MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 71. Mimpi Indah


__ADS_3

"Maaf Mr. Zero saya tidak bisa memenuhi undangan makan malam anda, dikarenakan bertepatan dengan acara kumpul keluarga, kebetulan keluarga dari Indonesia berkunjung dan malam ini akan diadakan makan malam diluar. Sekali lagi saya minta maaf," jelasku dengan tenang, padahal itu adalah kebohonganku semata. Bagaimana mungkin aku bersedia makan malam diluar sana, apa lagi bersama seseorang pria yang baru aku kenal, itupun hanya sekedar klien. Sedangkan suamiku mungkin melewati malam penuh kedinginan didalam sel tahanan.


"Tidak perlu minta maaf Nyonya. Saya tidak bisa memaksa, mungkin saja waktunya tidak tepat," ujar Mr. Zero dengan maksud dilain waktu, ada kekecewaan yang dia rasakan.


Aku menanggapi dengan senyuman kecil, sembari melirik Vini serta Sera. Sedangkan yang dilirik hanya menunduk saja.


"Baiklah, kami rasa tidak ada lagi yang dibicarakan. Untuk itu kami permisi," ujar Mr. Zero karena setelah ini mereka juga akan menemui klien yang lainnya, untuk masalah pekerjaan pria ini tidak akan main-main. Ada saatnya untuk bersantai dan untuk bekerja, itulah prinsip pria bermata coklat itu.


Kami semua beranjak bangkit berdiri sembari berjabat tangan kembali.


"Terima kasih Mr," ucapku setelah berjabat tangan.


Mr. Zero mengangguk disertai senyuman lepas.


"Sampai bertemu kembali," ujar Mr. Zero sebelum meninggalkan ruangan.


Aku mengangguk.


°°°°°°


Di sini, di kamar pribadi yang terdapat di ruangan itu aku mengistirahatkan tubuhku. Aku memberitahukan Vini serta Sera untuk tidak menganggu, aku akan menghabiskan waktu sampai jam kerja usai.


Akhir-akhir ini waktu istirahatku berkurang bahkan bisa dikatakan hanya memejamkan mata sesaat, begitu juga kebersamaan dengan anak-anak. Ya untuk saat ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, akan ada waktunya untuk ketiga buah hatiku.


Aku membaringkan tubuhku di kasur empuk itu. Aroma maskulin masih melekat di bantal atau guling, itu aroma maskulin milik Alfred.


Ingatanku terlintas dimana dulu aku pernah merawat Alfred ketika dia sakit. Dimana aku membersihkan kotoran muntahannya, memijit tengkuknya. Ah itu membuatku semakin memikirkan Alfred.


Kuraih selimut serta guling, lalu mulai memejamkan mata. Berharap bisa tidur dengan nyenyak, serta mimpi indah.


Mimpi


{"Sayang gendong."}


{"Hmm istri cantikku sangat manja, tetapi aku suka itu."}


{"Boleh dong sekali-sekali kembali ke pase anak-anak?"}


{"Tidak masalah sayang bahkan kapan saja kamu minta suamimu ini siap siaga, asalkan...."}


{"Asalkan apa?"}


{"Asalkan selalu siap kapan saja aku minta jatah."}


{"Cup..... cup.... cup.... }


Aaak....


Aku bangun sembari berteriak, dengan nafas terengah-engah.


Huh.... huh....


Aku menelan ludah, awam kesadaran belum pulih sepenuhnya.


"Ya ampun ada apa dengan diriku ini sampai mimpi begituan?" aku bergumam dengan wajah memerah, bagaimana tidak dalam mimpiku itu sedang bersama dengan Alfred dimana aku bermanja-manja selayaknya pasangan suami istri yang romantis. Lebih konyolnya lagi dalam mimpi itu Alfred menghujani aku dengan ciuman bertubi di seluruh wajahku.


Aku segera menutup wajahku dengan selimut tebal itu. Aku seperti sudah kehilangan akal sehat, andai saja Alfred tau tentang mimpi itu berapa malunya aku, dan hal itu tidak akan aku biarkan.


Dret....

__ADS_1


Ponselku bergetar di atas nakas di samping tempat tidur.


["Iya halo Vin...."]


]"Nona saatnya jam pulang kantor."]


["Baiklah aku baru saja bangun."]


Vini mengingatkan jam pulang kantor seperti yang aku minta sebelumnya.


"Ternyata sudah sore," kataku sembari turun dari tempat tidur, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahku agar kembali fresh.


Tidak ingin berlama-lama aku segera keluar dari ruangan setelah semuanya beres. Rasa rinduku kepada anak-anak begitu besar, setiap jam aku menghubungi Dea hanya untuk melihat mereka.


°°°°°°


Seusai makan malam seperti biasanya kami akan berbincang-bincang di ruang keluarga. Banyak hal yang kami bahas yang tidak luput dengan masalah perusahaan Alfred.


"Besok adalah sidang Alfred dan sekaligus bebas," ujar Moses sehingga berhasil membuat kami menatapnya.


"Apa kamu yakin Nak?" tanya Papa menyakinkan Moses.


"Sayang Mama percaya kepadamu," timpal Mama.


"Dek bagaimana mungkin Alfred dibebaskan karena kita tidak memiliki bukti sama sekali," aku ikut berkomentar. "Apa kamu melakukan hal yang...."


"Tentu Kak, karena hanya itu yang bisa dilakukan saat ini agar Kakak ipar dapat bebas," ujar Moses langsung memotong perkataanku. "Aku sengaja menyewa pengacara terkenal di negara x untuk menangani kasus ini, dan aku yakin keberuntungan berpijak kepada kita," imbuhnya.


Aku menghela nafas panjang.


"Alfred bebas tetapi nama baiknya masih tercoreng karena tidak ada yang membuktikan bahwa bukan dia yang melakukan pelanggaran itu," lirihku.


Hmm


Aku hanya bisa pasrah. Sebenarnya aku ingin nama Alfred segera dibersihkan dengan kebebasannya.


Sedangkan Papa sama Mama merasa lega karena mereka sangat prihatin atau peduli dengan keadaan Alfred.


°°°°°°


Keesokan harinya


"Aku akan ke perusahaan pagi ini bersama Leon," kataku kepada Papa sama Mama, sedangkan Moses sudah berangkat sejak pagi karen ingin mempersiapkan semuanya.


"Sayang bukankah siang nanti kita akan ke pengadilan?" ucap Mama.


"Iya Ma, kami akan berangkat dari kantor. Jadi Mama sama Papa tidak perlu menunggu kami lagi," terangku. Entah kenapa aku tertarik untuk pergi ke kantor pagi ini, seperti ada saya tarik yang kuat.


"Baiklah sayang jika itu yang terbaik," sahut Mama.


"Nak sebaiknya urungkan niatmu ke kantor, siapkan diri sementara sebelum kita ke kantor pengadilan," ujar Papa keberatan dengan usulanku. Entah kenapa perasaan Papa tiba-tiba tidak enak dengan kepergian kami.


"Papa aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaan saja, itupun tidak lama. Aku sengaja bawa Leon sekalian, kebetulan hari ini Leon libur sekolah," kataku dengan kekeh.


"Baiklah," kata Papa dengan terpaksa.


Singkat cerita!


Didalam ruangan aku langsung mendaratkan bokongku di kursi kebesaran, sedangkan Leon berbaring di sofa dengan robot mainan kesukaannya.

__ADS_1


Aku sibuk dengan laptop di atas meja, mengetik sesuatu didalam sana.


"Ini alamatnya," aku bergumam sembari meraih selembar kertas HVS, serta mencari-cari pena di atas meja tetapi benda itu tidak aku temukan.


Hatiku tergerak untuk mencari didalam laci meja. Aku membuka laci meja tetapi terkunci. "Dimana kuncinya," ucapku dengan pandangan ke seluruh arah. Seketika senyuman mengembang mendapati kunci terletak didekat bola dunia.


Aku kembali duduk dan segera membuka laci meja karen ingin segera mendapatkan pena. Tanganku meraba-raba dalam laci.


Deg


Mataku membulat mendapati benda kecil yang selama ini aku cari, bahkan aku masih sangat ingat itu benda milikku.


Jantungku berdebar-debar memegang memory card itu. Dengan situasi mendesak aku menyempatkan waktu untuk memeriksa kembali rekaman itu, ternyata itu rekaman yang selama ini aku cari. Aku segera mengcopy lalu segera menutup laptop.


"Sayang ayo kita segera ke pengadilan," kataku kepada Leon.


Leon bangun dari rebahnya.


"Ayo Mom, Leon sudah tidak sabar ketemu Daddy," cicit Leon. Sedangkan aku sudah tidak tenang dan ingin segera sampai ketempat tujuan tanpa halangan.


Aku membawa Leon dengan langkah panjang menuju lift karena waktu mendesak, bahkan tidak sadar jika lift yang kami masuki adalah umum.


Huh....


Aku menghela nafas, berusaha tenang.


"Mom, Leon tidak sabar ketemu Daddy," ucap Leon sehingga lamunanku buyar.


"Iya sayang," sahutku dengan singkat. Bahkan aku tidak menyadari di belakang kami dua pria memperhatikan kami.


Ting


Aku segera menarik tangan Leon. Leon mengeluh karena aku tergesa-gesa sehingga membuatku menggendongnya menuju loby.


Sampai di mobil aku langsung melajukan kendaraan menuju kantor pengadilan yang menghabiskan waktu setengah jam.


Tiba-tiba


Brak


Mobil yang aku kendarai di tabrak dari arah belakang sehingga membuat aku mengeram mendadak.


Awww


Teriak Leon karena sangat kaget.


Brak....


Entah sudah berapa kali belakang mobil dihantam. Dengan keberanian luar biasa aku melaju dengan kecepatan tinggi, aku tau bahwa jarak ke kantor pengadilan hanya membutuhkan 5 menit lagi.


"Mom, Leon takut. Jangan laju-laju Mom," celoteh Leon sembari memejamkan mata.


"Sayang berpegangan erat," ucapku tanpa memperdulikan larangan Leon.


Tiba di depan gedung pengadilan aku menepikan mobil dan segera membawa Leon turun.


"Sayang ayo cepat turun," teriakku dengan nada cukup meninggi.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2