MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 151~MDS2


__ADS_3

"Putri sekaligus menantu Mommy sangat cantik," puji serta kagum Mommy Isabella melihat Rebecca kini menggunakan gaun warna putih menjuntai ke lantai. Itu adalah gaun untuk pemberkatan di Gereja.


"Terima kasih Mom," jawab Rebecca berusaha tersenyum.


Sungguh hari ini ia sangat cantik, seperti princess.


"Sayang, Mommy sangat bahagia," ungkap wanita itu dengan mata berkaca-kaca seraya mengusap wajah Rebecca penuh kasih sayang. "Bukankah begitu sayang?" tanyanya kepada Daddy Alfred.


Daddy Alfred mengangguk terharu.


"Ya Tuhan demi apapun aku tidak bisa membuat mereka terluka bila aku menolaknya. Lihatlah senyum bahagia itu," batin Rebecca melihat rona bahagia di wajah kedua orang tua sekaligus calon mertuanya.


"Daddy sendiri yang akan menyerahkanmu kepada calon mempelai pria," ujar Daddy Alfred. Hal itu sungguh membuat air mata Rebecca tumpah seketika, tidak mampu lagi dibendung.


Seharusnya yang menghantar dirinya untuk menyerahkan ke calon mempelai pria adalah orang tuanya tetapi karena status Rebecca, sehingga Daddy Alfred yang turun tangan.


"Sayang jangan menangis, sayang riasanmu jadi rusak," lirih Mommy Isabella ikut terisak.


Daddy Alfred mengusap air mata itu menggunakan punggung Ibu jarinya.


"Daddy tidak ingin mendapati air mata ini lagi, kecuali air mata kebahagiaan. Daddy menyayangimu seperti putri Daddy sendiri, kamu tetaplah Eca kecil, manja, cerewet di hati Daddy. Bahkan diantara ketiga saudaramu, kamulah yang paling dekat dengan Daddy." Ungkap Daddy Alfred seraya memegang kedua bahu Rebecca. "Daddy minta maaf sekali lagi telah memaksa kalian," imbuhnya tanpa sadar meneteskan air mata.


Rebecca semakin tak sanggup membendung tangisnya. Ia langsung memeluk pria tampan itu, tersedu-sedu dalam pelukan ternyaman itu.


Mommy Isabella terenyuh melihat dia sosok yang amat disayanginya sedang mengungkapkan perasaan.


"Sayang sini," panggil Daddy Alfred, sehingga Mommy Isabella ikut bergabung.


Di ambang pintu dua sosok ikut terharu.


"Daddy sama Mommy sangat menyayangi Eca, pantas saja tidak ingin Eca menjadi milik orang lain," bisik Kiran.


"Selama ini Daddy sama Mommy menjaga jodoh buat Keenan," timpal Leon. "Kenapa jodohku tak sekalian dijaga?" canda Leon.


"Karena Kakak beda," cicit Kiran.


"Beda bagaimana? Kakak juga putra mereka," protes Leon.


"Kakak sudah tua, makannya Daddy sama Mommy memberi kebebasan untuk Kakak memilih. Bukankah dokter Leonardo Hugo adalah dicap playboy? jadi buat apa Daddy sama Mommy sibuk untuk mencari jodoh," cicitnya kembali, lalu segera masuk kedalam kamar.


Sedangkan Leon terpaku dengan kening mengerut.


"Apa dia mengatai aku sudah tua? masih tampan begini, sepertinya mataku bermasalah Dek," geram Leon ikut melangkah masuk, ia ingin memberi pelajaran kepada Kiran.

__ADS_1


Hmmm


Deheman Kiran membuat ketiganya menyudahi melepas haru.


"Kan Daddy sama Mommy menghancurkan riasan princess," protes Kiran, melihat riasan wajah Rebecca berantakan. Air mata itu membuat riasan tipis di wajahnya rusak.


"Tinggal panggil penata rias sayang, mereka bisa meriasnya lagi," ucap Mommy Isabella dengan terkekeh.


"Tidak perlu, biar aku yang rapikan sedikit. Tanpa make up Adikku tersayang ini sudah cantik karena pada dasarnya memang cantik, bahkan mengalahkan Mommy sama Kakaknya ini," celoteh Kiran seraya merapikan penampilan Rebecca.


"Tidak ada yang mengalahkan kecantikan istri Daddy," protes Daddy Alfred, tidak setuju dengan pernyataan Kiran.


"Iya....iya memang istri Alfred Hugo yang paling cantik di dunia ini," ucap Kiran.


Mommy Isabella menggelengkan kepala, sedangkan Leon maupun Rebecca tersenyum lepas. Sayangnya di tengah-tengah mereka sosok Keenan tidak ada karena ia sudah duluan berangkat ke Gereja di antar oleh Gerry, dan di dampingi Opa, Oma dan Gabriella serta Andre.


"Dad, Mom carikan juga jodoh buat putra sulung kalian. Tega sekali aku dilangkahi hiks hiks...." Canda Leon.


"Cari sendiri, bukankah itu kemauanmu sendiri," sahut Mommy Isabella seakan cuek.


Leon mendekat kepada wanita luar biasa itu.


"Tolonglah Mom, aku rasa sudah kebelet kawin eh menikah," imbuhnya kembali seraya mengecup wajah cantik itu.


°°°°°°


Tiba di Gereja


Daddy Alfred menggandeng lengan Rebecca, mendampinginya berjalan di altar. Menyerahkannya kepada putranya sendiri.


"Sayang rileks," bisik Daddy Alfred.


"Eca gugup Dad," bisik Rebecca.


Senyuman mengiringi langkah mereka. Para jemaat Gereja serta keluarga besar dan sahabat mengembangkan senyuman menyambut mempelai wanita yang didampingi orang tua mempelai pria.


Daddy Alfred menyerahkan Rebecca kepada putranya Keenan. Keenan menunduk hormat kepada Daddy Alfred.


Keenan dapat melihat raut haru di wajah pria yang ia panggil Daddy itu seraya menyerahkan Rebecca.


Kini keduanya berdiri dihadapan Pendeta.


**

__ADS_1


Pengucapan janji suci pernikahan


"Rebecca, saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


"Keenan Hugo, saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


Tatapan keduanya saling mengunci dengan bibir terucap. Rebecca bahkan tidak dapat membendung air matanya.


Sumpah janji suci pernikahan ini hanya diinginkan sekali seumur hidup.


Keenan menyematkan cincin bertahta berlian yang didesain sendiri ke jari manis bagian kanan Rebecca. Rebecca membalas menyematkan pasangan cincin itu di jari manis kanan Keenan.


"Sekarang kalian sudah sah sebagai sepasang suami istri. Silahkan cium istri saudara."


Mendengar perintah dari Pendeta membuat tubuh Keenan maupun Rebecca membeku.


Dengan canggung Keenan mendaratkan kecupan di bibir Rebecca. Hal seperti ini tidak bisa dihindari karena memang itu kewajiban setiap mempelai.


Mata Rebecca membuat serta jantung berdebar merasakan bibir itu menempel dengan bibir lawan jenis.


Ciuman pertama kali ia rasakan, begitu juga dengan Keenan.


**


"Sayang Mommy mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Posisimu hampir mirip dengan masa lalu Mommy, menikah dengan keterpaksaan," gumam Mommy Isabella, dan itu didengar oleh Daddy Alfred.


"Daddy minta maaf sayang. Pernikahan mereka seperti yang terjadi kepada kita dulu," bisik Daddy Alfred dengan dada sesak.


Senyuman dari kedua mempelai membuat semua orang ikut berbahagia. Senyuman palsu tentunya, sungguh kedua mempelai itu sangat pintar memerankan keadaan agar tidak ada yang curiga.


Acara pemberkatan telah usai.


Satu-persatu memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat sayang akhirnya kalian sah sebagai pasangan suami istri. Mommy sangat bahagia, masih diberi kesempatan untuk menjadi saksi serta menyaksikan pemberkatan pernikahan kalian," ucap Mommy Isabella seraya menangis haru.


"Son jadilah kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Cintai dan sayangi istrimu seperti kamu menyayangi kedua orang tuamu. Jangan hancurkan kebahagiaan seluruh keluarga," pesan Daddy Alfred.


Keenan maupun Rebecca mengangguk seakan paham.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan vote like favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2