MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 58. Biar Waktu Yang Menjawab


__ADS_3

Pagi menjelang aku berusaha membuka mata. Ternyata keluarga sudah berkumpul di kamar rawat dan anak-anak sudah wangi yang ada dalam gendongan Papa sama Mama.


Aku bangun tetapi pandanganku ke seluruh isi kamar tetapi tidak menemukan sosok Alfred. Ingatanku tadi malam masih membekas dimana dia membantu memompa ASI bahkan memberi pijatan, agar melancarkan.


"Kamu sudah bangun sayang?" kata Mama sembari tersenyum.


"Maaf Ma aku jadi bangun kesiangan," kataku sembari menguap.


"Tidak masalah sayang, kesehatanmu lebih penting. Hmm sepertinya tidurmu tadi malam begitu menyenangkan," goda Mama.


Aku mengernyitkan kening mendengar Mama karena belum paham.


"Sebaiknya kamu segera membersihkan diri sayang, beberapa jam lagi kita akan berangkat," kata Mama.


"Baik Ma," aku langsung bangkit melangkah hati-hati masuk kamar mandi.


°°°°°°


Kini kami sudah bersiap-siap berangkat ke bandara. Tetapi sampai sekarang aku tidak melihat sosok Alfred, apa karena dia dilarang oleh keluargaku, khususnya Moses sehingga engan melihat kepergian anak-anaknya.


"Sayang ada apa?" tanya Mama sama sekali tidak memahami perasaaanku karena bagi Mama aku seperti orang asing.


"Tidak ada apa-apa Ma," sahutku tanpa menunjukan sikap lain.


"Hmm apa kami mencari Alfred?" tebak Mama seakan tau perasaanku.


Aku menggeleng seakan mengelak.


"Alfred pagi-pagi tadi izin pergi ke kantor karena ada masalah serius dengan rumah sakit ini. Tapi katanya akan mengantar kepergian kita, hmm tetapi sampai sekarang belum kembali, mungkin masih sibuk," terang Mama.


Deg


Seketika aku menegang, mungkinkah masalah penyelewengan keuangan rumah sakit ini. Apa Alfred tidak melihat memory card yang kuletakan di atas kartu black card sewaktu itu. Aku merasa tidak tenang, ingin sekali memberi tahu tetapi tidak mungkin aku lakukan karena bisa saja kebohonganku terbongkar.


"Oh," sahutku hanya ber oh ria.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Moses kepada Mama.


"Sudah sayang," sahut Mama sedangkan aku sibuk dengan pikiranku yang mengarah kepada Alfred.


"Kak biar aku yang dorong," ujar Moses ingin mendorong roda.


"Baiklah," jawabku pura-pura merasa canggung. Sedangkan Gabriella sudah pulang ke Indonesia dengan perasaan hampa, bahkan keterangan dari Moses dia banyak mengunci dirinya didalam kamar. Merasa bersalah dengan semua yang terjadi yang berakar dari dirinya.


Kini kami sudah berada di bandara dan bahkan sudah berada didalam pesawat jet pribadi. Sedangkan Alfred belum juga menampakan dirinya. Si kembar sejak tadi rewel dan bahkan engan nyusu. Mama serta pengasuh kewalahan mendiamkan si kembar.


"Sayang sini sama Mommy," aku langsung menggendong Kiran karena Kiran yang lebih rewel. Sudah dalam gendonganku tetap saja Kiran masih menangis.


"Sayang apa masih lama?" tanya Mama kepada Papa.


"30 menit lagi sayang," sahut Papa.


Keenan maupun Kiran semakin menangis, dan bahkan tidak ingin di gendong.


"Apa mereka sakit?" tanyaku dengan cemas.


"Sepertinya tidak Nona," sahut suster yang setiap menjaga 24 jam.

__ADS_1


Brak


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Alfred yang datang, semua orang menoleh.


Huh..... huh....


Nafas Alfred terengah-engah.


"Kenapa mereka menangis?" tanya Alfred disela nafas lelahnya. "Sayang sini sama Daddy," Alfred langsung menggendong Kiran terlebih dahulu, seketika Kiran langsung terdiam. Semua tercengang karena sejak tadi bayi mungil itu rewel.


Alfred kecup bertubi dengan mata berkaca-kaca. Dalam sekejap Kiran telah terlelap. Dengan hati-hati Alfred meletakan Kiran didalam box. Kini giliran Keenan yang berada dalam gendongan Alfred, sama halnya dengan Kiran. Keenan langsung terlelap.


Keenan diletakan kembali ke box setelah mendapat kecupan lama dari Alfred.


Semua terdiam memperhatikan Ayah dan anak itu dengan perasaan terharu. Tapi tidak bagi Moses, sakit hatinya kepada Alfred sangat dalam sehingga sedikitpun tidak menggetarkan hatinya. Mungkin saja dia bisa memaafkan Alfred jika aku tidak mengalami amnesia.


"Sebaiknya kita keluar," ujar Papa seakan mengerti.


Semuanya beranjak keluar kamar sedangkan Moses engan untuk beranjak. Tatapan tajam serta tidak sukanya kepada Alfred terpancar di mata maupun raut wajahnya.


"Sayang beri waktu buat mereka," ucap Mama sembari menarik tangan Moses.


"Jangan macam-macam," peringatan Moses.


Aku menelan ludah pura-pura tidak menanggapi itu. Kini tinggallah kami berdua serta anak-anak yang sudah terlelap dengan nyenyak.


Alfred mendekat lalu mendaratkan bokongnya ikut duduk di sampingku. Sesaat dia menatapku dengan lekat-lekat.


"Aku mengikuti keinginanmu, mungkin kamu ingin menenangkan diri dulu. Mungkin keadaan ini membuatmu syok seperti yang kamu katakan bahwa kamu merasa baru terlahir. Ya untuk sementara aku mengalah tetapi jangan pisahkan aku dengan anak-anak," ungkap Alfred tanpa melepaskan tatapannya sehingga membuatku tidak nyaman. "Sayang aku memiliki harta yang berharga dan tak ternilai yaitu kalian bertiga, hanya kalian bertiga keluarga yang kumiliki," imbuhnya dengan mata memerah.


Aku tercengang, jujur dada ini terasa sesak.


Mendengar pertanyaanku membuat Alfred mengalihkan tatapannya ke arah box anak-anak.


"Mommy pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya sejak aku masih kecil, dan sedangkan Daddy bersama Adikku pergi secara bersamaan 3 tahun yang lalu," lirih Alfred dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf aku tidak tau," lirihku merasa bersalah karena tanpa sengaja mengingatkan Alfred tentang kejadian itu.


Alfred kembali menatapku dengan tersenyum, ya senyum dipaksakan.


"Masih banyak yang belum kamu ketahui, jadi aku harap kamu segera pulih kembali. Aku tidak ingin hidup dengan rasa penyesalan dan rasa bersalah," ungkap Alfred sembari mengusap punggung tanganku. "Aku adalah pria, suami dan Ayah tidak baik bahkan tidak pantas dengan sebutan itu tetapi aku berusaha memperbaiki semuanya," imbuhnya dengan tatapan sendu.


Aku terdiam. Aku sudah salah menilai. Dari awal aku menilai bahwa amnesia bohong ini keberuntungan bagi Alfred karena aku tidak mengingat apapun tetapi itu tidak menguntungkan bagi Alfred, bahkan dia berharap ingatanku kembali pulih. Ada apa dengan pria ini? dia berubah menjadi pribadi yang baik dan bahkan peduli.


"Aku masih ada pekerjaan di sini yang tidak bisa di tinggalkan beberapa bulan ini. Setelah semuanya tuntas aku akan menemui kalian," terang Alfred karena memang perusahaannya mengalami masalah besar.


Aku hanya bisa mengangguk menanggapi perkataan Alfred.


"Hmm bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" permintaan Alfred membuatku membeku. Aku dapat melihat sorot mata itu seperti sebuah permohonan.


Aku mengangguk canggung.


Alfred langsung memelukku begitu erat dan tak ingin dilepaskan.


"Ya Tuhan apa ini? dulu aku yang memohon kepadanya untuk mengusap perutku dan kini dia yang memohon," aku membatin tanpa sadar meneteskan air mata. Untungnya aku menyembunyikan wajahku di dada bidang itu.


"Aku baru sadar kamu sangat berarti dalam hidupku," Alfred membatin sembari menciumi pucuk kepalaku.

__ADS_1


Merasa cukup Alfred melepaskan pelukan itu. Seketika tatapan kami bertemu sangat intens.


"Terima kasih," ucap Alfred sembari mengusap wajahku dengan lembut.


Alfred merogoh kantong celananya mengambil dompet, lalu meraih sebuah kartu yang pernah aku pegang.


"Simpan ini, jika butuh sesuatu ini dipakai," ujar Alfred.


Tiba-tiba benda kecil jatuh di atas kasur, itu adalah memory card. Pandangan kami sama-sama memperhatikan benda itu.


Aku meraih kartu memory card itu lalu menyerahkannya pada Alfred, berharap dia segera memeriksa isi rekaman itu.


"Sepertinya ini kartu memory," kataku.


"Apa kamu tidak mengingatnya?" tanya Alfred ngaco.


"Memang apa hubungan aku dengan kartu memory itu?" pancingku. "Ayo Al periksa segera memory card itu karena kebenaran ada di sana," aku membatin.


"Hmm itu kartu milikmu yang kemungkinan terselip waktu itu," ujar Alfred tidak paham. "Oya ponselmu dimana?" tanya Alfred karena pada saat kejadian tidak menemukan ponselku.


"Maaf aku tidak ingat dan tidak tau dimana keberadaan ponselku. Hmm tetapi sebaiknya periksa dulu, mungkin saja itu memory milikku," pancingku.


Alfred tersenyum.


"Iya nanti akan aku periksa," ujar Alfred karena dia penasaran, bisa jadi dia menemukan foto bahkan videoku dalam memory card itu.


Aku merasa lega.


"Baiklah waktunya kalian berangkat," ujar Alfred sembari melirik arloji di tangannya.


Alfred mendekati box Keenan dan Kiran. Dia kecup bertubi-tubi wajah mungil itu sebagai perpisahan mereka.


"Sayang baik-baik di sana, jangan rewel kasian Mommy," ujar Alfred tanpa berkedip menatap wajah terlelap Keenan maupun Kiran. Bahkan Alfred meneteskan air mata.


Alfred seka air mata itu lalu membalikan badannya, melangkah mendekat.


"Sayang jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi aku. Aku titip Keenan, Kiran."


Cup


Alfred mendaratkan kecupan di keningku. Lalu melangkah keluar. Di ambang pintu Alfred membalikan badan menatapku dengan wajah sendu. Dia lalu berusaha menyunggingkan senyuman.


Aku memandangi punggung Alfred sampai tak terlihat dengan perasaan bingung.


Tes tes


Air mata mengalir begitu saja tanpa diminta.


"Mungkin ini yang terbaik. Aku lelah dengan semua penderitaan ini, biarkan waktu yang menjawab."




Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


•Cukup 2 bab hari ini karena author kembali fokus ke dunia nyata🤣😂 dunia halu akan kembali besok🤭


__ADS_2