MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 112. Honeymoon


__ADS_3

Tujuan mereka adalah Paris. Dimana tempat yang dijuluki negara paling romantis di dunia.


Sebenarnya Andre ingin menolak kado dari kedua mertuanya. Tetapi kembali lagi, mungkin ini kesempatan bagi dirinya untuk menata hati Gabriella. Wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya itu.


"Sudah sayang, kamu juga pasti kelelahan," ucap Gabriella dengan lembut saat Andre sejak tadi memijit pergelangan kakinya.


"Mau tidur di sini saja atau di kamar?" tanya Andre.


"Di sini saja sayang," sahut Gabriella.


Andre lalu merubah kursi duduk Gabriella agar lebih nyaman baginya untuk bersandar. Perjalanan masih panjang.


Tidak menunggu lama kedua pengantin baru itu terlelap. Melepas kelelahan, seharian menyambut tamu undangan.


°°°°°°


Perjalanan panjang membuahkan hasil. Mereka tiba dengan keadaan selamat.


Mereka akan menginap selama dua minggu di Villa yang paling terkenal romantis. Keadaan kamar yang sudah di taburi kelopak bunga mawar merah membuat jantung keduanya berdebar.


Sungguh kedua orang tua mereka sudah mempersiapkan ini semua. Paket bukan madu ya g sangat istimewa.


"Sayang kita makan dulu atau membersihkan diri?" tanya Andre kepada Gabriella yang sedang membereskan isi koper mereka ke lemari.


"Sebaiknya mandi saja sayang. Kamu duluan saja, aku masih bereskan ini dulu," ucap Gabriella.


Hmmm


"Apa sebaiknya mandi bersama?" goda Andre seraya mengedipkan mata.


Seketika wajah Gabriella memerah, walaupun dia tahu bahwa itu hanya sebuah candaan tetapi tetap saja membuatnya canggung.


Setelah mengatakan itu Andre segera masuk kedalam kamar mandi. Sejujurnya dia ingin sekali melakukan acara mandi bersama. Bukankah sepasang pengantin baru memang seharusnya melakukan hal-hal yang romantis? tetapi saat ini dia hanya bisa mengigit jari.


"Aku minta maaf Andre, sungguh untuk saat ini aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri," lirih Gabriella dengan mata berkaca-kaca seraya menatap pakaian milik Andre.


Setelah menata pakaian Andre, kini Gabriella menata pakaiannya. Dahinya mengerut melihat beberapa paper bag. Setahu dia tidak pernah memasukan itu kedalam koper. Karena penasaran Gabriella membongkar isi dari paper bag.


Seketika matanya melotot mendapati baju berbahan tipis. Yaitu lingerie tipis, lengkap dengan **********.


"Ada apa sayang?" Andre pura-pura bertanya padahal dia melihat sangat jelas apa yang ada di tangan Gabriella.


Aaa.... k


Teriak Gabriella kaget serta malu. Sehingga lingerie itu terlempar menyangkut di wajah Andre yang saat ini bertelanjang dada.


Sedangkan mata Gabriella kembali membulat dengan tubuh membeku. Bagaimana tidak, lingerie itu menutupi wajah Andre.


Andre meraih lingerie itu, lalu memperhatikannya dengan cermat.

__ADS_1


"Baju apaan ini? seperti saringan?" tanya Andre tanpa melepaskan lingerie warna merah itu.


Gabriella menelan ludah, lalu segera merampas lingerie dalam genggaman Andre.


"Ini pasti ulah Mama atau Abel," ucap Gabriella dengan ketus. "Sayang segera kenakan pakaianmu," titahnya karena tidak nyaman dengan keadaan Andre, bahkan Gabriella menunduk.


Andre tersenyum, menurutnya siapa Gabriella sangat lucu.


"Panas sayang," goda Andre.


Gabriella mengigit bibir bawahnya dengan jantung tak karuan.


"Baiklah ini aku sudah diapain pakaianmu. Aku ke kamar mandi, lagi pula cacing-cacing dalam perut sudah demo," ucap Gabriella yang sebenarnya untuk menghindari Andre.


Andre mengangguk, masih tersenyum.


"Kamu sangat lucu sayang," gumam Andre selepas kepergian Gabriella ke kamar mandi. Bukannya mengenakan pakaian Andre malah membaringkan tubuhnya setengah badan di atas sofa panjang serta lebar, seraya memandangi langit-langit kamar.


Sangat sayang sekali bila ingin merusak atas kasur yang telah tertata rapi, serta bertaburan bunga mawar bentuk hati.


"Daddy, Mommy. Aku sudah mendapat kebahagiaan. Sekarang sudah ada wanita yang mendampingiku yaitu istriku yang sangat aku cintai," gumam Andre dengan mata berkaca-kaca.


**


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Gabriella keluar dengan pakaian sudah lengkap di tubuhnya karena dia membawa pakaian ganti kedalam kamar mandi tadi.


Andre tersadar dalam lamunannya. Lalu menoleh kearah Gabriella. Melihat Gabriella sedang mengusap rambut basahnya membuatnya bangkit.


"Sini biar aku keringkan rambutmu sayang," Andre langsung menarik tangan Gabriella, menuntunnya duduk di depan meja rias.


Gabriella menelan ludah. Bagaimana tidak, dia dapat melihat dengan jelas roti sobek milik Andre. Yang sejak tadi dia hindari.


Andre serius mengusap rambut itu. Gabriella memang sengaja tidak ingin menggunakan hairdryer karena bisa mengakibatkan rambut kering.


Dengan penuh kesabaran Andre mengusap sampai air itu tak menetes.


Pandangan keduanya bertemu dalam batangan cermin.


Andre menyisir serta mengoleskan vitamin rambut.


"Kamu sangat cantik sayang," puji Andre serius. Seketika wajah Gabriella bersemu merah.


Andre mengecup pucuk kepala Gabriella seraya menghirup aroma shampo serta vitamin rambut yang menyejukkan hati bagi Andre.


"Baiklah aku sampai lupa, bukankah tadi kamu mengatakan sudah lapar," ujar Andre seraya bergegas menggunakan pakaiannya didalam ruangan yang sama. Hal itu membuat jantung Gabriella kembali tak karuan.


Dia hanya bisa memandang ke arah lain. Sebenarnya ini tidak masalah tetapi entah kenapa hatinya masih belum bisa menerima sepenuhnya.

__ADS_1


°°°°°°


Malam menjelang


Seusai makan malam di restoran yang terdapat dalam villa itu keduanya kembali ke kamar. Untuk hari ini mereka hanya berada di villa saja. Kebetulan keduanya masih kelelahan dalam perjalanan yang cukup panjang.


"Sepertinya di balkon cukup menyenangkan," ujar Andre.


"Apa sebaiknya kita bersantai di sana saja?" ucap Gabriella bermaksud ingin mengenal Andre lebih dalam. Anggap saja mereka masih proses pacaran, mengenal satu sama lainnya.


"Apa tidak masalah? kamu kelihatan masih kelelahan," ujar Andre seakan mengerti.


Gabriella menggelengkan kepala.


"Anggap saja kita kencan," goda Gabriella sekenanya.


Senyuman pepsodent Andre membuat Gabriella salah tingkah. Andre menuntut Gabriella berjalan menuju balkon.


Tiba di balkon keduanya dapat memandangi kota romantis itu. Mereka dapat memandangi menara Eiffel dari kejauhan.


Keduanya berdiri dengan pandangan jauh menuju menara Eiffel.


"Apa kamu sering ke sini?" tanya Gabriella tanpa menoleh.


"Sering sih tidak tetapi jika ada pekerjaan yang mengharuskan ke sini maka aku yang selalu mewakili Alfred," papar Andre.


Gabriella manggut-manggut.


"Besok-besok kita berkunjung ke penthouse milik keluarga, kebetulan di area menara Eiffel," ucap Gabriella seraya menoleh kepada Andre yang kini sedang asik menatap dirinya hingga tatapan mereka bertemu.


"Baiklah," sahut Andre seraya mendekap kepala Gabriella, meletakkannya di dada bidangnya dengan senyuman.


Gabriella tak menolak, melainkan merasa nyaman diperlakukan begitu. Usapan jari-jemari di kepalanya sangat menenangkan.


"Hmmm boleh tahu, kamu memiliki berapa mantan pacar?" tanya Gabriella mengarah ke hal pribadi masa lalu. Mendengar pertanyaan Gabriella membuat Andre tersenyum.


"Apa kamu ingin tahu?" Andre malah balik bertanya.


"Tentu, makanya aku bertanya," sahut Gabriella dengan wajah memelas.


Andre menuntun wanita yang kini menyandang sebagai istrinya tetapi sayangnya belum membuka hati sepenuhnya. Kini mereka duduk saling berdampingan.


Andre mengigit pipi dalamnya, berselancar di masa lalu.


"Tidak ada yang spesial," Andre memulai menceritakan. "Aku memiliki hanya satu mantan cinta monyet ketika masih SMA. Ketika tamat hubungan kami tidak bertahan lama karena masing-masing sibuk dengan kegiatan kuliah. Dia menempuh pendidikan di negara lain sehingga kami menjalani hubungan LDR, itu hanya bertahan 6 bulan. Dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang yang berjalan hampir tiga tahun," ungkap Andre seperti berpikir.


Mendengar pengakuan Andre membuat Gabriella membuang muka. Ada perasaan aneh yang dia rasakan.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2