
"Al.....Awas.....!" Teriakku berlari gontai bermaksud mendahului pria yang menghujam pisau kearah belakang Alfred.
Mendengar teriakanku membuat Alfred membalikkan tubuh, seketika dalam sekilas matanya membulat.
Alfred berlari langsung mendekap tubuh serta membalikkan tubuhku sehingga dengan mudah dia menendang pria itu, dan tendangannya berhasil menjatuhkan pisau tajam itu.
Polisi segera bertindak dan berhasil menangkap pria tersebut. Sedangkan kami masih berpelukan dengan sangat eratnya seakan tidak ingin terlepaskan.
Seketika aku tersadar, dengan perlahan melepaskan pelukan itu. Kedua tanganku menangkup wajah Alfred.
"Kamu tidak apa-apa? apakah ada yang sakit?lirihku sembari memeriksa seluruh wajah Alfred.
Alfred langsung menangkap kedua tanganku sembari menggeleng sebagai jawabannya. Alfred menyeka air mata yang sejak tadi jatuh membasahi wajahku.
" Sayang seharusnya aku yang menanyakan itu," lirih Alfred dengan mata berkaca-kaca. "Tunggu aku di sini biar aku habisi mereka," ujar Alfred masih murka dengan kelima penjahat itu, padahal mereka sudah dibekukan polisi.
Dengan cepat aku menggelengkan kepala serta mencegah Alfred.
"Mereka sudah menyakitimu sayang bahkan mengancam nyawamu, mereka pantas untuk dimusnahkan," ujar Alfred sudah tersulut amarah.
Aku langsung memeluk Alfred agar emosinya merendam sejenak, buat apa membalaskan dendam. Biarkan saja mereka mempertanggung jawabkan perbuatan mereka dengan pihak kepolisian. Aku yakin mereka bekerja untuk orang lain, maka dari itu masalah ini harus dituntaskan tetapi tidak untuk saat ini karena Alfred benar-benar disulut emosi yang menggebu.
Alfred membalas pelukanku begitu erat, bahkan membenamkan wajahnya di pucuk kepalaku. Anggap saja untuk sementara dunia ini milik kami berdua, sedangkan yang lainnya adalah mengontrak. Sungguh kami sama sekali tidak memperdulikan mereka saat ini.
"Sayang.....sungguh aku sangat takut, kamu sudah banyak menderita selama ini," bisik Alfred.
Aku memejamkan mata.
Awww....
Aku mengaduh karena tanpa disadari oleh Alfred meremas lenganku begitu kuat sehingga luka-luka itu tersentuh.
"Ada apa sayang?" tanya Alfred, seketika melepaskan pelukan itu lalu memeriksa seluruh tubuhku. "Kamu terluka?" ucap Alfred ketika melihat lenganku penuh luka bahkan mengeluarkan darah akibat benturan ketika terguling. Pandangannya turun kebawah tepat dimana telapak kakiku juga penuh luka.
Alfred mengepalkan kedua tangannya disertai gertakan giginya, dengan mata tajam menatap kearah dimana para penjahat di amankan polisi.
Alfred langsung melangkah panjang dengan amarah menggebu-gebu.
Buk buk buk.....
Entah sudah berapa kali Alfred melayangkan tendangan, pukulan kepada lima pria itu.
"Kurang ajar, kalian harus mati saat ini juga di tanganku," teriak Alfred tidak menghentikan tindakannya, dia membabi buta sehingga membuat kelima pria itu babak belur.
__ADS_1
"Hentikan Al....," teriakku masih diposisi awal karena jujur saja tidak sanggup untuk melangkah.
Moses mendekat untuk menghentikan Alfred.
"Lepas! Biar aku bunuh mereka," teriak Alfred berusaha melepaskan tangan Moses yang berhasil menghentikan pukulannya.
"Katakan brengsek siapa yang memerintahkan kalian? katakan atau kepalamu aku penggal saat ini juga!" Teriak Alfred.
"Tu.... tuan Ju.... Juan, Tuan!"
Deg
Buk buk buk....
"Brengse*,"
Alfred kembali membabi buta dengan tendangan menggunakan kakinya sehingga pria itu terkapar tidak sadarkan diri.
"Hentikan! Lihat Kakak di sana, dia berusaha jalan tertatih-tatih untuk menghentikanmu," ujar Moses sembari menunjuk ke arahku.
Aku berusaha berjalan, sungguh telapak kakiku sangat perih digesek oleh rerumputan tetapi aku harus menghentikan tindakan Alfred yang sudah kelewatan, bahkan diantara mereka sudah tidak sadarkan diri.
Melihat keadaanku membuat Alfred menghentikan amukannya, lalu berlari ke arahku dan sekali lagi mendekap tubuhku.
"Mereka sudah menyakitimu sayang, bagaimana aku bisa diam saja?" pungkas Alfred.
"Rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang pernah kamu berikan kepadaku Al. Dimana aku mendapat perlakuan kasar atau dinaungi ancaman, tidak dianggap sedikitpun sebagai seorang istri, melewati kehamilan sediri dalam taruhan nyawa. Dimana kamu saat-saat aku sangat membutuhkanmu?" aku membatin, ingatan dimasa lalu terlintas begitu saja dalam situasi seperti ini.
Alfred menguraikan dekapannya lalu mendekap kedua bahuku sehingga pandangan kami bertemu dengan jarak sangat dekat.
"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu karena sebetulnya kamu tau bagaimana sikapku. Sayang aku akan mengatakan sesuatu kepadamu karena aku tidak sabar untuk mengatakannya sampai ingatanmu pulih kembali. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini setelah ingatanmu kembali tetapi aku tidak sabar untuk itu," ujar Alfred panjang lebar.
Aku tercengang tanpa mengeluarkan kata.
Alfred membelai wajahku sembari menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajahku.
"Isabella aku mencintaimu.... dan sangat mencintaimu...."
Deg
Mataku membulat mendengar ungkapan cinta dari mulut Alfred yang tidak pernah aku sangka selama ini.
"Iya sayang aku sangat mencintaimu.....! Bukan karena merasa bersalah, menyesal, kasian atau lain sebagainya tetapi perasaan ini murni dari hatiku yang paling dalam. Sungguh Isabella aku sangat mencintaimu...." Ucap Alfred dengan sungguh-sungguh, bahkan pria itu sempat meneteskan air mata.
__ADS_1
Aku bungkam tanpa berkata-kata, lalu mengalihkan tatapan kearah lain tetapi dengan cepat Alfred menolehkan wajahku agar tetap menatapnya.
"Lihat mataku, lihat kesungguhan di mataku sayang," imbuh Alfred berusaha menyakinkanku. "Maaf sayang aku baru menyadari perasaan itu setelah kejadian yang menimpamu beberapa bulan lalu," ungkap Alfred dengan mata memerah.
Aku melepaskan tangan Alfred di wajahku.
"Hmm sebaiknya kita harus pergi dari tempat ini, sepertinya akan turun hujan," ucapku sengaja mengalihkan pembicaraan ini.
Alfred tersenyum miris mendapati sikapku yang seperti menolak. Alfred lalu mengusap wajahnya, sedangkan aku mandang kearah lain.
"Apakah aku terlambat mengatakan itu? sehingga sulit untukmu menerima? ya aku sadar itu karena kesalahanku melebihi dari segalanya," lirih Alfred tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya. "Sayang tolong katakan sesuatu? katakan jika ingatanmu sudah kembali? agar aku bisa menebus kesalahanku dimasa lalu, katakan jika kamu mengingat semua atas perlakuanku terhadapmu? katakan sayang....." Lirih Alfred disertai tangisan sehingga membuat jantungku berdegup kencang.
Pandanganku kembali menatap Alfred yang begitu pilu. Tanganku terkepal erat menahan sesuatu, sungguh tatapan pilu serta wajah sendu Alfred menyesak dada ini.
"Sayang katakan sesuatu? berikan aku pilihan?" lirih Alfred.
Aku memejamkan mata, lalu tidak lama kembali menatap Alfred.
"Dari pertama aku sudah memaafkanmu. Lebih baik kita jalani sendiri-sendiri. Aku tidak membatasi kapan saja kamu ingin bertemu dengan anak-anak," ungkapku yang berhasil membuat Alfred tak berkutik. "Mungkin ini lebih baik," imbuhku dengan membalikan badan membelakangi Alfred. "Aku bukan wanita sempurna, bahkan aku tidak bisa lagi memiliki anak," lirihku sembari menyeka air mataku yang membanjiri wajahku.
Aku mengatur isak tangisku agar tak disadari Alfred.
"Kamu pria sempurna Al sehingga kita tidak sepadan," ucapku masih dengan posisi membelakangi Alfred. "Cinta? tidak itu hanya perasaan kasian atau rasa bersalah. Kamu tidak pernah....men.... mencintaiku...." lirihku sembari membungkam mulutku agar tangisku tidak didengar.
Alfred baru menyadari sesuatu setelah mencerna semua perkataanku, dengan segera menarik tubuhku agar menghadap kepadanya.
"Sayang.... Isabell, katakan apa maksudmu?" Alfred menggoncang kedua bahuku. "Katakan sayang jika ingatanmu...."
Aku menelan ludah, sedangkan air mata sudah membanjiri wajahku.
"Jika ingatanmu..... "
Aku.....
Duarr....
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagišŖ
ā¢Say..... jangan omelin author ya karena suka ngegantungš¤£
Akan nyusul 2 bab lagi, jadi bersabar karena otak author lagi kumat tak berfungsi untuk dunia haluanš
__ADS_1