
Gabriella menggenggam tangan Andre berjalan menuju sofa yang masih kosong.
Aku maupun Alfred melebarkan mata melihat dua sosok yang saat ini berlalu dihadapan kami, tanpa ingin melepas kerinduan.
"Wah keponakan Bibi semakin mengemaskan," ucap Gabriella tanpa merasa salah.
"Bibi," panggil Leon.
Aku tidak lepas dari genggaman kedua sosok itu, tanpa ingin melepaskan. Tatapanku beralih kepada Alfred, bermaksud ingin meminta penjelasan tetapi sayangnya Alfred juga tidak tahu dan dia menggelengkan kepala.
"Andre bukankah kau sudah berangkat ke negara x? dan kenapa kau bisa berada di sini? kau benar-benar Andre bukan? karena setahuku kau tida memiliki saudara kembar," ujar Alfred kepada Andre.
Andre menelan ludah. Sungguh suasana ini membuatnya merasa canggung.
"Jelaskan semuanya!" Pungkasku dengan lantang bahkan sedikit nada meninggi sehingga membuat Mama protes.
"Sayang berhenti teriaknya. Dari kemarin teriak melulu," protes Mama.
Andre menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
"Sayang jelaskan semuanya kepada Adik iparmu," ucap Gabriella tak disaring oleh perkataannya.
"Adik ipar?" gumamku dan Alfred secara bersamaan dengan mata melebar.
Hmmm
"Mungkin kalian semua kaget dan tak pernah menyangka, tetapi inilah kebenarannya. Aku dan Gaby ingin menikah, ini bukanlah sebuah lelucon tetapi serius," ungkap Andre dengan serius.
Hah.....
Benar yang dikatakan Mama, jantungku seakan ingin meledak mendengar pernyataan Andre.
Gabriella membantu Andre untuk menjelaskan dari awal sampai akhir.
Aku ikut bahagia mendengar pengakuan merek aberdua.
"Kamu masih berjuang Andre untuk menata hati Kak Gaby. Terus berjuang sampai hatinya luluh," kataku kepada Andre sekaan mendukung hubungan mere
"Kau berani-beraninya meninggalkan pekerjaan. Sehingga membuatku sering lembur," ujar Alfred.
"Maaf Adik ipar," sahut Andre seraya tersenyum.
"Aku merasa sangat geli dengan panggilanmu itu," pungkasnya.
"Sayang dia sekarang Kakak ipar kita, bukan asistenmu lagi. Jadi mulai sekarang panggil Andre Kakak ipar," protesku kepada Alfred.
"Iya sayang," sahut Alfred dengan lemas. Jika aku yang berbicara mana bisa dia membantah.
"Dasar bucin!" Ejek Moses, Andre serta Mischa kepada Alfred.
"Kalian belum merasakannya, jadi jangan mengejek," gerutu Alfred seraya memeluk tubuhku tanpa merasa malu.
"Ingat masih banyak orang," protes Mischa.
"Kami anggap kalian hanya beberapa nyamuk hmmm," canda Alfred.
"Dasar! Mertua serta Eyang dikatai nyamuk," cicit Mischa kembali.
Hahaha....
Tawa canda memenuhi isi ruang keluarga.
°°°°°°
Andre dan Gabriella melangsungkan pemberkatan di Gereja. Yang di saksikan oleh keluarga besar Januar, Hugo serta kerabat dekat dan para sahabat maupun jemaat Gereja.
Gabriella menggenakan gaun berwarna putih menjuntai ke lantai. Dan Andre menggenakan jas warna hitam dengan dalamn kemeja warna sedana dengan gaun Gabriella.
Tampan cantik itulah garis gambaran wajah dari kedua mempelai saat ini yang berdiri di atas altar pernikahan.
Papa sama Mama tidak dapat membendung rasa kebahagiaan dengan cara meneteskan air mata. Kini putri sulung mereka sudah sah melepas masa lajangnya.
__ADS_1
Sedangkan Andre hanya dihadiri sang Adik. Kedua orang tua Andre sudah meninggal dunia.
Andre maupun Gabriella memancarkan rona kebahagiaan. Sekarang mereka sah sebagai sepasang suami istri.
Di kursi barisan kedua, dimana kami duduk. Alfred menggenggam telapak tanganku begitu erat.
"Ada apa sayang?" bisikku ketika lamunanku buyar merasakan genggaman itu. Tentu saja aku melamun, bayangan masa lalu. Dimana aku dan Alfred pernah berada di depan sana, mengucap janji suci pernikahan.
"Aku minta maaf," lirih Alfred dengan mata memerah.
Hal itu membuat alis sebelahku berkerut.
"Maaf karena waktu itu," imbuhnya kembali. Dan sekarang aku paham dengan kalimat yang keluar dari mulut itu.
"Yang lalu biarkan berlalu," ucapku seraya mengusap punggung Alfred disertai senyuman kebahagiaan.
Alfred membalas dengan senyuman mautnya yang selalu membuatku klepek-klepek.
°°°°°°
Sore harinya melangsungkan resepsi di hotel berbintang milik keluarga Januar.
Gabriella menggenakan gaun pas body warna krim. Sedangkan Andre menggenakan tuxedo warna senada.
Ribuan tamu mulai berdatangan, menghadiri undangan pernikahan putri dari orang nomor satu di Indonesia. Mengagumi ketampanan dan kecantikan kedua mempelai.
Mereka menikmati jamuan yang lezat tertata di atas prasmanan, dengan bermacam menu sesuai berbagai negara. Karena bukan orang Indonesia saja yang diundang tetapi beberapa negara.
Andre dan Gabriella mulai menyalami tamu. Mereka pasti merasakan kelelahan, menghitung ribuan tamu yang hadir. Tetapi itu sudah resiko menjadi keluarga terpandang.
Dua pasangan mendadak juga menghadiri undangan itu. Bahkan pernikahan Andre dan Gabriella mendahului mereka.
Dengan langkah bahagia dokter Frans menggenggam tangan Vini yang sangat betah memeluk lengannya menuju singgasana kedua mempelai, untuk memberi ucapan selamat.
Hem hem....
Dokter Frans sengaja berdehem karena kedua mempelai itu sepertinya lagi romantis-romantisnya.
"Sepertinya kedatangan kami menganggu," sindir dokter Frans.
"Frans, Vini," seru Gabriella.
"Kalian," timpal Andre seraya bangkit sembari memapah Gabriella.
"Selamat Andre, akhirnya perjuanganmu mbuahksn hasil. Semoga hubungan kalian sampai Kakek Nenek," ucap dokter Frans seraya menjabat tangan Andre.
"Amin. Terima kasih Frans. Oya selamat juga atas hubungan kalian yang juga akan menyusul," ucap Andre.
Sedangkan Gabriella menatap kikuk.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf kami tidak sempat pada saat pemberkatan kalian. Semoga pernikahan kalian sampai maut memisahkan," ucap Vini seraya memeluk Gabriella.
"Terima kasih atas doanya Vin. Semoga kalian juga berbahagia," balas Gabriella.
Dokter Frans kini menatap Gabriella yang sangat cantik berbalut gaun yang sangat pas di tubuhnya.
"Selamat ya? selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan. Aku ikut bahagia," ucap dokter Frans seraya mengulurkan tangan kepada Gabriella.
"Terima kasih Frans. Terima kasih sudah menghadiri undangan kami. Selamat juga buat kalian yang akan menyusul," balas Gabriella dengan senyuman menembang.
"Cintai dia, jaga dia agar tak di ambil orang," sindir dokter Frans bermaksud bercanda.
"Tak akan kubiarkan," sahut Andre sehingga membuat ke empatnya tertawa.
Andre tidak cemburu dengan masa lalu, begitu juga dengan Vini Karena sekarang mereka memiliki kehidupan masing-masing.
Inilah yang dikatakan jodoh. Tidak sesuai dengan pilihan kita dari awal. Tanpa kita ketahui jodoh sudah persiapkan Tuhan.
**
Tamu undangan satu-persatu meninggalkan pesta. Dan kini hanya tersisa keluarga besar, kerabat serta sahabat dari kedua mempelai.
__ADS_1
Memereka memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat sayang," ucap Tante Meysi. Ya merek amenghadiri pesta pernikahan Andre dan Gabriella.
"Terima kasih Tante," balas Gabriella dengan kikuk, mengingat bagaimana dulu Tante Meysi memperlakukannya selayak menantu sendiri.
"Selamat Nak Andre, kamu berhasil meluluhkan hati Gaby," ucap Tante Meysi kembali.
"Terima kasih Tante," balas Andre.
**
"Sayang Mama sama Papa punya hadiah untuk kalian," ucap Mama seraya mengeluarkan sebuah amplop.
"Apa ini Ma?" tanya Gabriella.
"Dibuka saja," titah Mama.
Gabriella menyambut amplop tersebut lalu mengeluarkan isi dalamnya.
"Tiket," gumam Gabriella.
"Iya sayang itu tiket honeymoon untuk kalian. Mama sengaja memilih negara Paris Karena menurut Mama itu cocok untuk berlibur di musim sekarang," pungkas Mama.
Gabriella maupun Andre saling memandang dengan wajah bersemu merah.
"Belum honeymoon saja wajah kalian sudah bersemu merah," ledek Alfred seakan menyadari raut rona wajah kedua pasangan pengantin baru itu.
Hahaha.....
Ketawa kembali memenuhi gedung itu.
"Andre apa kau butuh bantuan? aku siap memberi tips," ujar Alfred.
"Sayang dia sekarang sudah menjadi Kakak iparmu jadi sopan sedikit," protesku kepada Alfred yang selalu kelupaan.
"Maaf sayang habis sudah terbiasa."
"Apa kalian setuju?" tanya Mama.
"Apa harus ya Ma?" tanya Andre dengan polos.
"Tentu saja harus karena ini momen yang tak bisa diputar kembali," ucap Mama mengharuskan.
Andre menatap Gabriella.
"Baiklah kami setuju," ucap Gabriella pada akhirnya. Dia tidak ingin mengecewakan kado yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya. Mungkin dalam honeymoon itu dapat menemukan kebahagiaan dan saling membuka hati, khususnya hati dirinya sendiri.
"Jika begitu malam ini juga kalian berangkat menggunakan jet," ucap Mama.
**
"Frans, Vini maaf kami tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan kalian karena waktu," ucap Gabriella karena tiga hari lagi adalah resepsi pernikahan mereka.
"Tidak masalah karena kami juga tahu," sahut Vini.
"Frans bagaimana jika kalian menyusul kami
Sepertinya sangat seru," ujar Andre.
"Seru apanya. Jika lagi honeymoon tidak boleh ada yang menganggu tetapi kamu seakan senang," ujar Alfred menilai usulan Andre itu salah.
"Kan tidak satu kamar," timpal dokter Frans, seakan usulan Andre ada benarnya. "Sepertinya usulanmu oke Andre," imbuhya.
Hmmm
"Mama apa kami mendapat tiket juga?" gurau Alfred.
"Kalian sudah basi Kak. Paket lama," ledek Mischa.
Hahaha....
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi💪