
1 minggu berlalu
Alfred selama ini banyak melamun. Sungguh dia sangat merindukan istri beserta anak-anak. Alfred hanya bisa memandangi foto istri serta anak-anaknya yang sengaja dia foto bahkan diam-diam merekam.
"Sayang Daddy sangat merindukan kalian, maaf Daddy belum bisa mengunjungi kalian karena perusahaan dalam masalah besar. Daddy janji setelah beres akan mengunjungi, ini semua demi masa depan kalian karena salah satu dari kalian yang akan menjadi penerus HUGO GROUP," gumam Alfred berbicara dengan layar ponsel, tentunya dalam ponsel itu foto Keenan bersama Kiran.
Seketika bayangan kekejamannya kepadaku terlintas begitu saja. Bagaimana Alfred menampar, mengancam, mendorong dan masih banyak lagi sehingga membuat Alfred mengusap wajahnya. Penyesalan dan rasa bersalah menghantuinya. Alfred seakan frustasi, sungguh dia menjadi manusia yang sangat kejam.
Tok tok
Pintu ruangan Alfred diketuk.
"Masuk," ujar Alfred dengan tidak semangat.
Klek
"Selamat siang Tuan," itu adalah Andre.
Alfred tidak menanggapi, pria itu mengusap wajah lelahnya.
"Bagaimana Andre, apa ada informasi?"
"Maaf Tuan," hanya itu yang bisa Andre jawab.
Ssst
Desis Alfred dengan wajah muram. Bagaimana tidak, kerugian rumah sakit begitu besar sehingga para investor ingin menarik sahamnya.
"Siapa dalang dari kekacauan ini?" desis Alfred sembari menjambak rambutnya.
Klek
Pintu ruangan tiba-tiba dibuka sehingga membuat Alfred maupun Andre menoleh.
"Lihat ini," dokter Frans langsung mendaratkan berkas di meja. "Rumah sakit cabang di kota x kedapatan obat kadaluarsa dalam jumlah banyak sehingga kini lagi didalami polisi," terang dokter Frans.
Mata Alfred maupun Andre membuat mendengar apa yang dokter Frans katakan.
"Bagaimana bisa?" Alfred murka.
"Aku baru dapat informasi," ujar dokter Frans.
"Brengse*! Mereka ingin bermain-main denganku?" teriak Alfred sembari menubruk meja.
"Saya akan hubungi manager Lili Tuan," ucap Andre, lalu keluar dari ruangan.
Kini tinggallah Alfred bersama dokter Frans. Alfred menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran dengan wajah muram.
"Frans belikan aku minuman beralkohol, aku ingin melupakan sejenak urusan dunia," ujar Alfred.
Dokter Frans menyipitkan mata, permintaan Alfred membuatnya kaget. Sejak kapan sepupunya itu menyukai minuman seperti itu.
__ADS_1
"Tidak, itu bukan solusi menyelesaikan masalah," ujar dokter Frans dengan tegas.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, rumah tangga serta perusahaan hancur," ujar Alfred dengan tatapan kosong. "Jadi biarkan aku melupakan urusan dunia sebentar saja," keluhnya.
"Sejak kapan seorang Alfred selemah serta pengecut seperti ini? ini bukanlah dirimu, yang kutau kamu adalah orang yang berpendirian teguh. Ingat sekarang kamu adalah seorang Ayah dua anak," ingat dokter Frans.
Mendengar yang berhubungan dengan anak-anak membuat Alfred terdiam, ingatan wajah Keenan dan Kiran terbayang-bayang.
"Aku sangat merindukan mereka Frans. Sekarang hanya mereka bagian terpenting dalam hidupku," keluh Alfred dengan raut wajah sendu.
"Berusaha dan berjuanglah untuk mengambil hati mereka, khususnya istrimu,"
"Andaikan dia luluh dan menerimaku sebagai suaminya saat ini, aku tidak akan bahagia," ungkap Alfred sehingga membuat dokter Frans mengangkat alisnya. "Karena ingatannya belum pulih, aku ingin dia menerimaku ketika ingatannya sudah kembali," imbuh Alfred.
"Aku yakin semua baik-baik saja, dokter Isabella adalah wanita berhati mulia dan pemaaf," ucap dokter Frans dengan yakin.
Alfred memejamkan mata, seketika dia mengingat sesuatu. Dengan segera dia membukakan mata lalu merogoh kantong celana, mengambil dompet.
°°°°°°
"Sayang tumben ada waktu?" tanya Mama kepada Moses yang baru saja pulang dari kantor karena beberapa bukan ini memilih tinggal di apartemen.
"Hmm kangen saja kepada Keenan dan Kiran Ma," sahut Moses.
"Umm berarti Mama tak dirindukan lagi nih?" Mama pura-pura merajuk.
Hmm
"Tentu saja lebih kangen Mama," ujar Moses agar wanita itu kembali ke mood semula.
"Dasar anak tampan," ucap Mama sembari memencet hidung mancung Moses dengan gemas.
Moses langsung meletakan kepalanya di bahu Mama dengan manja sehingga membuat Papa cemberut.
"Dia milik Papa satu-satunya, jadi carilah pendampingmu sendiri. Kapan lagi kami menimang cucu dari penerus Januar," ujar Papa seakan cemburu sehingga mendesak Moses mencari pasangan hidup.
"Huh selalu masalah itu yang dibahas," decak Moses jengah.
Mama menggelengkan kepala melihat interaksi Papa dengan Moses.
"Apa keponakan tampan, cantik lagi tidur?" tanya Moses.
"Iya sayang mereka lagi tidur, makanya Mama sama Papa berada di sini karena tidak ingin menganggu mereka," ucap Mama.
Hmm
Moses menatap ke langit-langit, banyak hal yang dia pikirkan terutama memikirkan aku.
"Bagaimana perkembangan Kak Abel Ma?"
Mama merubah posisi duduknya, lalu menatap televisi dengan pandangan datar.
__ADS_1
"Belum ada perubahan bahkan kita orang asing baginya. Mama rindu dengan Abel yang dulu, Abel yang ceria dan periang. Mama rindu dengan kemanjaan serta kocaknya tetapi kini Abel yang dulu seakan hilang," ungkap Mama dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar suara sedih Mama membuat Moses menegangkan tubuhnya lalu mengusap punggung Mama yang bergetar karena wanita paruh baya itu terisak.
"Sungguh miris, bahkan Papa tidak pernah menyangka jika takdir hidup putri kesayangan Papa mengalami penderitaan seperti ini. Sudah cukup dia merasakan ketidak adilan semasa kecil, tetapi masa itu kembali dia rasakan, tanpa kita ketahui. Ya Tuhan bagaimana bisa dia menjalankan semua itu, hidup dengan penuh ancaman, mempertahankan kandungannya sedangkan penyakit mematikan itu menggerogoti tubuhnya. Papa sangat bersalah dalam hal ini," ujar Papa ikut merasakan kesedihan. "Gaby juga merasakan penderitaan yang luar biasa, berjuang hidup dengan nyawa yang mengancam. Apa ini yang dikatakan karma? karena kesalahan Papa dimasa lalu," ujar Papa kembali bahkan mengungkit masa lalunya dulu.
"Papa," ucap Mama dengan suara meninggi karena tidak setuju dengan tuduhan Papa.
"Apa yang Papa katakan benar sayang. Lihat dua putri kita sama-sama mengalami penderitaan, takdir mereka begitu malang. Gaby yang menghilang selama 3 tahun, bahkan dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan dia kehilangan orang yang sangat dicintainya dengan cara tragis seperti itu. Dan sekarang Abel, dia menikah karen ancaman, bukan karena cinta. Bahkan sekarang yang paling menyesakan adalah dia mengalami amnesia. Orang tua mana yang tidak terluka atau merasa bersalah," ungkap Papa panjang lebar dengan mata berkaca. "Papa rindu Abel yang dulu, Abel yang penuh ceria dengan kecerewetannya tetapi kini lihatlah, kita seperti orang asing baginya," imbuh Papa bahkan tidak sadar meneteskan air mata.
Mama, Moses terdiam, ikut sesak mendengar apa yang Papa keluhkan.
"Semua ini karena pria brengse* itu," ujar Moses dengan murka, yang ditunjukan kepada Alfred.
"Tidak sayang, ini bukan sepenuhnya kesalahan Alfred. Bagaimanapun kita tidak bisa menyalahkan dia, Mama yakin Alfred adalah anak baik dan dia ingin memperbaiki semuanya," ucap Mama ingin meredam kan amarah Moses.
Moses melirik Mama masih dengan wajah murka.
"Mama intinya dia yang menyebabkan Kak Abel berakhir seperti ini,"
"Nak setiap manusia memiliki kesalahan dimasa lalu, sama halnya dengan Papa. Alfred sudah mengakui semua kesalahannya dan berkali-kali minta maaf, dan dia bersungguh-sungguh memperbaiki semuanya," ujar Papa sependapat dengan Mama.
Moses menghela nafas. Apa yang dikatakan kedua orang tuanya ada benarnya tetapi rasa kecewa itu melebihi rasa pedulinya.
"Perusahaannya lagi mengalami masalah. Rumah sakit pusat dan salah satu cabang ikut terseret. Sudah banyak investor yang menarik saham mereka karena mengalami kerugian," ujar Moses sehingga membuat kedua orang tuanya saling memandang.
"Apa masalah itu belum diselesaikan?" tanya Papa.
"Sepertinya mereka belum menemukan dalang dibalik kehancuran itu," sahut Moses sembari memijit ujung kepalanya.
"Sayang redakan amarahmu dan bantu Kakak iparmu," mohon Mama kepada Moses.
"Walaupun aku murka kepadanya, tetapi aku ikut menyelidiki itu Ma," sahut Moses kembali. Ya diam-diam dia menyelidiki tetapi belum membuahkan hasil.
Seketika Mama menyunggingkan senyuman, bersyukur memilki anak-anak yang berhati malaikat.
°°°°°°
Aku berdiam diri di balkon kamar. Semua obrolan Papa, Mama dan Moses aku dengar ketika tidak sengaja ingin bergabung tetapi mendengar keluhan Mama membuatku mengurungkan niat. Akhirnya memilih diam mendengar seperti seorang penguntil.
"Aku minta maaf Pa, Ma. Seharusnya aku sudah tiada agar kalian tidak merasa bersalah," ucapku dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba terlintas ingatanku kepada Alfred.
"Apa kamu belum juga memeriksa isi memory itu Al? didalam sana semua rahasia itu tersimpan,"
Aku sangat berharap Alfred segera memeriksa memory card tersebut.
"Semoga kamu baik-baik saja Al, ingat anak-anakmu membutuhkanmu jadi aku harap jangan berpikir pendek," ya aku sedikit khawatir, bukan karena apa hanya perasaan takut, takut Alfred mengikuti jejak Bernat tetapi aku tidak bisa melakukan apapun karena sudah terlanjur dengan jalanku.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪