MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 38. Demi Papa Mama


__ADS_3

"Benar namanya dokter Isabella," ulang Tante Meysi.


Alfred mengepalkan tangan dibalik selimut, sedangkan dokter Frans mengusap wajahnya.


"Mom hentikan, kita saja belum mengenalnya lebih jauh. Belum tentu juga dia mau dengan putramu," ujar Om Julio sembari menggelengkan kepala.


"Mommy yakin dia gadis yang luar biasa Dad, dan cocok menjadi pasangan buat putra kita yang tidak laku-laku ini," Tante Meysi tetap pada pendiriannya.


"Tante benar dia wanita luar biasa. Luar biasa liciknya Tante, dia wanita yang mengakibatkan Bernat tiada," batin Alfred.


"Cukup Mom. Apa Mommy ingin tau tentang dokter Isabella?" ucap dokter Frans.


"Tentu sayang hmm benar yang dikatakan calon menantu Mommy kalian memang teman bahkan Mommy harap lebih dari itu," tanggapan Tante Meysi melenceng.


Dokter Frans mengusap wajahnya.


"Dokter Isabella sudah menikah Mom, statusnya adalah istri orang," akhirnya dokter Frans tak tahan lagi.


"Apa?" sungguh Tante Meysi kaget bukan main.


"Iya Mom jadi tarik kembali ucapan Mommy itu," tegas dokter Frans karena dia tidak ingin merusak hubungan rumah tangga orang lain.


"Mommy tidak yakin, bilang saja itu trik kamu sayang," Tante Meysi tidak mempercayai itu bahkan menganggap dokter Frans berbohong.


Dokter Frans menghela nafas panjang.


"Buat apa Frans berbohong Mom karena itulah kenyataannya," sangat sulit menyakinkan wanita dari Adik kandung Daddy Alfred ini.


"Gagal lagi gagal lagi," gumam Tante Meysi dengan raut wajah kecewa.


°°°°°°


Keesokan harinya


Pagi-pagi aku berkemas, dan akan pulang setelah mengontrol pasien. Malam ini kembali aku tidak bisa tidur sama sekali sehingga membuat sepanjang waktu hanya menguap saja. Mataku berat, begitu juga dengan kepala ini.


Merasa sudah beres aku bangkit, tiba-tiba rasa nyeri di bagian bawah perutku kumat lagi sehingga membuatku kembali duduk.


Kuusap bagian bawah perutku perlahan, bermaksud meredakan rasa sakit. Sampai-sampai bercucuran keringat membasahi wajahku.


"Ya ampun sakit sekali," lirihku menjerit dengan mata terpejam, sampai-sampai kedua kakiku terangkat menahan rasa sakit yang teramat.


Kuambil obat yang biasa diminum, perlahan rasa nyeri itu berkurang. Aku yakin bawahku sekarang pucat, bahkan ujung jari tangan serta kakiku sangat dingin.


Tok tok


"Masuk," aku berusaha tenang karena tak ingin orang tau.


Klek


"Selamat pagi Nona," sapaan itu tidak ingin aku dengar.


"Iya Andre ada apa?" lirihku sembari memegang perut.

__ADS_1


Andre terdiam sembari menatapku, mungkinkah Andre menyadari perubahanku.


"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Andre.


"Iya Andre aku baik," sahutku berusaha tenang.


"Nona sekarang Tuan dan Nyonya sedang menghubungi Tuan dengan via Videocall. Maksud kedatangan saya menemui Nona, agar ke kamar rawat Tuan sekarang juga," ujar Andre.


Aku memejamkan mata mendengar itu. Kenapa dalam situasi seperti ini kedua orang tuaku malah mendekatkan aku kembali, padahal aku sudah berjanji kepada diriku sendiri agar menjaga jarak dan menhindari Alfred.


"Aku tidak bisa Andre, nanti aku akan menghubungi Papa ataupun Mama," kataku.


"Apa Nona ingin Tuan serta Nyonya curiga? karena tidak berada di samping Tuan sedang terbaring sakit?"


Ucapan Andre membuat kepalaku ingin pecah. Memang benar yang dikatakan Andre.


"Baiklah," ucapku pada akhirnya dengan terpaksa. Demi kedua orang tuaku aku rela melakukan apa saja.


Mendengar aku setuju diam-diam Andre menyunggingkan senyum.


Selepas kepergian Andre. Aku bangkit menuju toilet untuk merapikan penampilanku. Benar saja wajahku terlihat pucat. Agar Papa sama Mama tak banyak bertanya sengaja aku poleskan bedak tipis serta lipstik. Merasa cukup aku sudahi dan segera bergegas ke kamar rawat Alfred


Kini aku berdiri dengan perasaan bercampur aduk di depan pintu kamar VVIP. Aku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.


Klek


Tanpa mengetuk pintu aku langsung membuka pintu dan tidak lupa menutupnya kembali. Pandanganku tepat pada Alfred yang sedang berbicara dengan kedua orang tuaku.


"Sayang kemarilah, Papa sama Mama ingin mengobrol," ucap Alfred dengan nada lembut.


"Pa, Ma putri kalian sudah datang," ujar Alfred.


"Sayang kamu kemana saja? suami sakit malah sibuk," Mama protes.


"Halo Ma, Pa bagaimana keadaan Papa sama Mama?" kuabaikan pertanyaan Mama.


"Baik sayang, kalau ditanya dijawab sayang,"


"Bukan begitu Ma, sebagai dokter kita harus profesional," jelasku.


"Iya sayang tapi utamakan dulu suamimu, lihat menantu Mama sudah kurusan," perkataan Mama membuatku menatap lekat-lekat seluruh tubuh Alfred, benar saja apa yang dikatakan Mama.


Tatapan kami bertemu dengan mulut mengatup. Kesadaranku kembali sehingga membuatku memutuskan tatapan itu, aku tau Alfred muak dengan kehadiranku.


"Sayang wajahmu juga pucat, apa kamu sedang sakit?" tanya Mama dengan khawatir.


"Benar begitu Nak?" timpal Papa ikut khawatir.


Aku tersenyum seperti biasanya.


"Papa sama Mama tenang saja, apa kalian lupa kalau putri kalian ini seorang dokter? aku baik-baik saja Pa, Ma."


"Huh buktinya menantu Mama sakit kamu kamu tidak bisa sembuhkan," canda Mama.

__ADS_1


"Mama jurusanku untuk menangani anak-anak,"


"Sayang anggap saja menantu Mama bayi kecil hehehe," candaan Mama membuatku dengan Alfred saling memandang. " Bukankah begitu menantuku?" cecar Mama kepada Alfred. Alfred bingung harus menjawab apa, dia hanya bisa mengaduk kepala yang tidak gatal. Sedangkan Papa ikut terkekeh di samping Mama.


"Pa, Ma sudah dulu ya? sekarang waktunya menantu kalian mandi," ucapku asal karena ingin menyudahi secepatnya.


"Baiklah sayang. Eh bentar dulu, Mama jadi curiga," ucapan Mama membuatku dan Alfred saling memandang dengan jantung berdebar.


"Ya Tuhan apa Mama curiga dengan hubungan kami?" batinku.


Dengan refleks kurapatkan tubuhku ke tubuh Alfred selayaknya pasangan suami istri yang romantis. Kuraih telapak tangan Alfred, memberi usapan lembut. Anggap saja saat ini akal sehatku tak berfungsi lagi. Soal harga diri di sampingkan demi kedua orang tuaku, sungguh saat ini jantungku berdebar-debar menunggu penjelasan Mama, ditambah lagi dengan apa yang kulakukan kepada Alfred.


Alfred melongok tak percaya dengan apa yang sedang aku lakukan. Tetapi secepatnya dia tersadar ketika melihat layar ponsel, ya Alfred paham dengan apa yang aku lakukan sehingga membuatnya tersenyum seperti mengejek diriku atau entah apakah itu hanya orang cerdas yang dapat mengartikan senyuman di bibir seksi itu.


Melihat keromantisan kami membuat Papa sama Mama tersenyum bahagia. Bahkan mata Mama berkaca-kaca.


"Sayang Mama hanya curiga jika kalian berdua mengidam. Biasanya itu pengaruh awal kehamilan. Sayang apa kamu hamil?" pertanyaan Mama yang tak pernah kuduga membuat tubuhku membeku, bukan hanya aku tetapi Alfred juga.


Kami saling memandang dengan perasaan canggung.


"Mama itu tidak benar," lirihku berusaha tersenyum. Seketika raut bahagia di wajah kedua orang tuaku memudar setelah mendengar penuturanku. "Belum dikasi Ma," ralatku kembali untuk menyakinkan Mama.


"Ma, tolong jangan terlalu berharap. Hubungan kami tidak seperti yang kalian kira," keluhku dalam hati.


"Tidak masalah sayang, selalu semangat dan jaga pola makan serta kesehatan kalian karena semua itu berhubungan. Sayang Mama sama Papa tidak ingin melihat kalian sakit, kami berharap kalian selalu sehat. Jangan abaikan kesehatan kalian demi bekerja, hmm jika ada apa segera kabari Mama maupun Papa." ucap Mama dengan mata berkaca-kaca. "Sayang jika kamu dalam kesusahan jangan segan memberitahu kami, bila perlu kamu ajak istrimu pindah ke Indonesia. Kalian bisa bekerja di perusahaan kita. Maaf bukan berarti kami menyinggung perasaanmu sayang, kami bahkan sangat bangga kepadamu dengan tanggung jawabmu," ucap Mama panjang lebar yang ditunjukan kepada Alfred.


Alfred terenyuh mendengar semua itu. Jujur dalam hati paling dalam dia merasa diperdulikan. Sedangkan aku sudah tidak dapat lagi membendung air mataku sehingga lirih begitu saja. Dada ini begitu sesak mendengar setiap kata-kata Mama.


"Iya Ma," hanya itu yang bisa Alfred katakan sedangkan aku sibuk menyeka air mataku.


"Sayang jangan menangis, Mama tidak kuat melihat air matamu," ucap Mama.


"Ya Tuhan bagaimana jika Mama tau yang sebenarnya terjadi? aku menangis karena terharu saja Mama sudah sangat sedih, apa lagi jika tau kalau diriku selama menikah dengan Alfred hanya penderitaan yang kudapatkan," batinku begitu hancur.


"Nak Papa percaya kepadamu dari awal sehingga berani menitipkan putri Papa. Jika dia sakit, terluka kami juga merasakan apa yang dia rasakan jadi Papa mohon tolong jaga putri Papa sebagaimana kami dulu menjaganya dengan baik dan penuh kasih sayang," timpal Papa semakin membuat aku hancur mendengar nasehat-nasehat itu.


"Iya Pa," sekali lagi ucapan singkat yang bisa keluar dari mulut Alfred. Sedangkan lidahku sudah keluh bahkan tenggorokan ini tercekat untuk berbicara.


Sambungan telepon berakhir. Seketika membuat kami sama-sama canggung. Dengan cepat aku memundurkan tubuhku dan melepas tangan Alfred yang tanpa sadar sejak tadi aku genggam seperti mencari kekuatan.


Hening itulah yang tergambarkan seperti tidak ada penghuni kamar ini.


Sesaat kupejamkan mata, lalu melirik Alfred yang rupanya tengah menatapku dengan pandanga tak biasa.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku dengan lidah keluh.


Alfred tak menjawab. Tatapannya beralih kearah jendela.


Aku bangkit dan melangkah tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi karena percuma saja.



__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2