MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 195~MDS2


__ADS_3

Di Mansion


"Sayang boleh Mommy bertanya?"


Dahi pria paruh baya itu mengerut mendengar pertanyaan Mommy Isabella.


"Mau tanya apa sayang? harus bertanya segala?"


Mommy Isabella berpikir sejenak, bagaimana caranya ia mengatakan itu. Bagaimana caranya memulai mengatakan sesuatu yang hampir satu tahun ini mengganjal dalam pikirannya.


"Daddy ingin mengatakan sesuatu," ujar Daddy Alfred.


"Jika begitu Daddy saja yang duluan," ucap Mommy Isabella dengan nada lembut.


"Sayang bagaimana jika kita jodohkan Leon dengan Yunita!"


Deg


Perkataan Daddy Alfred membuat Mommy Isabella tercengang. Matanya melebar dengan raut wajah terbelalak kaget.


"Mommy kenal bukan?"


Mommy Isabella tak menjawab seakan lidahnya keluh untuk mengatakan apapun itu. Dia masih tak percaya.


"Ada apa sayang? apa Mommy dengar apa yang Daddy katakan?" Daddy Alfred aneh melihat Mommy Isabella hanya terdiam saja dengan wajah tak biasa.


Mommy Isabella menggeleng, ingin menepis perkataan itu. Ia menghela nafas kasar, ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Sayang lebih baik kita bicarakan langsung dengan Leon. Kita tidak bisa memaksakan," ucap Mommy Isabella seraya menelan ludah.


"Anak itu payah sayang. Entah menunggu apa lagi? dia tampan, mapan dan juga bertanggung jawab. Terus apa yang dia tunggu lagi? apa dia ingin menjadi bujang lapok?"


"Karena putri kita sayang. Karena Kiran, Leon sampai sekarang masih menyendiri," sahut Mommy Isabella, tentunya berani mengatakan didalam hati.


"Sayang hmm ini hanya misalkan saja. Ingat hanya misalkan saja. Bagaimana jika Leon menyukai Kiran?" pancing Mommy Isabella.


Tanpa diduga Daddy Alfred tersenyum lebar.


"Dia sangat menyayangi, peduli dan perhatian kepada Kiran. Itu bukti karena mereka bersaudara," sahut Daddy Alfred tanpa sedikitpun curiga dengan perasaan Leon.


Mommy Isabella mengigit bibir bawahnya.


"Cukup Keenan dengan Rebecca!" Daddy Alfred menekankan.


Huh


Sungguh dada Mommy Isabella sesak. Ingin melanjutkan pun tidak bisa lagi karena mendengar kalimat penekanan tersebut.

__ADS_1


°°°°°°


Rebecca baru saja selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut berbalut handuk. Menandakan bahwa ia keramas pagi ini.


Senyuman mengembang di bibirnya melihat pemandangan indah. Dimana dua pria kesayangannya masih tertidur pulas di ranjang yang sama dengan posisi saling berhadapan.


Hatinya lega karena Keenan tidak menindih buah hati mereka.


"Kalian benar-benar mirip," ucap Rebecca masih dengan senyuman.


Cup cup


Kecupan mendarat di wajah dua pria tersebut hingga membuat tidur mereka terusik, akibat merasakan sejuk.


Hmmp


Keenan menggeliatkan tubuhnya. Dengan segera Rebecca mengamankan Yudanta, takut tertindih.


"Sayang bangunlah. Nanti Daddy terlambat," bisik Rebecca dengan pelan, tidak ingin Yudanta terusik dari tidurnya.


"Sayang masih ngantuk," gumam Keenan dengan suara parau habis bangun tidur.


"Sayang ini sudah cukup siang, belum mandi, sarapan lagi!" Protes Rebecca dengan menghela nafas panjang.


"Ingat sayang, suami tampanmu ini yang memiliki perusahaan jadi tidak ada masalah mau terlambat atau tidak masuk kerja. Gaji Daddy tidak akan terpotong," cicit Keenan.


"Beri contoh!" Papar Rebecca dengan singkat.


"Baiklah istriku yang cantik. Jangan cerewet lagi," goda Keenan, bahkan ia merangkul Rebecca. Ingin mengecup tetapi dengan cepat di tepis olehnya.


"Bau....." Canda Rebecca seraya menutup hidung mancungnya itu.


"Bau? harum begini dibilang bau. Hmm tadi yang barusan siapa yang menggoda Daddy? ayo?" Goda Keenan seakan ia ingat dapat kecupan dari Rebecca hingga ia terusik.


"Daddy bermimpi. Sana lekas mandi," titah Rebecca seraya mendorong tubuh kekar itu.


"Iya sayang," ujar Keenan seraya mencubit halus kedua pipi itu.


Rebecca langsung mengerucutkan bibirnya.


°°°°°°


Usai makan malam. Kini sepasang suami-istri tersebut berbincang-bincang di balkon kamar.


"Sayang aku ingin bercerita," ujar Keenan. Saatnya Rebecca tahu tentang ini.


"Cerita apa?" tanya Rebecca dengan penasaran.

__ADS_1


"Tapi cium dulu," goda Keenan seraya menunjuk bibirnya.


"Dasar!" Celoteh Rebecca.


Cup


Tidak menunggu lama Rebecca melakukan sesuai yang di pinta. Bukan hanya sekedar menempel tetapi melu Matt dan seterusnya.


Jemari itu mulai nakal hingga dengan kasar Rebecca melepas ciuman maut itu. Jika dibiarkan bisa-bisa Keenan tak akan cerita sesuai yang ia katakan.


"Sayang.....!" Protes Keenan.


"Stop! Ayo cerita,"


Huh


Keenan menghembus nafas kecewa.


"Kak Leon menyukai seseorang. Dan alasannya sampai sekarang dia menyendiri karena seseorang tersebut." Cerita Keenan.


Rebecca tersentak, ada perasaan senang sekaligus penasaran.


"Jika begitu kenapa tidak langsung mengatakannya? maksud Mommy mengungkapkan perasaannya kepada seseorang tersebut?" Rebecca kembali meralat ucapannya.


"Apa Mommy tahu siapa seseorang tersebut?"


Rebecca menggeleng.


"Kiran!"


Deg


Rebecca melebarkan mata dengan mulut menganga tak percaya.


"Apa?"


"Iya Kak Leon menyukai Kiran. Bahkan dia sendiri yang mengutarakan perasaannya itu. Mommy juga mengetahuinya, kecuali Daddy dan juga Kiran." Cerita Keenan.


Rebecca masih sulit percaya. Tetapi lama ia berpikir, ia pun dapat menyadari bagaimana tatapan Leon serta kepedulian Leon selama ini kepada Kiran.


"Jadi apa tanggapan Mommy sayang?"


Keenan menggeleng karena belum tahu.


"Sepertinya Mommy bisa menerima tetapi Daddy, entahlah. Sepertinya Daddy menentang jika menurut Daddy sendiri karena Leon-----"


"Sudahlah sayang sulit untuk dikatakan."

__ADS_1


"Semoga berjalan dengan semestinya. Seperti air yang mengalir, menemukan kebahagiaan masing-masing!"


...SELESAI...


__ADS_2