MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 66. Mencurigakan


__ADS_3

Di meja kerja aku sibuk dengan tumpukan berkas, sampai-sampai tubuhku tak terlihat karena saking banyaknya. Aku memiliki orang kepercayaan, untuk bertujuan membantuku. Seperti saat kesibukan hari ini, aku memerintahkan Vini orang kepercayaan agar tidak menganggu aktivitasku didalam ruangan. Jika ada yang ingin menghadap, Vini yang akan menanganinya.


Di atas meja berbagai macam berkas, seperti diantaranya adalah laporan keuangan. Yaitu yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan karyawan/staf yang yang masuk, mutasi maupun yang mengundurkan diri.


Aku mulai memeriksa laporan yang ke 3 tahun lalu, Itu bertepatan dengan tahun dimana kematian Daddy serta Bernat karena feelingku mengarah ke sana.


Aku melihat perubahan neraca dari tahun tersebut.


"Kenapa Alfred maupun Andre tidak teliti, padahal dari sini sudah terlihat jelas perubahan keuangan, walaupun sangat apik," aku berujar.


Kuraih ponsel yang diletakkan di atas meja, lalu menghubungi Vini.


["Vin tolong hubungi bendahara untuk segera ke ruangan,"] ucapku melalui sambungan telepon.


Setelah menghubungi Vini, aku beranjak bangkit menuju sofa dengan tangan memegang berkas. Tidak menunggu lama Vini dan bendahara mengetuk pintu.


"Masuk," sahutku.


Masuklah Vini dengan seorang wanita berkaca mata yang tak lain adalah bendahara di rumah sakit tersebut.


"Selamat siang Nona," sapa Gres.


Aku mengangguk lalu mempersilahkan mereka untuk untuk.


"Sudah berapa lama kerja di sini?" aku langsung ke intinya karena tidak ingin membuang waktu.


"Sudah 3 tahun lebih Nona. Sebelumnya saya di mutasi dari kota x," jawab Gres dengan tidak tenang.


Aku mengetuk-ketuk meja sofa menggunakan pena.


"Hmmm berarti kamu pengganti bendahara yang sebelumnya?" ucapku tanpa melepaskan tatapan kepada Gres.


"Iya Nona karena beliau mengundurkan diri dengan alasan menikah dan menetap di negara x," terang Gres.


Aku manggut-manggut. Lalu meraih berkas laporan neraca dari tahun pertama Gres memegang laporan keuangan.


"Bisa kamu jelaskan dengan nominal ini?" ucapku. "Atau mungkin aku yang keliru?" sambungku lagi.


Dengan seksama Gres memperhatikan mana yang aku tunjukan.


"Tidak Nona, ini sudah benar. Nona keliru, coba perhatikan dengan seksama," ucap Gres dengan tenang.


Aku mengigit bibir bawah mendengar penjelasan Gres.


"Hmmm aku keliru," pungkasku.


"Tidak masalah Nona,"


"Vin, tolong ambilkan laporan karyawan/staf yang berhenti atau mengundurkan diri dari tahun sekian-sekian," titahku kepada Vini. "Baiklah Gres kamu bisa kembali bekerja. Buat laporan kerugian dengan sedetail-detailnya, sore ini sudah berada di mejaku," imbuhku sehingga membuat Gres sedikit tercengang.

__ADS_1


"Baik Nona, saya akan segera siapkan," kata Gres.


Kini tinggallah aku bersama Vini, kami sama-sama memeriksa dengan seksama. Dari keseluruhan laporan itu tidak ada yang mencurigakan karena alasan mereka berhenti atau mengundurkan cukup masuk akal. Kecuali laporan keuangan yang menurutku ada kejanggalan tetapi untuk sementara aku tidak boleh gegabah karena sama sekali tidak ada bukti.


"Vin aku akan mengunjungi Alfred, ada yang ingin aku bicarakan. Untuk itu kamu tetap berada di sini sebelum aku kembali. Hmmm apa yang aku perintahkan sudah kamu laksanakan?"


"Baik Nona," sahut Vini. "Seperti yang Nona perintahkan, saya sudah melaksanakannya," imbuhnya.


Sembari dengan mengigit bibir bawahku, aku manggut-manggut.


Aku menghela nafas panjang.


"Aku yakin ini tidak salah, menurut pemeriksaanku dari tahun sekian laporan tidak sesuai," ujarku dengan pandangan ke berkas yang ada di atas meja sofa. "Vin coba kamu periksa kembali, lihat perbandingannya dengan hasil pemeriksaanku," imbuhku sembari beranjak untuk mengambil coretan hasil pemeriksaan, lalu menyodorkannya kepada Vini.


"Baik Nona," sahut Vini.


Didalam mobil aku berperang dengan pikiranku.


"Apa keluarga Hugo memiliki musuh? atau semacam saingan?" aku bergumam dengan mulut kumat kamit. Lalu menyipitkan mata. "Saingan tentu saja semuanya memiliki saingan, contohnya perusahaan JANUAR GRUP, sangat banyak saingan tetapi sampai saat ini belum pernah kecolongan dengan para pengkhianat," aku masih bergumam.


Dret....


Ponselku bergetar didalam tas, sehingga membuyar lamunanku. Dengan segera kuraih ponsel itu, seketika senyuman mengembang di bibirku melihat siapa yang telah menghubungi.


"Mama," ucapku.


Jujur saja hatiku sangat senang dengan kedatangan orang-orang yang aku sayangi, apa lagi dalam masalah seperti ini.


Rencana ingin mengunjungi Alfred ditunda sehingga kami putar balik. Mama mengatakan besok akan bersama-sama untuk menjenguk Alfred.


"Surprise yang luar biasa," ucapku dengan wajah berseri-seri.


°°°°°°


Di kota x khususnya rumah sakit cabang. Gabriella, Andre serta dokter Frans mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Dokter Frans sengaja mengambil cuti hanya untuk membantu menuntaskan masalah ini.


"Tuan Andre aku mengusulkan adakan rapat siang ini," usul Gabriella dengan serius.


Andre maupun dokter Frans seperti memikirkan sesuatu.


"Aku setuju dengan Nona Gaby," ucap dokter Frans seakan sependapat.


"Jangan formal begitu, panggil saja seperti biasanya," Gabriella mencela karena biasanya dokter Frans memanggilnya dengan panggilan Adik ipar tetapi kini panggilan itu begitu formal.


Hmmm


Dokter Frans berdehem sembari menyunggingkan senyuman, tetapi dokter Frans menelan pil pahit karena orang yang di senyumkan sama sekali tidak melihat.


Ekor mata Andre melirik dokter Frans dengan tidak suka.

__ADS_1


"Baik Nona. Hmmm apa topik untuk rapat?" tanya Andre.


Gabriella menjelaskan apa yang akan menjadi topik pembahasan dalam rapat yang mereka adakan dengan mendadak.


Seketika keadaan hening, ketiganya larut berpikir sambil bekerja.


Gabriella merubah posisi duduknya. Lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Tuan Andre sudah berapa lama anda bekerja dengan Alfred?" pertanyaan Gabriella memecah keheningan sehingga membuat Andre maupun dokter Frans mengalihkan konsentrasinya.


"Pertama Tuan menjadi CEO Nona," jawab Andre dengan jujur.


Gabriella mengangguk.


"Apa selama ini tidak ada yang mencurigakan? menurutku ini permainan orang dalam," pungkas Gabriella.


Gabriella menyipitkan mata melihat Andre dan dokter Frans.


"Ada apa? apa pertanyaanku salah?" ucap Gabriella dengan hening mengerut.


"Tidak," sahut mereka serentak sembari menggelengkan kepala.


Tingkah mereka semakin membuat Gabriella heran. Belum lagi tatapan mereka membuat Gabriella tidak nyaman.


"Tuan Andre, dokter Frans!" Gabriella menekankan dengan nada meninggi.


Seketika membuat kedua pria itu tersadar lalu masing-masing membuang muka. Sehingga membuat Gabriella mengerucutkan bibir, lalu kembali sibuk dengan laptop yang ada di atas pangkuannya. Sikap cuek serta acuh Gabriella membuat dia pria keren itu mengusap dada, sungguh sangat berbeda dengan diriku.


"Wanita yang menarik," Andre maupun dokter Frans sama-sama membatin.


Wajah memang bak pinang dibelah dua tetapi karakter sangat jauh berbeda diantara kami.


GABRIELLA JSNUAR



FRANS ANTONI



ANDRE JULIUS



Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author semakin semangat💪


•Mulai tanggal 18-24 akan crazy up

__ADS_1


__ADS_2