
Untuk sampai ke daerah yang dituju memerlukan waktu 2 jam. Sepanjang perjalanan kami memilih tidur karena rasa kantuk di pagi hari menarik.
Aku sempat berperang dengan hatiku karena keikutsertaan Alfred dan Andre. Padahal sebelumnya aku bersemangat karena belum mengetahui bahwa dua pria ini ternyata ikut bergabung.
"Dok bangun," Yuen menepuk lenganku agar terbangun.
Aku menguap.
"Sudah sampai ya?" tanyaku serak khas bangun tidur.
"Iya dok tinggal kita yang belum turun, semuanya sudah turun dan kini kumpul di sana," kata Yuen sembari menunjuk rombongan yang sudah berkumpul lewat jendela mobil. "Ayo dok sebelum Tuan tampan mencecar kita," ajak Yuen sembari membantu membawa barang bawaanku.
Aku dapat melihat warga setempat sudah berkumpul di lapangan sepak bola yang sudah di sulap dengan tenda sehingga dapat menampung ratusan warga dari mulai bayi, balita sampai lansia.
Sebelum memulai tugas kami absen terlebih dahulu. Kami memiliki tugas masing-masing sesuai bidang keahlian.
Dokter Frans mendekati aku yang sedang melamun memandangi anak-anak.
"Melamun apa? pagi-pagi kok melamun?" oceh dokter Frans sehingga membuyar lamunanku.
"Anak-anak itu sangat asik tertawa lepas tak ada beban," ucapku tanpa melepaskan tatapanku kepada beberapa anak-anak yang sedang asik bercanda gurau. Sedangkan beberapa dari orang tua mereka sibuk mengamankan agar mereka tetap diam.
"Hmm sepertinya dokter menyukai anak-anak," ujar dokter Frans.
"Sudahku bilang jangan formal," aku langsung layangkan pukulan pelan di bahu dokter Frans. "Setiap wanita pasti menyukai anak-anak," sahutku.
"Tidak enak didengar karena ditempat umum," ujar Frans.
Aku terkekeh halus.
"Aku ingin kembali menjadi anak kecil agar lepas tak ada beban," kataku.
Kening dokter Frans mengerut mendengar lelucon yang kusampaikan.
"Jika masih kecil tidak mungkin kita bisa sampai ditempat ini,"
"Benar juga ya?" aku tertawa kecil.
Tanpa kami sadari ternyata ada sosok pria yang menatap tajam, siapa lagi jika bukan Alfred. Status suami tak terlihat oleh siapapun di sini kecuali aku dan Andre.
Tugas pertama selesai, masih ada beberapa lagi tempat yang akan di kunjungi.
Sebelum meninggalkan tenda aku membagikan coklat satu-persatu kepada anak-anak. Coklat itu sengaja aku beli untuk di bawa. Mereka dengan senang hati menerimanya, dan bahkan sebagian memeluk diriku mengucapkan terima kasih. Sungguh aku terenyuh dengan perlakuan mereka, bagiku ini adalah momen terindah. Akupun tidak lupa mengabadikan lewat foto dan video.
Beberapa dokter dan perawat pria menatap takjub dengan apa yang aku lakukan.
°°°°°°
Saat ini tempat terakhir bagi kami. Sebelum melaksanakan tugas kami berkesempatan untuk makan siang, tidak ini sudah lewat jam makan siang karena cukup sibuk.
"Dok sepertinya dokter tidak menyukai makanan ini?" kata Yuen menyadari gelagatku yang sejak tadi hanya mengaduk makanan yang ada didalam piring.
__ADS_1
"Ya untuk saat ini aku menghindari makanan yang mengandung cabai," sahutku sembari menatap Yuen yang sangat lahap, bahkan porsi itu mungkin saja tidak cukup baginya.
"Waduh bagaimana ini? sedangkan semua makanan itu mengandung cabai," kata Yuen dengan panik.
"Tidak apa-apa Yuen, aku makan roti saja. Kebetulan ada bawa," aku berucap dan tak ingin Yuen merasa khawatir.
"Makan roti tidak akan kenyang dok,"
"Dalam darurat," kataku sedikit menyunggingkan senyuman.
"Apa tidak masalah?" Yuen masih mempermasalahkan.
"Anggap saja aku orang barat hmm,"
"Baiklah," oceh Yuen sembari mengunyah dengan mulut penuh.
Aku membawa piring nasi yang belum aku makan mendekati anak lelaki yang sedang sendirian di pojokan sana.
"Hai tampan," sapaku tak lupa disertai senyuman. Panggilan itu membuat anak tampan ini mengubah cara duduknya.
"Iya Bu dokter," sahutnya.
"Siapa namamu?"
"Leon Bu dokter,"
"Nama yang bagus. Hmm apa Leon mau makan? ini Bu dokter bawain," kataku sembari menunjuk piring yang ada di tangan.
"Terima kasih Bu dokter," kata Leon sembari menelan ludah melihat makanan didalam piring itu.
Aaa....
Leon membuka mulutnya lebar-lebar. Menerima suapan pertama. Leon berusia empat tahun, bocah gembul itu sudah yatim piatu sejak bayi. Leon dibesarkan oleh Paman dan Bibinya.
Aku sangat tertarik kepada Leon. Ingin rasanya aku membawanya ikut tetapi semua itu butuh usaha. Alfred pasti tidak setuju. Ingin rasanya aku membicarakan itu kepada Alfred tetapi bagaimana caranya karena aku tidak ingin ketahuan.
"Leon sudah kenyang Bu dokter," kata Leon dengan polosnya.
"Sekali lagi ya? ini suapan terakhir," bujukku.
Leon seakan mengerti kembali menerima suapan itu. Aku sedikit heran karena Leon anak yang kuat makanan pedas. Bahkan sedikitpun dia tidak mengeluh.
"Terima kasih Bu dokter, makanannya enak sekali. Baru kali ini Leon makan yang enak seperti ini," celoteh Leon dengan polosnya.
Dadaku sesak mendengar pengakuan Leon. Ini hanya ayam teriyaki dan sayuran tetapi bagi Leon ini sungguh makanan paling enak yang baru dirasakannya.
Setelah makan aku membawa Leon ketempat yang cukup sepi. Kini kami duduk dibawah pohon yang berdaun rindang.
"Bu dokter punya coklat, Leon mau?" aku mengeluarkan sisa coklat dalam tasku.
"Tapi kata Bibi nanti gigi Leon busuk Bu dokter," kata Leon.
__ADS_1
Aku tersenyum. "Tidak masalah sayang, asalkan Leon rutin sikat gigi," kataku memberi pengertian.
Disela gurauan kami Alfred melangkah semakin mendekat karena posisinya di depan kami. Tentu saja hal itu membuatku kesal. Pandangan kami bertemu.
"Bu dokter lihat sana burungnya terbang bersama Papa dan Mamanya," cicit Leon sembari menunjuk arah dimana tiga ekor burung terbang sehingga memutuskan pandanganku kepada Alfred.
Rupanya Alfred sedang menerima telepon, makanya itu dia mencari tempat sepi.
"Apa ini kesempatanku berbicara dengan Alfred?" aku bergumam dalam hati.
Merasa yakin aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara tentang membahas Leon.
"Leon tunggu Bu dokter sebentar ya? jangan kemana-mana," ucapku kepada Leon dan mendapat anggukan karena Leon lagi asik menikmati coklat pemberianku.
Aku melangkah kearah Alfred dengan perasaan gugup.
"Aku ingin bicara, apakah kamu punya waktu?" kataku.
Alfred memasukan ponsel kembali kedalam kantong celananya lalu menoleh kearahku.
"Aku tidak punya waktu,"
"Sebentar saja karena ini sangat penting,"
"Pekerjaanku lebih penting," tanpa pikir panjang Alfred melangkah.
"Aku ingin mengadopsi anak itu," kataku sehingga menghentikan langkah Alfred. "Aku ingin membawa Leon untuk tinggal bersama kita, eh maksudku tinggal bersamaku. Aku hanya minta izin," imbuhku dengan mengigit bibir bawahku.
Alfred membalikan badan menghadap kepadaku. Aku dapat melihat raut wajah masam Alfred.
"Rumahku bukan tempat penampungan," ujar Alfred tanpa perasaan. Aku yang mendengar itu mengepalkan tangan. Entah terbuat dari mana hati yang dimiliki Alfred.
Aku menghela nafas panjang.
"Aku mohon, kasian anak itu dari bayi sudah menjadi yatim piatu. Selama ini Paman dan Bibinya yang merawatnya. Aku tertarik pada anak itu," lirihku mengutarakan hatiku.
Alfred tak menjawab, rupanya Alfred memandangi Leon yang sedang asik makan coklat.
"Aku tidak akan merepotkanmu dan minta biaya untuk urusan Leon,"
"Terserahmu, itu bukan urusanku," ujar Alfred sembari meninggalkanku.
"Apa dia mengizinkan?" gumamku mencerna ucapan Alfred. "Aku harus membicarakan dengan Paman dan Bibi Leon,"
°°°°°°
Dengan wajah bersinar Leon menerima permintaanku. Tidak sulit untuk membawa Leon karena sebenarnya perekonomian keluarga Paman dan Bibi Leon jauh dikatakan mampu. Mereka juga sangat bersyukur kepadaku karena dengan suka rela mengadopsi Leon.
Rekan kerjaku menjuluki aku dengan hati selembut kapas karena akulah orang pertama yang bersedia mengadopsi anak dari pendalaman.
Kini kami sudah berada didalam bus. Tiba-tiba ada pengumuman jika sebelum pulang rombongan sepakat ingin ke pantai. Mendengar nama pantai membuat tubuhku panas dingin, bahkan sudah bergetar.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author semakin semangat💪