MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 69. Terpukau


__ADS_3

"Nona," panggil Vini sehingga lamunanku buyar.


Hmmm


Dengan langkah santai aku berjalan memasuki gedung pencakar langit itu. Ini kedua kalinya kakiku menginjak gedung ini.


Karyawan yang berpapasan menyapa dengan hormat, sangat beda sekali ketika pertama kali. Aku balas dengan kepala mengangguk disertai senyuman.


Didalam lift khusus aku mengecek ponselku ternyata ada pesan dari Gabriella.


Ssst


Desisku membaca laporan dari sana. Rumah sakit cabang sedang demo. Bahkan Gabriella mengirim video bagaimana para warga unjuk rasa di lapangan rumah sakit.


"Ada apa Nona?" tanya Vini karena melihat perubahan dari wajahku.


"Kabar dari kota x sangat kacau sekarang Vin, para warga sekitar unjuk rasa," terangku dengan kepala berat.


"Ya ampun, masalahnya semakin rumit Nona," ucap Vini ikut panik.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan tergesa-gesa aku melangkah menuju ruangan CEO.


Klek


Pintu ruangan terbuka dengan sandi yang hanya aku yang ketahui selain Alfred, Andre. Aku langsung duduk di kursi kebesaran Alfred.


Seketika mataku melebar mendapati tiga bingkai foto kecil di atas meja kerja yang diletakkan dipojokan. Itu adalah foto keluarga Alfred semasa mereka masih kecil, ternyata mendiang mertuaku sangat cantik dan tampan diusianya dalam foto itu. Alfred tersenyum manis dalam foto itu, sedangkan Bernat sangat imut menampakan gigi rapatnya.


"Keluarga yang harmonis," aku bergumam. "Daddy, Mommy dan Bernat salam kenal, aku minta maaf karena belum bisa membuat Alfred hidup lebih baik," imbuhku tanpa sadar meneteskan air mata.


Kuseka air mata itu lalu beralih dimana itu adalah foto pernikahan kami. Dimana Alfred menyematkan cincin di jari manisku. Seketika momen bersejarah itu terlintas dalam ingatanku.


"Lihatlah raut wajahmu di sini menyebalkan sekali," cecarku melihat raut wajah Alfred yang tidak ada manis-manisnya, sangat berbeda jauh dari foto masa kecilnya.


Aku menghela nafas ketika pandanganku beralih di foto ketiga buah hati kami. Jantungku berdebar begitu saja karena ada foto Leon bersama kedua Adik-adiknya. Aku baru sangat yakin sekarang bahwa Alfred benar-benar mengakui keberadaan Leon ditengah keluarga ini.


"Sayang percayalah Daddy benar-benar menyayangi kalian, walaupun pada awalnya tidak peduli ketika kalian masih dalam kandungan Mommy. Buktinya Daddy memanjangkan foto kalian dimana-mana," aku berbicara sendiri dengan foto bayi mungil kami.


Vini menyadari hal itu sehingga menyibukkan diri dengan laptop di hadapannya.


Aku jadi memikirkan Alfred, bagaimana dia menjalani hari-harinya selama 3 bulan didalam tahanan. Bagaimana mungkin seseorang yang sejak lahir hidup dengan bergelimang kemewahan kini hidup selayaknya. Aku membayangkan malam hari di gigit nyamuk serta angin malam.


Hiks....hiks....


Tanpa sadar aku terisak membayangkan hal itu.


Vini mendengar isak tangisku segera beranjak dari tempat duduknya lalu mendekat. "Ada apa Nona?" tanya Vini dengan wajah panik.


Aku tersentak kaget dengan pertanyaan Vini karena sejak tadi tatapanku ke foto Alfred. Dengan segera aku seka air mata ini.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa Vin," sahutku dengan lirih. "Vin apa kamu tau bagaimana keadaan orang-orang dalam sel tahanan?" tanyaku kepada Vini.


Vini beranjak lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di depanku.


"Seperti pengakuan sepupu saya mengatakan keadaan di tahanan cukup menderita Nona. Tetapi sepertinya Tuan diperlakukan berbeda karena beda kasus," ucap Vini.


"Menderitanya seperti apa Vin?" mendengar pengakuan Vini membuatku menegakkan tubuh.


"Seperti makan seadanya, mandi berdesak-desakan, tidur beralaskan karpet tanpa kelambu. Bahkan sepupu saya sakit demam berdarah Nona," terang Vini.


Aku langsung membungkam mulutku mendengar cerita Vini. Apakah Alfred mengalami hal yang sama?.


"Sepupu saja di hukum karena kasus pembunuhan berencana Nona," kata Vini.


"Apa? berarti itu berlaku juga dengan Alfred Vin."


"Beda Nona, Tuan di vonis karena kelalaian dan dituduh menggelapkan uang perusahaan," jelas Vini. "Nona jangan khawatir tentang itu karena saya yakin Tuan diperlakukan beda," imbuh Vini berusaha menenangkan kekhawatiranku.


Seakan paham aku tidak bertanya lagi karena itu bisa saja membuatku semakin mencemaskan keadaan Alfred. Seharusnya aku bersorak girang mendapatkan Alfred mengalami penderitaan karena perbuatannya dimasa lalu tetapi hati kecilku berkata lain, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tidak tega sesuatu terjadi kepadanya.


Tok tok


Pintu ruangan diketuk sehingga membuat kami mengakhiri pembahasan itu.


"Masuk," titahku.


"Selamat siang Nona. Mr. Zero sudah tiba," ucap sekretaris Sera.


Sera kembali ke meja kerjanya untuk mempersilahkan klien mereka.


Tidak selang lama Sera kembali dengan klien.


"Selamat siang Nyonya Hugo," sapa Mr. Zero sembari menjabat tanganku tanpa mengedipkan mata untuk beberapa saat.


"Selamat siang juga Mr. Zero," balasku diiringi senyuman.


Deg


Mr. Zero terpesona dengan senyumanku, bahkan tatapannya tak teralihkan di wajah ku sehingga membuatku tidak nyaman.


"Istrimu sangat cantik bro, kau sangat beruntung mendapatkan putri dari keluarga Januar," Mr. Zero membatin.


Hmmm


Aku sengaja berdehem karena Mr. Zero tidak melepaskan jabat tangan itu.


"Maaf Nyonya," ujar Mr. Zero. Pria blasteran Perancis-Korea itu salah tingkah.


"Silahkan duduk Mr," aku mempersilahkan Mr. Zero serta asistennya untuk duduk.


"Tuan Alfred sangat beruntung memiliki istri seperti Nyonya," ujar Mr. Zero sehingga membuatku mengepalkan tangan. "Anda sangat cantik, perfek," pujinya sehingga membuat wajahku panas.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum tetapi senyuman yang dipaksakan. Pria ini sepertinya tipe-tipe playboy.


"Sebaiknya kita mulai saja dalam pembahasan," aku segera memotong gombalan Mr. Zero.


Hmmm


Mr. Zero seperti tidak setuju dengan usulanku, entah apa maksudnya.


"George silahkan," titah Mr. Zero kepada asisten pribadinya.


George memberikan beberapa berkas yang memang sudah mereka persiapkan dari awal.


"Tujuan kami menemui Nyonya untuk menarik saham senilai xxx hari ini juga," ujar George diakhir penjelasannya.


Aku menghela nafas sesak karena waktunya sangat mendesak.


Mr. Zero menegakkan tubuh nya, sejak tadi pandangannya tak lepas dari wajahku sehingga benar-benar membuatku tidak nyaman, aku ingin meeting ini cepat berlalu. Mr. Zero memang pria tampan serta memiliki postur tubuh ideal tetapi tidak membuat hatiku tertarik sedikitpun.


"George lupakan masalah itu. Tarik kembali pengajuan itu!" Ujar Mr. Zero sehingga membuat kami tercengang dan mengalihkan pandangan kearah Mr. Zero dengan wajah penuh tanya.


"Maksud Mr?" tanya George tidak mengerti.


"Aku berubah pikiran jadi batalkan pengajuan itu," ujar Mr. Zero menegaskan.


"Baik Mr," ucap George seakan sudah paham. "Nyonya Hugo seperti yang diperintahkan Mr. Zero pengajuan penarikan saham dibatalkan, dalam arti perusahaan ZERO GROUP dengan perusahaan HUGO GROUP masih menjalin kerja sama," terang George dengan jelas dan padat.


Aku sedikit merasa ada yang aneh sehingga memberanikan diri untuk menanyakan langsung apa alasan Mr. Zero membatalkan pengajuan mereka.


"Saya pribadi sangat berterima kasih karena masih dipercaya dengan kerja sama perusahaan ini," ucapku. "Hmmm atas dasar apa Mr membatalkan pengajuan penarikan saham?" tanyaku tanpa menyinggung.


"Karena anda Nyonya," ujar Mr. Zero tanpa sadar, bahkan pria itu mengedipkan mata kearahku.


Aku tersentak kaget tetapi semua itu aku sembunyikan, bukan hanya aku saja yang kaget mendengar alasan Mr. Zero tetapi Vini, Sera serta George.


"Apa Mr yakin?" aku ingin memastikan karena tidak ingin kedepannya bermasalah.


Mr. Zero mengangguk.


"Bagaimana jika setelah ini kita makan malam di restoran x? apa Nyonya ada waktu?"


Aku sedikit kaget dengan ajakan Mr. Zero. Aku berpikir apakah menerima tawaran itu stau menolaknya?"


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah, dan komennya agar author semakin semangat💪


•Reader ter❤ author minta saran nih.


Apa Isabella menerima ajakan makan malam?


Atau menolaknya?

__ADS_1


Mana komen yang banyak dari kedua pertanyaan itu, maka author akan menceritakannya.


__ADS_2