MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 14. Dia


__ADS_3

Sesuai janjiku kepada Pak Seun kini kami berada di sebuah cafe terbuka. Sebenarnya Pak Seun menolak karena tidak pantas tetapi aku tetap memaksa. Kami membicarakan banyak hal, saling bertukar cerita.


Pak Seun mungkin seumuran dengan Papa, tetapi karena ia bekerja keras sehingga terlihat tua. Aku membelikan bulu untuk istri Pak Seun.


Tidak terasa kami menghabiskan waktu 3 jam hanya duduk di cafe. Aku juga memberikan beberapa lembar unang kepada Pak Seun karena telah mengambil waktunya untuk bekerja. Seperti biasa Pak Seun menolaknya tetapi aku langsung meletakan uang itu di tangan Pak Seun dan segera membuka gerbang.


Aku memasuki rumah dengan keadaan kosong.


"Sepertinya Serena pergi," gumamku langsung melangkah menuju dapur. Mataku membulat dengan rahang mengeras melihat keadaan dapur yang berantakan. Sepertinya Serena sengaja melakukan itu kepadaku. Karena sedikit lelah aku tinggalkan dulu urusan dapur, setelah mengistirahatkan tubuh ini baru akan beberes.


Aku terbangun menjelang petang. Aku merutuk diriku sendiri karena bisa tidur selama itu. Ya untuk memancing mata ini tadi aku menyempatkan diri membaca buku, tanpa sadar aku terlelap.


Aku keluar kamar langsung menuruni tangga yang terhubung langsung dengan area dapur. Seketika langkahku terhenti melihat meja makan telah di isi dua sosok pria dingin dan kejam menurutku. Di sisi lain khususnya di wastafel aku melihat Serena menyibukkan diri.


Aku menghela nafas panjang.


"Drama akan dimulai," batinku harus siap menerima umpatan serta makian Alfred.


Aku melangkah pelan, niatku adalah ingin masak untuk makan malam buatku sendiri.


"Nona," sapa Andre menyadari kedatanganku.


"Sudah bangun Nyonya Isabella?" suara bariton Alfred menghentikan langkahku tepat berada di belakangnya.


Tiba-tiba Serena bergegas menghampiri meja makan.


"Honey lihat kuku-kukuku jadi hancur berantakan, kulit telapak tanganku jadi kasar," adu Serena dengan manja berdiri di samping Alfred sembari menunjukan tangannya.


Mataku menyipit mendengar aduan Serena seperti wanita manja. Alfred meraih tisu lalu mengusap telapak tangan Serena yang masih basah. Aku tertekun melihat kepedulian Alfred kepada Serena. Serena melirikku dengan tersenyum mengejek.


"Kau yang menghancurkan dapur tetapi tidak bisa kau kembali membersihkannya," ujar Alfred dengan menghujam, bahkan bangku yang didudukinya di putar menghadap kepadaku yang masih di posisi awal aku berdiri.


"Maaf," sahutku tidak berani menatap Alfred.


"Gara-gara mencuci perabot kotor dan dapur berantakan menyebabkan kuku-kuku indahku hancur," timpal Serena ikut menyalahkanku.


"Bukankah itu perbuatanmu sendiri?" gumamku sengaja membuat Serena kesal dan aku melupakan kehadiran Alfred ditengah kami.


"Kamu membalikan fakta Isabella?"

__ADS_1


"Apa selama ini kamu tidak pernah mencuci piring dan lain-lain? apa kamu makan menggunakan daun sekali pakai langsung dibuang? itulah tugas wanita, mau dia wanita karir itu sudah menjadi kewajibannya apa lagi menyandang sebagai istri. Aku saja putri orang terkaya di Indonesia tidak luput dari kewajiban itu," ujarku panjang lebar tanpa sadar.


"Apa kamu bilang putri Januar? mimpimu terlalu jauh," ejek Serena menganggap aku terlalu bermimpi. Berarti Serena belum tau jati diriku.


"Terserah kamu bilang jika aku bermimpi terlalu jauh Tante, itu sah-sah saja,"


"Tante? kamu panggil aku Tante? kita seumuran Isabella," sahut Serena tak terima dengan sorot mata tajam.


"Memang seumuran tetapi sayangnya wajahmu boros,"


"Kau!"


Serena langsung menjambak rambutku dengan kuat sehingga aku sedikit menjerit.


"Hentikan!"


Suara bariton Alfred melerai pertengkaran kami. Serena pun melepaskan jambakan dari rambutku.


Di sisi lain Andre tertawa mendengar aku mengatai Serena Tante dan wajahnya boros, tentu saja tawa tertahankan, mana berani dia terbahak-bahak.


"Honey dia berani sekali mengatai aku Tante dan wajahku boros," adu Serena kembali bergelayut manja di tangan Alfred.


"Andre antar Serena ke apartemen," titah Alfred.


"Sebaiknya kita tunda. Aku ada urusan mendadak, pulanglah bersama Andre," ujar Alfred dengan wajah dingin sembari melepaskan lingkaran tangan Serena di lengannya.


"Baiklah," sahut Serena dengan raut wajah kesal, berlalu dengan sengajanya menyenggol bahuku. Aku memutar bola mata malas.


Kini hanya tinggal kami berdua. Aku masih berdiri di tempat semula sedangkan Alfred memandangiku dengan tajam.


"Apa kau bangga menunjukan jati dirimu? bagus berarti siap-siap menerima kabar serangan jantung dari kedua orang tuamu," bentak Alfred sembari tersenyum menyeringai.


Mataku membulat serta tubuh menegang mendengar penuturan Alfred. Aku menggeleng dengan mulut bergumam jika aku tidak ingin hal itu terjadi.


"Sadar akan statusmu!"


Aku terdiam sembari menahan bukit bening ini. Bukan karena caci maki Alfred yang menyebabkanku ingin menangis tetapi jika nama keluargaku sudah dibawa-bawa sungguh pertahananku hancur.


"Mama tadi menghubungiku karena ponselmu tidak bisa dihubungi," ujar Alfred berhasil membuat aku mengangkat wajah menatap kearahnya. "Mama bilang kau selalu menghindari setiap mereka ingin menelepon," ujarnya kembali dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

__ADS_1


Aku memilih diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Prang


Bunyi pecahan kaca membuat aku memejamkan mata. Alfred melempar gelas ke lantai tanpa sebab.


"Kalau orang berbicara jawab!" Bentak Alfred sembari bangkit berlalu meninggalkanku.


"Aku harus menjawab apa? lebih baik memilih diam," gumamku dengan mata berkaca-kaca. Aku mengerti kenapa Alfred melayangkan gelas, itu karena merasa kesal akan sikapku. Pria kejam itu melampiaskan dengan gelas kaca, ya sekarang sebutanku kepadanya pria kejam karena itulah kenyataannya.


Aku melangkah hati-hati, mengumpulkan pecahan gelas yang sudah berceceran. Tanganku meraih pecahan besar dengan tatapan nanar.


"Tidak akan aku biarkan kau mati sekarang, permainanku belum selesai," suara Alfred mengejutkanku.


Alfred kembali ke meja makan karena kunci mobilnya lupa yang tergeletak di atas meja makan.


"Mati? sangat aneh. Siapa juga yang ingin bunuh diri? aku juga tidak ingin mati sekarang sebelum aku mengetahui dibalik ini semua," batinku.


°°°°°°


Hari ini adalah pertama aku masuk kerja di rumah sakit terbesar di negara itu. Menghindari keterlambatan aku kini sudah siap meluncur. Aku mengenakan celana warna krim dengan dalaman kemeja warna senada dan di padukan dengan jas dokter tentunya warna putih.


Aku menapaki kaki memasuki lobby dengan semangat 45. Senyuman tidak lepas dari bibirku. Aku langsung diarahkan menemui bagian kepala rumah sakit. Aku berdoa bukan Alfred lagi yang aku temui, dan doaku kali ini terkabulkan.


Aku masuk setelah dipersilahkan.


"Selamat pagi Pak," sapaku.


"Selamat Pagi, silahkan duduk."


Aku pun bergegas menduduki diriku.


"Apa dengan Ibu Isabella?"


"Yah benar saya bernama Isabella, Pak."


Penjelasan dari kepala rumah sakit cukup jelas bagiku. Aku keluar ingin menuju ruangan yang sudah tersedia. Di depan lift aku tercengang melihat sosok pria yang tidak asing bagiku tengah berbicara dengan ponsel menempel di telinganya keluar dari dalam lift. Aku masuk kedalam lift.


"Dia," gumamku tanpa berkedip memandangi punggungnya sebelum pintu lift tertutup rapat.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat🙏


__ADS_2