MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 185~MDS2


__ADS_3

Tiba di resort


Saat ini sudah menjelang petang.


Usai Keenan membersihkan tubuhnya, kini giliran Rebecca. Tanpa menunggu lama Rebecca langsung masuk kedalam kamar mandi dengan wajah merona merah.


Bagaimana tidak. Keenan sengaja menunjukan postur tubuh sempurnanya itu, bahkan ia sempat menggoda Rebecca.


Didalam kamar mandi Rebecca memegang dadanya yang masih berdegup kencang.


"Aku harus bagaimana?" gumam Rebecca mondar mandir. Bisikan Keenan masih terngiang-ngiang.


Dengan segera Rebecca menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran kacau itu.


Ia segera melakukan ritual mandinya.


Sedangkan didalam kamar Keenan menyusun rencana. Ia mulai mempelajari untuk malam panjang mereka malam ini.


Tentu saja ia belum berpengalaman tetapi setidaknya ia mampu melakukannya.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Keenan seraya menoleh ke pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, bahkan sengaja dikunci oleh Rebecca.


Ssst.....


Desis Keenan seakan tidak sabar.


"Ya ampun bagaimana bisa aku keluar dengan kondisi seperti ini," cicit Rebecca seraya mondar-mandir tak jelas. Dimana ia menutupi tubuhnya hanya menggenakan sehelai handuk sebatas paha, hingga memperlihat kemolekan serta kulit putih bersih itu.


Tok tok


"Sayang.....apa kamu baik-baik saja?" karena sudah kelewatan lama Keenan pada akhirnya mengetuk pintu serta memanggil Rebecca.


"Iya sayang....sebentar lagi," sahut Rebecca dengan wajah memelas, bingung bahkan ia ingin menangis. Walaupun mereka adalah sepasang suami-istri tetapi rasa canggung tentu saja meliputi perasaannya.


"Cepatlah nanti kamu kedinginan," ujar Keenan.


"Sayang bisa minta tolong ambilkan pakaian bersih untukku?" ucap Rebecca.


Seketika senyuman penuh makna terukir indah di bibir Keenan. Sekarang ia paham kenapa istri cantiknya itu berlama-lama didalam sana.


"Maaf sayang pakaian kita belum datang, sebaiknya kamu tunggu di sini saja," pungkas Keenan berbohong.


"Ya ampun aku baru ingat jika tidak membawa barang apapun," keluh Rebecca.


Mau tidak mau Rebecca akhirnya keluar. Ia sudah siap jika di mangsa sekarang juga karena dengan tidak langsung ia juga menginginkannya.


Klek


Pintu kamar mandi dibuka. Dengan langkah hati-hati Rebecca keluar, berjalan langsung menuju ranjang. Sedangkan Keenan duduk di sofa sengaja pura-pura fokus kepada layar televisi.


"Apakah pakaian kita masih lama?" ucap Rebecca dengan wajah menunduk. Sangat canggung dengan keadaan mereka saat ini.


Keenan menghela nafas, lalu mengalihkan pandangannya ke Rebecca. Di tepi ranjang Rebecca duduk dengan kaki berhimpitan.


Ia berusaha menutupi pahanya yang benar-benar seperti wanita penggoda, begitu juga dengan atasannya. Dua gundukan itu seakan menyembul.


"Mungkin masih dalam perjalanan orang yang aku perintahkan," ujar Keenan seraya bangkit. Perlahan ia melangkah mendekati Rebecca.


Melihat hal itu membuat Rebecca was-was. Jantungnya berdebar-debar tak karuan.


Tanpa tak di duga Keenan langsung berjongkok, tepat dikedua kaki Rebecca. Bahkan ia menaruh dagunya di kedua paha mulus itu.

__ADS_1


"Sayang apa yang kamu lakukan?" ucap Rebecca dengan suara gugup.


"Mau makan kamu," goda Keenan dengan tatapan ke atas, tepat di wajah Rebecca yang saat ini bersemu merah.


Rebecca menelan ludah.


"Kamu wangi sekali sayang, hingga membuatku semakin tidak dapat menahannya," puji Keenan dengan suara parau.


Mata Rebecca membulat mendapat sentuhan di pahanya. Rupanya Keenan mendaratkan kecupan di sana.


Keenan perlahan bangkit, lalu duduk di samping Rebecca. Ia renguh kedua bahu polos itu. Tatapan keduanya saling bertemu.


"Aku menginginkan, aku ingin menjadikan milikmu seutuhnya. Apakah aku bisa mengambil hak ku malam ini?" ungkap Keenan tanpa memutuskan tatapannya.


Deg


Seketika Rebecca terdiam membeku. Ia sudah tau pasti hari itu lambat laun akan terjadi.


Dengan kikuk Rebecca hanya dapat mengangguk dengan wajah menunduk.


Yes.....batin Keenan seakan ia mendapat hadiah yang tak ternilai.


Dengan menggunakan jari telunjuknya Keenan menadah dagu Rebecca agar tatapannya bertemu dengan dirinya.


Keenan mendekatkan wajahnya, memperhatikan wajah cantik bersemu merah itu. Kini ia meraih tengkuk Rebecca dan dua bwbir seksi itu menyatu. Menyatu lebih dalam lagi, hingga kedua tangan Rebecca melingkar di leher Keenan.


De cappan demi de cappan memenuhi isi kamar tersebut. Keduanya terbuai, saling menikmati bwbir satu sama lain.


Hmmpp.....


Keduanya terpaksa mengistirahatkan, meraup oksigen kembali.


"Bwbirmu sangat manis sayang, hingga membuatku candu," bisik Keenan kembali meraup bwbir itu.


Awww......


Pekik Rebecca kaget sekaligus nik Matt ketika salah satu kepalan tangan Keenan mere mass salah satu bv Kitt Kem barrnya dengan cara halus.


Kedua kaki Rebecca tak mampu untuk menopang tvbvhnya lagi, hingga membuatnya merosot, terbaring di atas kasur.


Dengan posisi seperti itu membuat kemudahan bagi Keenan untuk Menik matti tvbvh aduhai menggoda itu.


Li dahh itu semakin turun dan berhenti tepat dimana dva bv Kitt Kem barr itu berada.


Entah kapan handuk yang terlilit itu terlepas. Bahkan Rebecca tidak sadar.


A......h


Leng kuhhan itu lolos begitu saja dari mulut Rebecca. Dimana ia mendapat sen zazi luar biasa dari Keenan.


Rebecca hanya bisa berkicau tidak jelas, kicauan yang membuat Keenan semakin membara. Semakin memperdalam permainannya yang baru pertama kali bagi mereka.


Ssst......


Desis serta pekikan Rebecca ketika sentuhan itu menyentuh area inti utamanya. Kedua kaki itu terangkat seakan ingin menjepit orang yang sedang mengobrak-abrik miliknya.


"Cukup sayang.....aku tak ku att lagi," cicit Rebecca seraya menahan gejolak yang ingin meledak saat itu juga.


"Keluarkan saja sayang, jangan ditahan-tahan," bisik Keenan tanpa melepaskan jari-jemarinya.


Karena tidak tahan lagi Rebecca berusaha terlepas. Hingga akhirnya ia dapat duduk. Ia tidak ingin keluar begitu saja sebelum merasakan surga dunia yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Sayang....." Keenan cukup kaget.


"Sekarang giliranmu," bisik Rebecca seakan urat malunya sudah hilang.


Keenan tersenyum bangga, ia sangat senang jika ternyata Rebecca punya inisiatif saling memuaskan.


Kini giliran Rebecca yang menguasai tvbvh sempurna itu. Keenan hanya bisa berkicau, kicauan merdu tentunya.


Seketika mata Rebecca membulat mendapati atau melihat benda keramat itu untuk pertama kalinya.


"Ya ampun apakah itu muat?" gumam Rebecca tanpa berkedip melihatnya.


"Tentu saja muat sayang," ucap Keenan seakan paham dengan lamunan Rebecca sejenak.


Nafas Rebecca turun naik, hingga sangat terlihat jelas oleh Keenan.


Waauuu......


Pekik Keenan, bukan pekikan sakit melainkan nik Matt tiada tara.Dimana Rebecca bermain manja dengan adik kecilnya yang sudah lama terbungkus itu.


Tidak tahan lagi Keenan langsung menghentikan kegiatan Rebecca. Dan kini ia berada di atas tvbvh Rebecca.


"Sayang aku mulai ya?" gumam Keenan dengan deru nafas memburu, begitu juga dengan Rebecca.


"Aku takut sayang, apakah sakit?" ucap Rebecca ada sedikit perasaan takut. Seperti yang ia ketahui dari teman-teman yang sudah pengalaman, bahwa malam pertama tentunya sakit bahkan mengeluarkan darah.


Cup


Keenan mengecup dahi itu.


"Aku akan pelan-pelan," bisiknya.


Rebecca mengangguk pasrah karena ia juga sangat menginginkannya.


Keenan mulai melakukan sebagaimana mestinya.


A......k


Pekik Rebecca seraya menghentak kakinya merasakan ujung benda itu merobek kulit intinya. Melihat hal itu membuat Keenan segera menghentikan bahkan mencabut adik kecilnya yang sudah mengeras.


"Sakit sayang," lirih Rebecca seraya meneteskan air matanya.


"Maaf sayang. Ini masih ujungnya saja," ujar Keenan seraya menyapu air mata itu dengan Li dahhnya.


"Lakukanlah sayang," ucap Rebecca.


Keenan kembali meraup bwbir itu agar rasa sakit teralihkan oleh Rebecca.


Tanpa menunggu lama kini mereka sudah menyatu. Awalnya sakit kini berubah hanya kenik mattan.


Leng kuhhan demi Leng kuhhan tercipta hingga bergema.


A......h


Era ngg mereka secara bersamaan. Tanda jika keduanya capai puncak, puncak kenik mattan, surga dunia.


Malam panjang itu mereka lalui hingga keduanya kelelahan.


"Terima kasih sayang telah menjaganya untukku. I love you.....semoga dalam sini akan tumbuh," ujar Keenan seraya mengecup perut rata itu.


Rebecca hanya mampu mengangguk, bahkan ia tidak sanggup lagi membuka mata.

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2