MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 130~MDS2


__ADS_3

Gemercik hujan di pagi hari tidak menyulutkan semangat bangun pagi gadis cantik itu.


"Hmmp sudah jam berapa ini?" gumam Rebecca ditengah menguapnya. Ia terbangun karena ingin buang air kecil. "Sepertinya lagi turun hujan," imbuhnya.


Ia melenturkan otot-otot leher serta lengannya.


Rebecca sekilas melirik jam kecil yang ada di atas nakas. Ternyata masih pukul 5 pagi. Dengan tubuh lunglai ia berjalan menuju kamar mandi.


Sepertinya ia langsung mandi karena hari ini ada kegiatan di lapangan. Rombongan akan berangkat ke kota x pagi ini jadi ia tidak ingin terlambat.


Tidak menunggu lama kegiatan mandinya ia sudahi. Cuaca dingin tidak mendukung di pagi ini.


Siap berpakaian ia keluar kamar untuk membuat sarapan sendiri. Ia tau Mommy Isabella pasti belum bangun karena memang masih sangat pagi, ditambah lagi dengan hujan lebat.


Dengan santai Rebecca berjalan menuju dapur seraya mendekap tubuhnya.


Deg


Langkahnya tiba-tiba terhenti. Bagaimana tidak, di depannya kini sesosok pria tampan baru saja keluar dari dapur.


Seketika tenggorokan Rebecca tercekat, ia tak menyangka jika pagi ini bertemu dengan Keenan. Padahal ia sudah berjanji, ingin menghindarinya. Tetapi sepertinya kita tidak bisa menghindari takdir.


"Kak Ken sudah pulang?" ucap Rebecca dengan nada kecil. Biasanya ia paling heboh tetapi pagi ini seakan berbeda.


Keenan tak bergeming, tetapi tatapannya tepat di wajah Rebecca. Hal itu mengundang kegugupan seorang Rebecca.


Entah apa yang dipikirkan Keenan. Apakah pria dingin serta irit bicara ini berpikir kenapa Rebecca tidak pernah lagi mengirim pesan seperti biasanya setelah pertemuan mereka di London beberapa hari yang lalu.


Rebecca mengigit bibir bawahnya dengan mata bergerak-gerak tetapi engan menatap Keenan dengan posisi berdiri menjulang dalam diam.


"Jika tidak ingin menjawab kenapa Kak Ken tidak segera pergi? bagaimana aku bisa melewati tubuhnya itu? sedangkan dia menghalangi akses jalan," keluh Rebecca didalam hati.


Karena sudah tak sanggup dengan acara diam-diaman Rebecca memberanikan diri menegakan kepalanya sehingga tatapan mereka akhirnya bertemu dalam diam.


"Ya ampun Kak Ken sangat tampan, padahal baru bangun tidur. Oh jantung mohon diam, aku sudah gugup jangan ditambah lagi," batin konyol Rebecca.


Untuk membuang rasa gugup Rebecca tersenyum kecil lalu nyelonong berlalu begitu saja. Tentu saja tubuh keduanya saling menyentuh karena pertemuan mereka tepat di antara sudut, sehingga hanya muat untuk satu orang.


Jantung serta desiran darah sudah tidak dapat dikondisikan lagi, bagaimana tidak tubuhnya menempel di dada bidang itu akibat Keenan tidak memberi jalan akses untuknya.


"Kak Ken aku mau lewat, tolong menyingkir sedikit," ucapnya dengan gugup tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupan itu.


Tanpa menjawab Keenan langsung berlalu terlebih dahulu, tentu saja hal itu membuat tubuh Rebecca oleng.


"Dasar kasar!" Oceh Rebecca tanpa sadar ocehannya itu didengar oleh Keenan.

__ADS_1


Langkah Keenan terhenti karena mendengar umpatan itu, lalu kepalanya menoleh kebelakang. Sedangkan yang mengumpat sudah berjalan dengan perasaan kesal serta campur aduk.


**


Di dapur Rebecca mulai menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri karena tidak mungkin sepagi ini ia menyiapkan untuk orang rumah.


Sarapan sudah di tata di meja makan. Pagi ini ia membuat gyeran mari yaitu seperti dadar gulung yang isian daging serta sayuran. Yah dari kecil Rebecca menyukai makanan itu, bahkan dulu semasa TK-SD menu bekalnya itu.


Beberapa potong gyeran mari dan segelas susu itu sudah mengenyangkan bagi gadis manis itu.


"Non, kenapa tidak bangunkan Bibi?" tiba-tiba suara lembut itu membuat Rebecca menoleh.


"Eh Bibi. Hmm tidak masalah Bi," sahut Rebecca disertai senyuman.


"Tumben sekali pagi-pagi sudah sarapan? dan sudah cantik rapi lagi?" kata Bibi Hera.


"Iya Bi pagi ini Eca ada kegiatan di lapangan. Sebelum jam 7 kita harus ngumpul di kampus," terang Rebecca.


Wanita berumur itu manggut-manggut. Bibi Hera adalah pengasuh yang membantu Mommy Isabella setelah mendiang Dea meninggal.


Jadi Rebecca sangat dekat dengan Bibi Hera.


**


Pukul 6:30 Rebecca berangkat ke kampus. Hujan mulai reda, dan hal itu tentu saja membuat gadis cantik itu merasa lega, agar kegiatan mereka tidak terganggu oleh cuaca.


"Iya Bi. Sampaikan ke Daddy atau Mommy, Eca sudah berangkat ke kampus," ucap Rebecca.


"Baik Non."


Rebecca diantar sopir pribadi karena sampai sekarang ia belum di izinkan menyetir sendiri. Bukan berarti ia tidak pandai menyetir tetapi kedua orang tuanya masih melarangnya.


Rebecca tidak ambil pusing tentang itu. Bukankah sangat menguntungkan hanya sebagai penumpang saja?.


°°°°°°


Di meja makan


Senyuman merekah di bibir wanita paruh baya mendapati sosok pria menjulang tengah duduk di kursi meja makan.


"Pagi sayang..... hmm ternyata sudah bangun?" sapa Mommy Isabella seraya mengusap punggung Keenan.


"Pagi juga Mom, Dad," sapa Keenan.


"Kenapa cepat bangun? apa kamu tidak lelah hanya tidur beberapa jam saja?" tanya Mommy Isabella.

__ADS_1


"Mulai sekarang putramu harus bangun pagi sayang. Hari ini dia akan ikut ke kantor," papar Daddy Alfred.


"Oh begitu?" wanita awet muda itu manggut-manggut.


Keenan melanjutkan sarapannya. Ia hanya memejamkan mata selama 3 jam saja. Setelah insiden pagi tadi ia tidak bisa melanjutkan tidur.


"Oya Eca mana? apa dia belum bangun?" tanya Mommy Isabella seakan mengingat Rebecca.


"Katanya hari ini di kampus ada kegiatan di lapangan di kota x," ujar Daddy Alfred.


"Apa Eca sudah berangkat ya?" tebak Mommy Isabella.


"Kak Hera....." Panggil Mommy Isabella kepada Bibi Hera, karena kebetulan berada tak jauh dari mereka.


"Iya Nyonya," sahut Bibi Hera. Sampai sekarang masih saja panggilannya itu tak berubah, padahal Mommy Isabella menyuruhnya jangan formal begitu tetapi mungkin karena sudah terbiasa jadi sulit untuk merubahnya.


"Apakah Eca sudah berangkat?"


"Sudah Nyonya dan Nona mengatakan untuk menyampaikan ini," ucap Bibi Hera.


"Ya ampun aku jadi bangun kesiangan. Apa Eca sudah sarapan?"


"Sudah Nyonya."


Mommy Isabella mengangguk dan Bibi Hera kembali melanjutkan tugasnya.


"Pantas saja dia bangun sangat pagi," Keenan membatin.


"Eca, Eca kenapa tidak bangunkan Mommy?" cicit Mommy Isabella.


"Mommy tau sendiri bagaimana dia. Eca tidak mau merepotkan kita," ujar daddy Alfred.


"Sayang jarak ke kota x berapa jam?" tanya Mommy Isabella karena masih kepikiran Rebecca.


"Sekitar 2 jam sayang, tetapi itu dalam kecepatan sedang," papar Daddy Alfred.


"Apa dia membawa perlengkapan lengkap yah? Mommy benar-benar tidak ingat untuk bangun pagi," wanita itu tetap saja masih memikirkan Rebecca.


"Sayang dia sudah besar. Berhentilah untuk memikirkannya, panjatkan doa saja agar kegiatan mereka berjalan Lanjar sampai usai," ujar Daddy Alfred seraya menggelengkan kepala.


"Mommy sangat memperhatikannya, bahkan sangat mengkhawatirkannya," Keenan kembali membatin tanpa ingin ikut membahas obrolan kedua orang tuanya.


Hmm


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2