenapa meja makan kosong dan bersih.


Tidak ingin prasangka buruk Rebecca kembali melangkah, mengambil air minum. Sekali lagi pandangannya berpusat dimana susunan piring serta mangkok kosong di dalam wastafel.


Karena penasaran Rebecca mendekat.


"Kosong," gumam Rebecca dengan dahi mengerut.


Pikiran Rebecca Keenan lah yang membuang semua makanan itu serta kue anniversary mereka yang ia siapkan untuk menyambut kepulangan Keenan.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2