
Kini kehamilanku memasuki 8 minggu. Hari ini adalah kembali untuk mengontrol. Selama kehamilan ini tentu saja banyak keluhan, tetapi aku hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja, terutama anak yang ku kandung.
"Bagaimana hari-harinya dok?" tanya dokter Sintya.
"Huh....begitulah dok," aku tidak ingin mengadu atas keluhanku.
"Dok, lebih baik resign mulai sekarang. Ini bukan masalah sepele, bicarakan baik-baik dengan suami dokter," raut wajah khawatir bisa aku lihat dari dokter Sintya.
Aku berbaring menatap ke layar monitor. Tiba-tiba tangan dokter Sintya berhenti dengan mata membulat, seperti ada sesuatu yang bersembunyi. Sekali lagi dia memeriksa dan hasilnya membuat jantungnya berdebar. Bagaimana tidak itu adalah janin yang belum terlihat di pemeriksaan awal.
Dokter Sintya tercekat karen kaget.
"Dok coba perhatikan ini dengan jelas," ucap dokter Sintya sehingga membuatku melirik kearahnya yang sibuk dengan layar monitor.
"Selamat dok bayi anda kembar," raut wajah gembira dokter Sintya.
"Apa? kem... kembar?"
Dokter Sintya mengangguk membenarkan gumamanku.
Tes tes
Air mata kembali menetes mendengar kabar tak terduga ini. Sungguh keajaiban luar biasa.
"Ya Tuhan aku diberi anugerah luar biasa ditengah penyakit yang sedang menggerogoti tubuhku ini, yang belum tentu orang lain diberi kesempatan seperti ini," batinku antara bahagia dan sedih sembari mengusap tanda hitam di layar monitor.
"Untuk jenis kelamin belum bisa kita lihat," jelas dokter Sintya.
"Soal itu tak kupermasalahkan dok yang terutama mereka sehat," ucapku berharap baik-baik saja.
"Dok ini sangat beresiko bahkan menganyam nyawa dokter, apa dokter yakin untuk mempertahankan kandungan dokter? sekarang mungkin belum berpengaruh tetapi kanker itu akan menyebar lebih cepat," ungkap dokter Sintya.
Aku bangkit lalu menggelengkan kepala.
"Apapun yang terjadi anak-anakku akan kupertahankan sampai dimana aku tak sanggup lagi. Mereka berhak lahir di dunia dok," ucapku dengan yakin.
"Besok jadwal kemoterapi, jangan khawatir ini cukup aman bagi janin," kata dokter Sintya karena kehamilanku memasuki bulan kedua.
Dokter mengajaku mengobrol seputar rumah tanggaku yang sengaja kututupi. Aku menceritakan sedetailnya saja dan pastinya hanya dokter Sintya yang tau. Bahkan dokter Sintya kaget setelah mengetahui siapa jati suamiku.
Setelah aku bercerita dokter Sintya memelukku memberi kekuatan. Dipeluk oleh dokter Sintya aku mendapat kekuatan. Aku memang tidak menceritakan jati diriku yang sebenarnya dan misi balas dendam Alfred karena menjadi rahasiaku sendiri.
__ADS_1
°°°°°°
Setelah rapat usai. Andre seperti biasa mengupas buah apel hijau buat Alfred. Setiap hari di meja kerja itu di suguh sepiring potongan buah apel.
"Tuan apa Tuan sudah tau jika Leon dirawat di rumah sakit?" tanya Andre memastikan karena dari kemarin dia lupa membicarakan hal ini karena cukup pusing dengan keanehan Alfred.
Perkataan Andre membuat Alfred berhenti mengunyah potongan buah apel yang ada di mulutnya.
"Memang kenapa anak itu?" jujur selama ini Alfred tidak menganggap Leon bagian dari keluarganya karena itu bagian dariku. Padahal bagaimanapun di lubuk hatinya menyimpan rasa kasian kepada Leon. Tetapi egonya lebih besar dari rasa itu.
"Kecelakaan jatuh dari luncuran di sekolah sehingga mengakibatkan pergelangan kakinya patah dan harus menjalani operasi pemasangan pen," terang Andre seperti yang dia ketahui dari dokter Frans.
"Dasar nakal,"
"Leon tidak nakal Tuan hanya kebetulan musibah saja," bela Andre tidak setuju dengan tuduhan Alfred.
"Jaga anak satu saja tidak becus," umpat Alfred menyindir diriku.
"Itu bukan tugas Nona Tuan karena itu tugas para guru di sekolah," bela Andre lagi.
"Kau kenapa Andre? selalu membela mereka? apa sekarang kau bekerja untuk mereka?" bentak Alfred tidak suka. Akhir-akhir ini emosinya tak bisa terkendalikan, dia mudah sekali tersulut emosi.
"Apa kau sudah selidiki kejadian itu?" sebenarnya kekhawatiran itu dirasakan Alfred.
"Sudah Tuan dan memang kecelakaan murni dengan salah satu teman tidak sengaja mendorong Leon," terang Andre seperti yang dia selidiki.
"Apa mereka di gaji untuk bergosip atau apakah itu sehingga lalai dan berakibat fatal? atau mereka sudah bosan bekerja? beritahu aku biar langsung angkat kaki dari sana," Alfred kembali mengamuk dan hal itu membuat Andre mengelus dada.
"Iya Tuan akan saya dalami,"
"Apa Leon sudah ditangani dengan baik?"
"Sudah Tuan dan Nona sendiri yang menangani," terang Andre.
"Tau apa dia?"
"Nona dokter anak Tuan," ingin sekali Andre membungkam mulut pedas dan tak diam Alfred tersebut. "Akhir-akhir ini Tuan sangat aneh, dan satu lagi mulutnya ini tak bisa diam, seperti wanita yang lagi palang merah," umpat Andre didalam hati.
"Belum spesialis, seharusnya Leon ditangani dokter profesional,"
"Nona di dampingi dokter Bryan Tuan, dokter tampan dari negara xx," ujar Andre sengaja agar mulut pedas Alfred bungkam setelah mendengar itu.
__ADS_1
Benar saja apa yang diharapkan Andre. Alfred bungkam dengan tatapan datar. Sepatah katapun tak keluar lagi dari mulutnya.
"Seperti yang saya ketahui dokter Bryan sangat menyukai Leon, begitu juga dengan Leon," Andre semakin memancing. Setelah itu dia berpamitan kembali ke ruangannya dengan perasaan menang.
Alfred membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Mencerna setiap perkataan Andre. Ada rasa tak Terima bagi Alfred tetapi dia tidak menyadari rasa itu.
°°°°°°
Hari ini Leon sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 2 minggu di rumah sakit. Akulah yang merawat selama di rumah nanti. Leon di bantu dengan tongkat.
Sebelum pulang aku kebagian administrasi untuk melunasi pembayaran biaya perobatan Leon karena sebelumnya aku membayar setengahya dulu.
Aku tercengang mendengar keterangan kasir bahwa biaya perobatan Leon sudah lunas yang artinya sudah dibayar. Siapa yang melunaskan? itu yang sedang aku pikirkan, dan bagian kasir bilang mereka tidak tau yang pastinya sudah lunas.
Sepanjang lorong rumah sakit menuju kamar rawat Leon aku masih kepikiran siapa orang yang berbaik hati dan tulus melunasi biaya pengobatan Leon.
"Siapa yang membayarnya?" gumamku sembari memegang perutku yang terasa sedikit kram.
Aku masuk ke kamar Leon, ternyata didalam ada dokter Frans, dokter Bryan serta Dea.
"Mommy," panggil Leon menyadari kedatanganku yang sedang berdiri diambang pintu. Mendengar seruan Leon membuat dokter Frans maupun dokter Bryan menoleh kearahku.
"Maaf sayang Mommy agak lama karena antri," ucapku supaya Leon tidak khawatir.
"Berarti bukan hanya Leon yang sakit Mom, Uncle," cicit Leon dengan polos.
"Tentu son, bahkan dalam satu hari ribuan orang masuk keluar rumah sakit," sahut dokter Bryan menanggapi pertanyaan polos Leon.
"Apa juga kaki mereka patah seperti Leon Uncle?" tanyanya kembali.
"Hmm sebagian mungkin ada. Di sini pasiennya berbagai macam penyakit son," jelas dokter Bryan.
"Jika semua patah kaki kasian dong tampan," sela Dea sembari menganti baju Leon.
Hahaha....
Tawa Leon dengan menampakan gigi ompong itu akibat patah dalam musibah itu. Aku hanya diam saja dan hal itu diperhatikan oleh dokter Frans.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1