MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 146~MDS2


__ADS_3

"Sayang jujur kepada Mommy, hmm apa kamu menyukai Keenan?"


Deg


Mata Rebecca membulat dengan mulut menganga mendengar pertanyaan itu.


"Katakan sayang," pungkas Mommy Isabella sekali lagi.


Rebecca menelan ludah dengan mimik wajah kebingungan. Kenapa sang Mommy tiba-tiba menanyakan soal perasaannya? yang lebih parahnya lagi bersangkutan dengan Keenan.


"Mak-maksud Mommy apa?" tanya Rebecca terbata-bata.


"Kamu menyukai bahkan mencintai Keenan, benar begitu sayang?"


Sekali lagi Rebecca menelan ludah. Ia menggelengkan kepala perlahan dengan wajah menunduk, tidak berani menatap Mommy Isabella.


"Tatap Mommy dan katakan sesuai isi hatimu," ucap Mommy Isabella dengan tegas.


"Iya Mom," sahut Rebecca dengan wajah menunduk. "Apa yang Mommy katakan itu benar," imbuhnya dengan lirih seraya menatap kedua mata Mommy Isabella.


Senyuman miris yang dirasakan Mommy Isabella mendengar pernyataan Rebecca. Seharusnya ia senang tetapi masalahnya Keenan tidak merasakan hal yang sama.


"Mommy sudah tau itu sayang," ucap Mommy Isabella disertai senyuman, berusaha menyembunyikan rasa yang menyelimuti hatinya beberapa hari ini tentang pernyataan Keenan.


"Maaf Mom," lirih Rebecca merasa bersalah karena tidak pantas menaruh hati kepada Kakak sendiri, walaupun bukan saudara kandung.


Dengan segera Mommy Isabella mendekap tubuh Rebecca. Bulir bening itu bergulir membasahi kedua pipinya.


"Kamu tidak salah sayang, kita tidak bisa menyalahkan hati," ucap Mommy Isabella seraya mengusap punggung Rebecca.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Memang sakit mencintai seseorang yang tidak membalas perasaan itu, bahkan Mommy Isabella pernah mengalami masa itu, tetapi pada akhirnya mereka bahagia.


Seperti pepatah mengatakan lebih baik dicintai dari pada mencintai. Tetapi kita sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan, bahkan keegoisan menguasai diri.


Ada yang mengatakan sikap keegoisan demi kebaikan itu tidak masalah jika itu merujuk kepada kebaikan, itulah yang akan dilakukan Mommy Isabella kepada Keenan dan Rebecca


Keduanya menguraikan pelukan itu. Mommy Isabella menatap Rebecca lekat-lekat. Rebecca tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik serta cerdas.


Tangannya terulur menangkub wajah Rebecca.


"Sayang kamu adalah kriteria menantu idaman. Kamu cantik, cerdas, baik hati, lemah lembut serta banyak lagi nilai ples pada dirimu." Ungkap Mommy Isabella dengan tatapan serius. "Sayang menikahlah dengan putra Mommy, Keenan!"

__ADS_1


Duar.....


Kalimat yang tak pernah ia bayangkan, bagai petir menyambar di siang bolong.


Rebecca membeku dengan mata membulat.


"Mommy sama Daddy memutuskan kalian harus menikah!"


Rebecca tak bergeming, ia anggap semua perkataan yang lolos dari mulut wanita paruh baya ini adalah sebuah mimpi semata.


"Apa kamu setuju sayang?" Mommy Isabella seraya mengusap bahu Rebecca sehingga membuat tersadar dari lamunannya.


Ya Rebecca sadar sekarang, bahwa ini bukanlah sebuah mimpi tetapi nyata.


Rebecca menggelengkan kepala, menolak dengan keputusan itu. "Eca tidak bisa Mom, bagaimana bisa hal itu terjadi? hubungan atau status kamu adalah saudara," ungkap Rebecca.


"Kalian memang saudara tetapi bukan saudara kandung. Tidak ada masalah untuk hal itu, ya memang publik mengetahui statusmu adalah putri dari kami tetapi untuk masalah itu bisa di urus," pungkas Mommy Isabella.


"Eca memang menaruh hati, bahkan mencintai Kak Ken tetapi tidak sampai kepikiran sampai sejauh ini Mom. Maaf Eca tidak bisa memenuhi perjodohan ini. Hati Kak Ken bukan untuk Eca. Kak Ken hanya menganggap Eca sebatas Adik Kakak, bagaimana mungkin kami dapat mengarungi bahtera rumah tangga, dengan hati yang berbeda," pungkas Rebecca panjang lebar, diiringi mata berkaca-kaca.


Mommy Isabella menggelengkan kepala. Ia tidak sependapat dengan penolakan Rebecca.


Deheman seseorang membuat obrolan mereka terhenti sejenak. Ternyata itu adalah Daddy Alfred.


Alfred ikut duduk di sebelah Mommy Isabella.


"Sayang katakan sesuatu kepada Eca. Eca menolak permintaan kita," lirih Mommy Isabella seraya menggoncang lengan Daddy Alfred.


Daddy Alfred mengangguk seraya menenangkan Mommy Isabella sejenak.


"Egois! Yah itu kata yang pantas disandang oleh kami sebagai orang tua. Memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan. Yah itulah yang terjadi kepada kamu dan Keenan. Akibat keegoisan Daddy dan Mommy, maka terjadinya pernikahan ini," papar Daddy Alfred.


Rebecca termangu mendengar setiap kalimat yang diucapkan Daddy Alfred.


"Eca tidak bisa Dad," ucap Eca dengan wajah menunduk seraya meremas jemarinya.


"Nak percayalah, ini semua demi kebaikan," ujar Daddy Alfred seakan engan memberitahu kebenarannya, bahwa yang berjanji adalah mendiang Dea, orang tua kandung Rebecca. Terserah Rebecca menganggap mereka egois serta tak memikirkan perasaannya, tetapi permintaan terakhir mendiang Dea tidak bisa mereka tolak.


"Kamu sayang bukan kepada Mommy dan Daddy? buktikan itu," seru Mommy Isabella seperti mengancam.


Rebecca memejamkan mata. Sungguh saat ini dia bingung.

__ADS_1


"Beri Eca untuk berpikir Dad, Mom." Ucap Rebecca pada akhirnya dengan perasaan kacau balau.


Mendengar ucapan Rebecca membuat kedua paruh baya itu saling memandang.


"Baik Nak, semoga kamu dapat memahaminya," ujar Daddy Alfred.


"Keputusan ini tidak akan berubah. Mohon mengerti sayang. Cinta akan tumbuh seiringnya waktu, walau banyak rintangan atau kerikil untuk mencapai puncak, tetapi percayalah akan indah pada waktunya dan berakhir dengan kebahagiaan," timpal Mommy Isabella.


Rebecca tak bergeming. Ia tak bisa mengatakan apapun lagi.


"Baiklah sayang, segera tidur karena besok kamu harus kembali bekerja. Kamu jangan banyak pikiran," ucap Mommy Isabella.


Rebecca berpamitan untuk segera istirahat. Dan kini tinggallah mereka berdua.


"Mommy minta maaf sayang, merebut kebahagiaan kalian. Tetapi ini bukanlah rencana kami tetapi orang tuamu sendiri yang memintanya, bagaimana mungkin kami menolaknya. Mommy yakin kamu pasti menganggap kami egois dan lain sebagainya," ucap Mommy Isabella sembari memandangi punggung Rebecca yang mulai menghilang.


"Sayang percayalah semuanya akan baik-baik saja," ujar Daddy Alfred menenangkan wanita yang yang sangat dicintainya itu.


"Mereka pasti akan membenci kita sayang. Pasti mereka mengatakan bahwa kita tidak bercermin di masa lalu. Mommy takut jika mereka membenci kita, sedangkan Mommy sangat menyayangi mereka," lirih Mommy Isabella tersedu-sedu seraya terisak.


Daddy Alfred hanya bisa menenangkan dengan usapan dipunggung bergetar itu akibat tangisan.


**


Didalam kamar


Rebecca berdiam diri di balkon yang sengaja pencahayaan redup. Ia berdiri dengan tatapan jauh ke depan.


Ia menadah kepalanya ke atas. Ternyata langit malam ini bertaburan bintang.


"Bintang seandainya kamu berupa manusia, bolehkah aku meminta satu bintang dari jutaan bintang di atas sana? untuk membatalkan keinginan kedua orang tua kami," gumam Rebecca seakan ia sedang berbicara dengan manusia berupa bintang.


Rebecca Kemabli menatap jauh ke depan, memandangi Ibu kota yang padat. Kelap-kelip lampu malam membuktikan kepadatan kota tersebut.


Ssst


Kak Ken sudah memiliki kekasih, bagaimana mungkin pernikahan ini akan terjadi. Oh Tuhan berilah petunjuk untuk menyelesaikan masalah sebesar ini." Rebecca hanya bisa berdoa.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2