MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 113. Salah Paham Di MP


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Andre seakan tidak menyadari gelagat aneh dari Gabriella.


Gabriella menggeleng tanpa ingin menjawab.


"Pasti dia wanita yang cantik?" ucap Gabriella masih ingin mendengar lebih jauh padahal hatinya seperti di bakar sesuatu.


"Dia adalah primadona di sekolah," akui Andre.


Gabriella menggertak gigi mendengar pengakuan Andre.


"Berarti kamu sangat beruntung memiliki kekasih wanita terpopuler," ucap Gabriella seperti menekankan.


"Itulah yang sering dikatakan teman-teman," sahut Andre dengan santai tanpa tahu raut wajah seseorang yang mendengarkan itu.


"Pasti sangat menyenangkan," sambung Gabriella seraya mengigit bibir bawahnya.


"Entahlah. Awalnya kami di jodoh-jodohkan, akhirnya begitu," akui Andre masih ingat bagaimana kejadiannya.


"Pasti kamu sangat mencintainya,"


Mendengar kata mencintai membuat Andre menoleh menatap Gabriella yang hanya menatap jauh ke depan, dengan wajah datar.


"Cinta? mungkin pada saat kami menjalin hubungan rasa itu pastinya kerasa," akui Andre begitu polos. Entah dia berniat membuat Gabriella terbakar cemburu ataukah itu semua atas pengakuannya yang sejujurnya.


Ssst


Gabriella mendesis dalam diam. Darahnya mendesir mendengar lebih dalam pengakuan Andre.


"Apa dia sekarang sudah memiliki keluarga?" entah apa yang merasuki diri Gabriella sehingga ingin tahu sedetail, dia hanya memastikan saja apakah sampai sekarang mereka masih saling konteks.


Andre menghela nafas.


"Seperti yang aku ketahui, dua tahun lalu mereka bercerai," papar Andre seraya menguap.


"Dalam arti kalian masih mengirim kabar," batin Gabriella.


"Kenapa pada saat pernikahan kita, tidak kamu undang?"


"Karena cukup mendadak," sahut Andre seraya mendekap tubuh Gabriella.


Didalam dekapan Andre, Gabriella mengutuk dirinya karena bertanya tentang masa lalu. Masa lalu Andre membuatnya jadi kesal.


"Selain itu apakah masih ada? ketika kuliah tidak mungkin dong tidak mendapat pengganti?" Gabriella kembali bertanya, sungguh dia ingin tahu.


"Tidak! Dialah orang terakhir," sahut Andre dengan mata berat.

__ADS_1


Cih...desis Gabriella tertahankan.


"Dalam arti dia sangat spesial," gumam Gabriella tetapi tak ditanggapi oleh Andre, hal itu yang membuat Gabriella kesal. Tidak mungkin dia kembali bertanya sedangkan Andre cukup malas menjawab pertanyaannya.


"Sayang apa kamu belum mengantuk?"


"Belum, ini baru pukul 9 malam," sahut Gabriella.


Hmmm


Hening sejenak, entah apa yang mereka sedang pikirkan.


"Sekarang giliranku untuk bertanya," ujar Andre. "Kamu pasti memiliki mantan tak terhitungkan? secara kamu sangat cantik," tebak Andre.


Mendengar tuduhan Andre membuat Gabriella menyusun rencana.


"Mantan? aku hanya memiliki satu mantan yaitu...." seketika ucapan Gabriella terhenti.


"Ada apa?" tanya Andre sungguh peka.


"Hmmm dari sekolah aku belum pernah berpacaran karena itu dilarang oleh kedua orang tua kami. Sekedar suka mungkin adalah, namanya juga kita beradaptasi dengan lawan jenis. Pada waktu sekolah dari TK-SMA aku dan Abel murid terpopuler. Tentu banyak murid laki-laki yang iseng-iseng tetapi tidak membuat kami mengabaikan larangan orang tua. Yang paling banyak disukai adalah Abel, karena Abel dasarnya orang lemah lembut, pokoknya memiliki pribadi yang wah gitu dibandingkan dengan kepribadianku," ungkap Gabriella panjang lebar.


Andre manggut-manggut.


"Hmmm Alfred memang sangat beruntung, walau caranya dulu salah tetapi akhirnya menemukan kebahagiaan yang luar biasa, bahkan sekarang sangat bucin-bucinnya," papar Andre dengan bibir melengkung.


"Inilah yang namanya tantangan hidup," kata Gabriella membenarkan ucapan Andre.


"Jadi dia pertama bagimu?" tanya Andre seakan engan menyebutkan nama.


"Kamu benar," sahut Gabriella seakan tahu maksud orang yang dituju.


Mendengar pertanyaan orang pertama membuat rahang Andre tiba-tiba mengeras. Orang pertama yang dia maksudkan mengarah ke hal negatif sehingga dirundung kekecewaan tak berdasar.


"Berarti dia sangat hebat," sindir Andre mengingat orang itu adalah playboy yang menggilai banyak wanita.


"Benar dia memang sangat hebat bahkan sampai sekarang sulit untukku menghapusnya," ungkap Gabriella sekenanya.


Ssst


Andre mendesis tertahankan. Tanpa sadar melepaskan dekapannya sehingga kini Gabriella kembali duduk seperti awal.


"Tentu saja apa lagi hubungan begitu dalam, tidak mungkin mudah untuk melupakannya. Hmmm apa lagi momen yang luar biasa yang pernah kalian lakukan sebagai mana mestinya," sindir Andre mengarah ke hal negatif, sungguh pria bodoh ini salah mengartikan jawaban Gabriella.


Plak

__ADS_1


Tamparan keras melayang di wajah Andre.


"Simpan tuduhan negatifmu itu, kamu pikir aku wanita serendah itu? dia memang pria brengse* di masa lalunya tetapi kebrengse*kannya itu tak berlaku untukku! Dia sangat menjagaku, maka dari itu aku belum bisa melupakannya sampai saat ini. Apa kamu mengerti? hah....." Cecar Gabriella sudah hilang kendali, ketika dengan tidak langsung Andre menganggap dia wanita bekas, hal itu tentu saja membuat Gabriella naik pitam sehingga tanpa sadar menampar Andre.


Gabriella tidak dapat membendung tangisnya.


"Atau kamu mengungkapkan dirimu sendiri," lirih Gabriella dengan berurai air mata.


Setelah mengatakan itu dia langsung beranjak dan berlari masuk ke kamar diiringi isak tangis.


Aaa.....k


"Bodoh, bodoh!" Andre mengutuk kebodohannya karena sudah salah bicara seraya menjambak rambutnya sendiri.


Tangisan Gabriella barusan membuat dadanya sesak.Baru beberapa jam mereka memulai meraungi bahtera rumah tangga dia sudah membuat Gabriella menangis.


Sungguh Andre sangat menyesali itu semua. Momen bulan madu yang seharusnya indah dan dihujani kebahagiaan tetapi dia malah menghujani dengan isak tangis yang menyesakan.


Tidak ingin membiarkan Gabriella larut dalam kesedihan, dengan segera Andre menyusul. Bekas tamparan itu sama sekali tidak dia rasakan sakit, tetapi melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata Gabriella membuat hatinya perih. Dia sudah gagal dari awal.


Dari ambang pintu akses ke balkon Andre melihat sosok Gabriella meringkuk terbaring dengan membelakangi dengan tubuh tergoncang. Dia tahu bahwa istrinya itu masih menangis.


Perlahan Andre mendekat, meringsut duduk di tepi ranjang tepat di samping Gabriella.


"Sayang aku minta maaf, bukan begitu maksudku," lirih Andre dengan wajah sendu.


Gabriella tak bergeming. Wanita itu masih terisak.


"Sayang....cukup jangan menangis lagi," bisiknya seraya mengusap wajah Gabriella, menghapus air mata yang engan berhenti mengalir. Akibat perlakuan Andre bukannya membuat tangisan itu berhenti malah semakin menjadi sehingga Andre kalang kabut.


Hiks....hiks.....


Tangis Gabriella semakin pecah. Dengan tangisan itu dia menumpahkan semua beban yang selama ini terpendam di hatinya.


"Sayang....cukup," bisik Andre seraya menangkup kepala Gabriella, meletakkannya di lengan kekar itu. "Jangan menangis lagi," bisiknya kembali seraya menciumi dahi tanpa ingin dilepaskan, bahkan Andre ikut menngis dalam diam tanpa diketahui oleh Gabriella.


"Lepas," lirih Gabriella. Tetapi tidak membuat Andre mendengarkan permintaannya, yang ada semakin erat mendekap kepalanya. "Tinggalkan aku," ucap Gabriella dengan suara sedikit meninggi agar Andre berniat melepaskan dekapan itu.


Benar saja. Andre langsung melepaskan sesuai keinginan Gabriella.


Keduanya hening dalam diam. Andre masih betah duduk di samping Gabriella dengan pandangan tidak lepas. Sedangkan Gabriella memandang ke arah lain tanpa merubah posisi pembaringannya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2