MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 97. Belum Berjuang Sudah Menyerah


__ADS_3

"Ada apa denganmu Andre?" ujar Alfred sekali lagi. "Dengan tiba-tiba kau mengundurkan diri, siapa yang mengizinkanmu keluar dari pekerjaan ini? atau kau sudah bosan bekerja denganku? atau aku ada berbuat salah kepadamu? katakan Andre apa alasanmu itu?" papar Alfred dengan pertanyaan bertubi.


Aku mengusap punggung Alfred agar dia bisa tenang dan mendengar penjelasan Andre.


"Tuan tidak punya kesalahan apapun, saya mengundurkan diri karena sekarang Tuan sudah bahagia dengan keluarga baru Tuan," ungkap Andre.


"Hanya itu alasanmu? alasan yang tak masuk akal. Aku memang sudah bahagia tetapi kebahagiaanku lebih sempurna jika kau selalu ada di sampingku Andre. Aku tidak pernah menganggap kau sebagai orang lain, kau satu-satunya yang setia menemaniku dari keterpurukan. Bagaimana mungkin bisa aku mengizinkanmu meninggalkan kami bahkan ingin pergi dari negara ini," pungkas Alfred dengan tatapan sendu.


Mendengar hal itu membuat hati Andre terenyuh, sungguh ucapan Alfred membuatnya terharu.


"Andre jawab dengan jujur. Apa ada masalah lain?" aku coba bertanya langsung, ingin mengetahui atas dasar Andre tiba-tiba ingin mengundurkan diri.


Andre terdiam dengan kepala menunduk.


"Andre apa kau tidak mendengar perkataan istriku?" suara bariton Alfred membuat ruangan itu menggema.


"Sayang turunkan nada suaramu," ucapku lembut kepada Alfred.


"Tidak ada alasan lain Nona, ini murni karena tanggungjawab saya telah usai," elak Andre.


"Bohong," sahutku langsung menjawab ucapan Andre.


Mendengar ucapanku itu membuat Alfred maupun Andre sama-sama menatapku.


"Apa kamu memiliki perasaan dengan Kak Gaby?" tanyaku dengan yakin.


Seketika membuat Andre maupun Alfred membulatkan mata. Andre seketika membeku mendengar tuduhan dariku.


"Apa itu alasannya Andre? tolong jawab dengan jujur karena aku tidak suka dengan orang yang tak jujur, walau apapun alasannya," ucapku dengan tegas.


"Apa itu benar sayang?" bisik Alfred kepadaku karena dia tidak pernah menyangka hal itu, malahan dia menyangka Andre memiliki hubungan spesial dengan Vini.


"Tanyakan langsung kepada yang bersangkutan sayang," jawabku menyindir Andre agar dia berkata jujur.


Alfred langsung menatap Andre dengan serius.


"Andre apa benar begitu?" tanya Alfred ingin mendapat jawaban dari Andre.


"Ingat Andre aku bisa membaca raut wajah serta sorot matamu," ancamku.


Andre mengigit bibir bawahnya sembari menyusupkan jari-jemari tangannya.


"Alasan utama adalah mengenai perasaanku ke Gaby, dan kedua adalah.... "

__ADS_1


"Apa?" Alfred langsung memotong ucapan Andre saking kagetnya.


"Sayang biarkan dulu Andre berbicara," kataku sedikit kesal dengan Alfred karena memotong penjelasan Andre.


Alfred langsung tersenyum nyinyir karena melihat bibirku mengerucut pertanda kesal.


"Lanjut Andre," titahku seperti seorang dosen kepada mahasiswa yang sedang deskripsi lisan.


Andre mengigit dalam pipinya dengan pandangan ke atas meja sofa, dia tidak berani menatap kearah kami.


"Ya saya menyukai Gaby," ujar Andre dengan singkat.


Aku dan Alfred saling memandang dengan banyak pertanyaan yang memenuhi isi otak ini.


"Hmmm sangat lucu bukan? keberanian dari mana orang seperti saya menyukai bahkan jatuh cinta kepada putri dari keluarga terpandang. Sungguh ini adalah lelucon," Andre terkekeh kecil seakan menertawai dirinya sendiri. "Karena rasa cinta ini sehingga membuat saya ingin pergi, bagaimana mungkin saya bisa bersaing dengan dokter Frans yang jelas-jelas berbanding jauh dari saya, sungguh tak pantas saya memiliki perasaan itu," imbuhnya kembali.


"Siapa bilang tidak pantas? cinta tidak memandang buluh dan kasta," ucapku tidak sependapat dengan pandangan Andre. "Belum berjuang kamu sudah mundur," sindirku dengan halus.


"Andre awalnya aku sangat terkejut karena kau orang yang payah menyukai lawan jenis. Selama ini kau tidak pernah memiliki kekasih, bahkan sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang ada di sekelilingmu, tetapi pesona Kakak ipar berhasil merobohkan tembok pertahananmu," pungkas Alfred.


"Bukankah kita sama?" ujar Andre melupakan sesaat atasan dan bawahan.


"Benar begitu sayang?" tanyaku ingin tau.


Alfred mengangguk dengan percaya dirinya. Aku langsung memeluk Alfred, wanita mana yang tak bahagia jika dirinyalah orang yang pertama dalam hidupnya.


Hmmm


"Sorry Andre, kami kira kau adalah patung pajangan sehingga bermesraan," canda Alfred.


Andre menyipitkan mata mendengar lelucon Alfred.


"Tuan izinkan saya mengundurkan diri," mohon Andre tidak main-main.


Kami menatap Andre dengan pikiran masing-masing.


"Tidak! Aku tidak pernah izinkan itu terjadi," ujar Alfred dengan tegas. "Belum berjuang kau sudah mundur, jadi lelaki jangan cemen," papar Alfred.


"Kak Gaby sampai saat ini belum bisa membuka hati untuk menggantikan mendiang Bernat. Tetapi tidak ada salahnya kamu mencoba mendekati dia, perlahan mencoba ambil hatinya. Sainganmu adalah Frans," ucapku kepada Andre.


"Tidak Nona, saya sadar akan keberadaan saya di sini," tutur Andre. "Saya mohon rahasiakan ini dari siapapun termasuk Gaby. Jika begitu saya permisi," imbuh Andre dengan segera bangkit dan bergegas berlalu tanpa ingin mendengar jawaban dari kami terlebih dahulu.


Setelah kepergian Andre keadaan hening. Kami masing-masing sibuk dengan pikiran, yang pastinya mencerna ucapan Andre.

__ADS_1


°°°°°°


Beberapa hari berlalu. Andre benar-benar memantapkan dirinya untuk mengundurkan diri serta pergi dari negara ini dan tinggal bersama Adiknya di negara x.


"Andre aku tidak bisa mencegah keinginanmu, walaupun sekuat apapun aku menolak keinginanmu tetapi kau tetap dalam pendirianmu," ujar Alfred setelah Andre mendatangani surat pengunduran diri.


Brak


Pintu ruangan terbuka cukup keras. Aku masuk dengan nafas terengah-engah.


"Sayang...." panggil Alfred sedikit kaget melihat kedatanganku ke kantor.


Aku langsung mendekati Alfred yang sedang memegang surat pengunduran diri Alfred yang sudah tertanda tangani.


"Andre benar-benar berhenti?" aku bergumam sembari menatap kertas itu.


"Kita tidak bisa mencegahnya sayang," ujar Alfred dengan tatapan sendu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini setia mendampinginya sekarang akan meninggalkannya.


Andre hanya terdiam menunduk.


"Andre apa kamu yakin?" kataku kepada Andre.


"Iya Nona. Terima kasih atas segalanya," ucap Andre.


"Apa kamu tidak ingin menunggu Kak Gaby kembali dari Indonesia?" imbuhku kembali.


Mendengar nama Gabriella membuat Andre mengigit bibir bawahnya. Memang seminggu ini Gabriella berada di Indonesia karena ada urusan.


Andre menggeleng.


"Atas dasar apa saya menunggunya Nona?" pungkas Andre.


Hmmm


Aku mengangguk-angguk.


"Kapan kau akan berangkat Andre?" tanya Alfred ingin tau.


"Lusa Tuan," jawab Andre.


"Masih ada waktu," gumam Alfred begitu saja sehingga membuat aku dan Andre saling memandang karena tidak mengerti dengan perkataan Alfred. "Aku sedikit kecewa kepadamu Andre, kau tidak berusaha membuktikan hatimu. Apa kau tidak lihat bagaimana aku dulu menyakinkan istriku? apapun aku lakukan agar dia mempercayainya, sedangkan kau hmmm belum berperang saja sudah mundur," papar Alfred.


"Masalahnya berbeda Tuan. Saya mencintai Gaby seakan memeluk gunung yang tak sampai. Gaby masih mencintai mendiang Tuan, bagaimana bisa saya mengalahkan Tuan di hati Gaby," ungkap Andre dengan dada sesak serta tatapan sendu.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2