MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 142~MDS2


__ADS_3

Tiba di Mansion


"Bibi dimana Daddy sama Mommy?" tanya Rebecca ketika tidak mendapati sosok yang biasanya menjelang sore akan bersantai di ruang keluarga.


"Tuan sama Nyonya sedang menghadiri pesta Non, baru saja tadi berangkat," sahut Bibi Fera.


"Oh. Oya Bi, ini Eca untuk Bibi," Rebecca menyerahkan 1 kantong kresek penuh kepada Bibi Fera.


"Terima kasih Non," sahut Bibi seakan tau bahwa itu sudah pasti keperluan pribadinya yang selalu dipenuhi oleh Rebecca.


"Sama-sama Bi," balas Rebecca.


Rebecca langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri dan segera makan malam sendirian karena kedua orang tuanya akan pulang malam.


**


Usai menyantap makan malam. Rebecca duduk sendirian di ruang keluarga, bermaksud menunggu kepulangan kedua orang tuanya.


1 jam lamanya ia di sana. Sosok yang ditunggu-tunggu tiba juga. Senyuman merekah di bibir Rebecca mendapati dua sosok yang selalu menebarkan kemesraan atau keromantisan. Dimana Mommy Isabella sedang digendong ala bridal oleh Daddy Alfred.


"Sayang turunkan Mommy segera," bisik Mommy Isabella.


Dengan gerakan lembut Daddy Alfred menurunkan istri tercintanya itu di atas sofa di samping Rebecca.


"Nak, kenapa tidak istirahat?" ujar Daddy Alfred.


"Belum mengantuk Dad, lagi pula mau nungguin Daddy sama Mommy," sahut Rebecca.


Mommy Isabella menatap Rebecca dengan mata mengembun. Keduanya saling menatap dalam diam sesaat.


"Sayang,"


"Mom,"


Seru keduanya lirih. Keduanya pun saling memeluk, melepaskan rasa sesak di dada masing-masing.


"Eca minta maaf Mom," lirih Rebecca dalam pelukan ternyaman itu.


"Mommy juga minta maaf sayang," balas Mommy Isabella seraya meneteskan air mata. "Mommy sangat menyayangimu," pungkasnya disertai isakan.


Daddy Alfred terenyuh melihat dua sosok wanita yang ada dihadapannya. Wanita yang sangat ia sayangi.


Keduanya saling menguraikan pelukan itu.


Mommy Isabella menangkup wajah cantik Rebecca. "Sayang jujur kepada Mommy maupun Daddy, apa selama ini kamu tidak bahagia tinggal bersama kami? apa selama ini kamu merasa tertekan, oleh aturan-aturan dari kami?" ucap Mommy Isabella dengan mata mengembun, sekali kedip saja maka air bening itu akan bergulir. Benar saya air mata itu tidak dapat ia bendung lagi. Ia seka dengan Ibu jarinya. "Katakan jika perkataan atau perlakuan kami yang membuat kamu tersinggung? Mommy sangat menyayangimu. Sedikitpun tidak terbesit di hati kami untuk membedakan kalian, semua sama bagi kami. Sumpah demi apapun Mommy sangat kaget dan tak menyangka ketika kamu mengutarakan niatmu," sambung Mommy Isabella seraya kembali menyeka air matanya.


Rebecca termangu, tidak bisa berkata apapun. Ucapan Mommy Isabella meruntuhkan hatinya. Melihat wanita hebatnya terluka membuat dirinya bersalah. Selama ini ia tidak pernah membuat wanita hebatnya ini menangis, tetapi kemarin dan hari ini ia berhasil mematahkan hati kedua paruh baya ini.


"Sebelumnya Eca minta maaf Mom, Dad. Demi apapun tidak ada terbesit niat Eca untuk menyinggung perasaan Daddy sama Mommy," ucap Rebecca dengan mata berkaca-kaca. "Niat Eca hanya ingin mandiri, itu saja Mom, Dad," imbuhnya dengan wajah menunduk.


Daddy Alfred maupun Mommy Isabella saling memandang dalam diam.


"Selama ini kamu mandiri sayang, siapa yang mengatakan jika kamu tak mandiri? wajar jika kamu tinggal bersama kami karena universitas kamu satu kota, bukan di luar negeri," pungkas Mommy Isabella tanpa melepaskan tatapannya. "Tatap mata Mommy sayang dan katakan apa yang mengganjal dalam hatimu? apa ini ada hubungannya dengan Kakakmu Keenan?" tebak Mommy Isabella.


Rebecca tersentak kaget mendengar tuduhan itu.


"Ini semua tidak ada hubungannya dengan Kak Ken," sahut Rebecca berusaha setenang mungkin seraya menatap sorot mata Mommy Isabella.

__ADS_1


Mommy Isabella menatap bola mata itu mencari sesuatu di sana. Seketika mendapatkannya ia memejamkan mata seraya memutuskan tatapan itu.


"Mommy sudah tau jawabannya," lirih Mommy Isabella berusaha setenang mungkin.


Hening, ketiganya saling berpikir.


Hmm


"Jadi apa langkah yang ingin kamu ambil Nak?" suara bariton itu membuat lamunan dua sosok itu tersadar.


Rebecca menadah kepalanya untuk menatap Daddy Alfred.


"Tidak Dad," lirihnya seraya menggelengkan kepala.


"Maksudnya tidak bagaimana?" tanya Daddy Alfred memastikan.


"Eca memutuskan tetap tinggal bersama Daddy dan Mommy," ucapnya.


Senyuman miris dipancarkan oleh Mommy Isabella mendengar jawaban Rebecca. Jawaban Rebecca tidak sesuai dengan hatinya.


"Mommy tau kamu terpaksa mengatakan itu sayang," keluhnya dalam hati.


Hmm


"Tidak sayang, keinginanmu itu akan tergapai. Mommy akan membebaskanmu, tetapi tidak untuk sekarang," pungkas Mommy Isabella.


Deg


Mendengar perkataan Mommy Isabella tentu saja membuat Rebecca terbelalak kaget. Apakah ia tidak salah mendengar? itulah yang ia pertanyakan didalam hati.


"Maksud Mommy? maksud Mommy ap......?"


"Maksud Mommy apa ya?" batin Rebecca.


"Sayang sebaiknya kamu segera beristirahat, bukankah besok harus bekerja kembali? Mommy juga sudah mengantuk," ucap Mommy Isabella dengan lembut seraya mengelus rambut halus Rebecca.


Rebecca tersenyum tetapi hatinya masih bertanya-tanya.


"Baiklah Mom, Dad. Selamat malam, semoga mimpi yang indah," sahut Rebecca seraya mengecup pipi kedua orang tuanya.


Kedua paruh baya itu tersenyum dengan hati bahagia memiliki putri selembut dan secantik Rebecca.


Rebecca bergegas menuju kamarnya. Sedangkan kedua pasangan itu juga menuju kamar mereka. Bukan untuk tidur seperti yang dikatakan Mommy Isabella tetapi malam ini Daddy Alfred menagih jatah pulsanya🤫


°°°°°°


5 bulan kemudian


"Honey kapan kamu siap memperkenalkan hubungan kita ini? aku tidak bisa begini terus. Main sembunyi-sembunyi," ungkap Sunny pada akhirnya, sudah tak tahan lagi dengan hubungan mereka. Bukan tidak tahan karena hati tetapi ingin serius dalam hubungan itu yang sudah berjalan 2 tahun lebih.


Keenan terdiam seraya berpikir matang-matang. Apa yang dikatakan kekasihnya itu adalah benar.


"Aku sangat mencintaimu honey, maka dari itu aku ingin kedua orang tua kita mengetahui hubungan ini. Menunggu apa lagi? seperti kesepakatan kita dari awal, setelah kita memimpin perusahaan masing-masing, dan selam setengah tahun kita menjalani peran masing-masing. Jadi apa lagi yang ingin kita tunggu? hmm atau kamu masih ragu dengan perasaanmu sendiri?" papar Sunny panjang lebar.


Keenan menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku rasa juga begitu. Aku akan membicarakan masalah hubungan kita dengan kedua orang tuaku. Honey jangan sedih begini, percayalah semua akan baik-baik saja sesuai rencana kita," pungkas Keenan seraya mengusap punggung telapak tangan Sunny.

__ADS_1


Wajah Sunny langsung berseri-seri mendengar penuturan Keenan.


"Semoga semuanya berjalan sesuai rencana honey," ucap Sunny disertai senyuman manisnya.


Keenan membalas senyuman itu seraya mengusap pucuk kepala Sunny.


**


Keenan baru saja menerima telepon dari orang tuanya, khususnya Mommy Isabella. Mereka akan ke kantor tepat jam makan siang, mereka memberitahukan lebih awal agar Keenan membatalkan jika ada jadwal tepat dalam pertemuan mereka.


"Ada apa tiba-tiba Mommy sama Daddy ingin ke kantor?" gumam Keenan seraya mengusap wajahnya. Hmm ini kesempatan untuk membicarakan hubunganku dengan Sunny," imbuhnya.


Pintu ruangan diketuk. Muncullah Gerry seperti biasanya.


"Tuan ingin makan siang diluar atau saya pesan?" tanya Gerry.


"Tidak perlu. Daddy sama Mommy beberapa menit lagi akan tiba, pastinya Mommy akan membawa makan siang untukku. Jika kau ingin makan pergi saja di manapun kau mau," ujar Keenan.


Gerry sedikit kaget karena selama ini Tuan serta Nyonya Hugo sangat jarang ke kantor, dapat dikatakan tidak pernah.


"Bukankah asik jika makan siang di kantin hmm," batin Gerry seperti memikirkan sesuatu, bahkan mimik wajahnya tak sedingin seperti biasanya.


Hal itu mengundang pertanyaan bagi Keenan.


"Ada apa? apa ada yang lucu?" suara bariton seperti sindiran itu membuat kesadaran Gerry kembali.


"Baik Tuan jika begitu, saya akan makan di kantin saja," ucap Gerry dengan polos.


Alis sebelah Keenan terangkat mendengar perkataan Gerry. Sejak kapan Gerry jadi selera makan di kantin, bukankah selama ini ia tidak pernah menginjakan kaki untuk membeli makanan di kantin kantor? itulah arti dari tatapan Keenan.


"Sejak kapan kau berpindah selera?"


"Coba-coba Tuan, sepertinya menu di sana lezat-lezat. Bukankah selama ini Nona Rebecca selalu makan di kantin," ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Gerry.


Seketika ekspresi wajah Keenan berubah.


"Terserahmu! Kosongkan jadwalku siang ini untuk beberapa jam," titahnya.


Gerry mengangguk seakan paham. Tidak menunggu lama ia keluar dari ruangan CEO.


**


Usai makan siang yang dibawakan oleh kedua orang tuanya Keenan kembali duduk di sofa, dimana kedua orang tuanya sedang berbincang ringan.


"Dad, Mom ada yang ingin aku bicarakan," pungkas Keenan mengawali obrolan serius.


Daddy Alfred maupun Mommy Isabella saling memandang. Bagaimana tidak, Keenan begitu serius ingin membicarakan sesuatu.


"Biar Mommy lebih duluan sayang karena kedatangan kami ke kantor untuk membicarakan maslah penting," papar Mommy Isabella.


"Baiklah Mom," akhirnya Keenan mengalah.


Mommy Isabella menarikan nafas dalam-dalam. Sebelum berbicara ia menoleh kepada Daddy Alfred.


"Sayang menikahlah dengan, dengan Rebecca!"


Deg

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2