MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 35. Janda Muda


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang lagi aku menyetujui permintaan Andre. Sepanjang perjalanan sungguh aku tidak tenang.


"Andre apa kamu yakin? pasti nanti pria kejam itu murka melihat kedatanganku. Alfred tidak ingin melihat wajahku Andre, jadi apa yang harus aku lakukan?" ucapku sembari meremas jari jemariku.


Andre menghela nafas.


"Saya yang akan bertanggung jawab Nona," ujar Andre.


Hmm


Aku pasrah dan menyandarkan kepala berat ini ke sandaran kursi.


"Silahkan turun Nona," suara Andre membuatku tersadar, tanpa aku sadari ternyata mobil yang dikendarai Andre sudah terparkir di sebuah gedung pencakar langit. Itu adalah gedung perusahaan HUGO GROUP.


Aku turun dan mengikuti langkah Andre. Ini pertama kalinya bagiku menginjakan kaki di perusahaan terbesar bahkan terkenal di negara itu.


Pandangan para karyawan menatap kedatanganku dengan Andre. Karena aku mengenakan baju kebesaran dokter sehingga membuat mereka paham kalau aku adalah seorang dokter yang akan menangani Alfred.


"Silahkan Nona," Andre mempersilahkan diriku untuk masuk terlebih dahulu kedalam lift. Sungguh Andre sangat menghormatiku padahal dia tau statusku yang sebenarnya.


Didalam lift aku kembali melamun. Sehingga lamunanku tersadar ketika Andre kembali mempersilahkanku.


Kini kami telah berada di pintu ruangan Alfred yang bertuliskan CEO. Pandanganku tertuju di tulisan itu, seketika pikiranku kemana-mana.


"Kebetulan beliau sedang keluar negeri jadi Tuan menempati ruangan ini untuk sementara sesuai perintah beliau," terang Andre seakan membaca isi hatiku.


Aku manggut-manggut seakan paham dengan keterangan Andre.


Klek


Tanpa mengetuk pintu Andre langsung membuka handle pintu karena sudah sangat khawatir.


Tubuhku mematung dengan mata memanas melihat dua sosok sedang memadu kasih. Dengan kepala Alfred bertumpu di paha Serena, sedangkan Serena sedang memijit mesra kepala Alfred.


"Apa rasa hormatmu sudah hilang Andre? sehingga ketuk pintu tidak kau terapkan lagi sebelum masuk keruangan?" bentak Alfred dengan sangat murka.


"Kamu tau Al sepanjang perjalanan aku mengkhawatirkan dirimu tetapi tak taunya kamu malah sedang bernostalgia dengan istri pertamamu," keluhku dalam hati.


"Saya minta maaf Tuan karena sudah ceroboh," ujar Andre dengan ujung mata melirik ke arahku.


"Kenapa kamu bawa wanita itu Andre?" suara Serena cukup meninggi menunjuk diriku yang berada di samping Andre.


Alfred langsung bangkit setelah mendengar jika aku datang. Ada perasaan senang atas kehadiranku di sana tetapi tidak ditunjukan olehnya.


"Untuk apa kau bawa dia Andre? apa aku ada memerintah? apa hanya dia dokter di rumah sakit?" kemurkaan Alfred atas kedatanganku membuatku sesak. Aku sangat bodoh sudah bertindak diluar akal sehatku.


"Saya minta maaf Tuan. Biarkan Nona untuk memeriksa Tuan," ujar Andre.


"Tidak perlu, aku sudah menghubungi dokter," sela Serena dengan sinis menatapku.


"Tidak masalah Andre, jika begitu aku pulang," kataku berusaha tersenyum kearah Andre.


"Tapi Nona," Andre ingin menghentikan niatku.


"Tidak apa-apa," bisikku lalu berlalu.

__ADS_1


Uwek....


Langkahku terhenti tepat di ambang pintu karena mendengar Alfred muntah. Karena penasaran aku berbalik, ya benar saja Alfred sedang mengeluarkan isi perutnya tepat di kursi sofa, sedangkan Serena langsung menjauh sembari menutup hidung yang rata itu haha author jadi sangsi liat Serena🤣


Tanpa pikir panjang lagi kakiku beranjak mendekati Alfred. Kuraih kantong kresek yang ada di atas meja, lalu dibuka untung menampung kotoran dari mulut Alfred karena sudah darurat.


Uwek uwek....


Tangan kananku memegang kantong kresek sedangkan tangan kiriku mengusap tengkuk Alfred. Usapan itu membuat sedikit nyaman bagi Alfred. Merasa cukup tanganku terhenti mengusap tengkuk Alfred, lalu meraih segelas air putih dan langsung kuberi di mulut Alfred. Tanpa membantah Alfred menyambut air minum itu untuk berkumur dan membuang kembali kedalam kantong kresek.


Kuraih beberapa helai tisu di atas meja sofa untuk membersihkan sofa yang terkena kotoran muntahan Alfred tanpa merasa jijik sedikitpun.


Alfred, Andre dan Serena memperhatikanku dengan mulut bungkam.


"Andre tolong tunjukan dimana letak toilet,"


"Toilet sedang bermasalah Nona, tetapi di dalam ruangan pribadi terdapat kamar mandi. Sebaiknya Nona membersihkan di kamar mandi saja," terang Andre sehingga membuatku terdiam tanpa sengaja menatap Alfred, bermaksud minta persetujuan.


Hmm


Lirih Alfred dengan suara lemah dan tak berdaya pertanda dia setuju.


"Silahkan Nona," Andre mewakili Alfred.


"Huh," sinis Serena karena sejak tadi dia ingin membuang air kecil tetapi tidak dibolehkan memasuki ruangan pribadi itu.


Serena berpamitan karena ada pemotretan yang tidak bisa di tinggalkan.


"Atas dasar apa kau bawa dia Andre?" bentak Alfred.


Aku kembali dari kamar mandi sehingga kedua pria itu terdiam.


"Izinkan aku untuk memeriksa," ucapku memastikan Alfred.


"Aku tau kau sangat senang dengan ini, jadi jangan sok cari muka,"


"Aku sama sekali tidak mencari muka tetapi sebagai manusia punya rasa peduli. Apa kamu mau jika penyakitmu ini merampas nyawamu secepat ini? jadi bagaimana dengan misi balas dendam itu kepadaku jika kamu mati?" aku memberanikan diri menekan kata-kata yang kusendiri anggap konyol.


Diam-diam Andre menyunggingkan senyum mendengar ancamanku.


"Saya permisi Tuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar," Andre langsung berlalu tanpa ingin mendengar jawaban Alfred.


Setelah menutup pintu Andre tertawa kecil.


Kembali kedalam ruangan.


Mendengar perkataanku membuat Alfred pasrah karena dia anggap perkataan itu ada benarnya.


Dengan jantung berdebar dan jari gemetar kubuka kancing baju kemeja Alfred bagian atas. Semoga saja Alfred tidak menyadari jemariku itu. Ku tempelkan stetoskop ke bagian dada Alfred berkali-kali dengan jantung berdebar.


Bukan hanya aku, Alfred juga merasakan hal yang sama sehingga nafas kami saling beradu seperti habis lari maraton.


Setelah itu aku berganti memeriksa tekanan darah Alfred. Dari tensimeter digital menerangkan bahwa tekanan darah tidak normal begitu juga dengan detak jantung. Kucoba berkali-kali untuk memastikan tetapi hasilnya sama.


"Coba rileks, tekanan darahmu tidak normal," terangku.

__ADS_1


"Bagaimana normal jika jantungku ingin meledak," batin Alfred tanpa ingin menjawab perkataanku.


"Apa yang kamu rasakan sejak tadi?"


"Apa perlu aku katakan itu?"


"Tentu saja agar aku tau kasi resep obat. Bila aku tidak tau apa keluhan pasien bisa saja berakibat fatal, yang seharusnya sakit perut malah dikasi obat sakit gigi," terangku cukup jengkel.


Alfred menatapku dengan tajam padahal wajahnya memucat.


Aaak...


Alfred meringis menahan rasa sakit. Wajah itu semakin pucat dan menggigil. Aku ambil obat pereda mual serta penurun panas. Alfred tak membantah dan langsung menelan obat itu.


Alfred meringkuk menggigil. Aku kembali mengecek suhu badan, dan hasilnya membuat mataku melotot.


"Al sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang juga, kamu perlu tes darah. Kamu juga perlu di infus karena dehidrasi kekurangan cairan," kataku dengan wajah panik. "Harus secepatnya ditangani," imbuhku.


"Tidak perlu, biar saja aku mati. Bukankah itu keberuntungan bagimu?"


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi,"


"Atas dasar apa?"


"Aku tidak ingin menjadi janda muda," ucapku dengan refleks. "Aku juga masih virgin," tentu saja aku berani bergumam dalam hati. "Hah...." Aku tersadar dengan ucapanku langsung menutup mulutku. Sedangkan Alfred tanpa berkedip menatapku sehingga membuatku salah tingkah.


Aku menelan ludah dengan berusaha menenangkan diri.


"Aku akan mencari Andre untuk membantu membawamu ke rumah sakit," kataku lalu bangkit ingin keluar dari ruangan.


"Andre sedang menghadiri rapat," ucapan Alfred membuatku mengurungkan niat lalu berbalik kembali.


"Jika begitu Serena mana?" tanyaku sejak kembali dari kamar mandi aku tidak melihat Serena sampai sekarang, kukira dia keluar sebentar terapi nyatanya wajah sinis itu tak kudapatkan kembali.


"Dia sibuk," sangat tumben Alfred menanggapi pertanyaanku, apa dia salah minum obat? itulah yang ada dibenakku.


Tanpa berpikir panjang tak membuang waktu, aku berinisiatif memapah Alfred. Awalnya Alfred menolak dengan menepis tanganku, tetapi mungkin tenaganya benar-benar drop dan pada akhirnya Alfred pasrah.


Keberuntungan bagiku karena tidak ada karyawan yang memperhatikan kami, kecuali resepsionis dan satpam. Karena kebetulan jam kerja.


Pak Seun membantu Alfred masuk kedalam mobil karena aku sudah menghubungi Pak Seun sejak tadi.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah komennya agar author lebih semangat lagi💪


•Ada salah satu reader yang protes mengatakan tidak masuk logika padahal peran utama sama-sama cerdas. Kita ambil contoh saja, di dunia nyata saja kebanyakan manusia salah paham dan jarang mau mendengar penjelasan yang sebenarnya. Cerita ini masih panjang dan semua misteri itu satu-persatu akan di ungkapkan atau diterangkan. Perhatikan judul novelnya tersebut "MEMILIH DIAM" 👈pahamilah dua kalimat tersebut


•Namanya dunia novel, banyak dramanya dulu. Kalau langsung ke intinya bagaimana membuat alur sampai perbab-bab.


•Satu lagi jangan banding-bandingkan karya author dengan karya sebelah karena setiap karya berbeda-beda. Jika alurnya sama itu namanya plagiat(contekan).


•Author bukannya marah atau menyinggung siapapun. Ini hanya informasi saja.


Salam sehat🤝

__ADS_1


__ADS_2