MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 152~MDS2


__ADS_3

Usai acara pemberkatan. Kini mereka akan mengelar resepsi yang diadakan di taman Mansion.


Didalam kamar


Rebecca kembali di rias. Ia menggunakan gaun warna putih menjuntai. Sedangkan Keenan menggenakan jas warna hitam, dengan dalaman kemeja warna putih.


Usai merias para penata rias keluar dari kamar tersebut. Kini tinggallah kedua mempelai yang baru saja sah menyandang suami istri.


Rasa canggung diantara keduanya sangat terlihat jelas.


"Dia tumbuh menjadi gadis sangat cantik," batin Keenan, curi-curi pandang kepada Rebecca, seraya memasangkan dasi.


Rebecca sangat memukau dalam balutan gaun yang begitu pas di tubuhnya. Rambut panjangnya sengaja hanya digerai saja. Sungguh kecantikan itu luar biasa.


"Kak Ken biar aku pasangan dasinya," ucap Rebecca seakan menyadari jika Keenan kesulitan memasangkan dasi. Entah kenapa pada saat ini ia merasa kesulitan, padahal bisanya ia sendiri yang memasangkan dasi.


"Aku bukan Kakakmu lagi. Apa kau mengalami amnesia sehingga melupakan jika beberapa jam lalu kita sudah menikah?" ujar Keenan dengan wajah tidak suka.


Glek


Apa yang dikatakan Keenan benar bahwa sekarang status mereka sudah beda.


"Terus aku panggil apa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut polos Rebecca.


Keenan terdiam karena ia juga tidak tau. Kecanggungan kembali menyelimuti keduanya.


Tanpa berucap lagi Rebecca segera mengulurkan tangannya untuk memasangkan dasi di leher Keenan dengan jantung berdetak tak karuan.


Jarak wajah keduanya sangat begitu dekat, hingga hembusan nafas saling menerpa wajah masing-masing.


Bukan hanya Rebecca saja yang merasakan hal itu, jantung Keenan juga tak kalahnya bermasalah.


"Selesai," ucap Rebecca sangat pelan tetapi anehnya ia tidak memundurkan tubuhnya, begitu juga dengan Keenan.


Sepertinya kedua pasangan pengantin baru itu ingin mengungkapkan sesuatu dalam pernikahan mereka tetapi keduanya sama-sama gengsi.


"Hmm besok adalah keberangkatanku. Apa keputusanmu, apakah tetap tinggal di Mansion atau di apartemen?" tanya Keenan.


Mendengar kalimat berangkat membuat dada Rebecca sesak. Sungguh miris pernikahannya. Dari terpaksa hingga akan berpisah selama kurang lebih 2 tahun. Bahkan mirisnya lagi keberangkatannya besok.


"Menurut Kak Ken, eh hmm kamu bagaimana?" tanya Rebecca canggung karena kebiasaannya belum hilang.


Keenan terdiam sesaat.


"Sebaiknya kamu tetap tinggal di Mansion," ujar Keenan.


Rebecca menggeleng tidak setuju.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu masih bersikeras tinggal di luar? biar bebas begitu?" seketika nada meninggi dari Keenan. Mendengar Rebecca ingin tinggal di luar membuatnya ada rasa tidak suka.


"Bukan begitu. Aku hanya ingin belajar mandiri. Bukankah sekarang aku bukan tanggungjawab kedua orang tua kita?" ucap Rebecca. "Aku akan tinggal di apartemen milikmu sampai menunggu kamu kembali," lirih nya dengan nada berubah, seperti ada kesedihan.


Keenan mencerna setiap kalimat dari ucapan Rebecca.


"Selama aku tidak ada, tanggungjawab perusahaan akan diserahkan sementara padamu. Aku harap selama aku tidak ada, tak ada masalah dalam perusahaan."


"Aku akan berusaha mengemban tanggungjawab itu," sahut Rebecca.


Sesaat keduanya kembali hening. Rebecca memberanikan diri menadah wajahnya ke atas, menatap Keenan yang rupanya sejak tadi tak lepas dari wajahnya hingga tatapan keduanya bertemu.


"Pernikahan penuh dramatis," gumam Rebecca tanpa melepaskan tatapannya. "Kamu sangat tampan sekali. Harusnya aku bahagia karena impian serta khayalanku dimasa kecil terkabulkan. Kini kita benar-benar nyata sebagai pasangan pengantin," Rebecca membatin. Tanpa sagar satu tetesan air mata berhasil bergulir di pipinya.


Keenan menyadari hal itu hingga membuat aliran darahnya menyeluruh. Jantungnya tak berhenti berdetak. Bahkan dengan Sunny ia tidak pernah merasakan jantungnya bermasalah.


Keenan seka air mata itu menggunakan Ibu jarinya. Rebecca baru tersadar setelah merasakan sentuhan jari itu.


Buk


Tidak tahan lagi Rebecca langsung melemparkan tubuhnya memeluk Keenan, menyembunyikan wajahnya yang sudah di rias di dada bidang itu.


"Bohong jika aku tidak bahagia, sungguh aku sangat bahagia bisa bersanding dengan dirimu. Pangeran impian sejak kecil, pangeran yang selalu aku rindukan, pangeran yang berhasil membuat aku sulit bernafas. Aku tidak munafik dengan perasaan ini," batin Rebecca. "Aku berjanji akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku. Semoga dengan pernikahan terpaksa ini, hatimu mencair," imbuhnya yang tentunya berani berucap didalam hati.


Rebecca semakin mengeratkan pelukannya, ia tidak peduli dengan tanggapan Keenan. Bahkan kedua tangan Keenan masih betah menggantung.


Pelukan pertama kali mereka rasakan kembali setelah dewasa. Bahkan tanpa sadar, Keenan menaruh wajahnya di pucuk kepala Rebecca sembari memejamkan mata.


°°°°°°


Kedua mempelai memasuki acara resepsi. Ribuan tamu undangan sudah memadati acara itu digelar. Dari dalam negeri maupun mancanegara.


Bukan hanya sekedar dari kolega saja terapi semua yayasan panti asuhan serta lansia dalam naungan HUGO GRAUP juga ikut serta menghadiri pesta terbuka itu.


Menyambut kedatangan mempelai membuat pandangan mereka menyoroti kedua mempelai sedang berjalan menuju singgasana.


Senyuman yang di pancarkan keduanya membuat para tamu undangan terpesona.


"Tidak pernah menyangka bahwa mereka bukanlah saudara kandung. Tetapi lebih cocoknya sebagai pasangan suami istri. Tampan serta cantik," bisikan dari para tamu undangan.


"Sungguh pasangan romantis. Pokoknya perfek," bisik yang lainnya.


"Pantas saja selama ini tidak ada gunjingan kabar bahwa mereka memiliki hubungan dengan orang lain, ternyata keduanya saling punya," imbuhnya yang lainnya.


Begitulah kicauan-kicauan dari tamu undangan seperti lautan api itu.


Dimana Keenan memberi lengannya untuk digandeng oleh Rebecca. Kelip-kelip kamera menyoroti setiap rangkaian acara. Bahkan disiarkan langsung dalam beberapa channel.

__ADS_1


**


"Kenapa kamu menangis?" tiba-tiba suara bariton itu membuat lamunan Felisha membuyar.


Dengan segera ia mengusap air mata itu. Tentu saja air mata bahagia menyaksikan sang sahabat melepas masa lajangnya.


"Bukan urusan Tuan," sahut Felisha seakan engan menatap Gerry.


Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Gerry.


"Apa kamu ada masalah?" demi apapun Felisha kaget melihat perubahan seorang atasan balik es itu. Apakah dia salah minum obat? itulah pertanyaan yang ada di dalam benaknya.


"Masalah? tentu saja setiap hidup di bumbui oleh yang namanya masalah. Masalah cinta, masalah pekerjaan, masalah rumah tangga dan lain sebagainya," celoteh Felisha.


Dahi Gerry mengerut mendengar pernyataan Felisha.


"Apa statusmu istri orang?" pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari mulut Gerry.


"Apa? jangan asal bicara. Gini-gini masih kembang kompleks," cicit Felisha dengan wajah cemberut.


"Hai Fel, sendiri kah?" tiba-tiba sesosok pria seusia Felisha mendekat.


"Bryan, iya aku sendiri," sahut Felisha.


"Sama dong, aku juga sendiri," ujar Bryan seakan akrab.


"Tumben, Sisi mana? biasa bagai lem dan perangko," sindir Felisha, ia akan melupakan sesosok yang sejak tadi menguping obrolan mereka dengan tatapan tidak suka kepada Bryan.


"Biasalah. Bosan tinggal buang," sahutnya dengan gampang. Hal itu membuat Felisha meradang, ia sebenarnya tidak suka kepada pria seperti Bryan. Tetapi karena ada Gerry ia terpaksa berinteraksi dengan Bryan.


"Ayo, katanya tadi ingin ke toilet." Tiba-tiba Gerry menarik tangan Felisha, ingin membawanya menjauhi Bryan.


"Dia siapa?" tanya Bryan.


"Calon suaminya," ujar Gerry, segera pergi membawa Felisha.


Felisha membeku, dengan mulut menganga mendengar lelucon itu.


Tiba di tempat sepi Felisha menepis genggaman Gerry di pergelangan tangannya.


"Apa maksud Tuan mengatakan lelucon seperti itu? tidak lucu tau. Saya jadi malu karena memiliki calon suami seperti Om-Om."


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_1



__ADS_2