MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 90. Ulang Tahun Si Kembar


__ADS_3

Genap 1 tahun usia Keenan dan Kiran. Perayaan ulang tahun akan diadakan pesta mewah, itu semua keinginan Alfred. Keluarga dari Indonesia juga menghadiri pesta tersebut, kecuali Opa Farres dan Oma Lyodra.


Pesta itu akan diadakan di sebuah restoran berbintang, dengan undangan di semua kalangan seperti rekan bisnis, pegawai/karyawati di rumah sakit, pegawai di yayasan, dan panti asuhan yang dikelola oleh aku sendiri.


"Sayang cepatlah, anak-anak sudah menunggu di sana. Kamu ngapain si lama sekali di kamar mandi?" teriakku sembari menggedor pintu kamar mandi.


"Bentar sayang, aku lagi sakit perut," sahut Alfred dengan suara nada seperti menahan sesuatu.


"Kamu sakit perut? bentar aku ambilkan obat," ucapku dan segera beranjak membuka laci, dimana kotak obat yang selalu disediakan.


Klek


Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Alfred dengan langkah gontai.


Mataku menyipit melihat Alfred lemas begitu.


"Sakit bagaimana? mules kah?" tanyaku ingin tau agar bisa meresepkan obat.


"Mules sayang," sahut Alfred dengan lemas abadi mendudukkan dirinya di atas kasur.


"Minum ini sekarang," aku memberi obat beserta segelas air putih.


Alfred dengan manjanya menyuruhku memasukan obat itu kedalam mulutnya. Dengan kesabaran kuturuti keinginannya.


"Anak-anak sudah ditempat acara?" tanya Alfred sedikit merasa enakan.


"Iya, mereka berangkat dengan Papa sama Mama. Hmmm tinggal kita saja yang belum berangkat, seharusnya kita sebagai orang tua mereka yang terlebih dahulu," pungkasku.


"Maaf sayang," ujar Alfred.


"Tidak masalah, lagi pula 1 jam lagi acara akan dimulai, masih banyak waktu," ucapku sembari tersenyum. "Segera kenakan pakaianmu, aku sudah siapkan," imbuhku.


Alfred segera mengenakan pakaian yang sudah aku persiapkan.


°°°°°°


Di restoran


Restoran sudah dipadati oleh tamu undangan. Mereka datang beserta putra-putri mereka. Sungguh perayaan ulang tahun Keenan beserta Kiran begitu mewah.


Dua anak kembar mengemaskan itu sedang berdiri di hadapan tamu undangan. Dari usia 9 bulan Keenan maupun Kiran sudah bisa berjalan, dan di usia 1 tahun ini semakin lancar.


Keluarga besar Januar maupun Hugo sangat merasa bahagia pada hari ini. Terutama kami sebagai kedua orang tua dari Keenan dan Kiran.

__ADS_1


Acara peniupan lilin serta pemotongan kue berjalan dengan lancar. Semua anak-anak antusias menyanyikan lagu happy birthday.


Leon, Keenan maupun Kiran begitu senang dengan keramaian ini. Mereka tidak berhenti tertawa.


"Sayang mereka senang sekali," bisikku kepada Alfred yang sejak tadi tidak melepaskan rangkulan lengannya di pinggangku.


"Iya sayang, mereka sangat senang dengan keramaian ini. Jika melihat mereka seperti ini, orang tua mana yang tidak merasakan kebahagiaan," ujar Alfred sembari menyunggingkan senyuman melihat kehebohan ketiga buah hati mereka sedang bersama keluarga besar, sedangkan mereka sibuk menyalami para tamu undangan.


"Sayang aku ke toilet sebentar," kataku kepada Alfred karena tiba-tiba kebelet.


"Biar aku antar. Kita ke toilet khusus saja," ujar Alfred.


"Biar aku sendiri sayang, tidak enak meninggalkan tamu. Ke toilet dekat sini saja karena sudah kebelet," ucapku tidak ingin Alfred menemani.


"Apa tidak masalah?" tanyanya dengan sungguh-sungguh.


Aku menggeleng disertai senyuman, dan dibalas oleh Alfred. Aku segera berlalu menuju toilet yang terdekat khusus umum.


Tiba di toilet wanita aku langsung masuk, untung saja tidak antri karena aku benar-benar kebelet.


Tidak ingin berlama-lama, aku segera keluar karena Alfred pasti tidak tenang jika berjauhan.


Tiba-tiba tidak sengaja pandanganku melihat sosok Andre yang tengah berdiri di balik pilar besar, dengan pandangan di luar taman kecil yang terdapat di samping restoran.


Karena penasaran dengan apa yang dilihat Andre membuat hatiku tergerak mendekatinya dengan hati-hati.


"Kenapa Andre seperti mengintip mereka? bukankah mereka bertiga sangat begitu dekat?" aku bergumam didalam hati.


Mataku menyipit memperhatikan gerak gerik Andre yang tidak biasanya. Ada mimik wajahnya tidak semangat.


Gabriella dan dokter Frans sepertinya sangat asik sekali dengan pembicaraan mereka, hal itu membuat Andre mengepalkan kedua tangannya. Aku sangat jelas melihat hal itu. Tidak ingin berlama-lama atau ketahuan Andre membuatku segera meninggalkan tempat itu dan kembali ketempat dimana Alfred.


Sepanjang jalan aku bertanya-tanya didalam hati.


"Sepertinya ada yang tidak beres dan aku tidak mengetahui itu. Sepertinya Andre maupun Frans menyukai Kakak," gumamku dengan sangat yakin.


"Sayang apakah antri sehingga membuatmu begitu lama?" pertanyaan Alfred membuat aku kaget, tak sadar jika sudah didekatnya.


"Tidak sayang, cuma tadi ada sedikit masalah," kataku dan tak ingin membicarakan dulu masalah itu dengan Alfred karena belum pasti.


"Masalah apa?" tentu saja ucapanku membuat Alfred sedikit penasaran.


"Tidak apa-apa sayang hmmm maklum wanita," sahutku apa adanya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja bukan? atau ada yang menyakitimu?"


Huh....


Aku menghela nafas panjang karena pertanyaan dari suami bucinku ini.


Aku menggeleng sebagai jawaban dari semua pertanyaan itu.


"Sayang anak-anak dimana?" tanyaku ingin mengalihkan pembicaraan, lagi pula aku tidak melihat ketiga buah hati kami.


"Mereka dibawa sama Papa dan Mama ke dalam," ucap Alfred.


"Oh!" Aku ber oh ria dengan bibir membentuk huruf o.


3 jam sudah terlewatkan dan kini pesta itu berakhir dengan kebahagiaan. Kami memang sengaja mengelar pesta dengan durasi pendek karena ini menyangkut acara anak-anak.


Para tamu puas dengan jamuan yang sangat lezat dari menu restoran andalan tersebut.


Pesta berakhir dan semua kembali ke rumah masing-masing. Termasuk keluarga besar kami.


°°°°°°


Di parkiran


"Boleh sekalian aku antar?" ujar dokter Frans kepada Gabriella.


"Sepertinya tidak perlu Frans, kebetulan aku akan ke Mansion," sahut Gabriella yang memang akan ke Mansion karena kedua orang tuannya berada di sana.


"Kebetulan karena aku juga akan ke sana. Mommy sama Daddy juga berada di sana untuk makan malam," ujar dokter Frans.


"Baiklah jika begitu, kebetulan aku juga tidak membawa mobil tadi," ucap Gabriella pada akhirnya.


Mereka berdua memasuki mobil menuju Mansion.


Tanpa disadari sesosok pria menatap dengan sendu di pojok sana. Siapa lagi jika bukan Andre. Andre tersenyum miris, sungguh kebersamaan dokter Frans dengan Gabriella membuat hatinya seperti ditusuk ribuan jarum.


Andre menghela nafas sesak sembari tersenyum pilu menaiki mobilnya.


"Sebaiknya aku membatalkan saja," gumam Andre mengurungkan niatnya ke Mansion ingin menemui Alfred karena ada berkas yang tiba-tiba harus di tandatangani. Bagaimana bisa dia kembali menyaksikan kedekatan orang yang berhasil mengambil hatinya.


Sesaat Andre memejamkan mata. Dia sudah berjanji tidak akan merasa sakit tetapi bohong jika dia tidak merasakan itu. Hati dengan ucapannya tidak sejalan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


Untuk saat ini tidak bisa crazy up🙏


__ADS_2