MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 65. Mengambil Alih Sementara


__ADS_3

"Dimana memory card itu? Alfred mengatakan jika dia menyimpannya di laci, sedangkan laci hanya ada lembaran foto," aku bergumam.


Seketika aku terharu karena Alfred menyimpan beberapa lembar foto kami. Seakan aku tidak mengenal Alfred yang dulu, Alfred yang bersikap dingin dan hanya kebencian yang dia tunjukan kepadaku, tetapi Alfred yang kini pria yang lembut dan peduli.


"Kesempatan rapat besok aku ingin melihat wajah-wajah itu, semoga aku masih mengenal sosok yang aku rekam pada waktu itu," aku bergumam sembari memejamkan mata.


Tidak ada lagi yang mau dikerjakan aku langsung keluar dari ruangan, dan tujuanku sekarang adalah ke rumah mendiang Pak Seun.


Beberapa menit kemudian aku telah tiba di kediaman mendiang Pak Seun. Aku disambut ramah oleh istri Pak Seun.


"Aku minta maaf Bibi, baru bisa mengunjungi Bibi dan yang lain," kataku dengan raut wajah sendu. Bagaimana tidak Pak Seun ikut menjadi korban kecelakaan itu, nyawanya tak tertolong lagi. Bahkan aku masih ingat dengan jelas bagaimana usaha Pak Seun untuk melindungiku didalam mobil. "Maaf Bu," ucapku sekali lagi dengan wajah bersalah.


"Ibu mengerti karena keadaanmu Nak. Tidak perlu minta maaf karena semua itu sudah jalannya, kamu tidak bersalah dalam hal ini. Doa Ibu, semoga keadaanmu segera pulih," ucap istri Pak Seun, sama sekali wanita paruh baya itu tidak menaruh marah bahkan dendam dan menganggap kejadian ini adalah sudah jalannya.


Kami berbincang-bincang dan tak terasa hari mulai semakin sore sehingga aku berpamitan pulang. Aku sudah cukup lama meninggalkan ketiga anakku.


°°°°°°


Pagi menjelang


Pagi ini aku sendiri yang menyiapkan sarapan, kebetulan tidak bisa tidur sehingga memilih berkutat di dapur. Lagi pula Keenan, Kiran masih tidur.


"Maaf Nona saya kesiangan," tiba-tiba suara bersalah dari Dea membuatku menoleh ke belakang.


Aku tersenyum menanggapi Dea.


"Tidak masalah. Kak Dea pasti kelelahan seharian menjaga si kembar," ucapku melanjutkan mencuci perabotan. "Hmmm apa sebaiknya kita cari pengasuh lain, biar ada yang membantu Kak Dea? hari ini dan selanjutnya aku akan sibuk, begitu juga dengan Kak Gaby." saranku bersamaan dengan selesainya beberes.


Dea terdiam mendengar aku berbicara.


"Kak Dea pasti kewalahan, apa lagi Keenan dan Kiran masih bayi. Belum lagi mengurus keperluan Leon, kecuali Mama ada di sini," kataku.


"Saya ikut mana baiknya Nona," sahut Dea, jujur saja jika menjaga dia bayi sekaligus dia cukup kewalahan.

__ADS_1


"Apa Kak Dea memiliki teman atau kenalan? yang utama pribadi baik luar dalam dan dapat menangani seorang bayi," kataku menyebutkan kriteria.


"Ada Nona, kebetulan tetangga saya. Cuma dia beda usia 2 tahun dari saja. Dia cegatan menjaga anak-anak karena sudah terbiasa menjaga semua Adik-adiknya," ucap Dea.


Aku manggut-manggut.


"Baiklah segera hubungi, jika dia menerima segera suruh datang ke rumah ini. Baiklah aku akan kembali ke kamar, dan tolong bangunkan Leon," ucapku sembari berlalu.


Klek


Aku buka pintu kamar. Seketika aku disuguhi dengan pemandangan indah, dimana Keenan bersama Kiran sudah terbangun dengan menghentakkan kaki dan tangan, di iringi suara ocehan.


"Selamat pagi tampan dan cantiknya Mommy. Wah senang sekali kelihatannya," ucapku sembari mengangkat keduanya silih berganti dari box.


Aku kecup bertubi-tubi wajah gemes keduanya. Setelah mereka menganti popok dan pakaian, karena masih cukup pagi mereka belum kumandikan.


"Kehadiran kalian membuat Mommy hidup kembali setelah terpuruk cukup dalam. Mommy sangat bahagia sekali sayang masih diberi kesempatan untuk melihat, merawat dan bersama-sama dengan kalian sampai hari ini," aku bergumam.


Klek


"Pagi sayang. Wah sudah keren," sahutku serta memuji Leon. Leon langsung mendekat dan mendaratkan kecupan sayang kepada Keenan dan Kiran.


"Hmmm Mommy tidak dicium?" ucapku dengan bibir mengerucut, pura-pura ngambek.


Cup


Dengan segera Leon mengecup bertubi wajahku. Selama ini Leon tidak tau apa yang aku alami dan memang sengaja tidak diberitahukan karena dia tidak akan mengerti dengan usianya sekarang.


"Baiklah Mommy akan membersihkan diri dulu. Kak Dea tolong jaga mereka," kataku sembari beranjak menuju kamar mandi.


°°°°°°


Seperti yang kukatakan hari ini adalah rapat pertama. Aku sengaja mengumpulkan semua staf atau tenaga medis.

__ADS_1


Andre menjelaskan didepan atas kedatanganku di sini. Sehingga membuat mereka berbisik-bisik banyak hal.


Aku diberi kesempatan untuk berbicara. Dengan sikap tenang aku berdiri.


"Selamat pagi untuk kita semua. Terima kasih karena sudah hadir di kesempatan hari ini," aku mengawali dengan singkat. "Saya tidak perlu panjang lebar lagi karena semuanya sudah dijelaskan oleh saudara Andre sebelumnya. Intinya saya yang akan mengambil alih untuk sementara waktu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa Tuan Alfred mempertanggung jawabkan perbuatan yang tidak pernah beliau lakukan. Untuk itu saya tekankan mari kerja samanya," ucapku sembari memperhatikan satu-persatu deretan kursi. "Baiklah saya memberi kesempatan kepada siapapun, jika ada yang keberatan silahkan tunjuk tangan," aku menekankan.


Detik demi detik tidak ada satupun yang keberatan. Aku tau itu karena mereka merasa tidak enak hati atau merasa takut untuk menyampaikan rasa keberatan.


"Tidak ada? baiklah saya anggap semuanya setuju. Saya benci dengan pengkhianatan, jadi bekerjalah dengan hati tulus dan hilangkan rasa iri ataupun sebagainya. Tidak ada gunanya kita melakukan itu hanya sekedar demi uang. Uang memang segala-galanya bagi setiap orang, termasuk saya sendiri tetapi kebahagiaan tidak bisa diukur bahkan dibeli oleh uang. Contoh mudahnya saja, ketika kita mati apakah nyawa kita bisa dibeli dengan uang supaya hidup kembali? tidak bukan? jadi dari sana kita belajar. Demi uang orang rela melakukan apapun, seperti menikam dari belakang, berkhianat, dan lain sebagainya. Dan akibatnya orang yang tidak bersalah menanggung semua itu, karena demi uang atau masalah lainnya," kataku panjang lebar.


Aku dapat melihat semuanya tertunduk dengan pikiran masing-masing.


"Sebelum saya akhiri. Atas nama Alfred Hugo saya minta maaf kepada saudara/saudari jika beliau punya kesalahan atau membuat kecewa dimasanya," ucapku dengan tangan memohon. "Baiklah saya serahkan kembali kepada Andre."


°°°°°°


Seusai rapat aku meminta Andre serta dokter Frans ke ruangan.


Andre maupun dokter Frans memandangku dengan pertanyaan didalam hati mereka karena selama ini aku hanya diam saja ketika ditindas oleh Alfred tetapi kini beda sekali, bahkan aku berani menentang di depan orang banyak.


"Andre, dokter Frans hari ini kalian akan berangkat ke kota x bersama Kak Gaby. Aku harap perlahan masalah di sana akan terselesaikan. Masalah biaya biar aku yang tangani, semoga Alfred setuju dengan usulanku nanti," ucapku.


"Apa Nona tidak masalah sendirian menangani masalah di sini? jika Tuan tau maka habislah saya dimangsa Nona," ujar Andre dengan wajah sedikit khawatir.


"Jika kamu tidak memberitahu tentu saja Alfred tidak akan tau," sahutku.


"Apa yang dikatakan Andre ada benarnya, ini sangat beresiko besar Adik ipar. Bisa saja pengkhianat itu mengincar kamu," imbuh dokter Frans membenarkan apa yang Andre katakan.


Aku terdiam, begitu juga dengan Gabriella. Sesaat aku menghela nafas panjang.


"Jangan khawatirkan aku, aku bisa mengatasinya. Hmmm aku yakin kalian berdua orang baik jadi bersama-sama kita tuntaskan ini," ucapku dengan yakin.


Andre maupun dokter Frans mengangguk.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2