MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 136~ MDS2


__ADS_3

Tiba di Mansion Rebecca lantas bergegas masuk. Perasaan kesal kepada Keenan masih menyelimuti hatinya.


"Malam Non," sapa Bibi Hera, rupanya wanita paruh baya yang banyak berjasa dalam hidupnya sedang menunggu kepulangannya.


"Bibi belum tidur? tidak perlu menunggu Eca, Bi." Ucap Rebecca.


"Belum ngantuk Non. Makan malam Nona sudah Bibi siapkan di atas meja makan," ucap Bibi Hera.


"Terima kasih Bi. Eca membersihkan diri dulu. Hmm Daddy sama Mommy belum pulang?"


"Belum Non," sahutnya.


Rebecca memainkan bibirnya.


Tiba di kamar kesayangannya, ia langsung masuk ke kamar mandi. Didalam kamar mandi, ia memandangi wajahnya.


Pangkal hidung serta matanya sudah kembali normal.


"Bagaimana caraku untuk melawan alergi itu? jika begini terus maka sangat menghambat pekerjaanku," gumam Rebecca seraya mengusap leher jenjangnya.


Merasakan lapar membuatnya buru-buru menyudahi. Lalu keluar dan berakhir di meja makan.


Dalam diam ia mengunyah dengan pikiran kemana-mana hingga tak terasa makanan dalam piring habis.


**


Pagi-pagi Rebecca sudah berada di kantor. Tetapi kedua teman sekampusnya lebih duluan. Hari ini adalah hari kedua mereka berkerja.


"Pagi cantik," sapa Felisha. "Oya bagainan keadaanmu Ca?"


"Pagi juga jelek. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," sahut Rebecca, bahkan ia mengejek Felisha.


"Huh cantik begini dikatai jelek," protes Felisha dengan wajah dibuat-buat cemberut.


"Harus ada antonimnya ckck," gelak tawa Rebecca.


"Aku mau selesaikan pekerjaan yang kemarin," ucap Rebecca langsung membuka laptopnya, membuka file yang sudah di save.


"Aku juga ada pekerjaan malahan banyak sekali," kata Felisha.


"Semangat!" Pungkas Rebecca.


Mereka akhirnya sibuk di meja masing-masing. Sedangkan karyawan yang sudah lama menetap belum semuanya datang.


°°°°°°


Keenan bergelut dengan laporan perusahaan.


Drrtt


Getaran ponsel di atas meja membuat fokusnya beralih. Tidak lama bibir seksi itu tertarik sedikit ke atas, ketika melihat siapa yang sedang menghubunginya.


{"Oke.... kamu tunggu. 15 menit aku akan sampai."}


Yang menghubungi Keenan adalah kekasihnya. Sunny akan pulang ke tempat kelahirannya. Ia akan mengantikan kepemimpinan orang tuanya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Keenan langsung meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Ia tidak ingin Sunny menunggu lama.


Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Gerry.

__ADS_1


"Aku akan ke bandara. Kosongkan jadwalku sampai jam pulang," ujar Keenan.


"Tapi Tuan, setengah jam lagi klien dari perusahaan x akan tiba," pungkas Gerry. Ia sedikit penasaran karena dengan tiba-tiba Keenan ingin keluar, padahal pertemuan ini sudah disetujui.


Keenan berpikir sejenak. Klien yang ingin bertemu ini adalah kolega dari perusahaan maju. Hari ini adalah tanda tangan kedua pihak perusahaan.


"Aku tidak bisa menunggu karena akan menjemput Sunny di bandara. Hmm begini saja, minta Rebecca untuk menemui klien dan biar dia yang akan mendata tangani," usul Keenan dengan tiba-tiba.


Geri terperanjat kaget.


"Siapa Sunny?" batinnya.


"Apa tidak masalah jika Nona yang tanda tangani Tuan?" tanya Gerry sedikit ragu-ragu karena ini adalah hal yang penting.


"Ingat Gerry, 1 tahun ke depan dia akan menjadi direktur perusahaan. Dia cerdas jadi tidak masalah," ujar Keenan dengan tegas.


Setelah itu ia berlalu dengan langkah panjang.


"Sepertinya nama Sunny itu sangat penting bagi Tuan, sampai-sampai mengabaikan pekerjaan," gumam Gerry seraya memandangi punggung Keenan yang mulai menghilang.


Gerry bergegas ke ruangan Rebecca. Dari kejauhan ia menangkap sosok Rebecca bersama Felisha, keluar dari ruangan manajer.


Dengan langkah panjang Gerry menghampiri.


"Nona Rebecca," panggil Gerry hingga langkah Rebecca maupun Felisha terhenti. Dengan serempak kedua wanita cerdas itu menoleh ke belakang. Melihat sosok Gerry yang memanggil membuat kedua saling membalikan badan.


Rebecca maupun Felisha tersenyum manis, hal itu mengundang degup jantung Gerry.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruangan," ucap Felisha karena ini bukanlah urusan dia.


Rebecca mengangguk seraya tersenyum. Sedangkan Gerry menatap datar, hal itu membuat seorang Felisha mengumpat dalam hati. "Dasar manusia es," umpatnya.


"Begini Nona. Beberapa menit lagi kolega dari perusahaan x akan tiba karena ingin membahas kerja sama serta penanganan berkas kerja sama," papar Gerry yang tentu saja membuat dahi Rebecca mengerut karena itu bukanlah urusan dia.


Melihat tatapan Rebecca penuh tanda tanya membuat Gerry kembali menjelaskan, serta memberitahu jika ini adalah perintah dari Keenan.


Rebecca manggut-manggut, lalu sedikit penasaran kenapa Keenan tidak bisa menemui klien.


"Memang Kakak kemana? kok mengibahkan kepadaku?" tanya Rebecca.


"Ke bandara," sahut Gerry.


"Bandara?" gumam Rebecca dengan alis terangkat sebelah.


"Menjemput Sunny," imbuh Gerry.


Deg


"Sun-Sunny...." Gumam Rebecca terbata dengan raut wajah datar.


"Iya Nona. Saya bahkan tidak tau siapa itu. Seperti orang itu sangat penting, buktinya mengabaikan pekerjaan yang begitu penting," pungkas Gerry dengan santai karena tidak tau bagaimana perasaan wanita cantik di hadapannya saat ini.


"Baiklah, jika jalan baiknya begitu," ucap Rebecca berusaha menyembunyikan perasaannya.


Rebecca kembali ke ruangannya untuk mengambil tas. Sedangkan Gerry bergegas ke ruang rapat karena Keenan tidak memperbolehkan klien masuk ke ruang CEO karena ada alasan tersebdiri.


°°°°°°


Gerry maupun Rebecca sudah berada di ruang rapat khusus menemui klien.

__ADS_1


Gerry sedikit menjelaskan kepada Rebecca. Ia sendiri tau jika Rebecca cukup cerdas, jadi tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskannya.


"Saya yakin Nona paham," ujar Gerry.


Rebecca mengangguk, pertanda apa yang Gerry katakan itu benar.


"Aku permisi ke toilet sebentar," ucap Rebecca.


Gerry mengangguk.


Rebecca keluar dari ruang rapat. Letak toilet hanya beberapa langkah saja dari ruang rapat.


Tok tok


Pintu rapat di ketuk. Gerry bangkit dari kursi duduknya untuk menyambut klien.


Klek


"Selamat siang Tuan," sapa Gerry seraya menunduk kepala.


"Selamat siang," balasnya. Lalu Gerry mempersilahkan kedua pria tampan itu untuk masuk.


"Hmm Tuan Keenan di mana?" tanya CEO dari perusahaan SUN GROUP.


"Tuan Keenan tidak bisa menemui Tuan dikarenakan ada kepentingan mendadak," papar Gerry.


"Lalu bagaimana dengan pengesahan kerja sama ini?" ujar pria berkulit putih dan memiliki bola mata coklat itu seraya melipat telapak tangannya.


"Untuk mewakili Tuan akan digantikan Nona Rebecca. Adik Tuan Keenan," pungkas Gerry.


Hmm


Pria itu hanya berdehem karena ia juga tidak mengenali sesosok itu karena baru pertama ini ia menginjakan kaki di gedung pencakar langit.


Baru 1 bulan ia mengantikan kepemimpinan di perusahaan SUN GROUP. Selama ini menetap di negara x.


Klek


Pintu ruang rapat terbuka begitu saja tanpa di ketuk terlebih dahulu.


"Maaf! Saya kira tamu belum tiba," ucap Rebecca dengan kikuk.


Kedua pria itu menatap Rebecca tak berkedip, hal itu di tangkap oleh Gerry.


Hmm


"Perkenalkan Tuan, ini Nona Rebecca Hugo yang akan mewakili pertemuan ini," pungkas Gerry dengan sedikit tegas.


Seketika kedua pria yang tak lain seorang CEO serta asisten ini tersadar dari terpesonanya akan kecantikan Rebecca.


Rebecca tersenyum manis kepada keduanya.


"Perkenalkan saya Lucky Sun, CEO dari perusahaan SUN GROUP," Pria itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.


"Saya Rebecca Hugo," balas Rebecca seraya membalas jabat tangan Lucky.


Hem Hem.....


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2