MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 75. Berterus Terang


__ADS_3

Duar....


Aku ingin menjawab seiringnya bunyi petir. Tidak lama hujan turun lebat sekali tetapi tidak membuat kami beranjak dari tempat berpijak. Sedangkan yang lainnya entah kapan meninggalkan kami.


"Sayang jawab," bisik Alfred tepat di telingaku karena deru derasnya hujan jadi sulit mendengar apapun.


"Al lebih baik kita pulang," ucapku tepat juga di telinga Alfred.


Alfred langsung menggendongku ala bridal, melangkah kearah gazebo yang tidak jauh dari posisi kami. Tentu saja aku sangat kaget mendapat perlakuan tiba-tiba itu.


Sampai di gazebo Alfred menurunkan aku tepat bokongku mendarat di kursi. Kami berdua basah kuyup.


Tanpa ragu-ragu Alfred membuka kemeja warna putih yang sudah basah. Diperas, lalu mengusap seluruh wajahku yang sudah basah.


Jleb


Aku menahan nafas mendapati Alfred bertelanjang dada. Kenapa juga dia membuka baju dan tidak me gunakan kaos dalam. Wajahku memerah pada akhirnya. Sedangkan Alfred sama sekali merasa biasa-biasa saja.


"Sayang apa kamu kedinginan? kita tidak bisa pulang sekarang, hujan masih sangat deras," ujar Alfred sembari memeras rambutku.


"Pakaikan segera bajumu, ini sangat dingin," lirihku sembari mengigit bibir bawah ku dengan pandangan kearah lain.


"Tunggu hujan mereda, ini lokasi cukup jauh," Alfred mengusulkan.


"Kita pulang saja. Al apa Leon, Leon ada dimana?" tanyaku seketika mengingat Leon. "Leon dimana?" kataku berulang kali bahkan beranjak bangkit sembari menarik-narik tangan Alfred, dan aku melupakan kecanggungan yang dirasakan di awal.


Aku langsung menangis, rasa takut menghampiri.


"Apa mereka berhasil menyakiti Leon? Leon dimana Al? jawab aku," ucapku tanpa berhenti menarik tangan Alfred.


"Sayang tenang," Alfred langsung mendekap kedua bahuku sehingga aku terdiam. "Bagaimana aku mau menjawab jika kamu saja tidak memberi kesempatan untukku berbicara," ucap Alfred dengan lembut.


"Leon, Leon Al. Aku sangat mengkhawatirkannya," cicitku tanpa henti.


"Kamu tidak mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja khawatir, apa kamu tau bagaimana jantungku ketika penjahat itu tadi mengarahkan pisau tajam itu ke arahmu? apa kamu tau aku berusaha keluar dari persembunyian hanya untuk melindungimu? aku sangat takut," kataku panjang lebar tidak sadar.


Alfred membeku dengan mata membulat tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


Hah...


Seketika aku tersadar dengan segera membungkam mulutku.

__ADS_1


Alfred kembali memelukku.


"Terima kasih sayang.... Leon baik-baik saja. Leon berhasil memberi bukti itu," ucap Alfred tanpa melepaskan pelukannya. Aku seakan kehilangan akal sehat sangat menikmati pelukan itu apa lagi kondisi sangat dingin.


Kami secara bersamaan menyudahi pelukan itu dan kembali duduk.


"Ada apa?" ucapku karena Alfred terdiam dengan pandangan jauh ke depan.


"Aku malu kepada diriku sendiri. Aku memang tidak pantas mendapat kata maaf darimu dengan apa yang telah aku lakukan, bahkan aku tidak peduli ketika kamu sedang mengandung Keenan dan Kiran, malah sebaliknya aku semakin memberi penderitaan kepadamu sampai kamu berakhir dengan kehilangan ingatan," ungkap Alfred dengan tatapan sendu.


Alfred menoleh ke arahku setelah cukup lama memandang derasnya hujan.


"Andai kamu mengingat semuanya tentang aku, aku yakin saat ini aku tidak bisa bersamamu. Siapapun yang akan di posisimu pasti melakukan hal yang sama," ucap Alfred tanpa melepaskan tatapan intens itu. "Beri aku kesempatan untuk memperbaiki benteng yang sudah runtuh, aku akan berusaha membangun benteng itu kembali lebih kokoh lagi dan tak akan runtuh kecuali maut yang memisahkan," imbuhnya dengan keseriusan.


Sungguh aku tersentuh mendengar pengakuan Alfred.


"Apa yang harus aku lakukan? bohong jika aku tidak mencintainya lagi. Mulut bisa mengatakan itu tetapi hatiku menghendakinya. Apa ini saatnya aku berterus terang dan mengakui sesungguhnya?" aku bergumam dalam hati.


"Sayang beri aku kesempatan. Aku tulus mencintaimu, bukan karena kasian atau apapun seperti yang kamu katakan tadi," Alfred tidak berhenti menyakinkan aku. "Aku harus membuktikan apa untuk menyakinkanmu? apa yang kamu inginkan akan aku penuhi," imbuh Alfred.


Aku menghela nafas panjang.


"Pergi dari kehidupanku!" Ucapku.


Deg


"Untuk itu aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin."


Aku memberanikan diri meraih telapak tangan Alfred, lalu menggenggamnya. Perlahan aku menarik nafas meletakan telapak tangan Alfred tepat di dadaku.


"Cintaku ini, cinta yang pernah aku ungkapkan dulu masih tersimpan indah dalam hati ini. Cintaku kepadamu mengalahkan rasa benci atau marahku kepadamu," ungkapku.


Alfred membeku dengan tatapan penuh tanya, tetapi tidak aku beri kesempatan untuk dia memotong perkataanku.


"Aku sangat ingat bagaimana awal pertemuan kita. Aku masih ingat ancaman yang kamu berikan. Aku masih ingat ketika kita mengucapkan janji suci pernikahan. Aku masih ingat bagaimana....." Aku berhenti karena lidah ini sangat keluh untuk mengeluarkan kata-kata yang menyesakan ini.


"Sayang....."


"Sebenarnya aku tidak pernah mengalami amnesia," ucapku dengan tegas.


Hah.....


"Maksudmu sayang?"

__ADS_1


"Aku minta maaf karena telah membohongi kalian semua," lirihku dengan wajah menunduk.


Deg


"Jadi? sayang jangan buat aku jantungan," ujar Alfred.


Aku melepaskan genggaman tangan Alfred.


"Sekali lagi aku tekankan aku tidak pernah mengalami amnesia, semua itu hanya kebohongan. Maaf," jelasku.


Alfred memejamkan mata untuk sesaat.


"Sayang.....!


Cup cup cup


Alfred menghujani ciuman di seluruh wajahku seperti sedang menang dalam pertandingan atau perlombaan.


" Katakan sekali lagi bahwa kamu masih mencintaiku sayang? katakan jika kamu memberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" bisik Alfred dengan wajah berjarak berapa senti saja.


"Aku mencintaimu.....dan memberi kesempatan untuk menjadi kepala rumah tangga sebagaiman mestinya, sebagai suami atau Daddy panutan untuk kami, sebagai benteng kekuatan bagi kami untung menopang, sebagai bumi untuk kami berpijak."


Alfred terenyuh mendengar kata-kata itu dari mulutku.


"Aku juga mencintaimu dan menyayangimu hingga nafas terakhir. Aku akan menjadikanmu ratu dalam istanaku, menjadi wanita terhebat untuk kami, menjadi istri yang berhati mulia. Aku ingin menua bersamamu dalam suka maupun duka. Sayang terima kasih atas cinta dan kesempatan untukku menjadi suami dan Daddy untuk anak-anak," ungkap Alfred panjang lebar dengan mata berkaca-kaca.


Aku mengangguk dengan bibir tersenyum kecil.


Entah siapa yang mulai kini bwbir kami menyatu, saling mem belitt. Olah raga bw bir yang paling dahsyat karena di dasari dengan rasa cinta. Bahkan kami saling memejamkan mata. Awalnya hanya untuk melepaskan perasaan haru tetapi setan sedang merasuki sehingga kami tidak ingin menghentikannya, ditambah lagi keadaan dingin yang mendukung.


Hmmm


Karena kehabisan oksigen dengan terpaksa kami menyudahi dan akal normal masih mengingatkan kami. Wajahku bersemu merah, bahkan merasa sangat malu.


Alfred mengusap bwbirku yang terasa menebal, mungkin saja kelihatannya membengkak akibat kerakusan Alfred.


"Sangat manis sayang.... membuatku candu," goda Alfred berbisik dengan jari bermain di bwbirku.


Aku menelan ludah dengan jantung berdegup tak karuan.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2