
1 bulan berlalu
Tiba-tiba setelah sarapan kepalaku pusing dan mual sekali. Aku bergegas ke toilet yang terdapat di ruangan.
Uwek... uwek...
Kotoran keluar begitu saja dari mulutku. Lemas tentu saja aku rasakan, semua keluar lagi apa yang aku makan.
Aku dapat melihat wajah pucat didalam cermin.
"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba kepalaku berat sekali dan rasa mual ini menyiksa sekali?" gumamku sembari meremas perutku.
Merasa cukup aku keluar dari toilet dan kembali duduk dengan tubuh lemas tentunya.
Perlahan rasa menyiksa untuk pertama kalinya itu mulai menghilang sehingga aku bisa beraktivitas menjalankan tugasku.
Dret...
Ponsel di atas meja bergetar. kuraih ponsel itu dengan kening mengerut bahwa nama yang menghubungiku adalah wali kelasnya Leon. Ada apa pikirku sedikit panik karena sangat jarang.
Dengan tidak sabar aku menjawab panggilan itu, seketika tubuhku membeku mendengar kabar dari seberang sana bahwa Leon mengalami musibah yaitu pergelangan kaki patah akibat terjatuh tidak sengaja di dorong oleh temannya ketika bermain luncuran di waktu jam istirahat.
Aku langsung panik dengan tubuh bergetar. Bagaimana tidak itu pasti sangat sakit. Aku menunggu Leon di lobby rumah sakit untuk menanganinya langsung. Aku mondar-mandir tidak tenang dengan perasaan kacau. Bahkan sesekali meneteskan air mata.
Kedatangan Andre tak kusadari.
"Nona apa yang terjadi?" tanya Andre mungkin menyadari gelagatku.
Aku menoleh ke belakang. Ternyata itu Andre, bahkan ini pertemuan pertama kami setelah kejadian memalukan bulan lalu.
"Aku sedang menunggu Leon," lirihku dengan tatapan ke depan.
Andre menaikan alisnya.
"Leon?"
"Leon mengalami musibah. Pihak sekolah mengabarkan pergelangan kaki Leon patah," lirihku dengan lidah keluh.
Andre kaget dengan mata melebar.
"Leon," teriakku melihat mobil yang membawa Leon berhenti di depan lobby rumah sakit. Aku langsung berlari meninggalkan Andre begitu saja.
Aku langsung mendekap Leon yang sedang menangis menahan sakit pastinya.
"Mommy sakit, sakit Mom," tangis Leon.
"Sayang jangan takut ada Mommy," aku berusaha menenangkan Leon dengan perasaan terluka. Baru kali ini aku mendapati Leon menangis selama beberapa bulan tinggal bersamaku.
Setelah melakukan CT scan ternyata cidera pergelangan kaki Leon cukup parah sehingga harus di operasi untuk memasang pen.
Setelah semuanya selesai Leon tertidur karena pengaruh obat. Aku memandang Leon dengan tatapan sendu, ada rasa bersalah karena telah lalai menjaganya.
__ADS_1
Cup
Kukecup tangan sebelah Leon dengan penuh kasih sayang sebelum beranjak untuk kembali bertugas. Dea yang akan menunggu Leon selama aku menangani pasien lainnya.
Tiba-tiba di lorong rumah sakit tubuhku terhuyung. Rasa pusing serta perutku sangat menusuk sehingga aku tidak sadarkan diri.
Beberapa menit aku mengerjapkan mata. Pertama yang kupandang adalah langit-langit kamar rawat. Aku bangkit sembari memegang kepalaku.
"Dokter sudah bangun?" itu adalah suara Yuen.
"Yuen apa yang terjadi?" tanyaku kenapa bisa berakhir di brankar.
"Dokter tadi tidak sadarkan diri sehingga kami membawa di kamar rawat," terang Yuen.
Seketika aku baru sadar apa yang terjadi beberapa menit lalu.
"Sepertinya dokter sakit," tebak Yuen karena dokter Frans tidak memberitahu hasil pemeriksaan tadi kepada Yuen.
"Iya kamu benar, tadi kepalaku pusing sekali dan mual terus menerus," kataku.
"Apa dokter ada riwayat mag?" tebak Yuen. Aku menggeleng sebagai jawaban.
Klek
Pintu terbuka ternyata yang masuk adalah dokter Frans dengan wajah datar.
"Kamu sudah sadar?" tanya dokter Frans kepadaku dengan raut wajah tak biasa.
"Sebaiknya kamu segera mengecek lebih lanjut ke dokter Sintya," usul dokter Frans yang berhasil membuat aku dan Yuen saling memandang dengan alis terangkat karena dokter yang dimaksudkan adalah dokter kandungan.
"Ada apa dok?" itu pertanyaan Yuen.
"Wanita lebih tau," jawab singkat dokter Frans masih dengan wajah datar.
"Baiklah," sahutku tanpa curiga sedikitpun.
Seperti apa yang diusulkan dokter Frans aku menuju ruang kerja dokter Sintya bersama Yuen, kebetulan dokter Sintya adalah sepupu Yuen.
"Dok aku antar sampai sini ya karena ada pasien yang belum aku kontrol," kata Yuen tepat depan pintu ruang dokter Sintya.
"Terima kasih Yuen," kataku mSih dengan kepala berat.
Aku langsung masuk setelah namaku dipanggil.
"Ada keluhan apa dokter?" tanya dokter Sintya langsung ke intinya.
Aku memberitahu semua apa yang aku rasakan.
"Aku paham dan berbaringlah," seolah dokter Sintya sudah tau apa jawaban dari keluhanku itu. Bahkan di wajah cantik itu hanya ada guratan senyuman.
Melihat gelagat dokter Sintya aku tersentak kaget. Apa aku adalah Ibu hamil? itulah yang ada di benakku ketika bajuku disibak ke atas dan diolesi gel.
__ADS_1
"Lihat ini. Bulatan hitam sebesar biji kacang ini adalah calon janin yang berusia 4 minggu. Hmm apa dokter tak menyadari tengah mengandung?"
Duar...
Pertanyaan serta keterangan dokter Sintya bagai petir menyambar bagiku sehingga membuatku refleks bangun.
"A... apa? aku hamil?" gumamku dengan bibir bergetar.
Dokter Sintya tersenyum disertai anggukan.
"Selamat dok," kata dokter Sintya.
Aku tertekun ini adalah kabar gembira atau musibah bagiku. Seketika air mata menetes untuk kedua kalinya menatap bulatan hitam di layar monitor, lalu tangan bergetar ini mengusap perutku yang masih rata.
Tangan dokter Sintya terhenti dengan wajah sulit ditebak.
"Dok sepertinya ada yang tidak beres," perkataan dokter Sintya membuat lamunanku buyar.
Singkat cerita hasil pemeriksaanku keluar dan kini berada di tanganku. Dengan tangan bergetar aku membuka lembaran itu, sedangkan raut wajah dokter Sintya sejak tadi datar-datar saja.
Deg
Pandanganku berpusat di tulisan yang di lingkarkan. Kertas putih itu terjatuh begitu saja di tanganku. Seketika air mata luruh begitu saja untuk ketiga kalinya.
Bagaimana tidak itu adalah tes yang telah aku jalani. Ternyata keluhan di bawah perut, pinggul serta sakit ketika menstruasi itu berakibat fatal. Aku di vonis menderita kanker rahim stadium akhir yang cukup membunuh.
Aku terkekeh menertawai diriku sendiri. Tiga kabar dalam satu hari membuat dunia ini seakan menertawakan hidupku. Seharusnya pasangan berumah tangga ini adalah kabar gembira karena didalam perut ini ada sesosok janin yang mulai tumbuh dan berkembang. Tetapi lepas dari itu. Kaki Leon cidera dan yang paling mematikan adalah vonis itu.
Sesuai anjuran dokter Sintya aku rutin memeriksakan diri dan kandunganku. Kedepannya baru dapat ambil tindakan apa. Aku memohon kepada dokter Sintya untuk merahasiakan semua ini tentang apa yang aku derita.
Di ruangan aku duduk dengan tatapan kosong. kuseka air mataku dan bertekad, apapun yang terjadi anak dalam kandunganku harus selamat, bahkan nyawaku taruhannya.
Sore menjelang niatku langsung pulang ke rumah untuk mengambil pakaian Leon. Untuk beberapa minggu ini Leon akan di rawat di rumah sakit.
Sepanjang jalan aku hanya diam membisu dengan bermacam pikiran menyerang isi kepalaku. Aku menyuruh Pak Seun menunggu karena aku hanya sebentar.
Ternyata pintu tidak tertutup dan aku menyakini Alfred sudah pulang. Dengan langkah gontai aku masuk kedalam rumah. Benar dugaanku Alfred dan Serena sedang bermesraan di ruang keluarga sehingga membuat mataku memanas.
Rupanya Alfred menyadari kedatanganku entah dari mana dia ketahui. Sehingga pria itu sengaja membelai wajah Serena. Semua apa yang dilakukan Alfred tentu saja tak aku ketahui maksudnya.
Aku tersenyum miris, dunia ini sungguh menertawai seorang Isabella. Bagaimana tidak dalam satu hari mendapat tiga kejutan sekaligus, ditambah lagi saat ini. Ayah dari calon bayi dalam kandunganku sedang berbahagia dengan istri pertamanya. Seharusnya saat ini aku jatuh dalam pelukan suamiku, menceritakan tiga kejutan sekaligus ini seandainya dia adalah suami pilihanku dan impianku. Aku hanya bisa gigit jari membayangkan itu. Bahagia, terluka, kecewa, sakit dan lain sebagainya itulah yang membaur menjadi satu yang kurasakan.
Tanpa sepatah kata aku berlalu sehingga membuat Alfred mengepalkan tangan. Ini ada hal pertama bagi kami bertemu setelah kejadian malapetaka itu sehingga kini aku yang menanggung hasil perbuatan kami.
"Sayang apapun yang terjadi kamu akan lahir ke dunia ini, sekalipun nyawa Mommy taruhannya," gumamku sembari mengusap perut yang masih rata.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Bab 43 masih review karena ada beberapa dialog mengandung adegan dewasa😱
__ADS_1