
"Sebaiknya Nona segera menyusul jika tidak ingin Tuan kembali murka," ujar Andre sehingga membuat pandanganku putus.
"Dasar pria kejam," gumamku merutuki Alfred.
"Kemarin bilang pria serigala dan sekarang pria kejam. Hmm sekalian mafia kejam," oceh Andre yang berhasil membuatku kesal.
Aku meraih tas dan memasukan ponsel itu, untung saja tidak pecah. Itu ponsel hasil uang jajan yang aku tabung, enak saja dia merusaknya, itulah yang mengoceh di otakku.
"Ayo Andre," ajakku kepada Andre karena pria dingin serta menyebalkan itu hanya diam berdiri di ambang pintu.
"Aku tidak bisa mengantar Nona. Nona bersama Tuan yang menjemput Tuan besar dan Nyonya besar," sahut Andre.
"Panggil saja Opa sama Oma biar singkat," protesku. "Ayolah Andre untuk saat ini plis antarkan aku," sambungku seperti memohon.
"Suami Nona aku atau Tuan?"
"Tentu saja Alfred tetapi kamu juga tau, aaah....ya sudah tidak masalah," lirihku dengan kepala menunduk.
Sepanjang jalan menuju lobby aku terus saja bergumam. Aku langsung ke parkiran khusus para staff. Dengan mengedarkan pandangan mencari mobil milik Alfred. Tentu saja mudah bagiku karena diantara banyaknya mobil milik Alfred yang paling mencolok.
"Seperti siput," suara bariton itu membuatku kaget. Aku ingin meraih pintu mobil bagian belakang.
"Aku bukan supirmu!"
Sindiran Alfred membuat tanganku menggantung tidak jadi membuka pintu. Aku menghela nafas lalu beralih membuka pintu bagian depan. Aku masuk dan duduk dengan jantung bermasalah tanpa melirik Alfred yang tentunya saat ini menatap tajam kepadaku.
Aku terlonjak kaget mendapati Alfred mencondongkan tubuhnya mendekati aku. Dengan refleks aku menutup dadaku dengan menggunakan kedua tanganku. Bahkan saat ini aku sulit bernafas, wajah Alfred sangat dekat dan nafasnya mernerpa wajahku.
"Aku tidak ingin kau mati sekarang, jadi pakai sabuk pengaman," ujar Alfred sembari meraih sabuk pengaman dan langsung menghentakannya agar aku segera memasang.
Hah aku salah tingkah, aku kira Alfred ingin melakukan apa, jadi malu sendiri bukan. Tidak lama Alfred memajukan roda empat membelah kepadatan di jalan raya menuju bandara.
Hening itulah keadaan didalam mobil. Aku hanya memandang kearah luar lewat jendela mobil tanpa sedikitpun menoleh kearah sebelah Alfred.
"Bisa saja kedatangan kalian ke ruanganku mengundang kecurigaan staff medis yang lainnya," ucapku tanpa menatap lawan bicara, anggap saja aku berbicara dengan jendela mobil.
"Tidak perlu mengajariku," sahut Alfred dengan nada marah.
Hatiku tergerak ingin memandangi Alfred.
"Aku hanya tidak ingin para wanita atau pengagum dirimu memandangiku dengan sinis," kataku tanpa sadar hatinya terasa berdenyut nyeri dan wajahku berubah menjadi sendu. "Satu lagi, selama Opa dan Oma di rumah jangan pernah kamu membawa Serena," tambahku sangat malas menyebutkan nama Serena.
Awww
Aku tersentak karena mobil tiba-tiba di rem oleh Alfred. Untung saja kepalaku tak terbentur. Aku mengusap dadaku mengatur nafasku.
Bukannya melajukan kendaraan Alfred malah memandangku dengan wajah penuh arti.
__ADS_1
"Apa kau cemburu?" pertanyaan Alfred yang diluar nalar membuatku menganga, lalu dengan cepat membuang muka. "Jangan merasa bangga karena aku ke ruanganmu ada kepentingan," ralatnya kembali.
"Andai saja kamu adalah suami pilihanku tentu saja aku merasakan hal itu. Istri mana yang akan diam saja jika suami tercintanya di godain wanita lain, tetapi sepertinya ini tidak berlaku pada hubungan kita," lirihku dengan tatapan lurus ke depan.
"Jujur aku merasa cemburu, entah apa yang terjadi dengan perasaanku ini. Seharusnya aku sangat membencimu tetapi hatiku berkata lain. Aku takut terjebak dengan perasaan ini," aku membatin dengan tangan terkepal.
Mendengar ucapanku Alfred langsung melajukan kendaraan, bahkan melewati standar. Aku melirik kearahnya dan wajah tampan itu begitu menakutkan, untungnya Alfred tidak menyadariku.
°°°°°°
Kini kami tiba di bandara. Kami langsung masuk ke area khusus. Aku mengikuti Alfred dengan berlari kecil karena langkahnya sangat panjang dibandingkan dengan langkahku.
Andai saja kami pasangan suami istri pada umumnya tentu saja kami jalan saling beriringan bahkan aku memeluk lengan Alfred tetapi ini bisa dikatakan aku sebagai ART yang mengekor dari belakang.
Kami memakai masker dan kaca mata hitam sehingga tidak ada yang mengenali.
Prang
"Maaf aku tidak sengaja," ucapku dengan sangat kaget. Aku tidak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah bermain ponsel, akibat tabrakan itu membuat ponselnya jatuh.
Aku meraih ponsel itu dan mataku membulat melihat ponsel itu pecah dan tidak bisa menyala, kemungkinan rusak.
Wanita itu merampas ponsel miliknya dari tanganku, lalu mengeceknya.
"Apa matamu buta? jalan selebar ini tidak bisa melihat? lihat karena tingkah aroganmu menyebabkan ponsel mahalku rusak. Gajimu 10 tahun saja tak akan bisa membayar ponsel ini," caci maki wanita itu.
Aku menelan ludah.
"Sudah jelas-jelas kau yang menjatuhkan,"
"Honey sudahlah dia tidak sengaja, lagi pula tadi kamu tengah memainkan ponsel," ujar pria yang sedang bersama wanita itu, mungkin mereka adalah sepasang suami istri.
"Dia harus ganti honey," kekeh wanita itu.
"Ada apa ini?" tanpa aku duga itu adalah suara Alfred.
"Dia telah menjatuhkan ponselku sampai rusak," cecar wanita berambut pirang itu sembari menunjuk tepat di wajahku.
"Sayang apakah benar yang dikatakannya?" tanya Alfred dengan nada sangat lembut bahkan tangan kekar itu melingkar di pinggangku.
Deg
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang tak karuan. Aku terdiam dengan mata membulat, untungnya mereka tidak dapat melihatnya.
"Sayang," suara Alfred mengerem dalam dengan rahang mengeras, bahkan tangan itu semakin kuat meras pinggulku agar aku menjawab pertanyaannya.
"Aku hanya tidak sengaja, sungguh aku tidak sengaja," sahutku dengan sangat gugup.
__ADS_1
"Aku akan menggantikan kerugiannya. Ambil kartu namaku karena sekarang aku tidak punya waktu dengan hal tidak penting ini," ujar Alfred dengan sikap angkuhnya. Alfred menyerahkan kartu nama di tangan pria itu.
Seketika pria itu kaget setelah melihat siapa jati diri Alfred. Bahkan pria itu merasakan tubuhnya bergetar.
"Tidak penting? ini sangat penting karena harga ponsel milikku ini sangat mahal," wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Honey cukup," dengan segera pria itu menarik tangan wanita bermulut berbisa itu lalu segera membisikan sesuatu sehingga dalam sekejap wajah wanita itu pucat pasi.
Tidak ingin Opa sama Oma menunggu, Alfred langsung membawa langkahku tanpa melepaskan tangan itu melingkar di pinggangku, entah karena lupa atau hanya sekedar bersandiwara.
Dari kejauhan kedua sosok yang sangat aku rindukan itu sedang menunggu kami.
"Opa, Oma," panggilku masih dengan rangkulan Alfred.
"Cucu Oma," balas Oma menatap diriku dan Alfred.
Aku berusaha melepaskan diri dan langsung menghambur memeluk Oma dan Opa silih berganti.
Opa sama Oma beralih ke sosok Alfred.
"Apakah ini menantu kami?" tanya Oma.
"Apa kabar Opa, Oma? ya akulah Alfred. Senang bertemu dengan Opa sama Oma," Alfred menyalami bahkan memeluk kedua orang tua lanjut usia itu.
Tentu saja hatiku menghangat melihat interaksi Alfred dengan Opa dan Oma. Seandainya saja ini adalah hubungan yang tulus, demi apapun aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini.
"Maaf ya Oma dan Opa tidak dapat menyaksikan pernikahan kalian karena terjebak kesehatan Oma," kata Oma menjelaskan. Maka dari itu mereka gigih terbang ke Korea hanya ingin bertemu dengan Alfred. Sedangkan waktu itu mereka sedang berada di kepulauan JASLINE. Lagi pula pernikahan kami sangat tiba-tiba.
"Tidak masalah Oma. Hmm apa sekarang kesehatan Oma sudah membaik?" tanya Alfred dengan mimik wajah sedikit khawatir.
"Namanya sudah tua sayang, tidak akan ada obatnya. Obatnya hanya satu yaitu melihat kebahagiaan cucu-cucu Oma, termasuk kalian. Kamu sangat tampan sekali sayang dan Oma tau kamu sangat mencintai cucu Oma," ucap Oma panjang lebar.
Huk huk
Tiba-tiba aku tersedak, kebetulan lagi pas minum air mineral. Ucapan Oma menyebabkan aku tersedak.
"Sayang hati-hati," Alfred bahkan mengusap punggungku dan beralih mengelap air yang muncret di ujung bibirku.
"Terima kasih, sayang," aku sengaja menekan di kata sayang, sebenarnya lidah ini keluh rasanya.
Aku menahan nafas mendapat perlakuan Alfred. Tetapi aku tidak boleh larut karena ini adalah permulaan dari sandiwara kami. Aku dapat melihat senyuman bahagia di raut wajah tua, orang tua dari Papa.
Bagaimana jika semuanya terbongkar? apakah senyuman itu akan berubah sedih? sungguh aku tidak sanggup membayangkannya.
Opa menepuk-nepuk bahu Alfred merasa bangga karena aku tidak salah memilih suami.
Bersambung....
__ADS_1
Apakah mereka akan tidur sekamar?
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat🙏