MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 67. Bertemu Daddy


__ADS_3

Sesuai rencana kini rombongan dalam perjalanan. Aku membawa anak-anak kali ini. 30 menit kami sampai ditempat tujuan.


"Saudara Alfred ada yang ingin bertemu," ujar petugas.


Seketika lamunan Alfred membuyar. Dengan alis terangkat dia berpikir siapa yang ingin bertemu, sedangkan Andre maupun dokter Frans sedang di kota x untuk beberapa minggu. Alfred mengetahui itu karena sebelum berangkat Andre terlebih dahulu mengunjunginya.


Dengan langkah gontai Alfred mengikuti petugas menuju ruang temu. Seketika telinganya menangkap bunyi ocehan bayi, dengan tidak sabarnya Alfred melangkah menuju pintu ruangan.


Deg


Seketika langkahnya terhenti tepat diambang pintu. Bagaimana tidak, Alfred melihat pemandangan dimana Keenan bersama Kiran dalam gendongan Mama dan Dea sembari tertawa ketika melihat dirinya.


Jantung Alfred berdebar, lalu dengan tidak sabar mendekati. Seketika semuanya tersadar akan kedatangan Alfred, termasuk aku.


"Sayang....." Lirih Alfred dengan mata berkaca-kaca langsung menciumi Keenan serta Kiran bergantian. Bahkan dia tidak sempat menyapa semua orang. Alfred gendong Keenan terlebih dahulu, memeluknya sangat erat serta menciumi bertubi. Setelah puas dengan Keenan dia gantian menggendong Kiran, sama halnya dengan yang dia lakukan. Semua yang melihat terharu dan terenyuh. "Kalian sudah besar," lirih Alfred kembali, bahkan dia sulit untuk mengeluarkan kata.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Jujur ini momen yang sangat menyesakan dada. Dengan segera kuseka air mata ini agar tidak ada yang menyadarinya.


"Leon kau semakin besar," sapa Alfred sembari mengusap pucuk kepala Leon yang kebetulan berada di dekat Mama.


"Karena Leon makan banyak Dad," sahut Leon dengan polosnya. Oya kenapa Daddy tinggal ditempat polisinya banyak sekali?" tanya Leon belum mengerti dengan keadaan ini.


"Karena Daddy ingin latihan," pungkas Alfred dengan tepat.


Leon mengangguk-angguk seakan mengerti.


"Pa, Ma apa kabar?" setelah melepaskan kerinduan Alfred menyapa kedua orang tuaku.


"Baik sayang," sahut Mama tanpa merasa canggung langsung memeluk Alfred, padahal dalam gendongan Alfred masih ada Kiran. "Sepertinya kamu tidak baik-baik saja?" bisik Mama seperti menahan tangis dalam pelukan Alfred.


"Jangan khawatir Ma, aku baik-baik saja. Hanya saja aku tersiksa berpisah dari anak-anak dan istri," ucap Alfred dengan jujur.


Hatiku semakin tercubit mendengar pernyataan Alfred.


Mama melepaskan pelukan mereka, lalu mengusap wajah Alfred dengan penuh kasih sayang. Alfred sangat terenyuh merasakan usapan itu, seakan Mama adalah Ibu kandungnya yang telah lama tiada.


"Kamu kurusan Nak," akhirnya Papa ikut berkomentar setelah memperhatikan Alfred. Bahkan Papa mengusap bahu Alfred, memberikan kekuatan.


Alfred menghela nafas panjang.


"Diet Pa," sahut Alfred bermaksud bercanda, bahkan disertai tawa kecil.


"Bersabarlah!" Papa kembali mengusap bahu kekar itu.

__ADS_1


Alfred hanya bisa mengangguk. Lalu tak lama pandangannya menyadari kehadiran Moses.


"Adik ipar apakah baik-baik saja?" Alfred menyapa Moses yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, seperti mengetik sesuatu yang sangat penting.


Seketika Moses tersadar.


"Seperti yang kau lihat. Sepertinya kau yang tidak baik-baik saja?" ujar Moses.


"Sayang dia adalah Kakak iparmu!" Peringatan Mama karena Moses memanggil dengan tidak sopan.


Hmmm


"Tidak maslah Ma, mungkin saja belum terbiasa," pungkas Alfred.


Alfred langsung menghampiriku yang sejak tadi berdiri dipojokan. Tanpa merasa malu Alfred langsung memelukku dengan erat, bahkan tidak tanggung-tanggung menciumiku didepan mereka. Wajahku bersemu merah dalam dekapan Alfred.


"Sayang apa kamu baik-baik saja?" lirih Alfred semakin mengeratkan kedua tangan yang melingkar di tubuh semampai milikku. "Aku sangat merindukanmu," bisik Alfred tepat di telingaku sehingga membuat tekuk ini meremang.


Aku berusaha menarik nafas karena jujur saja terasa sesak akibat pelukan erat itu.


"Kami baik-baik saja," lirihku dengan singkat, bahkan tanpa sadar menyelusup wajahku di dada bidang itu.


Alfred tersenyum mendapat pergerakanku yang tiba-tiba itu.


Hmmm


"Mereka sudah besar. Sayang apa kamu sudah mendaftarkan mereka?"


"Daftar? daftar untuk apa?" tentu saja aku bingung dengan pertanyaan aneh Alfred. Apakah Alfred bermaksud ingin mendaftarkan Keenan maupun Kiran masuk asuransi jiwa? itulah pertanyaan di benakku.


Bukan hanya aku yang merasa penasaran dengan maksud pertanyaan Alfred tetapi semua orang.


"Tentu saja daftar sekolah," ujar Alfred dengan santai sembari menciumi Keenan.


"Hah?" ucapku dengan kaget.


Semua orang tercengang mendengar pertanyaan konyol Ayah dua anak itu.


"Sayang mereka masih bayi, buat apa didaftarkan," ucap Mama mewakili sedangkan yang lainnya memijit ujung kening.


"Tidak masalah Ma. Biar mereka cepat pintar," pungkas Alfred tanpa merasa pertanyaan itu sangat konyol.


Semua bungkam karena tidak ingin melanjutkan masalah itu.

__ADS_1


"Jika suatu saat nanti Daddy keluar, Daddy akan berjanji langsung mendaftarkan kalian di sekolah milik keluarga kita bersama Kakak Leon," ujar Alfred dengan sendu, dia sangat berharap bisa keluar secepat mungkin agar bisa bersama-sama dengan buah hati mereka.


"Kamu tenang Nak, kami akan di sini untuk sementara sampai masalah ini selesai. Adikmu Moses akan membantu," ujar Papa menyakinkan Alfred.


Alfred terenyuh mendengar penuturan Papa, ternyata dia sudah salah berbuat jahat kepada keluarga ini, khususnya aku. Sungguh Alfred sangat merasa bersalah.


"Terima kasih Pa atas kepedulian Papa dan yang lainnya. Aku minta maaf selama ini," lirih Alfred dengan wajah bersalah.


"Sayang," lirih Mama sembari mengusap bahu Alfred.


"Kami akan pulang lebih dulu," ujar Papa. Semua seakan paham sehingga bersiap-siap ingin meninggalkan ruang jenguk.


"Sayang baik-baik ya? jangan rewel kasian Mommy. Daddy sayang kalian. Do'akan Daddy agar segera keluar. Leon jaga Adik-adikmu ya?" ucap Alfred dengan wajah sendu bahkan kedua mata itu berkaca-kaca. Alfred cium mereka silih berganti.


"Iya Daddy. Leon akan menjaga Mommy, Keenan dan Kiran seperti superhero," cicit Leon sembari memperagakan jurus sang superhero yang sering ditontonnya di televisi.


Semua tertawa kecil melihat tingkah atau jurus Leon.


Dengan berat hati Alfred melepaskan kepergian kedua bayi mengemaskan itu.


"Bersabarlah aku akan membantu untuk mencari pengkhianat itu," ujar Moses sembari menepuk bahu Alfred.


Alfred mengangguk diiringi bibir mengembang. Akhirnya amarah Moses mulai mencair. Aku merasa lega melihat interaksi keduanya.


Semuanya telah pergi dan hanya tinggal kami berdua. Alfred langsung menuntunku kembali duduk tanpa melepaskan genggamannya.


"Sayang kamu semakin cantik," kagum Alfred dengan tiba-tiba. Bahkan jantungku ingin meledak mendengar pujian luar biasa itu. Dan aku yakin saat ini wajahku bersemu merah.


Aku membuang muka dengan pandangan kearah lain tetapi Alfred tidak membiarkan hal itu terjadi sehingga tangannya meraih wajahku agar tetap menatap ke wajahnya.


"Apa yang terjadi? sepertinya sejak tadi aku memperhatikanmu banyak beban pikiran?. Sayang jangan banyak pikiran, utamakan dulu kesehatanmu karena bagiku pemulihanmu yang paling penting. Buat apa semuanya tuntas tetapi ingatanmu belum juga kembali, bagiku tidak ada gunanya," ungkap Alfred dengan sungguh-sungguh. "Sayang aku ingin ingatanmu pulih kembali," imbuhnya.


Aku menarik tangan yang digenggam oleh Alfred.


"Banyak hal yang ingin aku tanyakan," ucapku langsung ke intinya karena tidak banyak waktu lagi.


Alfred terdiam tanpa melepaskan tatapannya kepadaku. "Tanyakan saja sayang, apa yang mengganjal di hatimu, aku akan jawab jika bisa aku jawab," ujar Alfred sembari tersenyum.


Aku menanyakan semua yang berhubungan dengan kantor, bahkan menanyakan ke hal pribadi.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author semakin semangat💪

__ADS_1


__ADS_2