MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 23. Terima Kasih


__ADS_3

Mendengar rombongan ingin melihat sunset membuatku tak tenang sepanjang jalan. Sedangkan Leon tertidur nyenyak di tengah-tengah kami.


"Yuen aku tidak ingin ke pantai," aku mengutarakan niatku.


Yuen memandangiku dengan sorot mata penuh pertanyaan.


"Kenapa dok? bukankah indah bisa melihat sunset?" kata Yuen.


"Hmm aku hanya tak tertarik saja saat ini,"


"Pantainya indah loh dok, pemandangannya sungguh menakjubkan," kata Yuen.


"Aku tidak menyukai pantai. Yuen tolong sampaikan pada Pak supir turunkan aku di tempat yang masih jauh dari pantai, pokoknya pantai itu tak terlihat," aku tetap kekeh dengan kemauanku.


"Baiklah tetapi Leon bagaimana?" tanya Yuen sembari memandangi Leon yang sedang terlelap.


"Bawa saja ya? mungkin Leon ingin melihat pantai. Jika Leon bertanya tentang keberadaanku bilang saja aku ada pekerjaan. Titip Leon ya?"


"Beres dok. Baiklah saya akan segera mengkonfirmasi Pak supir," kata Yuen dan segera bangkit.


Sesuai yang diinginkan aku diturunkan setelah melewati gerbang masuk pantai. Tempat itu tak terlihat pantai.


Aku turun dengan pandangan aneh dari beberapa dokter serta perawat. Tetapi masa bodoh mereka tak menghiraukan aku.


Aku melangkah dengan kaki gontai karena jujur saja aku masih merasakan tubuhku bergetar ketika mendengar pantai. Di sana ada sebuah tempat duduk dengan beratapkan daun. Di sinilah aku menyandarkan tubuh lelahku, bukan hanya tubuh tetapi hatiku lebih dari itu. Bayangan menakutkan terlintas dalam benakku sehingga membuat dadaku sesak. Aku berusaha menguburkan bayangan itu dengan kehidupanku sekarang. Nama Leon berhasil menghalau bayangan itu.


°°°°°°


Di pantai


Semua pada menikmati keindahan pantai. Leon juga menikmati pantai. Leon sempat menanyakan keberadaanku, seperti yang aku pesan Yuen memberitahukan.


Dokter Frans mendatangi Yuen dan Leon.


"Yuen sejak tadi aku tidak melihat dokter Abel?" tanya dokter Frans sehingga membuat Yuen berhenti menggelitik Leon.


Yuen menceritakannya kepada dokter Frans.


"Oh," dokter Frans ber oh ria.


Di tempat jauh dari keramaian sesosok pria tampan rupanya memperhatikan Leon bersama Yuen. Ada yang hilang dalam pandangannya yaitu sosok diriku tak di sana.


"Andre apa kau tau keberadaan wanita itu? sejak tadi aku tidak melihatnya," ujar Alfred yang tidak sadar jika dia sebenarnya sejak tadi mencari-cariku.


"Aku kira Tuan tak mau tau tentang Nona tetapi diluar dugaan rupanya Tuan memperhatikan keberadaan Nona," batin Andre.


"Nona tidak ikut ke pantai Tuan," ujar Andre.


Alfred menatap Andre dengan wajah penuh tanda tanya.


"Seperti yang saya dengar dari perawat Yuen, Nona minta turun di xx karena Nona tidak menyukai pantai, bahkan tidak ingin melihat pantai," terang Andre.


"Wanita aneh," decak Alfred kelihatan kesal.


Andre terdiam sembari mengusap pelipisnya.


"Mana kunci mobil?" Alfred meminta kunci mobil.

__ADS_1


°°°°°°


Aku menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong. Sudah cukup lama aku berdiam diri sendirian di sini. Air mata ini tetap saja keluar, ya saat ini aku menumpahkan rasa sesak. Aku yakin di sini tidak ada yang melihat betapa rapuhnya seorang Isabella.


Hmm


"Apa kau sengaja? apa ini taktikmu?" suara bariton yang tak ingin kuharapkan malah terdengar di belakangmu.


Dengan secepat mungkin aku menyeka air mataku tanpa ingin dilihat oleh Alfred.


"Aku berharap tidak ada yang menganggu selama di sini tetapi kenapa dunia ini tak berpihak kepadaku," keluhku didalam hati.


Aku merubah posisi dudukku menjadi tegap, seolah tidak ada yang terjadi.


"Sengaja ataupun taktik itu bukan urusan orang lain," kataku dengan tatapan lurus ke depan.


Alfred mengepalkan kedua tangannya, di iringi dengan wajah marahnya.


"Tentu saja itu urusanku karena kau bekerja dibawah wewenangku,"


Aku tersenyum mendengar perkataan Alfred, dan hatiku tergerak menatap wajah kejam itu. Tanpa aku duga ternyata Alfred juga memandangiku.


"Lihatlah dia hanya bisanya menangis," batin Alfred yakin jika aku habis menangis.


"Iya apa yang kamu katakan itu benar. Tetapi aku rasa jika menyangkut urusan pribadi bukan hak atau wewenang atasan," lirihku setelah membuang muka.


Alfred kelihatan semakin geram, sangat terlihat rahangnya mengeras.


"Kau harus menyusul rombongan, apa kau sengaja ingin mencelakai dirimu dengan sendirian di sini? ini kawasan berbahaya," ujar Alfred seperti mengkhawatirkan keselamatanku.


"Aku hanya tidak ingin kau mati terlalu cepat," Alfred meralat ucapannya.


Aku tersenyum miris ternyata aku salah. Hampir saja aku terbuai oleh perkataan Alfred.


"Seperti yang kamu inginkan. Tuhan memberi umur panjang untukku jadi jangan khawatirkan itu," kataku sembari menahan air mata ini.


Hening itulah yang terjadi. Aku tidak ingin menanggapi perkataan Alfred yang membuat sesak di hati. Aku harap pria kejam ini cepat-cepat angkat kaki dari sini tetapi aku hanya bisa menghela nafas karena keinginanku itu tak berpihak. Rupanya Alfred duduk di kursi sebelahku dengan tatapan lurus ke depan.


Sayu-sayu aku mendengar deru suara mobil, aku yakin itu adalah bus rombongan. Aku bangkit lalu berlari sembari berteriak.


"Tunggu.... tunggu," teriakku tanpa berhenti berlari. Percuma saja aku berlari sembari berteriak tetapi hasilnya nihil.


Aku merosot ke tanah setelah dua buah bus meluncur jauh.


"Apa Yuen melupakan keberadaanku sehingga bus melewatiku?" gumamku masih menatap bayangan bus itu di sela-sela pohon kelapa.


Aku berusaha bangkit dan melangkah gontai mencapai jalan. Aku melupakan keberadaan Alfred.


Di tengah jalan tiba-tiba dua orang pria menghadang jalanku.


"Hai cantik, sendirian? sepertinya kau kesepian? sini temani kita-kita," goda dua pria yang menyeramkan bagiku.


Aku ketakutan dan berusaha lari secepat mungkin.


"Cantik ingin bermain-main ya?" gelak tawa kedua pria itu sembari mengejarku.


Awww

__ADS_1


Kakiku tersandung akar pohon kelapa sehingga membuatku tersungkur. Kedua pria itu tertawa mengejek.


"Cantik makanya jangan main kucing-kucingan dong, jadi jatuh kan?" senyum menyeringai dari kedua pria itu.


"Yuhui.... kakinya mulus sekali," ujar salah satu pria itu dengan tatapan lapar.


"Kita mendapatkan berlian," timpal pria satunya lagi yang tak kalah kelihatan bringas.


Kedua pria itu melepaskan pakaian atas sehingga tersisa celana. Mata mereka dipenuhi nafsv menatapku. Aku berusaha ngesot mundur sembari menggelengkan kepala disertai tangisan.


"Tolong jangan lakukan itu kepadaku, aku mohon ambil semua barang milikku tetapi biarkan aku pergi," lirihku memberanikan diri menawar.


"Tentu saja barang milik Nona cantik kami ambil tetapi setelah kami menikmati tvbvhmu Nona,"


"Sangat disayangkan wanita secantik kau tidak di cicipi," timpal pria yang lebih bringas.


Aku menggelengkan kepala dengan ketakutan luar biasa. Apabila harus memilih, aku lebih memilih mati saja dibandingkan melayani dua pria brengsek itu.


Kedua pria itu semakin mendekat dengan gaya menjijikan. Aku memejamkan mata dengan kedua tangan menutup seluruh wajah dan telingaku karena aku tidak ingin mendengar suara menjijikan itu.


Buk buk


Tiba-tiba kedua tubuh pria itu tersungkur.


Buk buk


Entah sudah berapa kali pukulan itu mendarat kepada dua pria tadi sehingga kini wajah keduanya babak belur dihajar satu orang yang tak lain adalah Alfred. Kedua pria itu terkapar tak sadarkan diri.


Setelah menyelesaikan kedua pria itu Alfred langsung mendekat.


"Jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon pergi, pergi," usirku dengan tubuh bergetar karena merasakan sentuhan di tvbvhku. "Pergi, pergi," lirihku dengan tangisan sembari merontak untuk disentuh.


Alfred mengangkat tvbvhu dengan paksa, hal itu membuat aku semakin ketakutan dan kehidupanku hancur berkeping-keping.


"Tolong lepaskan aku. Silahkan kalian bawa barang milikku tetapi tolong lepaskan aku," lirihku tanpa membukakan mata dan kedua tanganku.


Alfred mendekap tubuhku.


"Ini aku, tenanglah," suara bariton itu membuat tubuhku membeku. Suara itu bukan milik dari kedua pria tadi tetapi suara lembut itu membuatku ingin membuka mata.


Aku membeku dengan derai air mata menatap siapa pria yang sedang membekap kedua bahuku.


Bup


Tanpa berpikir panjang aku peluk Alfred. Rasa takut amat luar biasa tadi sedikit memudar. Tetapi tubuhku masih terasa bergetar, mungkin Alfred menyadari hal itu.


"Terima kasih hiks hiks.... sekali lagi terima kasih," lirihku disertai isak tangis. Terserahlah Alfred mengejek diriku saat ini karena aku tak peduli dengan hal itu sekarang.


Alfred terdiam tanpa kata. Kedua tangannya terangkat menggantung ingin membalas pelukan itu. Sedangkan aku semakin erat memeluk Alfred, bahkan wajah basah ini kubenam di dada kekar Alfred.


Pertahanan Alfred runtuh dan akhirnya membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


"Sekali lagi terima kasih,"


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2