
Setelah acara resepsi mewah kami bersiap-siap.
"Sayang apa semuanya sudah siap?" tanya Mama mengingatkanku kembali.
"Sudah Ma," sahutku sebenarnya lemas.
"Apa sebaiknya kalian menginap dulu, kalian pasti kelelahan seharian ini, lagi pula sudah malam." Kata Papa.
"Tidak bisa Pa karena atasanku sudah cukup memberi cuti," sahut Alfred. Tentu saja itu adalah sebuah alasan.
Kedua orang tua kami menghadiahkan honeymoon di negara x tetapi dengan halus kami menolaknya. Sehingga mereka tidak memaksakan dan mengerti alasan Alfred. Andai saja aku menikah dengan orang yang aku cintai, dengan hati bahagia aku menerima hadiah itu tetapi saat ini aku hanya bisa mengigit jari.
"Sayang apa sebaiknya kamu berhenti. Bagaimana jika mengelola perusahaan Papa saja?" kata Mama kepada Alfred. Aku melirik Alfred ingin tau bagaimana reaksinya. Aku dapat melihat Alfred mengepalkan tangan, pasti pria iblis itu mengeram tak Terima dengan permintaan Mama.
"Terima kasih Ma tetapi aku ingin mandiri, maaf bukannya menolak tetapi aku berhutang budi banyak dengan bos ku," terang Alfred dengan tenang.
"Plis Mama hentikan, dia tidak sebaik yang kalian kira," aku hanya bisa membatin, ingin sekali aku berkata jujur tetapi semua itu tidak bisa aku lakukan.
"Baiklah sayang. Mama percaya kepadamu. Hanya satu pesan Mama tolong jaga putri Mama," kata Mama dengan mata berkaca-kaca, bahkan Mama menggenggam tangan Alfred seperti memohon.
"Mama sama Papa jangan khawatir, istriku akan baik-baik saja bila bersama denganku," jawab Alfred menyakinkan kedua orang tuaku.
Aku meringis mendengar sandiwaranya itu, ingin sekali aku tertawa sembari menangis. Ingin mengatakan omong kosong. Yang ada dia akan menyiksaku entah sampai kapan, sungguh aku sangat takut hidup satu atap dengan pria asing seperti Alfred yang tak lain adalah suamiku.
"Benarkah begitu sayang?" bisiknya kepadaku yang membuat aku bergidik.
"Iya Pa, Ma apa yang dikatakan suamiku itu benar," timpalku menyakinkan kedua orang tuaku.
Cup
__ADS_1
Tanpa kuduga Alfred mengecup pucuk kepalaku berkali-kali didepan kedua orang tuaku tanpa merasa malu. Mataku melotot dengan mulut menganga. "Sia*an dia mengambil keuntungan," batinku dengan tangan terkepal. Andai saja dia orang yang aku cintai tentu saja aku bahagia menerima perlakuan manisnya.
Papa sama Mama tersenyum, aku tau itu senyuman kebahagiaan. Mereka bahagia melihat keromantisan kami, yang sebetulnya pria iblis ini yang menciptakan.
Tidak lama Alfred permisi karena ingin menerima telepon. Jadwal keberangkatan kami tinggal 1 jam lagi sehingga masih banyak waktu karena kami menggunakan pesawat jet pribadi milik bos Alfred. Aku sedikit aneh karena bosnya sebaik itu. Tetapi Alfred mengatakan kepada keluargaku itu hadiah untuk pernikahan kami. Tetapi anehnya satu orangpun tidak menghadiri pernikahan kami. Alfred hanya di dampingi oleh sekretaris pribadi perusahaan HUGO GROUP. Alfred mengatakan anak yatim piatu dan tidak memiliki keluarga lagi.
Aku berbincang-bincang dengan kedua orang tuaku, mereka tak henti-hentinya memberi nasehat untukku. Aku hanya bisa mengangguk dan pasrah.
Di pojokan sana Moses menghampiri Alfred. Ini saatnya ia berbicara empat mata.
Hmm
Alfred mengembangkan senyuman.
"Kalian tetap akan pulang malam ini?" tanya Moses dengan tatapan dingin. Ia belum terbiasa jika memanggil dengan sebutan Kakak ipar.
"Iya Adik ipar, maaf aku tidak bisa mengajak istriku berlama-lama di sini," sahut Alfred dengan sikap wibawanya.
Papa, Mama dan kedua Adikku mengantar kami di bandara. Kami saling berpelukan melepas kepergianku dan Alfred. Aku dapat melihat raut wajah sedih di wajah Papa sama Mama. Tetapi aku berusaha tersenyum dan tersenyum memperlihatkan betapa bahagianya aku menjadi pengantin baru, selayaknya sepasang pengantin baru pada umumnya.
"Sayang Mama tunggu kabar gembira secepatnya. Hmm menantu Mama segera membuat putri Mama berisi ya? kami tidak sabar memiliki cucu," ucap Mama yang berhasil membuatku membulatkan mata.
"Tenang Ma akan kami usahakan, bukankah begitu sayang?" sahut Alfred sembari merangkul pinggangku merapat ke tubuhnya, dengan cengkraman cukup kuat.
"Iya sayang," jawabku terpaksa tetapi semua itu tidak aku tunjukan.
"Baiklah. segera hubungi kami jika kalian sudah tiba," ujar Papa.
Kami berdua mengangguk.
__ADS_1
Kami melangkah sembari melambaikan tangan. Kakiku sangat berat untuk melangkah, andai saja pernikahan ini dengan kemauan sendiri seperti impianku tentu saja langkah ini terasa ringan.
Didalam jet Alfred langsung mendorong tubuhku sehingga membuat aku mengaduh karena benturan kursi. "Jangan coba-coba masuk kedalam kamar. Aku harus segera membersihkan diri sebersih-bersihnya, aku tidak ingin tubuhku ternodai oleh sentuhanmu sejak tadi. Cih.... menjiji*an," umpat Alfred merendahkan diriku. Aku terdiam tanpa ingin meladeni perkataan kasarnya, aku lelah seharian ini, lagi pula kekuatanku tidak sebanding dengan dirinya yang seperti iblis.
Alfred sengaja menendang kursi di sampingmu, mungkin saja ia merasa marah karena aku tak menanggapi. Alfred langsung berlalu memasuki kamar pribadi, sedangkan aku menyandarkan kepala yang sedikit pusing dengan mata terpejam.
"Inilah awal penderitaanku, entah apa lagi yang ia lakukan nanti. Ya Tuhan semua ini aku serahkan kepadamu," batinku berdoa dengan perasaan sakit.
Mungkin karena lelah aku terlelap dengan posisi duduk. Mungkin dengan tidur kebahagiaan datang dalam mimpi. Akun ingin tertidur begitu lama bahkan tidak ingin terbangun lagi karena aku ingin menghindari realita yang sesungguhnya. Menghindari kejamnya dunia yang diberikan kepadaku untuk menguji kesabaranku.
Aaah...
Aku terbangun kaget, bagaimana tidak wajahku disembur air. Aku berusaha membuka mata sembari menyeka wajahku yang sudah basah.
"Bangun tuan putri," suara bariton sindiran itu memecah gendang telingaku. Sungguh aku malas mendengar suara bariton itu tetapi tidak bisa aku hindari, ini belum seberapa ketika nanti kamin tinggal satu atap.
Aku terdiam dengan kepala menunduk, tanpa sadar air mata ini keluar. Sungguh baru kali ini aku diperlakukan kasar, bukan sekedar kasar tetapi seperti memperlakukan hewan peliharaan.
"Nangis! Dasar anak manja!" Serkasnya dengan mengejek.
Akun tidak membalas perkataannya. Aku berusaha menahan tangis ini agar tidak menimbulkan suara. Aku mengepalkan kedua tanganku mencari kekuatan, dada ini begitu sesak. Pasti tatapan iblisnya menyoroti wajahku tetapi sayangnya aku tidak ingin melihat itu.
"Andre ambilkan makanan, aku tidak ingin dia mati kelaparan saat ini. Ini permainan baru dimulai," ujar Alfred kepada sekretaris yang menjadi saksi pernikahan kami dari pihak Alfred. Ya usia mereka beda 3 tahun. Setelah mengatakan itu Alfred berlalu memasuki kamarnya kembali.
"Nona ini makanan anda," Andre meletakan makan malam untukku.
"Terima kasih," lirihku masih dengan kepala menunduk.
Andre langsung berlalu meninggalkanku seorang diri sembari meratapi hidup menyesakan ini. Aku menatap makanan itu dengan hati berdenyut sakit, bagaimana makanan itu bisa masuk kedalam, sedangkan tenggorokanku saja terasa sumbat atas kejadian-kejadian bertubi.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komen agar author lebih semangat🙏