MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 54. Pilihan Ada Padanya


__ADS_3

Tengah malam diam-diam Alfred memasuki kamar rawat, tentunya tanpa sepengetahuan siapapun. Di tepi brankar Alfred berdiri tanpa berkedip menatapku yang dengan terlelap.


Alfred mendudukkan dirinya di tepi brankar, lalu meraih telapak tanganku. Ditatapnya wajahku lekat-lekat tanpa sepatah kata.


Alfred menganga seperti menahan tangis sembari memejamkan mata.


"Maaf," lirih Alfred sembari mengigit bibir wajahnya dengan menggenggam telapak tanganku sehingga membuat tidurku terganggu.


Menyadari keberadaan Alfred aku tetap menutup mata seolah masih terlelap seperti yang Alfred kira.


"Aku sadar dan tidak pantas berada di sini. Seperti yang kamu katakan, seharusnya sekarang aku sedang berpesta pora atas kemenangan pencapaian misi balas dendam," gumam Alfred dengan pandangan kosong menatapku.


Alfred menangkup telapak tanganku dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa kamu menyembunyikan penyakit berbahaya itu? kenapa kamu tidak mengatakannya bahkan membiarkan penyakit itu menggerogoti tubuhmu? dengan menyelamatkan dua bayi yang tak berdosa. Kamu rela mati dari pada kehilangan mereka. Aku sangat bodoh kenapa tidak pernah memberi kesempatan untukmu menjelaskannya, kini yang ada hanya penyesalan, penyesalan tak berujung, penyesalan seumur hidup," lirih Alfred sembari mengecup jari jemariku.


Alfred menyeka air mata.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan? agar diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya? katakan padaku, apapun akan aku lakukan jika itu menjadi tantangannya. Apa sebaiknya aku mengikuti jejak Adikku? jika itu menjadi tantangannya,"


Deg


Ucapan tak main-main Alfred membuat jantungku berdebar.


Alfred tersenyum miris.


"Tidak, aku tidak sebodoh itu dengan pikiran pendek. Jika aku mati, siapa yang menjaga kalian? aku tidak ingin kedua bayi kita merasakan apa yang aku rasakan. Dari kecil aku dan Adikku sudah ditinggal oleh Mommy, dan aku tidak ingin itu terjadi juga dengan darah dagingku. Aku ingin melihat mereka tumbuh dan tidak merasa kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya. Mungkin aku egois tetapi semua ini aku lakukan demi mereka. Ssst tidak mudah untuk melakukan ini karena kamu mengalami amnesia," ucap Alfred panjang lebar.


Alfred menghirup telapak tanganku sembari memejamkan mata.


"Percayalah hanya kamu istri satu-satunya Alfred Hugo, tidak ada yang lain. Aku tidak pernah mempermainkan agama karena aku sadar bahwa tindakan tak terpuji itu pastinya mengecewakan Daddy sama Mommy di atas sana. Semua itu hanya sandiwara, itu aku lakukan atas balas dendam. Dengan begitu kamu semakin menderita. Percayalah hanya kamu istriku, dan kamu adalah orang pertama dalam hidupku," lirih Alfred sembari menangis serta menciumi jari jemariku.


Deg


Cup

__ADS_1


Setelah mendaratkan kecupan di dahi, dengan langkah paksa Alfred meninggalkan kamar rawat itu. Saat Alfred menjauh aku segera membuka mata, ujung mataku memperhatikan punggung Alfred yang mulai menghilang.


Aku seka air mata yang keluar begitu saja. Kaget tentu saja setelah mendengar pengakuan Alfred. Ada rasa takut, takut Alfred berpikir pendek dan berakhir seperti Adiknya. Tetapi aku bisa lega karena dia tidak akan melakukan itu.


Biarkan waktu yang menjawab. Hatiku terlalu terluka sehingga sulit untuk disembuhkan. Penderitaan demi penderitaan membuatku lelah dan lebih baik seperti orang bodoh yang pura-pura melupakan semua memory. Anggap saja aku baru lahir kembali ke dunia ini.


Tanpa kami sadari ternyata Papa sama Mama mendengar semua apa yang diungkapkan Alfred ketika mereka ingin mengecek, dan berhenti diambang pintu.


°°°°°°


Papa mengumpulkan keluarga termasuk Alfred beserta Om Julio dan Tante Meysi. Mereka membicarakan akar dari masalah ini. Semuanya harus tuntas biar tidak ada yang salah paham.


Semuanya sudah berkumpul masih dengan wajah datar. Lihatlah wajah Mama sembap, mata membengkak karena menangisi takdir yang menimpaku. Ibu mana yang tidak terluka mendapati kebenaran yang terkuak. Dengan tidak sengaja mereka bersenang-senang, bahagia di atas penderitaanku. Itu karena mereka tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi.


Papa menoleh kepada Alfred yang sejak tadi terdiam dengan wajah tertunduk.


"Nak Alfred apa ada yang ingin kamu sampaikan? Papa ingin hari ini meluruskan kesalahpahaman ini," ujar Papa sehingga membuat Alfred mengangkat wajahnya. Semua orang dapat melihat wajah Alfred membengkak akibat pukulan Moses beserta dokter Frans, ditambah lagi dua tamparan dari Gabriella tetapi semua itu tak sebanding dengan luka, penderitaan yang dia berikan kepadaku.


Alfred mulai menceritakan awal dari segalanya dengan wajah sendu serta tatapan kosong. Sangat sukar untuk Alfred menceritakan masa lalu itu, apa lagi ingatan demi ingatan terlintas bagaimana dia menyakitiku secara langsung maupun tidak langsung.


"Bagaimana aku tidak merasa dendam karena keluarga yang aku punya pergi secara bersamaan," ujar Alfred dengan wajah tertunduk sendu.


"Apa? Bernat bunuh diri? hiks... hiks...." Tangis Gabriella histeris sembari berteriak.


Tentu saja Gabriella syok dan tidak menyangka orang yang sangat dia cintai pergi dengan cara tragis.


"Honey kamu salah paham, aku masih hidup hiks hiks....." Tangis Gabriella semakin pecah.


"Sayang tenanglah," lirih Mama menenangkan Gabriella.


Semua bungkam terdiam mendengar cerita demi cerita Alfred. Ternyata selama ini Alfred sangat terpuruk dengan kejadian yang menimpa keluarganya.


"Setelah itu aku bersumpah mencari penyebab Adikku mengakhiri hidupnya, kebetulan aku menemukan beberapa foto, bahkan Bernat menggenggam selembar foto kekasihnya diakhir nafas hidupnya. Dua tahun aku berusaha mencari wanita yang ada dalam foto itu, sampai-sampai aku merahasiakan jati diri atau identitas. Entah keberuntungan apa pada saat ada pekerjaan di negara x dengan tidak sengaja aku bertemu dengan Isabella yang aku kira wanita dalam foto itu. Pada saat itu juga aku langsung mencegatnya bahkan memberi ancaman, bahkan aku masih ingat dengan jelas ketakutan di wajah itu," ujar Alfred tanpa sadar meneteskan air mata. "Sedikit kaget karena wanita yang kucari bukan orang sembarangan, siapa yang tidak mengenali keluarga Januar," imbuhnya dikala dia melihat identitasku.


Alfred menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ancaman demi ancaman yang kulayangkan, dan pada akhirnya pernikahan itu terjadi, dengan sandiwara yang luar biasa sehingga kami dapat menyakinkan kalian semua termasuk Papa, Mama, Opa dan Oma," ucap Alfred menatap Papa sama Mama secara bergantian dengan raut wajah bersalah.


Alfred memejamkan mata sesaat.


"Seiring berjalannya waktu aku kasi dua pilihan, yaitu memilih Leon atau cerai?"


Deg


Semua sadar dalam pikiran masing-masing setelah mendengar ucapan pedas dari Alfred.


"Tentunya pilihan itu sangat berat baginya, di satu sisi dia sangat menginginkan Leon dan sisi kedua tidak mungkin bercerai karena itu berakibat memberi luka bagi keluarga terutama Papa sama Mama. Dia mengatakan tidak bisa memilih, Leon adalah bagian dari hidupnya, sedangkan alasan pertama tidak ingin bercerai karena....," Alfred bungkam sesaat karena lidah itu terasa keluh untuk mengatakan ini. "Karena dia jatuh cinta kepadaku bahkan sangat mencintaiku," lirih Alfred sembari memejamkan mata. "Aku tidak percaya itu karena dari awal dia cukup cuek seperti sangat membenciku tetapi aku salah, dia tulus mencintaiku," imbuh Alfred mengakhiri ceritanya.


"Dasar brengse*," ujar Moses tidak sanggup mendengar cerita miris sang Kakak. "Kakakku tak pantas mencintai pria brengse* dan pengecut seperti dirimu," sungguh Moses murka, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjagaku.


"Misi kamu sudah tercapai, sudah cukup memberikan penderitaan kepada putri kami. Raihlah kebahagiaanmu bersama istri kamu yang sesungguhnya, sudah cukup menorehkan luka karena putri kami tidak ingat apapun bahkan Ibu yang telah melahirkannya," lirih Mama menyela.


Alfred menggeleng.


"Aku hanya menikah sekali seumur hidup dan Isabella adalah istriku satu-satunya," Alfred menekankan. Semua menatap Alfred dengan penuh tanda tanya kecuali Papa sama Mama.


"Maksud kamu?" lirih Gabriella masih dengan terisak.


"Aku tidak pernah menikah dan memiliki istri selain Isabella, itu semua hanyalah permainanku agar dia merasa lebih hancur dan menderita," ujar Alfred menekankan.


Alfred bangkit lalu berlutut di kedua kaki Papa sama Mama.


"Sebelumnya aku minta maaf. Pa, Ma izinkan aku untuk memperbaiki semuanya, aku sangat menyesal. Izinkan aku untuk mempertanggungjawabkan istri serta kedua anak kami. Hanya mereka keluargaku sekarang," mohon Alfred di kaki Pala sama Mama.


"Tidak aku biarkan," ujar Moses dengan lantang menentang permintaan Alfred.


"Bangkit Nak," titah Papa sembari menepuk bahu Alfred.


Alfred tetap pada posisi itu.


"Pilihan ada pada putri kami," ujar Papa.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2