
Atas insiden salah paham tadi malam, membuat mereka tidur terpisah. Andre memilih tidur di sofa sedangkan Gabriella di ranjang.
Bukan hanya sekedar masalah itu tetapi karena Gabriella belum siap Andre memilih tidur terpisah karena bisa saja dia tidak dapat menahan nafsunya.
Cahaya sinar matahari membuat tidur pria tampan itu terusik. Dengan terpaksa dia membuka mata perlahan. Seketika ingatannya bahwa dia sudah menikah membuat Andre memutar pandangannya ke arah ranjang, tetapi sosok sang istri tak dia dapati.
"Kemana dia?" gumam Andre seraya memijit pangkal hidungnya.
Andre mengingat dimana Gabriella menyelimuti tubuhnya seraya meminta maaf tanpa disadari dia mendengar semua apa yang di ucapkan Gabriella.
Gabriella beranjak dari ranjang, melihat Andre meringkuk di atas sofa membuat hatinya tergerak. Gabriella menyelimuti tubuh Andre seraya mengusap bekas tamparan yang dia lakukan tadi.
"Aku minta maaf karena tidak dapat menahan emosi. Aku sadar bahwa aku egois," gumam Gabriella dengan tatapan sendu. "Aku memang istri yang tak berguna, tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai istri. Kamu memang pria luar biasa, dengan tulus menerima kekuranganku. Beri aku waktu," lirih Gabriella tidak dapat menahan air mata lagi. Dia seka air matanya lalu mengecup dahi Andre cukup lama.
Andre ingin sekali terbangun saat itu, memeluk dengan erat tetapi dia tidak ingin membuat Gabriella kesal kembali, sehingga membuatnya berpura-pura tidur.
"Sayang aku akan berusaha menjaga perasaanmu, aku tidak ingin membuatmu tersinggung lagi," gumam Andre. Lalu dia bergegas menuju kamar mandi.
Hanya butuh 10 menit dia menyudahi acara mandi karena ingin cepat-cepat menemui Gabriella yang dia yakini berapa di balkon.
Keluar dari kamar mandi. Andre menuju lemari. Niat ingin membuka lemari dia urungkan karena pandangannya tertuju ke atas kasur, di sana Gabriella sudah mempersiapkan pakaian ganti Andre, bahkan bersama dengan dalaman juga.
Senyuman kebahagiaan terukir indah di bibir Andre. Ternyata Gabriella tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, walau lagi marahan.
Hanya perhatian kecil gini saja Andre sudah berbunga-bunga, apa lagi jika lebih dari ini. mungkin seorang Andre loncat-loncat kali.
Hal ini membuat Andre tak sabaran lagi menemui Gabriella. Sejenak dia memperhatikan penampilannya di depan cermin. Merasa sudah oke dia langsung melangkah menuju balkon.
Dari jarak jauh dia mendapati sosok itu sedang berdiri memandangi kota romantis itu, dibawah sinar matahari.
Andre melangkah perlahan tanpa meninggalkan suara. Kedua tangan kekar itu melingkar penuh di tubuh Gabriella.
Tentu saja hal itu membuat jantung Gabriella berdebar karena perlakuan tiba-tiba Andre.
"Selamat pagi sayang," sapa Andre seraya mengecup tekuk leher Gabriella yang terbuka. Aroma tubuh itu membuatnya engan untuk menyudahi, hingga punggung Gabriella meremang atas perlakuan Andre.
"Kamu sudah bangun? sepertinya tidurmu begitu nyenyak?" ucap Gabriella.
"Tentu saja sayang. Hmmm apa kamu sudah sarapan?"
Gabriella menggeleng. "Belum karena menunggu kamu," sahutnya seakan mereka baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa tidak bangunkan? maaf yah sayang jadi buatmu menunggu," ucap Andre dengan nada lembut.
Gabriella memejamkan mata sesaat merasakan pelukan serta kecupan Andre di tengkuknya. Dia tidak menolak karena bagaimanapun sekarang pria yang saat ini memeluknya dari belakang adalah suami sahnya.
Andre melonggarkan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Gabriella agar menghadap kepadanya.
Tatapan keduanya saling beradu.
"Aku minta maaf soal tadi malam," ucap Andre seraya menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Gabriella.
Mendengar permintaan maaf Andre membuat Gabriella memutus tatapan mereka dengan wajah menunduk.
Cup
"Morning kiss sayang," Andre mencium sekilas bibir menggoda itu. Sungguh Andre sangat berani melakukannya dalam kondisi hati Gabriella yang tidak baik-baik saja. Andre hanya berusaha menciptakan kesan romantis.
Wajah Gabriella seketika bersemu merah. Dia tidak memprotes Andre, malah merasa kecewa karena Andre hanya melakukan sebatas itu.
"Sebaiknya kita segera sarapan," ucap Gabriella masih merasa canggung karena kesalahan tadi malam.
Tanpa ingin mengubah mood Gabriella, Andre mengikut saja. Mereka turun dengan saling bergandengan tangan.
Tiba di restoran Andre menarik kursi untuk istri tercinta.
"Biar tidak bingung pesan sarapan menu andalan resto ini saja," ucap Gabriella karena dia juga bingung ingin sarapan apa.
"Benar juga sayang," Andre setuju. Lalu memanggil waiters dan menunjukan menu makanan yang mereka pesan.
Tidak menunggu lama pesanan mereka kini tertata di atas meja. Keduanya menikmati saling mengobrol ringan. Usai sarapan keduanya kembali ke kamar. Sesuai rencana mereka akan jalan-jalan mengiringi menara Eiffel.
Andre menenangkan dirinya, dengan bersantai di balkon. Dia ingin memberi ruang untuk Gabriella.
Ting
Sebuah notifikasi. Kebetulan baru sekarang Andre mengaktifkan ponselnya. Panggilan tak terjawab bagian pesan memenuhi layar ponselnya.
"Alfred," gumam Andre melihat satu pesan dari Alfred.
Ceo bucin: "Kakak ipar bagaimana malam pertama? apakah ada kendala? apa mau tips dariku?"
Ssst
__ADS_1
Andre mendesis membaca pesan omong kosong dari Alfred.
Jomblo akut: "Malam pertama apa? tidak ada malam pertama seperti yang kamu kira. Sungguh aku frustasi."
Diseberang sana Alfred mengerutkan dahi.
Jomblo akut: "Bahkan kami tidur terpisah. Ada sedikit kesalahan tadi malam."
Alfred kembali mengerutkan dahi. Karena merasa penasaran dengan masalah yang dihadapi Andre sehingga dia menghubungi Andre.
Kini mereka berbincang-bincang dalam sambungan telepon. Andre menceritakan dari awal muka kesalahpahaman itu.
Alfred mengatakan Andre harus bersabar. Dan tanpa diketahui sepasang pengantin baru Alfred merencanakan sesuatu.
°°°°°°
Dengan bergandengan tangan kedua pengantin baru yang lagi bulan madu itu berjalan-jalan di area menara Eiffel. Bukan mereka saja yang berada di sana tetapi banyak pasangan pengantin baru yang juga berbulan madu di sana.
"Sayang bagaimana kita duduk saja dulu di sana?" ajak Andre seraya menunjuk sebuah kursi yang kebetulan ada yang kosong.
Gabriella mengangguk. Mereka melangkah ke arah kursi itu.
"Apa kamu kecapean?" tanya Andre seraya mengusap kepala Gabriella dengan penuh cinta, sungguh sangat perhatian. Wanita mana yang tak berbunga-bunga bila diperlakukan begitu.
"Tidak sayang," akhirnya panggilan sayang keluar lagi dari mulut manis itu. Andre sangat senang karena hal sekecil itu.
"Aku tinggal sebentar. Ingin membeli minuman, apa kamu mau ikut atau tinggal di sini saja?"
"Aku tunggu di sini saja, lagi pula tidak jauh bukan?"
"Itu di seberang sana sepertinya ada jual minuman," ucap Andre seraya menunjuk penjual minuman.
Gabriella mengangguk.
"Kenapa Andre sangat lama?" gumam Gabriella karena kepergian Andre cukup memakan waktu beberapa menit, sedangkan dia sudah merasa kehausan.
Karena ingin melihat apa yang dilakukan Andre di sana membuat Gabriella bangkit berdiri, lalu menoleh ke arah di mana tempat yang ditunjukan Andre sebelumnya.
Deg
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪