
1 bulan
2 bulan
3 bulan
Sudah tiga bulan lamanya Alfred belum juga kembali mengunjungi kami. Ada perasaan kecewa dalam hati.
"Mom ada apa?" tanya Leon menyadari bahwa akun melamun.
"Sayang kamu sudah pulang?" ya aku tidak menyadari kedatangan Leon, saking memikirkan sesuatu.
"Iya Mom karena hari ini guru mengadakan rapat jadi kami awal pulang," ucap Leon sembari bermain dengan Keenan, sedangkan Kiran lagi tidur.
"Oh....Leon sudah makan?"
"Belum Mom, nanti saja,"
"Hmmm Mommy akan turun kebawah, Leon mau ikut atau di sini saja?" ucapku karena ingin ke dapur.
"Leon di sini saja Mom," sahut Leon masih asik mencandai Keenan.
"Baiklah. Dea tolong jaga mereka," ucapku sebelum meninggalkan kamar.
"Iya Nona," sahut Dea.
Aku jalan dengan beban pikiran, pikiran berpusat kepada Alfred. Selama ini aku tidak dapat informasi apapun tentang Alfred. Sekedar menghubungi kami saja tidak ada dia lakukan. Sungguh hati ini sedikit khawatir, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Sayang bagaimana kasus menantu kita?" tanya Mama kepada Papa.
Papa menghela nafas.
"Belum ada titik terang sayang," sahut Papa dengan wajah sendu.
"Bagaimana kabar Alfred sayang?"
"Alfred terpuruk sayang karena selama ini tidak bisa bertemu dengan istri dan kedua anaknya," terang Papa. Ya Papa sama Moses baru saja pulang dari negara x untuk menemui Alfred.
"Sebenarnya apa yang terjadi Pa, Ma?" tiba-tiba pertanyaanku membuat Papa sama Mama kaget karena mereka tidak menyadari kedatanganku, sebenarnya aku sudah mendengar semua percakapan mereka.
"Sayang," Mama menunjukan wajah kagetnya.
"Apa yang terjadi dengan Alfred?" tanyaku dengan penasaran, kini ikut duduk di hadapan Papa sama Mama.
Papa sama Mama saling memandang, dan keduanya bungkam.
"Pa, Ma," panggilku karena mereka hanya diam saja.
"Aku hanya bertanya apa yang terjadi sama Alfred karena aku mendengar semua obrolan Papa sama Mama," ucapku. "Kasus apa yang dimaksudkan Mama?" imbuhku.
"Sayang bukan begitu maksud Mama. Alfred baik-baik saja, alasan tidak mengunjungi kalian karena pekerjaannya," ucap Mama berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Aku memang tidak ingat apa-apa tetapi aku mohon jangan menyembunyikan sesuatu," kataku sembari memijit ujung kening.
"Sayang percayalah tidak ada yang kami tutup-tutupi," ucap Mama sembari beranjak dan ikut duduk di sampingku, sembari mengusap punggungku.
"Aku akan membawa anak-anak menemui Daddy mereka,"
Deg
Papa sama Mama tercengang mendengar apa yang aku katakan.
"Apa?" kata Mama dengan wajah kaget, sama halnya dengan Papa.
"Iya Pa, Ma," sahutku dengan singkat.
"Sayang jangan bercanda, kesehatanmu belum pulih," ucap Mama berusaha menenangkanku.
__ADS_1
"Aku sudah sehat Ma, hanya saja ingatan ini yang belum pulih, untuk itu sebaiknya kami tinggal di sana agar sedikit demi sedikit ingatanku kembali," pancingku agar Papa sama Mama berkata jujur tentang masalah Alfred.
Papa sama Mama kembali saling menatap.
"Nak apa kamu yakin? yakin dengan tindakanmu?" tanya Papa dengan wajah serius.
Aku mengangguk yakin.
Papa menghela nafas panjang.
"Tiga bulan yang lalu Alfred di tahan karena...."
"Apa?" aku langsung memotong ucapan Papa karena sangat terkejut. "Di penjara begitu maksud Papa?" tanyaku dengan keterkejutan.
Papa mengangguk sebagai jawabannya karena sesungguhnya tidak sanggup untuk membahas masalah ini.
"Sayang kamu tenang ya? Alfred baik-baik saja. Papa sama Adikmu baru kembali dari sana untuk mengunjungi Alfred," ucap Mama sedikit mengkhawatirkan diriku.
"Jadi selama itu kalian menyembunyikannya? jadi itu jawabannya tiga bulan yang lalu?" lirihku dengan perasaan sendu.
"Maafkan kami Nak merahasiakan darimu, kami hanya tidak ingin menambah beban untukmu," ucap Papa.
Hening semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Pa, Ma aku sudah putuskan lusa kami akan berangkat ke sana. Izinkan aku," lirihku dengan yakin atas tindakan ini.
Papa sama Mama tersadar dari lamunan mereka masing-masing.
"Tidak sayang," ucap Mama tidak setuju.
"Apa kamu yakin Nak? kamu belum pulih,"
"Aku yakin Pa," sahutku berusaha mengembangkan senyuman.
"Papa tidak bisa melarang," ucap Papa pada akhirnya yang tentu membuatku merasa lega, sedangkan Mama berusaha mencegah.
"Ma jangan khawatir," lirihku dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang Mama sangat merindukan momen seperti ini," lirih Mama terisak.
"Maaf Ma," sahutku semakin mengeratkan pelukan kami. Jujur aku juga rindu dengan momen seperti ini karena selama setelah musibah itu aku seakan menjauhi kedua orang tuaku.
"Kamu tidak salah sayang," lirih Mama sembari menciumi berkali-kali pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Papa menatap dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu aku melepaskan pelukan dari Mama. Dengan segera beranjak mendekati Papa, lalu melemparkan pelukan kepada Papa. Papa sangat kaget dengan apa yang aku lakukan.
"Aku minta maaf Pa," lirihku berusaha menahan tangis. Pria yang ada dalam pelukanku adalah pria pertama yang aku sayangi, pria yang sangat menyayangi dan bahkan paling dekat denganku dibandingkan saudaraku yang lainnya.
"Kamu tida salah apapun Nak," ucap Papa sembari mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Terlebih dahulu aku seka air mataku sebelum melepaskan pelukan kami. Aku tidak ingin kedua orang tuaku melihatnya.
Aku dapat melihat pancaran kebahagiaan di wajah Papa sama Mama.
"Kakakmu Gaby yang menemani kalian. Papa ingin Gaby memiliki kesibukan karena selama ini dia banyak menyendiri," ujar Papa.
Betul yang dikatakan Papa. Gabriella banyak mengurung diri di kamar, menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa tidak salah Pa? Mama khawatir saja," sela Mama tidak sependapat.
"Sayang dengan cara seperti ini, membebaskannya mungkin membuat Gaby sedikit demi sedikit melupakan masa lalunya," ujar Papa.
"Kasian Kak Gaby," aku membatin, selama ini kami jarang bertemu walaupun tinggal bersama. Apa yang dikatakan Papa benar, Gabriella lebih mengurung diri di kamar.
Mama menghela nafas.
"Jika menurut Papa begitu baiklah. Hmmm boleh Mama ikut tinggal bersama mereka di sana?" goda Mama.
__ADS_1
Mata Papa langsung melotot.
"Siapa yang mengizinkan Mama ikut pergi?" ujar Papa dengan suara meninggi. "Mama adalah istri Papa jadi tidak akan Papa izinkan,"
"Sayang lihatlah Papamu sungguh egois," goda Mama kembali.
Aku tersenyum bahagia melihat mereka kembali ceria. Lalu berlalu karena sudah cukup lama meninggalkan anak-anak.
"Kenapa Papa tidak izinkan Mama ikut?" Mama pura-pura ngambek.
Papa beranjak mendekat bahkan memepet tubuh Mama.
"Bagaimana mungkin, Papa tidak ingin makan sendiri, cuci baju sendiri, masak sendiri, dan tidur sendiri."
"Sekalian duet saja dengan penyanyi legendaris itu," ucap Mama dengan bibir mengerucut.
"Sayang ayo,"
Mama menyipitkan mata.
"Kemana?" tanya polos Mama.
"Ke kamar," tanpa aba-aba Papa langsung menggendong Mama ala bridal.
"Papa," protes Mama ingin dilepaskan.
"Diam sayang,"
"Sudah tua semakin menjadi," cicit Mama sembari melingkarkan kedua tangan di leher Papa.
"Tua semakin hebat sayang bahkan masih bisa kayaknya buat Adik untuk Mischa," senyum Papa menyeringai.
Mata Mama melotot.
°°°°°°
Di sel tahanan
Alfred lebih banyak diam. Makan saja dia sering lewatkan sehingga kini tubuhnya mengurus tak terurus. Rambut mulai memanjang dengan wajah ditumbuhi sedikit bulu tetapi tidak mengurangi ketampanan pria dua anak itu.
"Sayang Daddy sangat merindukan kalian," gumam Alfred sembari memandangi selembar foto di tangannya. "Maaf Daddy belum bisa mengunjungi kalian," imbuhnya dengan mata memerah. Hanya memandangi foto itu yang selalu dilakukan Alfred.
Alfred cium berkali-kali foto tersebut, foto keluarga kecilnya.
"Saudara Alfred ada yang ingin bertemu," tiba-tiba petugas membuyarkan lamunan Alfred.
Alfred tau jika itu adalah Andre karena Andre yang selama ini mengunjunginya dengan mengabarkan perkembangan kantor. Jika bukan Andre paling dokter Frans. Dokter Frans juga mengambil alih dengan masalah kantor, bagaimanapun mereka saudara dekat.
Alfred keluar dengan mengikuti petugas.
"Silahkan, waktu saudara hanya tinggal 30 menit," ujar petugas mengingatkan.
Alfred memasuki ruangan yang biasa untuk tamu yang menunggu tetapi dia tidak melihat siapapun didalam sana sehingga membuatnya mengusap dagunya, lalu mendaratkan bokongnya di kursi dengan kedua tangan terlipat di atas meja.
"Al...."
Deg
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Dulu kalian mencak-mencak si Alfred kini mah Alfred di puja-puja🤣😂
__ADS_1